Keintiman Kritis: Wawancara dengan Gayatri Chakravorty Spivak

Teori telah menjadi semacam hal yang sepenuhnya terputus dari dunia tetapi sebenarnya tidak. Ia tetap ada di dunia
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Wawancara Steve Paulson[1] dengan Gayatri Chakravorty Spivak

HARI-HARI yang menarik bagi dekonstruksi, saat ini, terasa seperti sisa-sisa keanehan yang datang dari era lain, sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman seperti gaya rambut yang besar dan jenis celana parasut. Namun motivasi intinya ― untuk membongkar hubungan antara teks dan makna; dan mengkritik bias yang tersembunyi dari tradisi pemikiran Barat ― begitu mengakar dalam kehidupan akademis modern sehingga mudah untuk melupakan betapa menariknya gerakan dekonstruksi itu dulu. Tahun ini, Johns Hopkins University Press meluncurkan kembali debat publik tentang manfaat dari dekonstruksi bersama edisi ulang tahun ke-40 buku, karya kontroversial Jacques Derrida yang berjudul Of Grammatology yang telah direvisi ― salah satu teks dasar mengenai dekonstruksi. Edisi ini menampilkan terjemahan yang diperbaharui oleh penerjemah asli bahasa Inggrisnya, yakni Gayatri Chakravorty Spivak.

Saat ini, Spivak merupakan seorang terpelajar yang sangat terkenal―seorang sarjana yang produktif dan salah satu pendiri Institute for Comparative Literature and Society di Universitas Kolombia. Ketika Spivak untuk pertama kalinya menerjemahkan buku Derrida, ia merupakan seorang intelektual yang tak dikenal di usia 20-an ― “gadis muda Asia ini”, ucapnya, mencoba menyasar keanehan dunia akademis Amerika. Rasanya, hampir tak mungkin bagi Spivak untuk menjadi penerjemah. Ia tidak memiliki riwayat pendidikan filsafat secara formal dan bukan seorang penutur asli bahasa Inggris atau Prancis. Jadi, dapat dikatakan, bahwa proyek penerjemahan ini merupakan proyek yang berani ― dan nyaris tidak masuk akal untuk menerjemahkan teori yang rumit serta kompleks tersebut. Spivak tidak hanya menerjemahkannya, dia juga menulis kata pengantar dalam bentuk monograf yang panjang dan memperkenalkan Derrida kepada para sarjana sastra generasi muda.

Pada dekade berikutnya, Spivak mengukir karir yang tampak berbeda. Dia menjadi perintis sarjana Marxis-feminis dan selanjutnya membantu meluncurkan studi poskolonial melalui esai yang berjudul Can the Subaltern Speak. Ia bukan hanya seorang intelektual menara gading, ia juga mendirikan sekolah dasar untuk para siswa yang buta huruf di negara asalnya, India, tempat Spivak mengajar selama beberapa dekade. Entah bagaimana caranya, Spivak berhasil mengajarkan teori kritis kepada mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas elit di Amerika Serikat sekaligus mengajarkan pemberdayaan demokratis kepada anak-anak pedesaan di Bengal Barat. Sangat jarang terjadi bagaimana perpaduan antara teori dan praksis begitu terintegrasi di dalam satu orang.  

Sekarang, di pertengahan tahun 70-an, Spivak masih mempertahankan jadwal sibuknya sebagai intelektual yang memberi ceramah akademik di berbagai belahan dunia. Saya (Steve Paulson) berbincang dengannya tak lama selepas Spivak pergi ke Lagos, dan sebelum memberi ceramah di London dan Paris. Kami berdua membahas beberapa topik, mulai dari persahabatannya dengan Derrida, kisah tragis keluarga yang memicu minatnya kepada subaltern, tanggung jawab intelektual, hingga krisis kemanusiaan. Berikut adalah wawancara saya dengan Spivak.

Steve Paulson: Anda baru saja merilis buku terjemahan karya Derrida yang berjudul Of Grammatology untuk edisi ulang tahun yang ke-40. Mengapa kami membutuhkan terjemahan buku revisi ini?

Gayatri Chakravorty Spivak: Ketika saya menerjemahkan buku itu, saya tidak tahu siapa Derrida dan apa saja pemikirannya. Jadi, saya melakukan yang terbaik untuk memperkenalkan dan menerjemahkan buku itu, dan pengantar itu benar-benar membuat saya tertarik, untuk itu saya sangat berterima kasih. Tetapi sekarang, setelah pekerjaan yang panjang dengan/dan melalui Derrida, saya mampu berkata banyak hal mengenai pemikiran yang luar biasa ini. Oleh sebab itu, saya menambah kata penutup. Ini semacam penghargaan untuk kehidupan yang selama ini dijalani daripada menemukan tulisan baru yang lebih hebat.

