Skip to content

Gott is tot! Warta Kematian Tuhan: Pemikiran Filosofis Friedrich Nietzsche

Print Friendly, PDF & Email

Ledakan, ketakutan, teror, dan ancaman terhadap kemanusiaan menggema. Apakah Tuhan telah mati sampai-sampai ia tak bisa mengendalikan dunia yang sudah gila ini?  Tuhan yang mana? Tuhan Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Kejawen, atau yang mana? Atau kah tuhan konsepsi? Isi kepala kah penyebabnya? Tetapi, mengapa para profesor tak sedikit yang menjadi fanatis? Bahkan seorang filsuf besar sekalipun–Martin Heidegger–terjebak pada fasisme Hitler yang membunuh ribuan bangsa Yahudi. Mirisnya, guru Heidegger, yakni Edmund Husserl dan muridnya Hannah Arendt merupakan bangsa Yahudi.

Warta kematian Tuhan harus ditafsir dengan sangat hati-hati. Melalui refleksi filsafat ateismenya, Nietzsche dapat menuntun kita untuk melihat hal yang paling mistik dalam relasi kita dengan Tuhan. Dalam hal ini Nietzsche yang a-religius sesungguhnya adalah orang yang sangat religius. Bahkan, karena Nietzsche pula kita dapat memurnikan anggapan yang mengerdilkan Tuhan dan meletakkan-Nya di atas kekerdilan kita. Tidak heran jika pemikir serius seperti Gustave Thibon (1975) melihat Nietzsche sebagai “mistikus, meski tanpa menyadarinya.

Memahami pemikiran Nietzsche tidaklah mudah karena beraroma aforisme (kalimat-kalimat singkat yang merangsang orang untuk berfikir) yang sangat kental. Dengan demikian pemikiran Nietzsche perlu ditafsir kembali untuk memahaminya. Bahkan, Nietzsche mendobrak kemapanan yang mencoba membekukan sesuatu menjadi satu konsep tunggal. Kelak pemikiran Nietzsche akan menjadi tonggak kelahiran posmodernisme yang bercirikan filsafat yang membongkar.

Sekilas tentang Friedrich Wilhem Nietzsche

Friedrich Wilhelm Nietzsche merupakan filsuf yang pengaruhnya sangat besar pada generasi filsuf berikutnya terutama para kalangan filsuf posmodernisme seperti Heidegger, Derrida, Michel Foucault, dan lain-lain. Ia lahir pada tanggal 15 Oktober 1844 di Roecken, Jerman. Orang tuanya bernama Carl Ludwig Nietzsche, seorang pastor Lutheran yang keras dan istrinya bernama Franzsiska, yang biasa dipanggil Oehler. Kakek dan kakek buyut dari pihak ibu semuanya berprofesi sebagai pendeta. Ia diberi nama oleh ayahnya untuk menghormati kaisar Prusia, Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama. Belum genap Nietzsche berusia 5 tahun ayahnya meninggal dunia.

Setelah berusia 14 tahun (tahun 1858), Nietzsche mendapatkan beasiswa untuk belajar di Gymnasium (sekolah setingkat SMA) di Pforta. Ia belajar di sekolah yang terkenal dengan tradisi humanis dan lutheran sampai tahun 1864. Pada usia 20 tahun, Nietzsche mendaftarkan diri ke fakultas teologi dan fakultas filologi klasik di Universitas Bonn. Ia tidak lama di Universitas Bonn dan hanya bertahan selama satu tahun (1864-1865). Selepas keluar dari Universitas Bonn ia pindah ke Universitas Leipzig karena dia mengikuti profesor filologinya yang bernama Friedrich Ritschl. Di Leipzig pula, Nietzsche berjumpa dengan karya Schopenhauer Die Welt als Wille und Vorstellung (Dunia sebagai Kehendak dan Representasi). Penemuan kebetulan ini berpengaruh besar terhadap Nietzsche yaitu dari filologi ke filsafat.

