Menu Close

Derrida, Teks, dan Hantu-hantu Ke-pernah-hadir-an

Jacques Derrida menjadi penting dalam khazanah pemikiran posmodernisme. Dengan kritik keras terhadap modernisme, ia maju untuk mengusik, menggoyahkan, dan membongkar asumsi paling dasar pada pemikiran yang begitu memuja pemaknaan tunggal terhadap suatu hal. Derrida menjadi figur penting pada abad ini, yakni pada zaman bahasa. Peralihan dari subjek-obyek, yang masih terikat membahas kesadaran, roh, akal, dan pengalaman, menuju ruang di antara subjek dan objek. Di sanalah tanda, teks, singkatnya dapat dikatakan bahwa bahasa sedang bersemayam. Lalu bagaimana peristiwa pembacaan teks terjadi? Dari sinilah pemikiran Derrida menjadi penting, yaitu melalui proses yang disebut dekonstruksi.

Teks menggenang dan mengalir dalam aktivitas pembacaan. Pengarang tak dapat berjumpa dan menuturkan maksud dari sebuah teks, kalimat, atau sebuah buku karangannya kepada seluruh pembacanya. Seorang pengarang tak dapat menjumpai satu-persatu pembacanya. Dengan demikian, teks lalu mengalir dan berserakan kemana-mana. Teks menjelma semacam hantu-hantu yang mengusik makna tunggal. Makna yang dimaksud pengarang ialah makna dalam totalitasnya sendiri telah runtuh, instabilitas makna, goyah dan selalu membedakan diri. Sebuah peristiwa yang menandai kematian kuasa pengarang dalam totalitas makna. Pembacaan dan makna teks tidak lagi menjadi milik pengarang—dan tentunya makna akan terbuka bagi para pembaca. Ia menyebar tak tentu, tafsir menjadi jamak, ambigu, dan goyah. Teks menjadi jejak-jejak, residu, dan tinggal abu.

Begitulah beralihnya fonosentrisme Barat dijungkir balik oleh Jacques Derrida yang telah terjerembap dalam Metafisika Kehadiran. Mengabsolutkan makna tunggal sehingga teks menjadi statis. Membaca teks-teks Derrida tidaklah mudah. Pembaca tentu akan berhadapan dengan kerumitan-kerumitannya. Kerumitan ini justru karena pemikiran Derrida ingin tampil secara ketat. Lalu apa bahasa menurut Derrida? Mengapa teks tidak stabil maknanya? Adakah yang tidak goyah dalam bahasa? Adakah makna tunggal? Lalu ada apa sebelum bahasa? Begitulah kira-kira Derrida mempertanyakannya. Bertitik tolak dari Metafisika Kehadiran yang mendominasi filsafat Barat, Derrida menggaungkan proyek dekonstruksi untuk membongkar dominasi Metafisika Kehadiran dan oposisi biner yang ia sebut sebagai fonosentrisme dan logosentrisme. Setelah teks didekonstruksi, yang ada hanyalah jejak-jejak, residu, dan serpihan-serpihan debutinggal abu, il y a la cendre.[1]

Sekilas Tentang Jacques Derrida

“Perlukah seorang filsuf menuliskan biografinya?” Begitulah kira-kira Derrida menyampaikannya dalam majalah LA Weekly, pertengahan November 2002 lalu. Dalam film dokumenternya yang telah banyak beredar di dunia maya, Derrida seakan-akan menolak tapi sekaligus menerimanya. Dengan gaya yang berwibawa, Derrida dengan santai dan menyambut wartawan untuk mengikuti keseharian dia. Seharusnya, filsuf harus lebih mementingkan karyanya daripada kisah hidupnya, begitulah Derrida mengatakannya.

Jacques Derrida lahir pada tanggal 15 Juli 1930 di kota El-Biar, Aljazair. Waktu itu Aljazair dijajah oleh Perancis. Orang tuanya bernama Aimé Derrida dan Georgette Sultana Esther Safa. Derrida adalah keturunan bangsa Yahudi dan nenek moyangnya berasal dari Spanyol yang menetap di kota Aljazair sejak masa pra-kolonial sebelum Aljazair dijajah oleh Prancis pada tahun 1830. Ayahnya adalah seorang pemasar untuk perusahaan anggur dan minuman beralkohol, orang yang sangat sibuk dan jarang membaca buku. Derrida pada masa kecilnya dipenuhi gejolak kekerasan dan tempat berteduhnya adalah buku-buku. Sudah sejak kecil ia membaca buku-buku Rousseau, Gide, dan Nietzsche. Derrida juga mengalami diskriminasi oleh pemerintahan Vichy di Prancis waktu itu yang berkolaborasi dengan Nazi Jerman hingga sempat dikeluarkan dari sekolahnya. Karenanya Derrida berfikir lebih baik menjadi aktor atau mungkin pesepakbola handal.

Sejak 1952 pada umur 22 tahun, Derrida resmi belajar di Ecole Normal Superiuere (ENS), sekolah yang dikelola oleh filsuf terkenal dari Prancis seperti Michel Foucault, Louis Althusser, dan sejumlah filsuf lainnya. Setelah lulus, Derrida sempat belajar di Husserl Archive, salah satu pusat studi fenomenologi di Louvian, Prancis. Selepas itu pada tahun 1960, Derrida mengajar di Universitas Sorbonne. Empat tahun selanjutnya sejak 1964 sampai 1984 dia mengajar di ENS.