Apakah pemahaman Anda terhadap buku Derrida berubah selama empat dekade sejak Anda pertama kali menerjemahkannya?

Saya menemukannya. Awalnya, saya tidak menyadari betapa pentingnya buku itu mengenai “Eropasentrisme”, karena pada tahun 1967 istilah tersebut tidak begitu populer. Derrida adalah seorang Yahudi Aljazair, ia lahir sebelum Perang Dunia II, yang sebenarnya Derrida berjumpa dengan filsafat Barat dari dalam. Seorang yang jenius dapat melihat Eropasentrismenya. Saya tidak memikirkan hal itu, tetapi saya telah menangkap aspek itu sebanyak yang saya lakukan saat ini. Saya juga memahami bahwa benang yang membentang di dalamnya [Eropasentrisme] bukan hanya perihal bagaimana kita harus memahaminya, melainkan bagaimana kita seharusnya hidup, yang pada saat itu tidak terlalu jelas bagi saya. Kini, saya juga sedikit banyak memahami Hegel daripada sebelumnya, sehingga saya dapat menghubungkannya.

Jadi Anda melihat buku ini sebagai kritik terhadap filsafat Barat?

Tentang apa itu de-konstruksi, kan? Bukan hanya destruksi. Ia juga merupakan konstruksi. Ia merupakan keintiman yang kritis, bukan keberjarakan yang kritis. Anda benar-benar berbicara dari dalam hal itu sendiri. Itulah dekonstruksi. Guru saya Paul de Man pernah berkata pada seorang kritikus hebat yang bernama Fredric Jameson, “Fred, kamu hanya dapat mendekonstruksi apa yang kamu cintai.” Karena Anda melakukannya dari dalam dengan sebenar-benarnya keintiman. Anda seperti memutarinya. Ya, Kritik semacam itulah ia.

Apa yang Derrida dekonstruksikan? Bagaimana dia mencoba menafsirkan filsafat Barat secara baru?

Itu telah menjadi fokus utama sejak berabad-abad yang lalu tanpa mengalami perubahan. Seluruh kelompok, kecuali beberapa yang fokus pada wacana lain. Derrida juga mengatakan hal yang sangat kuat tentang oralitas Afrika: mereka dapat mengingat tujuh generasi terdahulu. Kita tak mempunyai kapasitas seperti mereka. Di sana, “tulisan” berada pada material psikis yang disebut sebagai “memori.” Derrida menghubungkan hal ini dengan Freud. Ia bilang begini, “Lihatlah realitas dengan penuh kehati-hatian.” Ini adalah kode agar orang lain, bahkan jika mereka tidak hadir, dapat memahami apa yang kita katakan. Derrida melihat bagaimana hal ini dipinggirkan dalam tradisi filsafat.

Awalnya, Anda menerjemahkan Of Grammatology di penghujung tahun 60-an. Waktu itu, Anda adalah sarjana yang tak dikenal dan sebagian besar Derrida juga demikian di Amerika Serikat. Buku itu sangat teorititis, sulit sekali dibaca. Mengapa Anda mengerjakan proyek yang sangat menakutkan ini?

Ya, saya sama sekali tidak tahu siapa Derrida. Waktu itu, saya berusia 25 tahun dan menjadi asisten profesor di Universitas Iowa pada tahun 1967, dan saya berusaha menjaga diri secara intelektual. Jadi kalau ada katalog yang cukup menarik, saya memesan lalu membacanya.

Jadi Anda membaca buku tersebut dari bahasa Prancis dan kemudian berpikir mungkin harus menerjemahkannya dalam Bahasa Inggris?

Bukan begitu. Saya berhasil membacanya dan, pada akhirnya, berpikir bahwa buku itu memang menakjubkan. Dulu masih belum ada internet, tidak ada seorang pun yang mengenalkan saya tentang Derrida. Guru saya belum bertemu dengan Derrida ketika saya meninggalkan Cornell, jadi saya benar-benar tidak tahu tentang Derrida. Saya berpikir, “Ya, saya seorang wanita muda asing yang cerdas, bahkan si penulis pun tidak terkenal. Tidak akan ada yang memberi kontrak kerja untuk buku itu, lalu mengapa saya tidak mencoba menerjemahkannya?” Suatu saat, di sebuah pesta koktail, saya mendengar kabar bahwa Penerbit Universitas Massachusetts sedang menerjemahkan buku itu. Saya pun mengajukan proposal yang sangat polos pada akhir tahun 1967 atau 1968 awal. Kemudian mereka bilang kepada saya bahwa mereka menerima surat yang begitu berani dan manis sehingga mereka pikir sebaiknya saya diberi kesempatan. Benar-benar konyol. Ya, begitulah.

