21 Lessons: 21 Adab untuk Abad ke-21

21 Lessons dapat menjadi panduan dalam menghadapi perubahan zaman dengan memperingatkan manusia mengenai bagaimana cara belajar, beradaptasi, dan bertahan di “zaman kebingungan”
Share on facebook
Share on google
Share on twitter

21 Lessons For 21 Century merupakan buku ketiga dari Yuval N. Harari yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada penghujung tahun 2018. Buku pertamanya, (Sapiens) memaparkan kisah perkembangan sejarah besar manusia (para Homo sapiens). Sedangkan buku keduanya (Homo Deus) menggambarkan masa depan manusia dalam waktu ratusan hingga ribuan tahun mendatang. Namun, buku ketiga ini memiliki kekhasan terutama dalam menjelaskan tantangan masa depan manusia pada abad ke-21 yang diperkirakan setidaknya hingga tahun 2050 M.

21 Lessons dapat menjadi panduan dalam menghadapi perubahan zaman dengan memperingatkan manusia mengenai bagaimana cara belajar, beradaptasi, dan bertahan di “zaman kebingungan”. Poin-poin pembelajaran yang terdapat buku ini antara lain adalah mengenai: kekecewaan, pekerjaan, kebebasan, kesetaraan, komunitas, peradaban, nasionalisme, agama, imigrasi, terorisme, perang, kerendahan hati, Tuhan, sekularisme, ketidaktahuan, keadilan, pasca-kebenaran, fiksi ilmiah, pendidikan, makna, dan meditasi. 21 satu istilah tersebut, menurut Harari, akan menjadi poros-poros kehidupan manusia saat ini hingga masa yang akan datang. Buku ini merefleksikan poin-poin di atas secara historis serta kemungkinan yang akan hadir.

Bila diamati, buku ini memiliki kecenderungan kuat dalam mengkritisi agama, nasionalisme, dan kebebasan sehingga dapat menyakiti orang-orang yang memiliki fanatisme pada agama, negara atau gerakan pembebasan tertentu. Harari mengatakan bahwa dalam nasionalisme atau agama terdapat ilusi dan kebohongan yang dibuat manusia untuk menyatukan spesies, mengumpulkan kawanan, membentuk tatanan dan memberikan kekuatan menjinakkan alam serta memenuhi impian liar manusia itu sendiri.

Melalui kritik-kritik keras Harari itu, lahir sebuah pertanyaan: apakah sebenarnya manusia memahami atau mengenali dirinya sendiri? Hal ini diandaikan dengan kondisi sebenarnya dari para nasionalis yang menjelaskan bahwa permasalahan di dunia ini dapat diselesaikan oleh negara-negara per individe sementara itu konsekuensi dari segala negara tersebut justru menjadi permasalahan global (beberapa kaum nasionalis, konsekuensi tersebut ditolak). Kaum nasionalis semata mementingkan permasalahan negaranya sendiri, kelompoknya sendiri, teritorinya sendiri. Padahal sejatinya, menurut Harari, permasalahan global harus diselesaikan oleh negara-negara sebagai mereka yang menyusun kesatuan global. Global adalah milik dan dari negara-negara serta bukan merupakan suatu wilayah yang vacuum (kosong).

Selebihnya buku ini memaparkan ada tiga ancaman yang memiliki propabilitas menghancurkan bumi, diantaranya: perang nuklir, keruntuhan ekologi, dan disrupsi teknologi. Apabila ancaman-ancaman ini terjadi secara bersamaan maka kerusakannya akan membentuk suatu krisis eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam permasalahan ini, sentimen nasionalis atau agamis tidak dapat berperan banyak sehingga muncul probabilitas baru misalnya: mungkin kah manusia mulai menggunakan tradisi agama universal untuk membantunya menyatukan dunia? Ribuan tahun lalu, agama semitik seperti Kristen dan Islam telah memiliki pandangan global dan tertarik pada pernyataan-pernyataan besar kehidupan (melalui kitab). Umatnya tidak terbatas pada status kebangsaan atau primordialitas kelokalan tertentu. Namun, sejarah tersebut membawa pembaca pada pertanyaan baru—apakah cara agama-agama tradisional tersebut masih relevan? Apakah mereka masih memiliki kekuatan untuk membentuk dunia baru atau apakah mereka telah menjadi relik tak berdaya dari masa lalu manusia. Terhempas-empas ke sana kemari oleh kekuatan-kekuatan besar negara, ekonomi, dan teknologi modern.

Harari juga menyampaikan bahwa ancaman yang paling mematikan yang akan dan telah hadir adalah teknologi (terutama algoritma dan Artificial Intelligence (AI)). Terdapat dua kemungkinan yang manusia dapatkan dari teknologi itu sendiri. Pertama, teknologi dapat membantu mempermudah pekerjaan. Kedua, teknologi dapat menggantikan sebagian besar peran manusia. Teknologi sejatinya memang membantu manusia, tetapi apakah yang dimaksud dengan membantu? Manusia mana yang akan terbantu? Manusia kaya ataukah manusia miskin? Pada akhirnya teknologi, dalam penjelasan Harari, akan semata membantu segelintir kelas yang memiliki kekayaan (modal) saja. Sementara teknologi berkembang, manusia tanpa modal (kapital, kesempatan, skill, dan lain sebagainya) akan tergantikan. Kondisi saat ini, teknologi telah banyak menggantikan pekerjaan manusia, misalnya: dalam bidang pertanian, penanaman padi ataupun pemanenannya hanya dibutuhkan satu dua mesin spesifik sehingga dapat menggantikan tenaga (sekaligus upah) dari banyak pekerja.