Pada tahun 1967, karya termasyhur Derrida terbit, yaitu Of Grammatology, Writing and Differences, dan Speech and Phenomena. Lima tahun setelahnya, yaitu pada tahun 1972 terbit dua karangan Derrida yang tak kalah terkenal, yaitu Dissemination dan Margins of Philosophy. Pada tahun yang sama, terbit karya Derrida dari hasil wawancaranya, yaitu Position. Derrida menyelesaikan These d’Etat berjudul The Time of a Thesis: Punctuations pada tahun 1980. Selanjutnya, ia mulai dikenal luas setelah memberi serangkaian kuliah internasional, dan menduduki jabatan tetap.

Sabtu dini hari, filsuf besar telah berpulang. Ia meninggalkan ada-dalam-dunia, tidak ada proses penuturan dari tubuh sang filsuf “lagi” dan teks-teksnya bergentayangan menjadi hantu-hantu. Pada tanggal 9 Oktober 2004, Derrida meninggal dunia karena penyakit pankreas yang sejak lama dideritanya. Dunia kehilangan sang filsuf, dan harus mengatakan apa yang dikatakannya pada pemakaman Levinas, Adieu, a-Dieu Derrida!

Derrida secara terus terang mengakui bahwa pemikirannya banyak berhutang budi kepada Heidegger, Nietzsche, Levinas, Saussure, Adorno, Husserl, dan Freud. Pengaruh ini jelas tertuang dalam karya-karya Derrida. Kritik teks melalui pembacaan dekonstruktif telah membawa kelahiran pasca-strukturalisme, dan peran Derrida di sini tidak dapat diabaikan.

Strukturalisme: Keyakinan Akan Kestabilan dan Totalitas Makna

Filsafat di era posmodern ditandai dengan peralihan dari subjek-objek menuju pada ranah bahasa (linguistic turn). Filsafat telah berkembang dan beralih pada tataran linguistik. Peralihan menuju bahasa dapat diruntut dari sejarahnya yang terbagi dalam tiga periode. Pertama, periode positivistik, tokohnya adalah Friedrich Frege, Edmund Husserl, Wittgenstein, Rudolf Carnap, dan A.J. Ayer. Mereka adalah kalangan positivistik yang mendekati bahasa secara logosentris, yakni menampilkan bahasa dari struktur-struktur logisnya. Misalnya dalam bentuk pernyataan, representasi, dan penilaian. Kedua, periode pragmatik, ditandai dengan pergeseran orientasi Wittgenstein dari teorinya yang sangat menekankan fungsi logis bahasa menuju ke arah fungsi pragmatik (bahasa sebagai forms of life). Ketiga, periode hermeneutik, ditandai dengan perhatian yang sangat besar terhadap bahasa puitik-metaforis.[2] Tokohnya sebut saja seperti Heidegger, Kierkegaard, Hans Geog Gadamer, Paul Ricoeur, Derrida, dan tokoh lainnya yang tak kalah penting dalam strategi pembacaan tekstual.

Pada periode tersebut, aliran penting pada tahun 1960-an adalah strukturalisme. Fokus perhatian strukturalisme adalah meneliti dan mencari mekanisme bahasa dalam institusi, sejarah, budaya, dan konteks di mana bahasa tersebut berkembang. Tokoh yang menjadi bapak linguistik modern adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913) sebagai peletak dasar dari strukturalisme. Sumbangan besar Saussure adalah langue, parole, dan langage. Ketiganya berfungsi menjaga keutuhan sistem bahasa.

Apa yang dimaksud parole adalah keseluruhan apa yang diujarkan orang, termasuk konstruksi-konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur, atau pengucapan-pengucapan untuk menghasilkan konstruksi-konstruksi ini berdasarkan pilihan bebas juga.[3] Parole, atau wicara, merupakan penggunaan bahasa dari hasil tuturan individual yang dilakukan oleh masing-masing individual atau kelompok. Karena sifatnya yang individual, parole masih menyisakan bentuk-bentuk wicara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Jika parole mematuhi kaidah bahasa maka lahirlah langage. Keduanya (parole dan langage), tidak dapat dijadikan kajian bahasa, karena masih melibatkan pilihan individu, sehingga keduanya bukan sebuah fakta sosial. Menurut Saussure satu-satunya fakta sosial adalah langue. Saussure lebih memberi perhatian pada langue, karena langue adalah fakta sosial yang objektif pada bahasa. Sehingga memungkinkan menjadi objek kajian, yang rapi dan terstruktur.

