Skip to content

Agora: Konflik Umat, Penghancuran Buku hingga Kematian Filsafat

Print Friendly, PDF & Email

Synesius, you don’t question what you believe (religion). You cannot. I must.”

–Hypatia

Agora adalah film yang diadopsi dari kisah nyata. Disutradarai oleh Alejandro Amenábar dan diproduksi pada tahun 2009. Film ini menceritakan tentang sejarah pergolakan umat beragama dan secara khusus pertarungan antara agama dengan filsafat. Mengambil latar belakang tahun 391 M, film ini menggambarkan situasi peradaban kekuasaan Romawi Kuno di kota Alexandria. Dengan modal $70.000.000[1], Alenjandro berhasil menampilkan aktor cantik Rachel Weisz (sebagai Hypatia) dan Oscar Isaac (sebagai Orestes). Tak kurang, Alejandro juga berhasil menampilkan panorama dan bangunan arsitektur Mesir kuno, naskah-naskah kuno, serta pakaian bergaya roman[2].

Tokoh terpenting dalam film ini adalah Hypatia. Seorang filsuf sekaligus matematikawan yang sangat tertarik dengan astronomi. Perhatiannya terhadap filsafat serta ilmu bintang sangat besar, sehingga ia akrab dengan gagasan-gagasan Plato, Hipokratus, Euklides hingga Ptolemeus. Ia adalah putri dari Theon (Theon of Alexandria), di mana Theon merupakan seorang matematikawan yang dikenal karena komentarnya terhadap Euclid’s Elements.

Mengikuti jejak ayahnya, Hypatia bekerja sebagai pengajar di sekolah Neo-Platonik Alexandria. Pada permulaan film, Alejandro menampilkan Hypatia sedang memberikan pelajaran kepada muridnya tentang pusat tata surya. Pada bagian tersebut ia menukas, “If there were no center, then the universe would be shapeless, infinite, formless, chaotic.” (Jika tidak ada pusat, alam semesta akan tak berbentuk, tak terbatas, kacau). Meskipun pernyataan tersebut sedikit kontroversial dan belum tentu Hypatia pada sejarahnya mengatakan demikian, Alejandro sukses menggambarkan Hypatia sebagai seorang filsuf alam.[3]

Pada zaman Romawi Kuno, belum dapat dibedakan antara saintis dengan filsuf. Mengingat bahwa pengkategorian saintis dan filsuf mulai muncul di abad Modern. Meski demikian, tidak masalah sama sekali, seseorang yang mengajukan pertanyaan fundamental dan melakukan aktivitas berpikir yang mendalam dan komprehensif terhadap suatu fenomena layak disebut filsuf.

Konsistensi Hypatia sebagai seorang filsuf, mengharuskan ia untuk melajang, mencintai ilmu pengetahuan lebih daripada hasrat kepada seorang lelaki. Ia bahkan menolak cinta Orestes yang kemudian dikemas dalam adegan saat Hypatia memberikan Orestes kain bekas darah haidnya. Penolakannya tersurat demikian, “Orestes, you say that you have found harmony in me. Well I am suggesting that you look elsewhere because I think that there is little harmony or beauty in that.” (Orestes, kau bilang bahwa kau telah menemukan harmoni dalam diriku. Aku sarankan kau cari ke tempat lain, karena aku pikir hanya ada sedikit harmoni atau kecantikan di situ [diriku]). Menurut Theon (ayah Hypatia), jika ia menikah maka ia harus mengabdi kepada suami dan sedikit mendapat kebebasan untuk mengajar apalagi berpendapat. Walaupun pada saat itu Hypatia sudah menjadi seorang pengajar, tetap saja profesinya sebagai filsuf dianggap menyalahi kodrat. Film ini menggambarkan dengan jelas bagaimana budaya patriarki sudah mewujud dalam lingkungan sosial pada zaman tersebut.