Melalui teknologi, sebuah usaha hanya membutuhkan satu orang saja yang mampu mengoperasikan mesin penanam dan pemanenan padi tersebut. Sebuah pilihan yang mengunggulkan efisiensi dan meminggirkan beberapa aspek lainnya. Aspek-aspek yang tersisihkan tersebut membawa manusia kepada pertanyaan baru—seberapa jauh teknologi akan menyingkirkan manusia? Walau beberapa opini membela tudingan negatif atas perkembangan teknologi dengan dalih terciptanya lapangan pekerjaan baru untuk menunjang teknologi baru, padahal tidak semua orang akan tertampung dalam bidang profesi yang senada. Melalui gap ini, akan muncul perkembangan manusia super yang diajukan Harari dalam Homo Deus, yang mungkin akan hadir dalam perkembangan teknologi dikemudian hari. Penggolongan manusia super dengan manusia biasa dapat terjadi ketika manusia biasa sepenuhnya tergantikan oleh teknologi yang dikuasai oleh manusia super (orang yang memiliki modal).  Manusia super mengendalikan manusia biasa melalui algoritma-algoritma saat ini.

Algoritma menjadi ancaman yang serius bagi peradaban manusia. Menurut Harari, manusia sesungguhnya memang sudah dikendalikan oleh algoritma itu sendiri. Pemikiran dan  pengetahuan manusia mulai sedikit demi sedikit dikendalikan oleh Google, hati manusia dikendalikan oleh algoritma YouTube dan Instagram, hasrat, keinginan dan dorongan manusia sudah dipengaruhi oleh marketplace online seperti Amazon, Lazada, Alibaba dan lain-lain. Dalam pengambilan keputusan, manusia juga sudah dikendalikan misalnya dalam pemakaian Google Maps dimana selama perjalanan kita akan diberi hasil keputusan berdasarkan lagoritma tersebut. Walau manusia masih dapat menggunakan kesadarannya saat menggunakan media atau aplikasi tersebut, tetapi ia berada dalam sebuah ruang di mana keputusan dikendalikan oleh sesuatu yang berada di luar dirinya. Yang mengkhawatirkan dari kehadiran lingkungan algoritma ini adalah ketika segala keputusan yang seharusnya dipilih oleh manusia bebas menjadi ditentukan hasil pemutusan algoritma. Contoh lain misalnya, dalam memilih pasangan, algoritma akan menyarankan calon pasangan dengan kemungkinan-kemungkinan yang disesuaikan kepada satu sama lain melalui kriteria-kriteria tambahan, bukan melalui perasaan atau panggilan lainnya. Seluruh algoritma ini juga menjadi semakin berkuasa dalam media sosial. Di samping itu Harari juga mengatakan bahwa manusia adalah algoritma itu sendiri. Ia mencoba menggambarkan susunan tubuh manusia yang terdiri algoritma-algoritma (kode DNA) yang menggerakan tubuh manusia berdasarkan kesadaran manusia itu sendiri. Sebelum dikendalikan oleh algoritma. Bagi Harari, manusia harus memahami dirinya sendiri, seperti pepatah Yunani Kuno: gnothi seauton.

Harari mencoba memaparkan kebajikan kepada manusia untuk memahami dan mengakui siapa sebenarnya manusia di tengah zaman kebingungan ini. Ia juga berusaha membuka mata manusia mengenai kesalahan demi kesalahan yang telah diperbuat manusia. Seberapa kejamnya manusia pada dirinya sendiri, pada sesama, dan pada alam di mana ia hidup. Manusia harus mencoba mengakui sisi gelapnya dan memahami seberapa cerdas manusia selama ini. Harari mencoba membawa manusia pada kerendahan hati bahwa manusia bukanlah pusat dunia, namun kita hanyalah bagian dari dunia. Ia mengajak manusia untuk mengkaji apakah kebajikan dan keadilan manusia sudah benar dan masih relevan. Kenyataan-kenyataan terkait yang dipaparkan Harari dalam buku-bukunya dapat diterima sebagai wacana yang mampu membuat manusia berefleksi dan siaga atas kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Masa depan yang diimajinasikan manusia tidak seindah sebuah trailer film. Bagi Harari, nilai yang penting bagi pengambilan keputusan kita adalah, “Lebih baik kita memahami pikiran kita sebelum algoritma menciptakan pikiran kita untuk kita.”***

Baca lagi

Sastra, Moralitas, dan Konfusius

Hukum manusia tidak perlu diterapkan sebagai pengatur hidup manusia apabila moralitas manusia dan masyarakat telah terbentuk.

Platon dan Sokrates

Bayangan dalam cermin adalah yang tidak nyata. ‘Sang kucing’ adalah pengetahuan. Kucing-kucing partikular lain, adalah opini.

Close Menu