Asal cukup rendah hati untuk sebuah buku yang telah berpengaruh.

Anda tahu, saya terkejut waktu itu. Coba bayangkan apa yang saya alami. Baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Prancis bukan bahasa ibu bagi saya, dan saya baru meninggalkan India tahun 1961. Saya cukup tawaduk ketika menulis kata pengantar, saya kan tidak pernah mengikuti mata kuliah filsafat.

Dan itu merupakan kata pengantar yang panjang. Pengantar yang Anda berikan bisa menjadi buku tersendiri.

Itulah yang saya tulis di dalam kontrak penerjemahan buku itu. Di dalamnya saya bilang, saya tidak akan menerjemahkan jika tidak dapat menulis pengantar dalam bentuk monograf yang panjang. Usia saya berada pada pertengahan 20-an waktu menulis surat itu. Saya malu kalau saya baca lagi surat itu.

Apakah Anda berkomunikasi dengan Derrida saat menerjemah?

Tidak. Saya sama sekali tidak mengenalnya. Kami bertemu pada tahun 1971. Waktu itu, saya tidak mengenalinya, sampai dia sendiri menyapa saya dalam Bahasa Prancis, “Je m’appelle Jacques Derrida (Nama saya Jacques Derrida).” Saya hampir mati.

Saya berasumsi Anda mengenalnya dengan cukup baik setelah perjumpaan itu.

Ya. Akhirnya kami berteman dan menjadi sekutu. Anda tahu, salah satu yang dia pahami, mungkin lebih dari pemahaman saya ketika itu, adalah makna gadis Asia ini yang benar-benar tidak cukup menguasai bahasa Prancis, meluncurkan buku itu ke dunia dengan caranya sendiri, yang selama ini jauh dari pusat filsafat yang tinggi di Eropa. Derrida dan saya keluar mencari makan ― ia adalah laki-laki berkulit gelap, seorang Yahudi Sephardic dari Aljazair. Orang-orang akan menganggapnya orang India. Saya orang India yang memiliki budaya sangat kuat dan kadang-kadang saya menggunakan sari. Mengetahui itu, dia bercanda, “Ya, saya orang India.” Derrida memahami situasi anak muda ini yang tidak bergelar PhD Prancis atau penutur asli bahasa Prancis maupun penutur asli bahasa Inggris. Dia menawarkan teksnya, tapi bukan karena Derrida memujanya, melainkan karena dia tidak sadar kalau dia sudah terkenal. Derrida menawarkan teksnya ke seluruh dunia dan ditanggapi. Ada sesuatu yang sangat menarik baginya atas situasi itu.

Anda dilahirkan di Calcutta beberapa tahun sebelum pemisahan India. Apakah Anda tumbuh dari keluarga intelektual?

Iya. Ibu saya menikah pada usia 14 tahun; saudara laki-laki saya lahir ketika ibu saya berusia 15 tahun; Ayah saya lahir di desa yang jauh di kaki bukit Himalaya yang sekarang menjadi bagian dari Bangladesh, sebuah tempat yang masyarakatnya tidak berpakaian sampai mereka berusia 6 sampai 7 tahun. Mereka hanya mengenakan cincin logam pada jari tengah mereka. Sewaktu berangkat sekolah, mereka menggunakan dhotis. Di musim dingin, mereka duduk di dekat api unggun dengan membalutkan kain di atas bahu mereka. Namun kedua orang tua saya benar-benar seorang intelektual yang membesarkan anak-anak mereka dengan kehidupan yang penuh pemikiran. Ayah adalah proto-feminis; ibu adalah seorang feminis. Suatu pengasuhan yang luar biasa. Hampir segala-galanya saya berhutang kepada mereka.

Apakah pemisahan negara menjadi India dan Pakistan memiliki banyak dampak terhadap keluarga Anda?