Konflik Kristiani–Pagan dan Penghancuran Buku

Pergolakan umat Kristen dan Pagan dimulai saat mereka melakukan penghinaan terhadap dewa-dewa Pagan. Pada menit ke-29, umat Kristen melempar patung dewa Pagan. Lalu Ammonius mencoba meyakini umatnya dengan cara yang merendahkan, “Apa dia (patung dewa) protes? Apa dia komplain? Dia diam saja. Mulutnya bisu. Matanya buta, apalagi hidungnya. Namun pagan masih saja menyembahnya.” Mendengar umat Kristen melakukan penghinaan tersebut, umat pagan naik pitam. Segera umat Pagan mendatangi umat kristiani dengan dilengkapi persenjataan. Tak tanggung-tanggung, umat Pagan menghabisi umat Kristen dengan brutal. Meski demikian, karena kalah jumlah, umat Kristen berhasil membalik keadaan dan memaksa umat Pagan untuk mundur hingga kembali ke sarangnya (Serapeum)[4].

Tak berselang lama, Flavius Theodosius Augustus, pada saat itu sebagai perwakilan pemerintah kerajaan Romawi di Alexandria, mengeluarkan kebijakan: pemberontak dibebaskan (umat Pagan) dan sebagai gantinya Serapeum dan perpustakaan Alexandria akan alih-tangan ke umat Kristen.

Mematuhi kebijakan penguasa Alexandria. Umat Pagan pun terpaksa untuk meninggalkan perpustakaan. Pergerakan cepat umat Kristen memaksa umat Pagan untuk meninggalkan beberapa warisan penting yang telah lama tersimpan di perpustakaan, termasuk manuskrip-manuskrip filsafat dan benda-benda bersimbol Pagan. Meski demikian, invasi umat Kristen tidak memberikan celah pun terhadap keberadaan warisan-warisan tersebut. Mereka membakar habis manuskrip-manuskrip klasik serta patung-patung peninggalan umat Pagan. Fenomena ini dalam sosio-historis relevan dengan penjabaran Fernando Baez dalam bukunya Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.[5]

Konflik Kristiani–Yahudi

Cerita ini masih berlanjut. Selang beberapa tahun, konflik masih tetap terjadi antara umat beragama. Dalam segmen berikutnya, Alejandro menampilkan konflik antara umat Kristen (pada saat itu sebagai mayoritas) dengan umat Yahudi (minoritas). Alih-alih bahwa cara peribadatan umat Yahudi dinilai tidak benar oleh Ammonius, ia pun berhasil memengaruhi umat Kristen untuk menyerang umat Yahudi saat perayaan hari Sabat. Pada menit ke-61, Alejandro menampilkan adegan umat Kristen melempar umat Yahudi dengan batu secara brutal. Karena perlakukan tersebut, umat Yahudi mengajukan protes tegas ke pemerintah yang pada saat itu telah dipimpin oleh Orestes. Meski demikian, dalam pengadilan pemerintah, umat Yahudi tidak mendapat keadilan. Umat Yahudi pun kecewa. Pemerintah Orestes tak dapat berkutik di hadapan umat Kristen. Tak tanggung-tanggung, umat Yahudi melakukan pembalasan. Pada suatu malam, umat Yahudi membuat suatu jebakan. Umat Kristen ditarik ke dalam suatu ruangan terkunci dan dilempar habis-habisan menggunakan batu. Alhasil, umat Kristen merencanakan pembalasan. Mereka melakukan pembantaian dan pengusiran secara masif. Kemarahan umat Kristen tak dapat dibendung oleh pemerintah saat itu. Pemerintah yang dipimpin oleh Orestes kehilangan kekuatannya, sehingga, Cyril (uskup agung) mampu menguasi kota Alexandria.

