Menu Close

Berfilsafat Sedini Mungkin

Filsafat mengenal konsep waktu yang tetap, imanen hingga berlapis dimensi. Sementara usia berada pada satuan titik waktu yang berjalan secara subjektif bagi manusia sebagai penanda seberapa lama ia bergerak dalam perkalian putaran bumi. Seringkali manusia mengutarakan maksud dan keinginannya melalui kerangka usia dengan target dan penggenapan. Pertanyaan dengan konteks serupa diajukan oleh host dalam diskusi kecil LSFD bersama Malang City Guide kemarin malam. Pertanyaan tersebut membawa kepada prakiraan mengenai kapan waktu yang tepat bagi seseorang untuk belajar berfilsafat? Anak kecil di taman bermain atau seorang kakek veteran memiliki kemungkinan yang sama untuk berfilsafat. Namun pendekatan yang dilakukan akan berbeda karena beberapa kondisi seperti; kemampuan kognitif yang yang dapat mempengaruhi ketajaman nalar atau kumpulan ingatan dan pengalaman yang mempengaruhi pertimbangan moral.

Pertanyaan seperti; Apa arti dan syarat kedamaian? Apa tujuan hidup manusia? Mengapa seseorang bertemu dengan yang lain? Apa arti orang lain bagiku? dan sebagainya akan menggantikan pertanyaan seperti: Apa yang dapat dilakukan untuk hidup kaya? Apa profesi cita-citamu? Bagaimana cara memperoleh keuntungan? dan pertanyaan lain yang semata bersifat transaksional. Filsafat pada usia apapun akan menggiring manusia pada jarak yang tepat untuk mengawasi dan memahami spiritualitas, semesta, keharmonisan logika serta ragam kehidupan yang mengalir dalam keseharian. Keseluruhannya meninggalkan serpihan pemahaman yang berfungsi dalam pemilihan sikap dan proposisi.

Dalam filsafat sistematis dipelajari logika bahasa-matematika, epistemologi, ontologi, etika, hermeneutika, estetika, kosmologi dan sebagainya sebagai prasarana manusia untuk memuja keberadaan semesta. Dengan mengenali atom terkecil hingga kontinental terbesar maka setiap anak atau orang tua akan membuka mata bagi sistem hidup yang diam dan bergerak, atau singkatnya seimbang. Dalam diskusi itu juga muncul pengandaian bahwa seseorang dapat memulai belajar berfilsafat sedini mungkin. Namun berfilsafat mensyaratkan memampuan untuk bertanya, keinginan untuk mencari, kekuatan untuk belajar dan ketahanan untuk tetap berada dalam normalitas sosial agar jarak subjek dan apa yang melekat padanya tetap seimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.