Anda tahu, kami juga menganggapnya sebagai kemerdekaan. Kemerdekaan itu ditandai oleh pemisahan negara yang terjadi secara mengerikan. Maksudnya, pemisahan adalah harga yang harus kami bayar. Ya, itu menandai para kerabat lebih daripada keluarga dekat saya karena ayah sebenarnya melarikan diri dari Benggala Timur, yang sekarang menjadi Bangladesh. Ketika ayah lulus dengan baik dari sekolah menengah, kakek berkatanya, “Ah, kamu bisa menjadi kepala kantor pos di kota County,” Ayah saya jauh lebih ambisius, tanpa tiket, ia lari ke Calcutta pada tahun 1917. Di kota itu juga saya lahir. Pemisahan negara itu sangat berdampak kepada kami, tentu saja karena kerusuhan mengerikan yang disebabkan oleh pembunuhan di Calcutta pada tahun 1967 dan kelaparan buatan yang diciptakan pada tahun 1942 dan setelah. Peristiwa-peristiwa itu sangat mempengaruhi kami. Ketika para pengungsi mulai berdatangan, ibu saya, pada waktu itu, merupakan pegiat sosial yang cukup terkenal. Dia akan berangkat pada pukul lima pagi untuk pergi ke stasiun kereta api demi membantu rehabilitasi para pengungsi. Itulah beberapa peristiwa yang menandai masa kecilku.

Anda juga harus melihat bagaimana umat Islam dicap sebagai orang asing.

Tentu saja akhir-akhir ini hal itu meningkat di India. Pada tahun 1947, saya masih terlalu muda waktu itu ― saya berusia lima tahun ― untuk merasakan perbedaan antara umat Hindu dan umat Islam sejak saya berada di rumah yang sangat bersifat ekumenis. Hal ini juga ada di sekitar kita. Di India, kerusuhan Hindu-Muslim tampak aneh, karena sampai waktu kejadian sebelumnya sudah ada semacam koeksistensi konfliktual (hidup berdampingan) selama berabad-abad. Namun, sewaktu itu terjadi di lingkungan kami, Anda akan mendengar Allahu Akbar lalu kemudian Hara Hara Mahadeo dan Anda pun tahu bahwa seseorang telah dibunuh. Anda akan melihat pertumpahan darah. Pada waktu itu saya masih sangat muda, bahkan di rumah sedikit ada perbedaan antara kasta, agama, atau yang lainnya. Selain itu, siswa muslim ayah saya sangat toleran, bahkan mereka datang kepadanya berpakaian seperti orang hindu dan berpesan kepada ayah saya untuk tidak menjawab telepon pada malam hari. Ayah saya sendiri merupakan seorang pria anti kekerasan. Di rumah kecil itu, ayah akan berdiri bersama para pria muslim di teras, para wanita dan anak-anak di dalam rumah, ia berkata, Selama aku masih hidup, tidak akan ada yang menyentuhmu.” Kami tidak terlalu ambil pusing. Sebagai anak-anak, kami pikir bahwa semua orang itu sama saja.

Anda mendapat gelar sarjana di India. Bagaimana akhirnya Anda bertandang ke Amerika Serikat?

Saya mendapat gelar sarjana di Universitas Calcutta, dan sedang menyelesaikan gelar MA. Waktu itu, saya baru berusia 18 tahun ― ayah meninggal ketika saya berusia 13 tahun ― dan saya menyadari bahwa saya tidak akan mendapatkan kelas pertama, karena saya adalah editor jurnal yang sangat kritis terhadap universitas. Maka saya memutuskan untuk meminjam uang dan datang dengan satu tiket pergi saja, ada $18 di saku saya pada waktu itu. Saya tidak ingin pergi ke Inggris, karena saya harus mengambil gelar BA kedua dan saya baru saja mendapatkan pos-independensi. Jadi, itulah mengapa saya ke Amerika Serikat. Saya memilih melanjutkan sekolah di Cornell karena saat itu saya hanya tahu nama-nama Harvard, Yale, dan Cornell. Harvard dan Yale saya kira terlalu bagus untuk saya.

Hari ini Anda dikenal sebagai salah satu pendiri kajian poskolonial. Apakah ada hubungan antara karya ini dan karya Anda sebelumnya dengan dekonstruksi dan dalam menerjemahkan Derrida?