Pada tanggal 13 Februari 1869, pada usia 24 tahun ia diangkat menjadi profesor pembantu untuk fakultas filologi klasik di Universitas Basel-Swiss berkat rekomendasi Friedrich Ritschl. Pada tahun itu, tepatnya tanggal 23 Maret, ia mendapatkan gelar doktoralnya oleh Universitas Leipzig dan saat itu pula Nietzsche menjadi warga negara Swiss.

Perjalanan Nietzsche penuh dengan liku-liku, mulai dari penyakit yang sangat beragam sampai pada kehidupannya yang soliter. Nietzsche meninggal pada tahun 1900, yakni penghujung abad 19, pada tanggal 25 Agustus 1900. Ia dimakamkan di makam keluarganya di Roecken, Jerman.

Nietzsche merupakan seorang filsuf yang mengungkapkan gagasan-gagasan filosofisnya berbentuk sastra. Tak heran jika ia mempunyai kehidupan yang bercabang dua, yakni sastrawan dan seorang filsuf. Hal ini lah yang menjadi ciri khas Nietzsche dengan sastrawan maupun dengan filsuf lainnya. Nietzsche sangat tepat menggunakan kata-kata karena latar belakangnya adalah seorang filolog, apalagi tulisan-tulisannya yang berbentuk aforisme.

Kehidupan Nietzsche sangat lah panjang dan banyak mengundang tanya. Pada kehidupannya yang soliter ia menghasilkan karya-karya besar yang banyak menginspirasi kalangan filsuf selanjutnya, khususnya kalangan posmodern. Beberapa karangan Nietzsche sebagai berikut: Die Geburt Der Tragodie (Kelahiran Tragedi, 1872), Unzeitgemasse Betrachtungen (Pandangan Non-Kontemporer, 1876), Menschliches Allzumenschliches (Manusiawai, Terlalu Manusiawi, 1880), Die Frohliche Wissenschaft (Ilmu yang Gembira, 1882), Also Sprach Zarathustra (Maka Berbicaralah Zarathustra, 1885), Jenseits Von Gut Und Bose (Melampaui Kebajikan dan Kejahatan, 1886), Zur Genealogie Der Moral (Genealogi Moral, 1887), Der Fall Wagner (Perihal Wagner, 1888), Gotzen-Dammerung (Menutupi Berhala, 1889), Der Antichrist (Sang Antikristus, 1889), Ecce Homo (Lihat Sang Manusia, 1889).

Nietzsche lahir untuk melampaui zamannya. Gayanya sangat khas sehingga para pemikir ingin mencari tahu inti pemikiran Nietzsche. Ia menjadi sangat kontroversial dengan pernyataan God is Tott (tuhan telah mati) yang telah menggoncang dogma-dogma, kebenaran yang telah dianggap mapan dan mutlak. Tidak berlebihan jika Nietzsche dikatakan sebagai gempa bumi di abad 19

Der Wille Zur Wahrheit (Kehendak Akan Kepercayaan)

Apa yang membuat manusia rela mati demi mempertahankan sebuah kebenaran yang ia yakini? Beberapa kasus, nama tuhan merupakan motif paling mengerikan untuk sebuah alasan perang. Setiap orang memiliki “sesuatu yang paling berharga, paling kudus” yang deminya ia siap menjadi martir.[1] Demi yang kudus, manusia rela kehilangan nyawa sekalipun untuk sekedar mempertahankan. Ia tidak hanya dapat berbentuk agama, bisa berbentuk sains, ideologi, partai, dan kepercayaan apa pun. Singkatnya, kehendak mati-matian akan kebenaran.

Kecenderungan manusia selalu mencari dan ingin menangkap yang terdalam dari realitas maupun dirinya sendiri. Manusia menghendaki sebuah kebenaran, misteri, maupun sesuatu yang terselubung atas dirinya. Keinginan mati-matian untuk mengetahui sebenarnya merupakan hal yang normal dan manusiawi, tetapi di mata Nietzsche hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang mematikan.

Hal yang mematikan dari kehendak akan kebenaran menurut Nietzsche adalah aktivitas penyeragaman, karena mengandung bahaya penghilangan keberagaman yang partikular.[2] Artinya,memiskinkan realitas hanya dengan satu sudut pandang belaka. Menurut Nietzsche sendiri, realitas adalah Chaos (berantakan) sehingga kita tidak dapat mengatakan apa-apa terhadap realitas.

