Indigenous Psychology: Jalan Keluar Kebuntuan Relevansi Ilmu Psikologi

Eksistensi Ilmu Psikologi, dewasa ini menjadi salah satu rujukan yang kerap dipertimbangkan untuk menjelaskan berbagai macam problematika yang muncul pada masyarakat di Indonesia. Persoalan kehidupan masyarakat kian mengerucut terhadap penelusuran terhadap pola-pola kejiwaan manusia Indonesia yang turut dibentuk oleh kondisi geografis wilayah lokasi tempat tinggal dan realitas sistem interaksi masyarakat komunal. Hal ini menimbulkan sebuah insight terhadap pemetaan Ilmu Psikologi di Indonesia, bahwa kebenaran sebuah ilmu pengetahuan haruslah memandang kesesuaian antara rasionalitas dan empirisme, sebagaimana yang diungkapkan oleh Mukhtasar Syamsuddin dalam papernya berjudul Discovering Truth: A Value Neutral Social Sciences pada The International Symposium on Social Science (SOSS) 4 September lalu. Kesesuaian tersebut ditujukan agar menjangkau prinsip-prinsip kebermanfaatan sosial masyarakat, yaitu kesetaraan, kebersamaan, keadilan sosial dan keterbukaan.

Dominasi Positivistik

Mulanya psikologi lahir dan berkembang di daratan Eropa-Amerika, serta masih didominasi dengan cara pandang positivistik yang menggunakan suatu standar tunggal untuk memvalidasi kebenaran objek kajian. Sebut saja Wilhelm Wundt sebagai penemu psikologi modern sekaligus dinobatkan sebagai Bapak Psikologi Eksperimental, telah menempatkan suatu basis ilmu pengetahuan tentang jiwa manusia yang harus bisa terjangkau oleh alat indra dan terukur oleh standar-standar tertentu, lantas kemudian menghasilkan postulat-postulat alam yang mengedepankan hukum kausalitas. Ditambah lagi, kecenderungan perkembangan metode penelitian ilmu pengetahuan psikologi hari ini, tidak bisa dilepaskan oleh intervensi iklim kemajuan ilmu pengetahuan teknologi (iptek) yang berakar pada objek kajian yang stagnan. Sehingga bisa kita dapati bahwa hasil pengukuran-pengukuran manusia yang telah dikuantifikasi dalam suatu penelitian empiris, seringkali begitu jauh dengan akar persoalan dan dinamika yang terjadi di masyarakat.

Di sisi lain pada awal 1980-an, para ilmuwan dan praktisi psikologi Asia yang mendapatkan gelar pendidikan dari universitas negara-negara barat, mulai menemukan kesulitan untuk mengaplikasikan ilmu Psikologi. Merujuk pada buku Memahami & Mengembangkan Indigenous Psychology yang ditulis oleh Faturochman, dkk, terdapat suatu pertanyaan mendasar tentang validitas, universalitas, dan aplikabilitas teori-teori Psikologi barat yang cenderung mengikuti pola pikir masyarakat individual. Keresahan tersebut semakin menguap ke permukaan, ketika sejumlah perilaku atau proses pikir masyarakat non-Barat (misalnya Asia) tidak mampu dijabarkan secara komprehensif oleh teori atau konsep psikologi mainstream. Sebagai contoh konsep kebahagiaan orang Amerika ditentukan oleh adanya kontrol dan sesuatu yang dapat diperjuangkan, sementara itu, sumber kebahagiaan orang Jepang atau Korea terletak pada penilaian terhadap keberuntungan dan nasib baik. Perbedaan ini menunjukkan bahwa terdapat faktor kultural yang turut mengonstruksi karakteristik seorang individu.