Anda tahu, saya sama sekali tidak berasal dari kelompok teori Prancis. Sebagai orang luar, saya adalah orang yang paling kecil dari para promotor dekonstruksi. Saya paham bahwa saya tidak membuat hubungan apa-apa. Tetapi, proyek poskolonial hadir sebagai momen otobiografi yang sebagian besar muncul dari kelas menengah―seperti yang dikatakan Edward Said, yang ia pikirkan “Aku adalah Orientalis.” Pada tahun 1981 ketika saya diminta oleh Yale French Studies untuk menulis tentang feminisme Prancis, dan juga Critical Enquiry meminta saya menulis tentang dekonstruksi, saya bertanya terhadap diri saya sendiri, bagaimana mungkin saya telah menjadi otoritas atas materi Prancis? Jadi saya berbalik arah untuk berpikir lagi. Oleh karenanya, peristiwa itu adalah keterlibatan dengan bagian dari dekonstruksi, yang melihat apa saja yang dipinggirkan ketika kita mengkonstruksi suatu sistem. Bagian dari dekonstruksi yang mengatakan bahwa cara terbaik untuk menjalankan sesuatu adalah kritik diri yang sangat kuat. Dan bagian dekontruksi yang mengatakan bahwa Anda jangan menuduh (accuse) apa yang Anda dekonstruksi. Anda memasuki itu. Masih ingat tentang keintiman yang kritis? Dan Anda menemukan momen di saat teks tersebut mengajari Anda bagaimana cara untuk memutar dan menggunakannya. Jadi ini telah menjadi bagian dari strategi saya. Jadi jelas, ada hubungan. Tetapi satu hal yang belum pernah saya lakukan adalah menerapkan teori. Berteori adalah praktik. Menjadikannya begitu terinternalisasi. Ada yang berubah di dalam pemikiran Anda hal itu tampak di dalam pekerjaan Anda. Itulah yang terjadi.

Esai Anda yang berjudul Can the Subaltern Speak? terbit pada tahun 1985 telah menjadi rujukan utama untuk studi poskolonial. Apakah Anda bisa menjelaskan apa maksudnya dari “Subaltern”?

Istilah “Subaltern” merujuk pada mereka yang tidak dapat memberikan perintah; mereka hanya dapat menerima perintah saja. Istilah itu diangkat oleh Antonio Gramsci ketika mengamati masyarakat yang tidak termasuk dalam kelas pekerja dan juga sebagai korban kapitalisme. Ia menjumpai masyarakat yang berada di luar logika tersebut, itu karena ia sendiri berasal dari Sardinia, yang berada di luar wilayah High Italy sebelah Utara. Selain itu, “Subaltern” juga merujuk kepada mereka yang tidak memiliki akses kepada struktur kewarganegaraan. Saya berbicara tentang kondisi India hari ini, sebagian besar sektor pemilih adalah daerah pedesaan yang rakyatnya masih buta huruf dan tidak memiliki akses atas kepemilikan tanah. Mereka mungkin dapat memilih dalam pemilu, tetapi tidak untuk akses pada struktur kewarganegaraan. Jadi itulah subaltern.

Bibi saya gantung diri pada tahun 1926 ketika ia berusia 17 tahun. Sebabnya adalah karena ia merupakan bagian dari kelompok anti-imprealis. Ia sendiri tak mampu membuat mampus para imperialis, karena itulah ia merenggut nyawanya sendiri. Ia menunggu selama empat hari untuk memastikan bahwa ia benar-benar sudah menstruasi. Itu dilakukan agar orang tidak menuduh bahwa ia merenggut nyawanya sendiri karena mengandung anak haram. Aksi yang ia lakukan bertujuan untuk menunjukkan bahwa wanita tidak hanya berada di bawah ketiak laki-laki saja. Coba bayangkan betapa sulitnya untuk menunggu? Pada akhirnya, mayatnya tidak lain adalah bentuk protes yang dia lakukan.

Jadi dia membunuh dirinya sendiri sebagai suatu aksi politik?

Ya, sebagai suatu aksi politik. Anda akan merenggut nyawa Anda sendiri ketika Anda sudah tidak mampu menyerang balik. Kita sudah banyak membaca karya Dostoevsky dan terlebih lagi tentang perjuangan melawan imprealisme di India untuk menemukan kejadian semacam ini. Waktu itu, dia masih usia remaja. Alasan mengapa ia menunggu terlebih dahulu kedatangan menstruasi karena satu-satunya motif mengapa wanita remaja di kelas menengah gantung diri adalah hamil di luar nikah. Sebelum ia meninggal, ia sempat meninggalkan sepucuk surat kepada nenek. Ibu lah yang menceritakannya pada saya. Meski begitu, saya tidak menyebut bahwa wanita yang ada dalam esai yang saya tulis adalah bibi saya yang luar biasa itu. Sebagai seorang subaltern, ia mencoba bersuara melalui mayatnya, namun tetap saja tidak didengar. Jika tetap demikian, keadilan tidak akan pernah ada.

Bahkan, jikapun dia berbicara, tidak akan ada yang mendengarnya.