Jika dapat menyingkirkan unsur-unsur individual dalam langage, maka kita dapat membuang unsur-unsur yang tak teramalkan. Sehingga kita dapat merengkuh konsep bahasa yang sesuai dengan konsep fakta sosial. Inilah yang dinamakan langue. Saussure menggambarkannya sebagai “langage dikurangi parole”.[4] Singkatnya, langue adalah keseluruhan kebiasaan yang diajarkan oleh masyarakat bahasa yang memungkinkan adanya sebuah pemahaman menurut seperangkat kaidah kebahasaan. Kaidah-kaidah ini yang disebut konvensi atau tata bahasa. Langue merupakan abstraksi dari seluruh aktivitas bahasa masyarakat. Jika dalam parole aktivitas berbahasa dikonkretkan dalam bentuk tuturan dalam konteks pilihan individu dan kultur setempat, maka langue sebaliknya, langue melepaskan segala bentuk tuturan dari konteksnya. Menurut Saussure, langue adalah jalan untuk mengidentifikasi bahasa secara ilmiah. Dengan demikian, bahasa seolah-olah sebagai sistem yang stabil, tanpa masa lampau dan masa depan. Tak berkonteks ruang dan waktu dalam langue.

Hubungan antara parole dan langue lebih jauh dapat dijabarkan dalam perbedaan antara struktur (structure) dan peristiwa (event). Struktur adalah keseluruhan sistem abstrak yang mendasari segala kegiatan bahasa. Sementara peristiwa adalah penggunaan bahasa sehari-hari yang merupakan respons langsung individu atau sekelompok penutur.[5] Struktur terikat pada kaidah-kaidah bahasa dan melepaskan diri dari konteks tertentu. Peristiwa sebaliknya, ia terikat pada konteks pilihan individual dengan kultur tertentu. Aktivitas manusia tidak akan terjadi tanpa ada sebuah dialektika antara struktur dan peristiwa, dialektika antara kaidah-kaidah bahasa dengan konteks pilihan individu dan kultur tertentu. Peristiwa menciptakan kemungkinan-kemuungkinan yang baru dalam bahasa dan memungkinkan perubahan-perubahan transformatif pada masyarakat. Karena fungsi peristiwa yang majemuk, peristiwa dapat dimaknai secara berbeda-beda menurut individu penuturnya. Proses pemaknaan yang demikian membuat aktivitas bahasa sangatlah heterogen.

Saussure beranggapan bahwa hanya aspek bahasa yang sepadan dengan fakta sosial itulah yang dapat menjadi obyek penyelidikan ilmu linguistik. Langue bukanlah sebuah fakta fisik, tetapi sebuah fakta sosial, yang dapat diselidiki karena mempunyai pola-pola di belakang ujaran sang penutur. Pola tersebut bersifat stabil dan terlepas dari waktu di mana penutur mengucapkannya dari aspek kultural maupun dari institusi sosial penutur. Pola tersebut sangat lambat perubahannya, jika kita mengabstraksikannya maka tidak akan kehilangan apa-apa dari realitas perubahan.[6]

Meski langue merupakan objek kajian ilmu linguistik, tetapi langue tidak dapat menjelaskan semuanya. Karena langue itu adalah “khazanah tanda”, obyek linguistik yang “konkret dan integral” ialah tanda bahasa.[7] Oleh sebab itu, bahasa (langue), bukanlah sekedar kata-kata, melainkan juga semesta tanda. Tanda membentuk sebuah kode-kode untuk meneruskan dan melestarikan fungsi bahasa.

Bagi Saussure, tanda terdiri atas dua komponen, yaitu citra akustik yang disebut penanda (signifier/signifiant) dan konsep atau citraan mental yang disebut petanda (signified/signifie). Penanda merupakan kesan bunyi yang dapat kita imajinasikan melalui mulut penutur, sedangkan tanda adalah konsep yang ditunjuk oleh penanda. Penanda membentuk aspek material bahasa, sedangkan petanda menghasilkan aspek makna dalam bahasa. Keduanya saling terhubung dalam kegiatan bahasa, jika penanda atau sebuah bunyi tidak memiliki citraan mental, akan terdengar seperti igauan belaka, karena tidak memberi makna apapun dalam diri penutur. Saussure jelas ingin mencari sebuah kesapadanan fakta sosial pada lapisan bunyi bahasa: bunyi-bunyi yang membentuk citra akustis, yang disebut fonem, merupakan perbedaan-perbedaan bunyi yang dimungkinkan oleh fonologi sebuah bahasa.[8]

Hubungan antara penanda dan petanda dapat digambarkan pada diagram berikut:

Saussure berpendapat bahwa bahasa bukanlah substansi, melainkan sebuah bentuk. Pandangan ini kelak akan dilanjutkan oleh Levi-Strauss, yang melihat bahwa pada dasarnya bahasa adalah relasi. Ketika seseorang menggunakan bahasa, dia sebenarnya memasuki ruang rumit dalam sistem relasi. Relasi-relasi itu menjembatani berbagai bentuk makna dan aneka gagasan yang terus bergerak silih berganti dari sang penutur ke penutur lainnya. Namun, hal tersebut memungkinkan hanya ketika ada suatu penandaan (signification). Saussure mendefinisikan penandaan sebagai asosiasi suatu bunyi dengan suatu konsep, antara yang citra akustik dan citraan mental. Sistem tanda tidak dapat berdiri sendiri, ia selalu bergantung pada relasi dan hubungan dengan sistem-sistem tanda lainnya. Bahasa selalu bergerak dalam relasi tanda yang tidak ada ujung pangkalnya. Namun, hanya melalui diferensi (perbedaan), tanpa diferensi relasi tersebut tidak memungkinkan.

