Pranala
Dika Sri Pandanari

Intentio Operis

Teks memiliki keterarahan dalam dirinya sendiri selepas ia dilahirkan oleh penulis. Sebagaimana pandangan fenomenologi mengenai keterlemparan manusia dan historisitas, masa depan teks belum tentu sama dengan yang diharapkan oleh penulis maupun pembaca.

Read More »
Pranala
Dika Sri Pandanari

Odiseus

Ialah pertemuan antar ‘wajah-wajah’ Liyan yang menyebabkan manusia terbukti hadir di dunia. Bagi Levinas, pertemuan wajah menimbulkan banyak relevansi dan permasalahan baru seperti lahirnya tanggung jawab, masyarakat, dan paradigma subjektif. Namun sebagaimana Odiseus yang nyaris hilang dalam kutuk perjalanan panjang, setidaknya ontologi barat telah kembali pulang dalam tanah air wilayah metafisika akal budi praktis.

Read More »
Kajian Tokoh
Bonifasius Prasetya

Mengapa Harus Membaca Kant

Kebenaran harus disampaikan untuk mendapatkan kebahagiaan, apapun materi yang diberikan, baik yang menyakitkan atau menggembirakan.

Read More »
Buku
Adi Bagus Prima

Me The People dan Populisme menurut Nadia Urbinati

Populisme merubah wajah demokrasi dan berusaha meruntuhkannya dengan mengatasnamakan jalan demokrasi. Populisme yang secara sepintas dapat dilihat sebagai gerakan politik alternatif namun apabila ditilik lebih jauh lagi, ia akan tetap menjadi oposan, bukan hanya terhadap elit politk berkuasa melainkan juga pada sistem demokrasi terebut.

Read More »
Terjemahan
Misbahul Huda

Bahasa: Catatan Pemikiran Luce Irigaray

Kita harus mendengarkan secara (psiko)analisis pada prosedur penindasan, pada penstrukturan bahasa yang menopang representasinya, memisahkan yang benar dan yang salah, yang bermakna dan tidak sama sekali, dan sebagainya .. Yang dapat dengan ringkas disebut sebagai pengujian operasi tata bahasa pada tiap figur atau diskursus, hukum sintaksis atau syarat-syaratnya, konfigurasi imajinasinya, jaringan metaforanya, dan tentu saja, apa yang tidak terartikulasikan pada tahap pengucapan: ialah kesunyiannya.

Read More »
Terjemahan
Kristoforus J. Sadewa

Ruang-Ruang Lain: Utopia dan Heterotopia

Kehidupan sehari-hari dari seseorang telah ditata, bukan melalui siulan melainkan melalui bunyi lonceng. Semua orang terbangun di saat yang sama, semua orang mulai berangkat bekerja di saat yang sama; makan dilakukan pada tengah hari dan pada pukul lima sore, kemudian tiba waktunya untuk beristirahat, dan pada tengah malam muncul apa yang disebut sebagai bangun tidur marital, saat terdengar dentang dari lonceng gereja, tiap orang pergi menjalankan kewajiban mereka.

Read More »