Indigenous Psychology & Realitas Sosial Masyarakat

Hegemoni positivisme dan berjaraknya ilmu psikologi dengan konteks di mana masyarakat itu tinggal, memunculkan sebuah paradigma untuk mempelajari kejiwaan manusia dengan melibatkan akurasi komponen sosial dan budaya yang melingkupinya. Perlu diakui bahwa saat ini kita lebih membutuhkan sebuah perangkat berpikir yang mampu mengakomodir kebutuhan untuk melihat relasi antara pola kejiwaan manusia dan konteks nilai-nilai lokalitas yang tumbuh di sekitarnya, agar dapat memotret objek material (dalam hal ini adalah manusia) yang mendekati representasi realitas dan fenomena di masyarakat.

Adalah Indigenous Psychology, sebuah paradigma psikologi yang mengandung sistem pengetahuan untuk merefleksikan fenomena perilaku dan psikologis dalam konteks keaslian manusia itu sendiri. Pendekatan Indigenous Psychology ini berasal dari sebuah kerangka berpikir yang dapat menjabarkan hubungan dan relevansi antara teori mainstream yang sudah lebih dulu berkembang sebagai suatu konsensus ilmu psikologi dan wawasan yang berlaku dan muncul dari suatu budaya.

Dengan demikian peran teknik constructivist realism yang digunakan pada sebagian besar penelitian Indigenous Psychology, berpotensi untuk melakukan eksplorasi mendalam terhadap konstruksi atribut-atribut perilaku dan mental yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Proses konstruksi tersebut menjadi sebuah langkah yang cukup strategis untuk mengembangkan hukum keilmuan tentang manusia Indonesia, sehingga dapat mengantarkan para praktisi dan ilmuwan psikologi menuju titik terang mengenai pemahaman yang mengarah pada identitas dan jati diri manusia Indonesia dengan lebih seksama.

Di tengah-tengah perjalanan perubahan paradigma revolusi sains, kita dapat meraba kesadaran apa yang hendak dibawa oleh ilmu pengetahuan menuju suatu kemajuan untuk memecahkan teka-teki “sains normal”. Thomas Kuhn dalam karya mutakhirnya berjudul The Structure of Scientific Revolutions menjabarkan peran sejarah sains sebagai titik tolak penyelidikan untuk menjangkau kenyataan ilmu dan aktivitas ilmiah yang sesungguhnya. Maka posisi kehadiran Indigenous Psychology dalam perjalanan paradigma ilmu Psikologi, sesungguhnya adalah bagian dari terbentangnya anomali teori mainstream ilmu Psikologi yang bernuansa masyarakat barat dengan objek material Psikologi di Indonesia, yakni adalah manusia Indonesia.

Anomali yang telah terungkap tersebut lambat laun membentuk sebuah ekspresi krisis yang terekam sepanjang kurang lebih satu dekade terakhir, tentang seberapa banyak penelitian-penelitian Ilmu Psikologi sebagai hasil akhir dari sebuah proses studi di perguruan tinggi, menjangkau akar problem manusia Indonesia, serta menawarkan formula jalan keluar yang komprehensif untuk diterapkan dalam karakteristik masyarakat dengan nuansa budaya ketimuran.
Oleh sebab itu, selain menjawab hegemoni positivisme dan kebuntuan pemahaman reflektif ilmu psikologi yang kerap berjarak dari fenomena riil masyarakat, menurut saya pribadi, Indigenous Psychology adalah bagian dari kedewasaan kesadaran dalam merespon berbagai tantangan dan problematika kehidupan sosial, melalui keberanian menelusuri lebih dalam tentang atribut psikis manusia secara bottom-up, sekaligus sebagai sebuah gerakan untuk menyuarakan temuan lokal pada kesepakatan teori global.

Sekalipun ada berbagai macam kritik dan pertanyaan tentang universalitas temuan Indigenous Psychology sebagai salah satu syarat berdirinya ilmu pengetahuan, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kehadiran Indigenous Psychology, dapat dimaknai sebagai sebuah usaha untuk mengatasi kegagapan Psikologi dalam rumpun ilmu sosial untuk menjawab persoalan yang kerap kali menjajah khazanah wawasan mental manusia.

Tinggalkan Balasan