Faktanya, inilah apa yang dialami oleh kelompok subaltern. Saya mengundurkan diri dari kelas dan membatalkan agenda yang saya buat demi mempelajari kelompok subaltern. Saya pergi ke sebuah kelompok subaltern di India, yang merupakan tempat saya belajar. Mereka adalah rakyat yang menolak hak atas kerja intelektual di mana sifat ini telah diwariskan oleh leluhur saya sendiri―kasta Hindu.  Setiap harinya, saya melihat bagaimana, bahkan jika mereka berbicara, mereka tidak diperbolehkan bersuara dengan cara yang mudah kita pahami. Beberapa orang feodal yang dermawan mencoba untuk berbaik hati terhadap mereka, tetapi kebaikan mereka tidak mengubah apa-apa. Saya mengajar di sana selama 30 tahun, itu bermula ketika saya bertanya terhadap diri saya sendiri, “Haruskah saya menjadi ahli dalam teori Prancis?”

Satu hal yang menarik dari karir Anda adalah Anda mempunyai dua kedudukan. Di satu sisi Anda adalah professor di Universitas Kolombia, dan di sisi lain, Anda juga mengajar para siswa yang buta huruf di pedesaan selama beberapa dekade. Apa yang Anda lakukan di sekolah itu?

Saya melatih para guru dengan cara mengajari anak-anak di sana. Saya menunjukkan kepada mereka, sejauh yang saya bisa, bagaimana cara mengajarkan kurikulum yang dibuat oleh negara. Tidak hanya itu, saya juga mencoba merancang cara mengajar yang mampu membuat gagasan demokrasi tertanam dalam benak para anak-anak yang masih sangat kecil. Kalau mengajarkan anak-anak tentang demokrasi secara teoretis, sama saja dengan menulis di semen yang masih basah. Inilah hal yang sulit untuk dilakukan dan saya mengganggapnya sebagai sebuah tantangan besar. Guru di sana tidak punya apa-apa. Jadi saya mencoba melatih para guru dengan cara mengajari anak-anak. Saya pergi ke sana delapan atau sembilan kali dalam setahun. Dan dua kali dalam sebulan saya berkomunikasi dengan mereka melalui telepon. Baru kemarin beberapa guru di sana bilang kalau mereka sedang mengalami kesulitan ketika menjalani tugas sebagai fasilitator. Saya pun bilang ke mereka, “Sabar, coba lihat berapa banyak masalah yang saya alami selama bertahun-tahun di situ. Saya sudah bilang ke kalian bahwa kalian suatu saat akan mengalami masalah yang sama.”

Mengembangkan literasi biasanya dengan cara mengajarkan dasar-dasar membaca dan menulis, tetapi Anda berbicara sesuatu yang lebih dalam. Anda berbicara tentang demokrasi dan mengajarkan anak-anak muda ini untuk mempertanyakan kekuasaan.

Guru saya sendiri berasal dari kelompok itu. Dan sebagian besar rakyat di sana tidak mempunyai tanah. Maksud saya, yang melek huruf dan berhitung jumlahnya tidak banyak, terutama ketika pendidikan yang tersedia begitu buruk. Tentu saja saya menganggap bahwa literasi dan berhitung adalah aspek yang sangat penting. Meski demikian, saya mengenal dua atau tiga orang yang illiterasi dari komunitas ini selama 30 tahun terakhir. Akan tetapi, ketika saya berdialog dengan mereka, intelektualitas kami sebanding. Tentunya mereka belum dirusak oleh sistem pendidikan yang buruk.

Sepertinya Anda bermaksud mengatakan bahwa pendidikan sendiri tak lain adalah praktek etis.

Sejauh ini, etika adalah sesuatu yang tak dapat diajarkan, karena etika sendiri bukan hanya perihal melakukan tindakan yang benar. Perlu diingat, demokrasi adalah sistem politik, bukan sistem etis yang dibutuhkan sedemikan rupa. Sebab saya mengajarkan demokrasi di sana, yakni untuk mengingat bahwa kita tidak hanya mengirim anak kita ke sekolah hanya untuk bisa melek huruf. Itu mengajari saya banyak hal tentang apa yang saya lakukan. Di Kolombia, saya tidak menyampaikan tentang apa yang terjadi di Asia Selatan. Saya di sana tidak untuk menyampaikan berita dari tempat kelahiran saya. Di New York saya memposisikan diri sebagai orang Eropa, oleh sebab itu saya mengajar materi Bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman kepada mahasiswa doktroal. Saya hampir mampu melakukannya (mengajar sesuatu yang lebih dari sekedar literasi)! Kemudian saya menemukan ada orang buta huruf yang tidak dianggap dalam negara demokrasi yang jumlah penduduknya terbesar di dunia. Rasanya sangat luar biasa ketika kita dapat melihat orang-orang, dalam kehidupannya, menerapkan prinsip-prinsip demokrasi.