Diferensi atau perbedaan merupakan mekanisme tanda dalam relasinya dengan tanda-tanda lainnya. Dan pada dasarnya, tanda tersebut bukanlah hal yang homogen, melainkan berbeda dan heterogen. Misalnya dalam contoh pasar, pasir, dan pusar.[9] Diferensi memungkinkan bahwa kata pasar, pasir, dan pusar, mempunyai perbedaan agar tidak kabur maknanya. Kendati berada dalam suatu sistem, tanda-tanda bukanlah sesuatu yang tetap, tetapi bergerak produktif dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dalam berbahasa.[10] Meskipun tampak stabil, sebenarnya langue dibangun di atas tanda yang hampir seluruhnya diferensial dan berubah-ubah. Aspek diferensial tersebut dapat dilihat dari dua hal.[11] Pertama,  aspek konseptual, yang diistilahkan Saussure sebagai “valensi” atau nilai. Setiap langue mengandaikan sebuah valensi yang membedakan dirinya dari yang lainnya, seperti pasar, pasir, dan pusar tadi. Ada perbedaan valensi di antara 3 kata tersebut. Kedua, aspek material, yakni citra akustik atau perbedaan bunyi, sehingga memungkin valensi akan berubah dan membedakan diri dengan tanda lain. Perbedaan bunyi itulah yang bermakna.

Posisi bunyi atau fonem dalam pemikiran Saussure sangat sentral. Karena kegiatan berbahasa dimungkinkan jika adanya citra akustik atau bunyi untuk menyampaikan gagasan sang penutur. Setiap kajian linguistik seluruhnya terpusat pada phone (bunyi) daripada aksara dalam tulisannya. Bunyi mengartikulasikan di kehadiran penutur, sementara sistem dalam sistem akasara, penutur tidak benar-benar hadir selain dalam imajinasi.[12] Dengan demikian, Saussure meletakan bunyi di atas tulisan, sebuah momen fonosentrisme. “Kehadiran-diri” inilah menjadi fokus Derrida untuk menganalisa Saussure. Menurut Derrida acuan kehadiran diri inilah yang menjadi acuan dalam metafisika Barat yang berpusat pada subjek. Dengan menelaah asumsi-asumsi metafisik Saussure, Derrida menunjukkan bahwa Saussure terjebak pada logosentrisme yang sangat kuat.

Kritik Terhadap Logosentrisme dan Metafisika Kehadiran

Derrida memulai proyek besarnya bertitik tolak dari kritiknya terhadap logosentrisme dan Metafisika Kehadiran. Kehadiran, dirintis sejak Edmund Husserl bahwa pemaknaan akan terjadi dengan kehadiran, maka kesadaran memungkinkan untuk selalu tertuju (intensi) melalui kehadiran subjek. Kehadiran merupakan suatu bentuk kesadaran uniter yang terus-menerus berupaya memaknai dunia dan menampilkannya saat ini dan di sini.[13] Kehadiran berasal dari kesadaran yang mengenali dirinya dalam konteks ruang/waktu di mana ia berada. Tradisi oposisi biner yang menyandang status istimewa dari istilah pertama, maka istilah yang kedua dianggap lebih inferior dan sering terpinggirkan, seperti baik/buruk, indah/jelek, benar/salah, jiwa/roh, dan sebagainya. Inilah yang disebut Derrida sebagai logosentrisme. Menurut Derrida, istilah-istilah tersebut dimiliki oleh “Logos”—Kebenaran, sehingga sejarah filsafat Barat adalah sejarah logosentrisme.

Cara Husserl dalam memahami fenomenologis sangat terpengaruhi oleh konsep phone (suara, citra akustik) dalam pemikiran Saussure. Husserl semacam terobsesi dengan mempelajari kesadaran yang distruktur oleh konsep phone. Menurut Derrida, hal ini menyisakan aroma logosentris yang sangat kental dan terjebak pada oposisi biner, yang satu lebih baik daripada yang lain, selainnya tidak mempunyai tepat, dan tersingkirkan. Bahasa yang semula dibayangkan sebagai sistem berjenjang yang hierarkis dan oposisional ternyata tak lebih dari permainan tanda yang sengkarut dan terlalu kompleks untuk disederhanakan dalam logika biner.[14]

Fonosentrisme menyingkirkan tulisan, dan merindukan sebuah makna yang utuh. Kehadiran penutur dapat menyampaikan totalitas makna. Singkatnya, makna diidentikkan dengan sebuah momen fonosentris. Bagi Derrida, teks sendiri merupakan proses yang selalu terbuka akan kemungkinan. Tidak ada makna yang lebih dominan dari suatu tafsir dari tafsir lainnya. Lalu mengapa teks dipahami dalam kerangka struktural yang tertutup? Menurut Derrida, hal ini tidak bisa disingkirkan dari pengaruh metafisika Barat yang terlalu terobsesi pada kejelasan makna, ketetapan, dan presisi dengan seluruh totalitasnya, dengan menelantarkan aspek bahasa yang ambigu dan potensinya dalam menciptakan kemungkinan-kemungkinan. Strukturalisme tetap dibayangi metafisika logosentris yang melihat Ada dan kehadiran sebagai makna itu sendiri.[15]

