Ketika Manusia Memilih Hidup Dalam Kenangan

Hidup dalam kenangan adalah hidup bersama mayat
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Tulisan ini dibuat dengan sebuah kepercayaan, bahwa latar belakang subyek dalam memaknai Realitas sangat berpengaruh terhadap tema, bentuk dan jenis tulisannya. Meskipun subyek tersebut tidak lagi menyadarinya bahkan menolaknya. Tentang penolakan, terkadang justru menjadi petunjuk akan sebuah peran tersembunyi yang diambil secara naluriah. Sebuah tuntutan survival untuk bertahan, ketika dalam kesadaran untuk hadir sebagai subyek dan menjadi bagian dari Realitas yang mungkin tidak akan pernah sesuai dengan tuntutan Egonya.

Mungkin begitu banyak pemaknaan yang terlupakan atau sengaja didorong hingga terjun ke alam bawah sadar. Namun seperti kata freud, bahwa represi tidak akan pernah sempurna. Ia akan kembali muncul ketika horison alam kesadaran kita sedang melemah. Seperti saat kita tertidur dimana horison alam sadar kita seakan menjadi semburat samar, maka pemaknaan itu akan kembali muncul “secara jujur” dan dengan “warna yang jelas” dalam bentuk mimpi-mimpi atau igauan-igauan.

Kesimpulannya adalah, bahwa tulisan ini tidak hadir sebagai sebuah tafsiran atas teks-teks filosofis maupun psikoanalisis. Sekali waktu dalam keseharian, teks-teks tersebut muncul dihadapan subyek sebagai sebuah fenomena. Namun subyek, dalam hal ini adalah penulis memiliki intensitas dan kapabilitas yang memprihatinkan tentang dua hal tersebut. Maka anggaplah tulisan ini sebagai sebuah permenungan pribadi, dalam upaya mengais ingatan-ingatan yang berceceran, yaitu permenungan yang pernah hadir namun segera pergi (atau sengaja direpresi?)

Pengarang Paling Hebat Sepanjang Abad

Singkat cerita seorang manusia telah menyadari hadirnya pengarang paling hebat sepanjang abad di dalam dirinya. Pengarang itu sering dipanggil dengan sebutan Pikiran. mustahil untuk tidak tertarik kepada cerita-ceritanya, karena Pikiran telah menjadi bagian dalam dirinya. Namun asumsi ini tidak selalu benar, mengingat ada beberapa di antaranya mampu menjaga jarak bahkan mendidiknya untuk membuat sebuah cerita yang lain.

Pikiran menyadari bahwa ia tidak mampu hidup sendiri, ia membutuhkan kawan. Kawan yang selalu menjanjikan bahwa cerita – cerita yang dibuatnya, dapat hadir secara nyata dan menjadi bagian dari Realitas. Kawan yang juga telah hadir menjadi bagian dari manusia, dan sering disebut sebagai Ego.

Ego selalu antusias dalam menerima cerita-cerita yang diberikan Pikiran kepadanya. Ego mendorong bahkan juga menuntut cerita-cerita dari Pikiran, untuk hadir secara nyata dan menjadi bagian dalam Realitas. Bukan hanya itu, bahkan Ego sekali-kali ingin merebut kedudukan Realitas, agar penuh eksistensinya. Nyata yang dimaksudkan sebagaimana tuntutan Pikiran dan Ego, adalah hadir dalam ukuran kualitas hidup manusia, yang mampu ditangkap semua pancaindera, dimana secara empiris mampu memenuhi kebutuhan akan kenikmatan.

Sampai disini ada baiknya kita melupakan penilaian tentang baik dan buruk sebagaimana kita pahami sampai saat ini. Ego bukanlah simbol daripada keburukan atau kebaikan. Ego sebagai bagian dari manusia pun ingin mengambil peran. Terlepas dari penilaian, memang begitulah  Ego. Cara bagaimana Ego menunjukan eksistensinya dalam Realitas. Kepada siapa Ego menuntut ini semua? Tentu saja kepada Realitas.