Ketika saya melihat karir Anda, tampaknya terdapat paradoks yang begitu mendalam. Anda mengajar mahasiswa doktoral di Kolombia, tempat di mana Anda dianggap sebagai seorang ahli dalam teori sastra, dengan buku-buku yang sangat teoritis, seperti Of Grammatology­­-nya Derrida. Namun di sisi lain, Anda juga seorang aktivis yang terlibat di sekolah-sekolah untuk mendidik siswa yang buta huruf, yang seakan-akan tidak ada hubungannya sama sekali dengan teori-teori yang melangit itu. Apakah benar terdapat hubungan antara duanya?

Ya, jika Anda membahas suatu masa ketika orang-orang di Prancis memikirkan suatu teori atau tentang Gramsci ketika berada di dalam sel penjara. Saya juga sangat dipengaruhi oleh Rosa Luxemburg, yang percaya pada negara. Tapi saya tidak menerapkan teori ketika saya sedang benar-benar mengajar di sekolah-sekolah itu atau di Kolombia. Saya seakan terlempar ke dalam air, dan mau tak mau harus mampu berenang. Saya selalu merasa takut sebelum pergi ke kelas. Masalah selanjutnya adalah ketika saya mencoba merenungkan pengalaman itu, saya dapat membedakan teori dari apa yang telah saya pelajari langsung. Dan juga saya dapat mengetahui apakah bagian dari suatu teori masih dapat dipertahankan. Kan, berteori juga merupakan praktik. Pengalaman ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita ajarkan kepada para mahasiswa tingkat atas.

Apakah Anda berpikir bahwa teori memiliki dampak politik secara aktual terhadap masalah-masalah di dunia nyata?

Ya, kemarin saya mengajar tentang Mao di seminar pascasarjana, tapi tidak dengan buku The Little Red Book-nya. Saya lebih menekankan pada dimensi intelektual Mao ― perihal petani Hu Nan, On Contradiction, dan juga On Practice. Sulit sekali memahami pemikiran Mao di Amerika Serikat. Kadang, sebagai orang India juga sulit karena kami saling bersaing satu sama lain. Tapi itu bukanlah masalah. Seorang intelektual hadir untuk mempertanyakan ide-ide semacam ini yang datang. Ketika itu kami sedang mempelajari apa yang Mao lakukan terhadap Hegel – tentu saja kami membaca teks versi Mandarinnya. Saya belajar bahasa Mandarin selama enam atau tujuh tahun, namun saya masih belum menguasainya dengan baik. Ada satu mahasiswa pascasarjana, yang suatu ketika mengumpulkan makalah, berasal dari Inggris namun tinggal di Hong Kong. Dia menyelesaikan riset yang begitu kritis tentang kondisi Cina modern pada masa-masa ia masih tinggal di sana. Itu lah yang kami lakukan: melihat esai yang sangat luar biasa, membahas buku On Practice-nya Mao demi melihat Hegel melalui Lenin, dan seterusnya. Gramsci pun berbicara tentang para intelektual jenis baru yang kerjaannya selalu menjadi provokator (permanen persuader). Oleh sebab itu, jika seseorang tidak berpikir sedang berteori, maka ia sebenarnya sedang melakukannya. Anda sedang berteori ketika Anda melakukan generalisasi dan berbicara kepada suatu kelompok. Begitulah faktanya. Kita tidak mungkin berpikir tanpa teori, bahkan keduanya memang saling berhubungan. Saya berpikir bahwa orang menjadi begitu fanatik terhadap teorinya sendiri bahkan menganggapnya paling benar, tapi saya kira begitulah yang terjadi. Teori telah menjadi semacam hal yang sepenuhnya terputus dari dunia tetapi sebenarnya tidak. Ia tetap ada di dunia.

Apa pendapat Anda tentang kritik umum bahwa kita memiliki semua cendikiawan universitas di mana mereka melakukan pekerjaan yang sangat teoritis sekaligus berpikir secara radikal. Namun, mereka hanya berada di menara gading yang tidak berdampak pada masalah dunia yang nyata. Apakah kritik tersebut membawa beban kepada Anda?