Pemikiran Barat, demikian Derrida, selalu telah distrukturkan dalam kerangka dikotomi atau polaritas; baik dan buruk, ada dan ketiadaan, kehadiran dan ketidakhadiran.[16] Yang satu lebih superior daripada yang lain, mendominasi dan memerjinalkan makna yang lain. Filsafat barat sesungguhnya selalu menganggap Ada sebagai kehadiran.[17] Persoalannya bagi Derrida adalah kategorisasi yang disusun oleh teks memuat berbagai struktur penandaan. Jika filsafat ingin merangkum segalanya dalam rumusan tunggal, maka sedari awal rumusan tersebut tidak dapat mengelak dari perbedaan-perbedaan struktur tanda. Logika apapun yang hendak meneguhkan sebuah keutuhan tidak terbebas dari aspek diferensial tanda, maka pemikiran koheren apapun akan selalu tebentur dengan diferensial tanda. Teks merupakan perlawanan terhadap pusat yang secara ontologis diyakini sebagai makna atau kebenaran yang instrintik dalam suatu hal.[18]

Lalu, kebenaran terletak di sebelah mana dalam teks? Sementara kebenaran itu sendiri tidak dapat keluar dari jejaring-jejaring tanda teks, maka prinsip intertekstualitas menjadi satu-satunya cara bagi kita untuk melihat kebenaran. Derrida menyatakan “tidak ada apa-apa di luar teks” (il n’y a pas de hors-texte).[19] Dengan kata lain, kita tidak dapat menemukan kebenaran di luar sistem tanda. Dalam prinsip intertekstualitas, pusat pemaknaan akan runtuh dan tidak ada prioritas utama dalam struktur pemaknaan. Yang terjadi adalah proses decentering; pusat-pusat menyebar ke segala arah dan melahirkan tanda-tanda yang membangun teksnya sendiri.

Penyebaran makna yang disebut diseminasi adalah konsekuensi langsung dari pembacaan dekonstruktif. Lalu, apa itu dekonstruksi? Dekonstruksi tidak meneruskan kesangsian yang diwariskan oleh skeptisisme, tetapi dengan hati-hati mengungkap kontradiksi internal dalam teks itu sendiri.[20] menurut Barbara Johnson sendiri, dekonstruksi adalah strategi mengurai teks. Meski Derrida sendiri enggan mendeskripsikan apa itu dekonstruksi. Jelas ketika sesuatu terdefinisi maka akan mengandung sebuah logosentrisme lebih kuat dan mapan. Derrida enggan dekonstruksi terjatuh pada lubang yang ia kritik sendiri. Strategi dekonstruksi bermula dari mempertanyakan klaim filsafat bahwa makna mempunyai makna yang univok dan tidak menyisakan sedikitpun ambiguitas.

Aspirasi utama dekonstruksi adalah menyingkap makna-makna yang dipinggirkan, diabaikan dan disembunyikan.[21] Arah dekonstruksi harus bisa menertawakan diri sendiri. Karena dekonstruksi sudah menyusup sejak awal mula dari teks. Suatu saat teks tidak dapat terhindar dari sebuah kondisi internal teks itu sendiri yakni sebuah hal yang niscaya akan didekonstruksi. Ketidakstabilan penanda-petanda, yang akan dirasuki hantu dekonstruksi. Dekontruksi akan memperlakukan teks, konteks, dan tradisi sebagai sarana yang membuka diri kepada kemungkinan baru melalui hubungan yang tidak mungkin. Sebuah pembukaan diri kepada yang tak bisa diramalkan.

Pembacaan dekonstruktif tidak memiliki pengandaian teleologis seperti yang dilakukan pada umumnya dalam pembacaan, tidak ada makna yang ingin ditangkap, tidak mengarah kepada referensi yang tetap, dan mengalami diseminasi (menyebar ke segala arah). Artinya, memungkinkan jika suatu saat akan ada loncatan-loncatan tafsir yang tak terduga yang muncul dari sebuah teks. Makna tetap ada di balik layar teks, tetapi bukan sebuah bentuk kehadiran, melainkan sebagai proses-menjadi yang terus menerus menunda pengertian dengan membuka diri pada penanda-penanda baru dan ambigu.

Dengan itu, nostalgia metafisika memperlakukan diri sebagai penangkal atas segala keburukan, kejahatan, dan penyimpangan akan kebenaran.[21] Setiap pemikiran yang menyangkal akan kebenaran tunggal akan dianggap racun, liar, dan meracuni jiwa harus diatasi oleh metafisika. Dengan seluruh totalitasnya metafisika membungkam suara yang-lain, yang-berbeda dari dirinya. Dengan demikian, metafisika mendambakan ketunggalan utuh yang tak pernah terjadi karena selalu dipengaruhi oleh diferensial tanda. Penunggalan terhadap sesuatu akan niscaya runtuh dan menjadi utopia bagi diri manusia.