Namun, bukan tugas Realitas untuk memenuhi segala tuntutan Pikiran dan Ego. Realitas hadir sebagaimana ia harus hadir. Realitas yang hadir sebagaimana ia harus hadir, lepas dari segala penilain, penafsiran maupun pemaknaan. Realitas seumpama labirin, dimana usaha kita, hanya dapat sejauh menerka dimana pintu masuk dan pintu keluarnya serta pintu-pintu yang lain entah akan membawa kemana. Mengadaptasi apa yang pernah dikatakan oleh Nietzche, Realitas memang selalu merayu untuk dijamah. Namun jangan berharap ia akan telanjang dihadapan kita, untuk dapat kita setubuhi sesuai dengan keinginan kita, apalagi memilikinya secara absolut.

Seakan-akan seperti telah digariskan, Pikiran dan Ego tidak akan “menerima” hal tersebut. Mereka akan terus mendorong agar cerita-cerita hadir secara nyata supaya mampu ditangkap semua pancaindera, dimana secara empiris mampu memenuhi kebutuhan akan kenikmatan.

Kenangan Sebagai Cerita Untuk Memenuhi Kebutuhan Akan Kenikmatan

Sebagai yang telah ada, kenangan adalah sebuah momen (respon terhadap perasan, Pikiran, pengalaman dll) yang telah kehilangan eksistensinya. Seperti dibahas sebelumnya, di mana Pikiran dan Ego akan terus mendorong agar cerita-cerita hadir secara nyata, maka Pikiran dan Ego akan bekerjasama untuk aktualisasi cerita yang seakan-akan mampu mengulang momen. Sebuah momen dimana momen itu dianggap mampu memenuhi kebutuhan akan kenikmatan.

Kebutuhan akan kenikmatan adalah kebutuhan yang sangat mendasar. Entah mau diakui atau tidak, selama kebutuhan akan kenikmatan ini tidak disempitkan maknanya hanya secara seksual. Dalam keseharian, harapan dan cita-cita juga menunjukan adanya kebutuhan akan kenikmatan. Dalam usaha untuk mencapai rasa nyaman di sebuah lingkungan masyarakat atau pada lingkup yang lebih kecil, yaitu dengan pasangan, juga menunjukan adanya kebutuhan akan kenikmatan entah apapun bentuknya.

Usaha mengulang momen yang dilakukan oleh Pikiran dan Ego, menjadi sebuah bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan akan kenikmatan, dimana yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Kini Pikiran dan Ego berusaha mentransformasikan momen sebagai yang telah kehilangan eksistensinya atau yang telah ada  menjadi yang ada. Namun ketika Realitas tidak bisa menampung semua usaha yang dilakukan oleh Pikiran dan Ego, maka selanjutnya Pikiran dan Ego akan merubah gesture nya seakan-akan merekalah Realitas.

Realitas yang akan diterima oleh kesadaran sebagai yang nyata. Di sini kita harus mulai berangkat menuju sebuah pemahaman, bahwa sebagai yang nyata tidak selalu sebagai yang ada. Atau pada level yang lebih ekstrim : yang nyata bukanlah yang ada. Selama kualitas yang nyata hanya diukur secara empiris untuk pemenuhan kebuthan akan kenikmatan.

Sudah semestinya kita curiga terhadap Pikiran dan Ego karena usaha mereka dalam memenuhi kebutuhan akan kenikmatan dilakukan dengan segala macam cara, salah satunya membongkar kuburan dari mayat bernama yang telah ada.

Kita selalu berkata matahari selalu baru setiap pagi bukan, mengapa kita harus mengisi hari-hari itu bersama mayat? Entah kenangan indah atau kenangan yang pahit semua telah menjadi mayat. Hidup dalam kenangan adalah hidup bersama mayat.

Selama kita memahami hal ini, kesadaran akan mengambil peran dalam mendidik Pikiran dan Ego, untuk membuat cerita-cerita baru. Cerita-cerita yang akan memenuhi kebutuhan akan kenikmatan bukan dengan cara membongkar kuburan mayat. Namun dengan cerita-cerita yang membuka peluang untuk memenuhinya sebagai yang akan ada. Begitu dan seterusnya. Begitu pentingnya menjaga kesadaran agar kita tidak mengisi hari-hari kita untuk hidup bersama mayat.

Leave a Reply

Baca Lagi

Close Menu