Saya sama kritisnya dengan mereka sebagai tipe aktivis garda depan. Saya kira mereka memang membutuhkan pemeriksa fakta. Nyata, itu bukan hanya menara gading. Saya ikut serta dalam agenda komite global tentang nilai-nilai di World Economic Forum. Saya pergi ke sana karena itu bidang saya. Ada yang kritik, tapi saya tidak memperdulikannya. Sewaktu-waktu, saya mesti berhati-hati untuk melakukan intervensi. Di sana juga ada kolega saya yang ramah. Di bawah radar tertentu, dunia adalah sesuatu yang tidak dikenali oleh orang-orang yang bermaksud baik itu. Tentu saya sangat kritis terhadap orang-orang yang ingin membantu tapi mereka datang dengan tangan kosong. Pada dasarnya, hak untuk menyangga adalah hak yang utama. Inilah yang saya tanamkan pada murid-murid saya di desa. Saya kepada merea, “Saya musuh Anda. Saya dan orang tua saya adalah orang baik, tetapi dua generasi tidak dapat mengembalikan warisan ribuan tahun yang lalu.”

Mengapa Anda mengatakan bahwa Anda adalah musuh mereka?

Karena saya berasal dari kasta Hindu – tepatnya kasta tertinggi. Kami lah yang membuat orang-orang ini tidak tersentuh. Kami adalah orang-orang yang menolak hak-hak mereka atas kerja intelektual, agar mereka dapat melayani kami dan dapat dilatih untuk kerja-kerja kasar. Fakta ini membuat Anda tidak hanya dapat berkata, “Lihat, orang tua saya baik, dengan demikian aku pun adalah orang yang baik.” Saya juga menanyakan pertanyaan ini kepada mereka ketika kami bertani Bersama. Di bawah pohon beringin, saya duduk bersama banyak sekali petani miskin yang tak memiliki tanah. “Ada berapa kasta di sana?” saya bertanya. Mereka tahu bahwa saya tidak percaya terhadap kasta, jadi mereka hanya diam. Saya tidak pernah memberi tahu jawabannya, baik kepada mereka maupun mahasiswa saya di Kolombia. Tiba-tiba sebuah suara kecil berbunyi, “Dua,” “Apa saja itu?” Mereka berkata bahwa ada yang kaya dan ada yang miskin. “Bagus, maju ke sini. Sekarang lihatlah saya.” Jawab saya. Tentu saja dibanding mereka, saya kaya luar biasa kan? Jadi saya berkata, “Jangan lupa saya kaya dan Anda miskin. Kita tidak berada di dalam kasta yang sama.” Jadi beginilah cara memeriksa realitas yang harus dipakai seseorang, daripada para filantropi konyol yang hanya memberi banyak uang tapi mereka tidak mengajarkan cara mempergunakannya. Makna uang bagi Anda dan saya sangat berbeda dengan mereka. Jadi pemeriksaan atas realitas tidak hanya diperlukan untuk mengajar kaum kiri di universitas. Pemeriksaan atas realitas lebih luas daripada itu.

Satu pertanyaan terakhir. Banyak yang mengaduk-ngaduk keadaan kemanusiaan sekarang ini. Kita sering mendengar bahwa kemanusiaan sedang berada pada titik krisis. Bagaimana pendapat Anda?

Ya. Kemanusiaan telah diremehkan, padahal mereka bukan sapi perah. Ketika saya menulis kepada wakil rektor Universitas Toronto, ketika mereka menutup Departemen Sastra Komparatif, saya bilang, “Lihatlah, kita adalah perawat dari kebudayaan. Anda tidak dapat mengukur moral dengan cara manajemen pengetahuan. Anda harus menimbangnya dengan hati-hati.” Itu adalah kemanusiaan. Kami ini adalah pelatih kebugaran pikiran. Anda tahu, melatih tubuh tidak dapat dilakukan dengan cepat. Dengan cara yang sama, Anda tidak dapat menciptakan pikiran yang baik ketika Anda mengajar secara terburu-buru. Dan kita sebenarnya membiarkan diri kita sendiri diremehkan. Saya menghabiskan hidup untuk mencoba membuat orang mengerti bahwa kita harus mengakui betapa bergunanya kita, dan menolak pada pandangan yang menganggap kita hanya sebagai sebuah robot. Kita harusnya tidak boleh membiarkan kemanusiaan diremehkan. Jika Anda tidak melatih jiwa, alat-alat digital tidak dapat digunakan secara benar. Saya benar-benar tidak bisa berkata lebih banyak dalam percakapan singkat ini, tapi saya berharap bahwa suatu hari nanti kita memiliki kesempatan untuk berbincang lebih lama mengenai hal ini.

Diterjemahkan oleh R.H. Authonul Muther dari https://lareviewofbooks.org/article/critical-intimacy-interview-gayatri-chakravorty-spivak/


[1] Steve Paulson adalah produser eksekutif acara gabungan nasional Wisconsin Public Radio to the Best of Our Knowledge. Dia adalah penulis Atoms and Eden: Conversations on Religion and Science.

Leave a Reply

Baca Lagi

Close Menu