Secara praktis untuk menggali makna-makna tersembunyi teks, ia bisa didekonstruksi melalui langkah-langkah sederhana sebagai berikut: Pertama, mengidentifikasi oposisi biner (op-bin) yang dihadirkan teks. Kemudian menggali asumsi yang melandasi op-bin tersebut. Setelah itu dilakukan ‘sous roture‘ (pemberian tanda silang) secara imaginer pada bagian tertentu untuk mengkritisi maknanya. Akhirnya, membalik struktur hierarkis op-bin tersebut untuk menghasilkan makna baru. Dalam dekonstruksi Derridean ini, kreativitas untuk mengganti makna yang berbeda yang tersembunyi sangatlah diperlukan.[22]

Menurut Derrida, para filsuf setelah Plato dirindukan oleh hal yang sama, yakni kerinduan akan pusat yang mengatasi segala sesuatu. Dan kerinduan akan pusat, singkatnya logosentrisme tersebut menjelma diri dalam bentuk fonosentrisme pada Saussure, phallogosentrisme pada Freud, transendentalitas Ada pada Heidegger, atau the will of power pada Nietzsche. Derrida berbeda, ia tengah bermain di atas “papan catur tanpa dasar.”[23] Segalanya bermain, menari berkelindan dalam karnaval tanda. Membuat paradoks dan merayakan perbedaan akan yang-lain.

Différance: Sebuah Kemustahilan Merengkuh Sesuatu yang Utuh dan Absolut

Dekonstruksi Derrida merupakan sebentuk penyangkalan terhadap oposisi biner yang berobsesi pada keutuhan makna, dan akhirnya Derrida menolak terhadap kebenaran tunggal atau logos itu sendiri. Seperti yang telah dibahas di atas, tulisan adalah permainan di atas bidak catur tanpa dasar.

Menurut Derrida tulisan atau teks merupakan proses gerak terus menerus dalam pemaknaan dan tak dapat merengkuh makna yang tak retak, utuh, dan absolut. Maka, setiap teks selalu meninggalkan residu, abu-abu dari sisa kehadiran yang telah sirna dan selalu tertunda maknanya. Yang tertinggal dari teks hanyalah jejak, proses apapun yang melibatkan bahasa selalu berdasarkan prinsip jejak yang disebut Derrida sebagai différance. Teks sebagai totalitas dan sebuah keutuhan telah retak dan tidak memungkinkan, tak ada lagi yang dapat menyelamatkan makna.

Différance adalah kata Perancis yang bila dituturkan, pelafalannya sama dengan kata différence, maka différance juga menandakan perlawanan terhadap dominasi tuturan dalam metafisika, karena perbedaan antara a dan e dalam différ(…)nce tidak dapat ditangkap dalam bunyi atau tuturan. Perbedaannya hanya dapat diketahui dalam tulisan bukan dalam tuturan. Tidak heran jika Derrida berkata bahwa Différance merupakan “kuburan”, yang menandai kematian fonosentrisme atau tuturan, bunyi, phone dalam bahasa. Différance juga menandai kematian bagi logosentrisme yang lebih menekankan kejelasan dan keutuhan makna. Dengan demikian, Derrida membuka era baru metafor yang kaya akan makna dan membuat kematian bagi pemaknaan literal yang selama ini selalu mendapat tempat istimewa dalam filsafat.

Derrida berkata bahwa différance bukanlah sebuat kata ataupun konsep.[24] Différance terlepas dari kata dan konsep, karena kata dan konsep selalu merujuk pada referens yang tetap, padahal menurut Derrida semua teks selalu mengalami diseminasi (menyebar). Différance adalah sesuatu yang tak bisa dihadirkan oleh suara, karena itu ia bisu, diam, di mana-mana ia aktif, tidak hadir di mana pun.[25] Différance hanyalah sebuah strategi untuk memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang implisit sekaligus menyodorkan tantangan terhadap totalitas makna dalam teks.[26] Dengan demikian tidak ada yang tidak terpengaruhi oleh différance. Différance akan selalu berada dalam setiap pemikiran, sistem, instansi, sejarah, atau apapun itu yang mendambakan kejelasan dan keutuhan makna. Maka dari itu, différance bukanlah sebuah kata ataupun konsep, jika différance adalah kata atau konsep, maka sejauh itu pula penafsiran akan terus bergerak, selalu dibongkar, dan ditakdirkan untuk selalu mencari dan menangguhkan makna. Différance berada di garis luar bahasa yang paling tipis, ia tidak terikat pada kata dan konsep, semata-mata hanyalah strategi-strategi menunda dalam perbedaan tanda dan makna.

Maka Derrida dengan tajam membalik prioritas tuturan menjadi tulisan. Dengan tulisan, makna berkembang dalam permainan teks yang tak terhingga, akan selalu mengalami lompatan tafsir-tafsir yang tak terduga, sebuah pembukaan diri terhadap yang tak teramalkan. Sesuatu yang teramalkan akan menjadi oposisi biner, mendamba kejelasan dan keutuhan yang baku. Hal yang demikian akan mustahil direngkuh, karena diterpa différance. Sebuah momen kematian makna dari pengarang, tuturan yang mendominasi filsafat Barat dibalik menjadi permainan-permainan teks yang terbuka pada ambiguitas, dan ketidakpastian makna. Makna jatuh dalam pembacaan dan tafsir yang terus bergerak dan tak teramalkan. Sebuah momen runtuhnya hierarki metafisik yang tersirat dalam oposisi biner, momen merayakan kematian dan keruntuhan metafisika.