Realitas sendiri terus bergerak. Dari sinilah Nietzsche berpendapat bahwa perang adalah inti realitas. Jika berhenti pada satu titik, sebenarnya telah mengkhianati realitas yang senyatanya terus bergerak. Perang di sini bukan sebagaimana perang dan mengeluarkan kucuran darah, tetapi benturan-benturan eksistensial, antara dirinya dengan lingkungan, konsep, maupun perihal lain di dalam dirinya sendiri. Dengan demikian realitas tidak pernah diam dan berhenti pada satu titik semata.

Kebutuhan untuk percaya membawa pemahaman bahwa sekuat apapun argumentasi tidak akan ada gunanya ketika berbicara kepada yang telah meng-idee-fixe-kan sebuah kepercayaan. Nietzsche menyebutnya sebagai hipertrofi sudut pandang, atau pembengkakan sudut pandang. Dari sudut pandang sempit, ia generalkan. Contohnya, ketika anda membaca RIRID, di dalam kata RIRID terdapat huruf R, I, dan D. Tetapi, dalam Hipertofi sudut pandang yang terjadi hanyalah ada satu huruf RRRRR atau DDDDD, atau IIIII. Inilah yang disebut sebagai generalisasi sesuatu yang berdasarkan dari hal yang sempit.

Ketika sesuatu dipaku (idee-fixe), ia akan mati pada selubung tertentu. Tidak ada daya-daya tafsir baru, diam dan statis. Model berfikir idee-fixe tercermin pada abad modern ditandai dengan kemajuan sains dan teknologi. Menganggap bahwa kemajuan ini dapat membawa suatu pencerahan dan menjadi medan tunggal dalam memahami realitas. Artinya, satu, absolut, dan tak dapat digoyahkan. Kelak Derrida menyebut budaya Barat yang seperti itu sebagai logosentrisme, yang terjebak pada oposisi biner (benar-salah, baik-buruk, dsb) sehingga yang satu akan mengalahkan yang lain. Heidegger menyebutnya sebagai krisis pengetahuan. Pada konteks kemajuan Barat itulah Nietzsche justru menubuatkan kedatangan nihilisme. Sebuah krisis kebudayaan yang tak terelakkan, di mana nilai-nilai tertinggi kehilangan maknanya, tujuan tidak ada lagi.[3]

Nietzsche memandang realitas sebuah chaos (tanpa bentuk, kacau). Di hadapan realitas yang serba tanpa bentuk, berantakan, kontradiktif, campur aduk, singkatnya kaotis. Hal demikian, lantas tidak membawa manusia menjadi marah, reaksioner, dan dendam. Jika manusia menghadapi realitas dengan dendam maka ia adalah tipe dekaden (menurun). Justru, di hadapan realitas yang chaos perlu disambut dengan tangan terbuka, diatur, disusun, dicipta, dijadikan kosmos sesuai dengan gaya dan cita rasa hasil latihan kerja kerasnya.[4] Artinya, setiap person menghadapi realitas dengan gaya askenden (menaik), berbanding terbalik dengan gaya dekaden yang cenderung reaksioner dalam menghadapi realitas.

Ketika gaya askenden menjadi sebuah sudut pandang dalam menghadapi realitas, yang terjadi adalah rendah hati dan tahu diri. Ia tahu realitas sangatlah dalam dan tak akan pernah habis dalam menggapai kedalaman realitas. Ia tidak berhenti pada satu titik adikarya dalam memahami realitas, singkatnya tidak tejebak pada idee-fixe. Dalam terminologi Nietzschean, secara singkat dapat dikatakan: Kehendak Kuasa (der Wille Zur Macht) menampakkan diri di dalam dorongan dominasi diri, penguasaan diri, yang selalu terekspresikan dalam dayanya untuk memberi kosmos pada realitas kaotis di depannya; kemudian, dorongan seperti itu tidak akan pernah berhenti, ia akan melupakan yang lama untuk menciptakan adikarya yang baru.[5] Dari sinilah doktrin kekembalian yang sama secara abadi; gaya yang selalu kembali secara abadi, tetapi tidak pernah baru karena bentuk permukaan senantiasa terus mengalami transfigurasi. Contohnya, kejadian-kejadian menyakitkan akan terulang terus menerus, tetapi bentuk yang menyebabkan Anda sedih terus berubah-berubah, dulu Anda kehilangan sepeda motor, dan sekarang Anda kehilangan ponsel pintar, kegelisahan dan kesedihan tetap terjadi, tetapi bentuknya selalu berubah-ubah, inilah permukaan yang senantiasa mengalami transfigurasi.