Meskipun Orestes masih menjabat sebagai gubernur. Ia tidak dapat berkutik sama sekali di kota kekuasaannya. Umat Kristen berhasil menggenggam kota Alexandria, bahkan pegawai pemerintah pun mulai berpindah menjadi seorang kristiani. Kondisi ini memaksa Orestes untuk mencari posisi aman. Demi mempertahankan kekuasaannya, Orestes pun mengakui bahwa dirinya adalah seorang kristiani. Meski demikian, alih-alih untuk mengkristenkan Alexandria, Cyril harus menguasai pemerintahan Alexandria secara penuh. Lanjut cerita, pemerintah akhirnya berhasil dikristianisasi, demikian juga aturan di Alexandria.

Kematian Filsafat

Kristen berhasil memperluas penganutnya dan menguasasi Alexandria, meski demikian Orestes masih menduduki tampuk kepemimpinan tertinggi (Prefect). Merasa belum puas, Cyril mencoba untuk menjatuhkan Orestes dari tampuk kepemimpinan. Pada menit ke-100, terjadi percakapan kecil antara beberapa umat Kristen (pengikut setia Cyril). Dalam percakapan tersebut, mereka berencana untuk melawan Orestes. Karena masih menjadi Prefect, Orestes masih dilindungi oleh pasukan-pasukan yang masih berada di pihaknya. Di antara perkumpulan itu, seseorang memberikan ide, bahwa untuk mengalahkan Orestes mereka perlu mencari kelemahannya terlebih dahulu: Hypatia (wanita yang ia cintai).

Setelah Hypatia–bersama dengan budaknya–berhasil memecahkan misteri pola perputaran bumi mengelilingi matahari. Orestes dan pejabat pemerintah lainnya diminta untuk tunduk terhadap perintah Yesus. Pada saat itu, prosesi pengakuan (confession) dilakukan di Serapeum dan dihadiri oleh penduduk Alexandria. Hanya Orestes yang tidak melakukan apa yang diperintahkan Cyril. Sikap Orestes–yang tak mau berlutut–akhirnya menuai kemarahan umat Kristen dan segera pengikut Cyril memanfaatkan celah tersebut. Sadar akan tersudutnya posisi Hypatia di Alexandria, Orestes dan Synesius[6] meminta Hypatia untuk memeluk Kristen. Namun, usaha Orestes tak menuai hasil. Hypatia tetap konsisten dengan pendiriannya. Sebagai seorang filsuf dan matematikawan, ia hanya dapat mempercayai sesuatu melalui pembuktian-pembuktian logis dan matematis.

Aturan yang berlaku di Alexandria pada saat itu ialah perempuan kafir tidak boleh menjadi seorang pengajar. Karena Hypatia tidak memiliki pelindung yang kuat, bahkan Orestes. Ia pun menyerah terhadap umat Kristen. Hypatia pun diarak-arak menuju Serapeum dan dirajam hingga mati. Hypatia pun meninggal, demikian dengan kebijaksanaannya.


Artikel ini pernah ditayangkan di gubuktulis.com

[1] http://www.imdb.com/

[2] Dalam film tersebut, identitas setiap golongan (Pemerintah, Cendekiawan, Paganis, Kristiani, Yahudi, dll) dibedakan berdasarkan pakaian yang dikenakan.

[3] Filsuf alam adalah seorang yang melakukan kegiatan berfikir secara mendalam tentang alam, termasuk proses-proses yang terjadi di dalam tata surya.

[4] Tempat peribadatan umat pagan. Bangunan ini adalah dedikasi untuk Serapis (dewa umat pagan pada saat itu).

[5] Baez menjelaskan bahwa penghancuran buku tidak terlepas dari kebutuhan penguasa. Penghancuran buku bertujuan untuk menghapus ingatan lama yang masih tersisa. Dengan begitu, penguasa dengan masif menggantikan buku-buku yang dianggap bertentangan dengan buku-buku baru. Buku-buku baru inilah yang akan melegitimasi kebenaran ide penguasa untuk mengawetkan kekuasaannya.

[6] Synesius adalah mantan murid Hypatia di sekolah neo-platonik. Satu angkatan dengan Orestes. Sejak itu ia sudah memeluk agama Kristen dan segera menjadi uskup di kota Alexandria.

Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.