Différance membuat kita terus menerus mempertanyakan konsep-konsep atau asumsi-asumsi yang mapan lalu mengujinya dengan kemungkinan-kemungkian yang tak teramalkan, meski kelihatan lebih absurd, radikal, dan paradoksal. Teks harus tetap dibiarkan apa adanya, tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan makna. Teks akan tampil ambigu, tidak stabil dan selalu goyah ketika tampil apa adanya.

Pengaruh différance meliputi segala hal yang menggunakan medium bahasa dan teks. Kita tidak akan dapat menangkap sesuatu secara utuh dan tak retak. Kita yang selalu terkontaminasi différance tidak akan dapat menghadirkan realitas secara utuh dan sempurna. Jika semuanya adalah teks, sebagaimana Derrida meyakininya, maka tidak ada satupun dalam kehidupan ini yang tidak terpengaruhi différance. Artinya, kita harus mengatakan dan mengakui bahwa dalam kehidupan ini ada yang retak, membuka diri pada retakan-retakan yang tak teramalkan akan masa depan yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan misterius. Différance seperti yang dikatakan Derrida, adalah momen undecidability: momen ketika pelbagai kemungkinan tak sanggup kita gapai dalam kebulatannya.[27]

Dengan demikian, différance merupakan struktur yang paling purba dalam persentuhan kita dengan teks. Dalam dunia yang dibangun oleh teks dan kiterkontaminasi oleh tanda, différance menjadi “tulisan primordial” (archi-writing), yang merasuki setiap hal yang dibangun dalam struktur teks. Dengan demikian, differance tetap bukanlah kata ataupun konsep, bukanlah esensi ataupun substansi yang memiliki tempat. Hal inilah yang membuat différance terlihat paradoksal, tetapi paradoks itu sendiri adalah dampak dari permainan-permainan jejak yang dihasilkan oleh différance itu sendiri.

Pada momen ini, Derrida ingin mengajak kita untuk sejenak merenungi kebenaran yang telah dianggap baku oleh kita. Hal tersebut membuat kita tidak dapat menempatkan pemikiran kita akan terjamin kebenarannya. Di depan sana, berbagai kemungkinan akan sangat banyak dan tidak menentu, tidak ada sejarah yang deterministik—jika begini pasti begitu. Kemungkinan dan ketidakpastian saling berkelindan dalam pergerakan menuju masa depan. Différance tidak menjanjikan apa-apa terhadap kita. Ia hanya ingin mengajak kita untuk terus menerus menghadapi ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan pelbagai kemungkinan yang tak teramalkan dalam hidup. Dengan différance kita dituntut untuk menertawakan diri sendiri dan menerima kemungkinan terburuk dari kebenaran yang kita percayai.

Hantu-Hantu Derrida

Bagaimana jika oposisi biner telah runtuh? Yang ada hanyalah tentang puing-puing, jejak-jejak, dan abu teks. Jika semuanya adalah teks, maka tidak ada yang tidak terpengaruh oleh différance. Seperti gambar di atas, ketika formasi makna tunggal telah runtuh, maka yang ada adalah membuka diri pada kemungkinan tafsir yang tak terbatas. Toilet yang dimaknai sebagai tempat membuang air besar telah menjadi tempat untuk makan! Sebuah momen runtuhnya logosentrisme. Dekonstruksi teks telah berjalan atas “makna toilet”. Toilet tidak lagi hanya menjadi tempat buang air besar, ia pun membuka diri menjadi tempat makan. Begitulah, setiap teks selalu mempunyai makna yang tersembunyi. Derrida telah menjadi hantu-hantu, mengusik dan mencemaskan setiap pencarian makna tunggal dan absolut.

Kita sebagai manusia tidak dapat membangun sebuah totalitas yang utuh, yang dapat kita lakukan adalah membuka diri terhadap perbedaan yang menjadi kodrat kehidupan. Derrida menggambarkan dekonstruksi sebagai keruntuhan menara Babel yang digambarkan dalam Perjanjian Lama: sebuah menara yang tinggi dan maha luas dengan ribuan kamar untuk menjangkau dan menyaingi keakbaran Tuhan. Kisah ini menggambarkan masa lalu yang masih dalam satu bahasa dan logat yang sama. Tuhan tidak berkenan, Dia pun akhirnya menghancurkan menara Babel dan mengacaukan rencana manusia itu, “sehingga merekapun tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.” mungkin di sana, di seberang ketakmungkinan utuh atas makna, berbagai jejak di masa silam tidak dapat membawa makna teks pada kepenuhannya, selalu retak diterpa perbedaan yag terelak kan—différance. Di sana ada proses tanpa ujung yang membuat teks tidak dapat dirumuskan secara mutlak.