Analisis Nietzsche tentang kebutuhan untuk percaya akan menimbulkan pertanyaan demikian, “Apa yang kumaui saat aku menghendaki sesuatu?” Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh kehendak, itulah yang dicari. Sesungguhnya ketika melontarkan pertanyaan demikian, yang terjadi adalah memasuki pada kedalaman diri sendiri. Melalui transfigurasi reflektif untuk mempertanyakan segala sesuatu yang dikehendaki. Hal inilah cikal bakal suatu analisis yang dinamakan Nietzsche sebagai Genealogi. Kelak Michel Foucault akan mengembangkan analisis Nietzsche mengenai genealogi.

Isi pemikiran filosofis, isi doktrin agama, isi doktrin ideologi, dianalisis melalui pisau genealogi sehingga mampu mempertanyakan isi kehendak, “Apa yang dimaui kehendak dalam kehendaknya untuk percaya pada Tuhan?”, “Apa yang dimaui kehendak dalam kehendaknya untuk percaya pada sains?”, itulah sederet pertanyaan untuk masuk kedalam diri manusia. Dari sinilah nantinya akan ditemukan tipologi (mengelompokkan) subjek yang menghendaki: tipe lemah (dekaden) atau tipe kuat (askenden)

 Gnothi Seauton (Kenalilah Dirimu Sendiri) Untuk Memahami Nietzsche

Gnothi Seauton merupakan istilah Yunani yang berarti kenalilah dirimu sendiri. Memasuki diri sendiri dan menjadi diri sendiri merupakan jalan satu-satunya dalam memahami Nietzsche, ia berkata dalam La Gaya Scienza:

“Kepada Pembacaku. Gigi yang kokoh, perut yang kuat. Itulah yang kuharapkan darimu. Dan kalau bukuku sudah kau cerna pasti kau tahu bagaimana mengerti dirimu sendiri bersamaku.”[6]

Ketika mencoba memahami Nietzsche, yang terjadi adalah kita dapat menemukan kesejatian diri yang otentik. Nietzsche menghujam pertanyaan-pertanyaan yang menggugat kehendak dalam diri. Ia bukanlah filsuf yang ingin dipahami, mungkin karakter khas seorang Nietzsche ini melahirkan karya bercorak aforisme yang sangat kuat. Memahami Nietzsche dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan siapa saja pembacanya untuk merefleksikan penderitaan yang dialami dalam kehidupan. Nietzsche dalam La Gaya Scienza:

“Vademecum-Vadetecum. Gaya dan bahasaku merayumu? Apa? Kau hendak mengikutiku langkah demi langkah? Lebih baik perhatikan dirimu sendiri. Dan dengan begitu kau akan mengikutiku–dengan pelan-pelan!”[7]

Nietzsche menggambarkan pemikiran sebagai proses pengunyahan dan pencernaan. Ia memberi contoh sapi. Sapi ketika makan, ia mengunyah, ditelan, dikeluarkan lagi, dikunyah, ditelan kembali untuk dapat diserap oleh tubuh si sapi. Begitulah Nietzsche, tidak terburu-buru dalam membaca dan menafsirkan sesuatu. Nietzsche menolak untuk dipahami secara gampangan, ia membentuk sebuah labirin di dalam teks-teksnya seakan-akan satu sama lain saling berkontradiksi. Padahal pada titik yang bersamaan karya-karya Nietzsche berdiri pada dua tebing yang berbeda “Iya sekaligus tidak”. Sebagai contoh, di satu sisi Nieztsche melakukan kritik luar biasa terhadap agama dan di sisi lain pun tak segan-segan melakukan kritik terhadap ateisme. Apapun konsep yang telah dibekukan maka akan dikritik habis, ateisme adalah cerminan dari Aufklarung yang yakin akan sains. Singkatnya sains telah menjadi kepercayaan mutlak nyaris menjadi agama baru.

