Skip to content

Duduk, Hidup, dan Maut

Print Friendly, PDF & Email

Mereka berdua duduk dengan diam. Apa yang dipikirkannya adalah rahasia antara mereka dengan sunyi. Masing-masing tak nampak sedih atau sebaliknya, namun getar yang timbul adalah proyeksi kepedihan. Setidaknya bagiku, yang duduk menatap mereka dengan tabah. Seperti hujan bulan juni.

Berkali-kali coba hadirkan bayang yang mereka sajikan di taman sana, tentang eksistensi atau absurditas. Sepasang kakek nenek yang duduk menung, dengan pakaian lusuh tapi bersih. Mereka hadir hanya sekali, namun bayangnya acapkali menjadi wadah untuk merenungkan pekara banyak hal.

Pada pagi itu, ingat betul bagaimana mereka hadir dengan kebisuannya yang saling terkait. Tetapi ada suatu bahasa yang begitu tajam sampai pada sekitarnya. Terlebih bagi mereka yang lamat-lamat merenungi kesendirian dalam keduaan mereka. Misalnya tentang waktu atau kesadaran? Kesediaan untuk menerima pedih atau ketaksanggupan saling meninggalkan? Mereka tak melukiskan dengan bahasa-bahasa yang lantang, seperti Chairil melukiskan rasa akan menjumpai kematian pada sajaknya. “

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang”. Tapi kesunyian mereka, serupa tanda tanya yang meminta dijawab. Ataupun seperti ihwal yang minta dipertanyakan. Lalu aku, kita, mungkin memilih keduanya.

Di sana, di taman itu, pada pagi hari. Mereka duduk. Saling berdekatan dengan tatap tak saling pandang. Mereka mengadu sunyi dalam kanvas langit pagi yang dingin, serta gigil mengamini lagu diantaranya. Bibir mereka masing terkatup, sambil sesekali menghembuskan udara hangat dalam dada. Tangan mereka saling memasung. Namun bukan antara dua manusia, tetapi milik mereka sendiri terpasung dengan hikmatnya. Menandakan dingin adalah rasa yang sedang mereka tangkap. Ditambah baju hangat yang barangkali akan masuk dalam museum, apabila mereka adalah orang yang berjuang dalam satu hal. Seperti baju-baju Munir, yang tegak berdiri menantang pengadilan hak asasi, menjadi pajangan dalam sebuah rumah kecil di Kota Batu. Namun bukankah memang mereka, kakek nenek itu, memang sedang atau setidaknya pernah memerjuangkan sesuatu? Setidaknya bagi anak cucu keluarga mereka sendiri. Dan gigil, mungkin juga tepat seperti apa yang coba mereka resapi. Gigil dari waktu sebelum ucapan “selamat tinggal”.

Pemandangan pagi itu, adalah suatu harmoni tentang kesadaran manusia. Bagaimana mereka menghadapi hal dengan berdiam dan tak ada keluhan. Cinta yang mereka hadirkan adalah keniscayaan tentang keabadian. Tentang kebersamaan walaupun mengerti, bahwa tak akan lama lagi ada waktu penghabisan. Pun jua, barangkali keadaan mereka yang hadir dan termenung adalah juga sebuah bentuk kesadaran akan sesuatu yang terarah kepada sebuah tindakan. Meskipun tindakan mereka dari sana adalah diam. Dari sini setidaknya, tentang kesadaran yang dibicarakan Husserl adalah sesuatu yang kemudian menjadi tepat. Ada makna yang meminta untuk digali dari sebuah bentuk kesadaran, yang mungkin, di sini akan disimpul sebuah bentuk tentang kesadaran akan penjemputan. Kesadaran akan pagi-pagi yang akan datang dan mungkin tak akan dilalui berdua lagi atau sama sekali.

Sedang kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah benarkah demikian pemaknaan mereka terhadap kesadaran pada waktu itu?

Kemudian hal tersebut menjadi hantu yang tak pernah urung dalam waktu-waktu yang lewat. Kesadaranku, kita, tentang pemaknaan objek mereka, selalu meminta tanggung jawab untuk ingin diluncurkan lewat suatu gagasan. Antara bagaimana kesunyian, kesadaran, serta keberpisahan menjadi satu dalam momen yang liar. Mencengkeram erat dan tak ingin lepas sebelum kemudian hadir sebagai gagasan yang mengelupas.

Tetapi sayangnya, keterbatasan paham tentang “sadar”, “diam”, “waktu”, atapun “kehadiran”, adalah sesuatu yang terbata. Sesuatu yang tak mudah untuk dicari jawabannya.

Sampai kemudian, pada akhirnya keresahan itu menarik satu kejadian lain.

Pemaknaan terhadap hari-hari akhir menjelang kematian, membawaku, kita, pada tulisan GM yang berjudul “Harapan”. Yang menggambarkan hari-hari akhir seorang profesor tua dengan sebuah pemaknaan yang begitu hidup. Ia yang tak ingin dikalahkan oleh penyakit yang diindapnya dengan menjadikan hari menjelang kematiannya sebagai sebuah proyek akhir dalam hidupnya. Begitu ada diagnosa tentang kematian, keputusan luar biasa justru muncul dari ketakutannya terhadap perpisahan. Perpisahan dengan nafas.

Diisinya tiap minggu dengan perkuliahan yang membicarakan tentang banyak hal. Kematian, maaf, sampai hal-hal lain yang umum dibicarakan oleh mereka yang kan pergi jauh. Di sampingnya, ada seorang mahasiswanya yang setia menjadi pengikut perkuliahan. Yang dia putuskan sendiri bahwa hari-hari tersebut akan didedikasikan kepada sang profesor yang menolak untuk kalah. Tapi kadang menolak untuk kalah bukanlah berarti menjadi menang. Tetapi bagaimana rela menghadapi kepedihan yang terakhir dalam detik-detik kekalahan.

Hingga pada akhirnya, perkuliahan dalam beberapa minggu itu pun berakhir. Bukan dengan sebuah wisuda, namun sebuah pemakaman.

Dari cerita tersebut, barangkali aku, kita, kemudian membuat sebuah simpul terhadap kejadian sebelumnya. Bahwa kini secara tidak langsung, aku, kita telah menjadi mahasiswa yang mendedikasikan hari-hari akhir dengan sebuah pemahaman yang mendalam mengenai kesadaran akan kepergian (setidaknya) lewat momen pagi hari tersebut. Pemahaman mengenai kematian yang di dalamnya tak bisa kita tolak, kemudian menjadi sebuah kepasrahan tentang mempersiapkan diri. Pun kesadaran tersebut pula yang kemudian menuntun pada pemaknaan mengenai kesadaran, tentang bagaimana sebuah kehendak yang dengan heroik menerima, ternyata pada satu titik juga sempat menemui lelah dan rasa tak ingin beranjak. Meski hanya sejenak.

Di sisi yang lain pula, ada sebuah wajah samar dari cinta yang tajam. Dengan diam, mereka melukiskan bagaimana cinta yang telah larut dalam waktu juga tak akan bisa hilang. Meskipun samar, wajah itu masih hadir.

Dan pada akhirnya yang tersisa dari kehidupan yang coba mereka representasikan adalah maut. Maut yang mengincar, maut yang mengancam. Tapi manusia masih bisa meninggalkan perihal, meninggalkan kesan.

Pada suatu pagi, mereka akan duduk di tempat yang sama. Masih ada di sana. Tak pernah pergi, tak pernah bersedih.

Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.