Derrida tidak mengizinkan kita berhenti di sini, di detik ini. Berhenti pada suatu keutuhan berarti sebuah momen kematian. Derrida menjelma hantu, ia berada di antara dua dunia: ketiadaan dan kehadiran. Ia tiada sebagai manusia biologis, dan terus hidup sebagai bahasa yang bertaut tanpa sudah. Sebuah dekonstruksi adalah gerak menuju kehidupan itu sendiri, karena hidup adalah perayaan besar-besaran terhadap perbedaan. Derrida menuntun kita untuk merengkuh kebenaran yang-belum-mungkin, yang tidak utuh, dan selalu retak. Jalan menuju kebenaran merupakan jalan yang sangat panjang, terjal, dan penuh liku. Dan dekonstruksi adalah cara menertawakan diri sendiri dan menerima konsekuensi paling buruk dari kebenaran yang kita percayai. Seperti yang dikatakan Derrida, “Dekonstruksi bukan metode atau alat yang Anda gunakan terhadap sesuatu yang di luar. Dekonstruksi adalah sesutau yang terjadi, dan yang terjadi di dalam.”[28]

Lantas apa yang dapat disimpulkan? Jika bukan kesimpulan yang terus menunda diri, yang tak dapat direngkuh keutuhannya. Selalu tak mudah untuk menyimpulkan lalu meringkasnya dalam satu, atau dua paragraf. Selalu ada yang kurang, yang retak di seberang sana, dan tidak ada yang dapat memastikan apakah teks ini akan dapat diakhiri. Di sana di seberang teks yang berkelindan dan bertaut tanpa sudah, kita tidak boleh berhenti di sini, di detik ini. Perjalanan terlampau panjang untuk berhenti, setiap pembaca mempunyai tafsirnya masing-masing, keputusan dan kesimpulan berada atas penafsiran pembaca sekalian. Sebagaimana Derrida mengatakan, “[Ketidakmampuan mengambil keputusan adalah] kebenaran yang harus kita tolak untuk mempercayainya.


[1] Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS. 2006. hlm. 109.

[2] Ibid. Hlm. 30

[3] Harimutri Kridalaksana. Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) Peletak Dasar Strukturalisme dan Linguistik Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2005. Hlm. 16

[4] Ibid. Hlm. 17

[5] Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS. 2006. hlm. 33

[6] Harimutri Kridalaksana. Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) Peletak Dasar Strukturalisme dan Linguistik Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2005. Hlm. 22

[7] Ibid. Hlm. 23

[8] Ibid. Hlm. 27

[9] Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS. 2006. hlm. 39

[10] Ibid. Hlm. 40

[11] Ibid. Hlm. 41

[12] Ibid. Hlm. 43

[13] Ibid. Hlm. 57

[14] Ibid. Hlm. 63

[15] Ibid. Hlm. 69

[16] Wibowo, Setyo. Para Pembunuh Tuhan. Yogyakarta: PENERBIT PT KANISIUS. 2016. Hlm. 96.

[17] Jacques Derrida, Dissemination, translated, with introduction and Additional Note, by Barbara Jhonson, University of Chicago Press, 1981, hlm. VIII

[18] Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS. 2006. hlm. 76

[19] Jacques Derrida, Dissemination, translated, with introduction and Additional Note, by Barbara Jhonson, University of Chicago Press, 1981, hlm. XIV

[19] Ibid. Hlm. XIV. Bdk. Barbara Jhonson, “Translator Introduction”, dalam, Derrida, Dissemination, terj. Dan anotasi Barbara Jhonson (Chicago: The University of Chicago Press, 1981.

[20] Haryatmoko. Membongkar Rezim Kepastian. Yogyakarta: PENERBIT PT KANISIUS. 2017. Hlm. 133

[21] Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS. 2006. hlm.92

[22] Asmarani, Ratna. Pendekatan Feminis Dekonstruktif-Kultural Terhadap Anna and the King. Vol.31.No.1. Januari 2008. hlm. 18

[23] Ibid. Hlm. 96

[24] Jacques Derrida, Margins of Philosophy, translated, with introduction and Additional Notes, by Alan Bass, University of Chicago Press, 1982, hlm. 1

[25] Ibid. Hlm. 6

[26] Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS. 2006. hlm.111

[27] Ibid. Hlm. 118

[28] Kevin O’donnell. Postmodernisme. Yogyakarta: PT. KANISIUS. 2018. Hlm. 58

Daftar Pustaka

Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS. 2006.

Asmarani, Ratna. Pendekatan Feminis Dekonstruktif-Kultural Terhadap Anna and the King. Vol.31.No.1. Januari 2008.

Derrida, Jacques. Dissemination, translated, with introduction and Additional Note, by Barbara Jhonson, University of Chicago Press, 1981.

Derrida, Jacques. Margins of Philosophy, translated, with introduction and Additional Notes, by Alan Bass, University of Chicago Press, 1982.

Derrida, Jacques. Of Grammatology, translated, Correction Edition, by Gayatri Chakravorty Spivak, The Jhons Hopkins University Press Baltimore and London, 1997.

Haryatmoko. Membongkar Rezim Kepastian. Yogyakarta: PENERBIT PT KANISIUS. 2017.

Kridalaksana, Harimutri. Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) Peletak Dasar Strukturalisme dan Linguistik Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2005.

O’donnell, Kevin . Postmodernisme. Yogyakarta: PT. KANISIUS. 2018.

Wibowo, Setyo. Para Pembunuh Tuhan. Yogyakarta: PENERBIT PT KANISIUS. 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.