Tidak heran jika banyak tafsir akan Nietzsche. Karena memang pada dasarnya, jalan menjadi Nietzschean adalah menjadi diri sendiri. Menafsir pengalaman yang paling menyakitkan dalam kehidupan secara ascenden adalah proses untuk menjadi diri secara otentik; menerima realitas apa adanya, membentuk dengan keahlian, dan kerja keras. Filsafat Nietzsche membedah struktur kehendak terdalam dari manusia. Inilah Nietzsche dengan perjalanan kehidupan yang menyakitkan, membentuk sebuah dasar filosofis yang sangat berpengaruh pada abad ini.

Nietzsche mengajak kita untuk melampaui diri kita sendiri, melampaui zaman, yang disebut Nietzsche sebagai ubermensch (manusia-yang-melampaui). Di sini lah patokan dan cita-cita akhir dalam kehidupan akan terus dilampaui. Pengertian Nietzsche ini sangat bernada sufistik. Para sufi tidak pernah final dalam memahami sesuatu, para sufi akan berkata “bukan ini yang aku cari, yang aku cari ada di depan sana.” Tentu saja berbeda dengan Nietzsche, para sufi dalam pengertian menuju Tuhan. Jika telah mem-fix-kan telah sampai kepada Tuhan maka pada dasarnya ia belum sampai.

Begitulah Nietzsche memahaminya, bukan berarti Tuhan yang sebenarnya akan benar-benar mati. Alih-alih warta kematian tuhan menjadi gempa bumi untuk teologi, justru Nietzsche membantu meletakkan konsep Tuhan di atas kekerdilan kita. Nietzsche membuka tabir keintiman dengan Tuhan, dia adalah seorang mistikus tanpa ia pun menyadarinya.

Rumah Ibadah Telah Menjadi Kuburan-Kuburan Tuhan

Rumah ibadah menjadi kuburan Tuhan, dan digantikan dengan tuhan-tuhan konsepsi. Mimbar-mimbar peribadatan menasbihkan diri menjadi kehendak langsung dari Tuhan. Dogma-dogma final dan absolut menjadi makanan sehari-hari. Tuhan mati dalam mimbar-mimbar ibadah. Tuhan seakan-akan statis, diam, dan kerdil dalam konsepsi. Selain Tuhan-ku salah, inilah kematian Tuhan, dan menerbitkan “tuhan-tuhan” baru.

Tafsir menjadi statis, Tuhan difahami sebagai hal yang diam, tak bergerak. Kematian tafsir merupakan konsekuensi logis dari pemutlakan sebuah konsep, singkatnya idee-fixe. Tuhan terkubur dalam konsepsi manusia, Tuhan seakan-akan dipaksakan dalam isi kepala manusia. Telah final, kehendak akan kebenaran telah menjadi hal yang mematikan. Singkatnya, Gott is Tot! Tuhan telah mati!

 Nietzsche melancarkan kritik pedas dalam La Gaya Scienza:

“…Masih diceritakan lagi bahwa pada hari yang sama si orang sinting itu masuk ke dalam gereja yang berbeda-beda di mana dia mulai menyanyi-nyanyikan lagu Requiem aeternam Deo (istirahat kekal Tuhan). ketika dilemparkan keluar dan harus menjelaskan tanpa henti-hentinya dia mulai lagi: ‘Gereja itu apa sih, kalau bukan rongga-rongga dan kuburan-kuburan Tuhan.”[8]

Tak diragukan lagi, Nietzsche adalah seorang ateis! Benar-benar tidak percaya kepada Tuhan. Saya ingin memahami aforisme Nietzsche di atas, bukan hanya pada sisi agama Kristen semata, tetapi agama seluruhnya, tak luput pula sistem-sistem ideologi. Mimbar-mimbar di rumah peribadatan telah menjadi dogma-dogma kepentingan. Ingatkah Anda dengan kasus pengeboman Gereja di Surabaya waktu lalu? Itulah hasil mimbar-mimbar dogma agama yang dimutlakkan. Tuhan menjadi alasan kuat untuk berperang. Kehendak yang tak stabil, menyandarkan diri secara mutlak kepada yang trasenden. Singkatnya, kehendak mati-matian akan kebenaran.

Keinginan untuk mencari kebenaran merupakan sifat alamiah dari manusia. Menjadi sangat bahaya ketika “aku sama sekali tidak ingin salah”. Ketika orang memuja sebuah kebenaran, Nietzsche memperlihatkan jangan-jangan di sana terdapat insting gerombolan kaum bingung yang mencari-cari pegangan buat diri mereka sendiri. Alih-alih melestarikan kebenaran, akan terbukti bahwa mereka justru mempertontonkan kekosongan kebenaran pujaan tersebut.[9] Mengapa? Karena mereka membumihanguskan realitas, gaya dekaden.

Bukankah Nietzsche benar jika ia mengatakan bahwa Tuhan telah mati? Ya benar! Tuhan dimatikan oleh konsepsi manusia, melalui mimbar-mimbar agama. Alih-alih ingin menumbuhkan Tuhan dalam diri manusia, dengan tidak sadar manusia telah membunuh Tuhan. Tuhan digantikan oleh tuhan konsepsi yang bersifat mutlak dalam kepala (idee-fixe), yang ditandai dengan kematian tafsir.

Kesimpulan

Friedrich Nietzsche merupakan filsuf yang kontroversial. Karya-karyanya dipenuhi dengan aforisme-aforisme yang menggugah untuk berfikir dan ditafsir ulang. Gaya filsafatnya yang bercorak membongkar, tak mudah difahami oleh zamannya. Pada abad ini, Nietzsche telah membuka tabir-tabir dan mengilhami kelahiran corak filsafat post-modernisme yang bersifat membongkar.  Pemikirannya akan kehendak menjadi sebuah alat untuk memahami diri kita sendiri. Inilah jalan satu-satunya untuk memahami Nietzsche, dengan merefleksikan dan mengenal diri kita sendiri. Nietzsche tak akan segan-segan mengkritik sesuatu yang telah di-Idee-fixe-kan dan dimutlakkan dalam satu konsep tunggal. Karena Nietzsche pulalah kita dapat memahami bahwa secara ontologis realitas sangatlah dalam. Nietzsche ingin memberitahu bahwa hidup adalah pencarian tanpa ujung. Ia ingin berkata bahwa teruslah berjalan dan jangan berhenti, ketika telah berhenti semuanya sudah berakhir. Artinya, kitalah yang telah mati! Kita mati dalam kehidupan. Beranikah Anda menjadi diri sendiri secara otentik dengan pencarian terus menerus?

[1] Setyo Wibowo.dkk. Para Pembunuh Tuhan. Yogyakarta:Kanisius. 2016. hlm 7

[2] Setyo Wibowo. Gaya Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: KANISIUS. hlm 174

[3] Setyo Wibowo.dkk. Para Pembunuh Tuhan. Yogyakarta:Kanisius. 2016. hlm 123.

[4] Setyo Wibowo. Gaya Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: KANISIUS. hlm 120

[5] Ibid. hlm. 120.

[6] Penulis sepenuhnya menggunakan terjemahan dari A. Setyo Wibowo dalam teks-teks Nietzsche yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia di buku yang berjudul Gaya Filsafat Nietzsche.

[7] Ibid. hlm 32

[8] Ibid. hlm 285

[9] A. Setyo Wibowo.Nietzsche: Genealogi Kaum Fanatik. Dikutip dalam majalah Basis hlm.7. Dua Bulanan, Nomor 03-04, Tahun ke-65, 2016.

Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.