Menu Tutup

Manusia itu Khas

Manusia sebagai substansi

Perbincangan mengenai gerakan maskulinisme atau feminisme tidak dapat terpisahkan dari gerakan humanisme. Hal yang sama dalam pembicaraan mengenai perempuan atau laki-laki dan makna hidupnya, tidak dapat dihadirkan tanpa memahami terlebih dahulu pengetahuan mengenai manusia dan makna hidupnya. Perkembangan lebih lanjut membawa pemaknaan hidup perempuan dalam ideologi dan gerakan yang disebut feminisme. Dengan demikian, untuk memahami feminisme dibutuhkan pemahaman yang cukup terlebih dahulu mengenai arti manusia sebagai substansi. Metafisika hadir untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana manusia dapat hidup dalam dirinya dan dengan yang lain. Anton Bakker menyatakan dalam Kosmologi dan Ekologi (1995) bahwa dunia akan selamanya memiliki sifat keseluruhan dan bagian-bagian. Hal demikian terjadi pula dalam satuan manusia. Manusia secara utuh dapat menjadi dirinya sendiri dalam substansinya. Pada perkembangannya, ia akan berelasi dengan substansi lain membentuk kesatuan yang lebih besar. Hal tersebut tidak menghindarkan manusia sebagai satu kesatuan sekaligus bagian. Substansi dalam metafisika diartikan sebagai elemen terkecil dalam dunia yang tidak bisa dibagi lagi. Dalam ilmu pengetahuan alam maka substasi disebut atom atau quark, sedangkan dalam metafisika, substansi dipahami sebagai jiwa. Jiwa tidak terletak di tempat khusus dalam diri manusia, namun ia ada dan tidak dapat dipisahkan dari manusia. Jiwa juga tidak dapat digantikan sebagaimana energi manusia dapat digantikan oleh energi kuda, atau intelegensi manusia yang dapat digantikan oleh artificial intelegent. Jiwa manusia adalah yang membuatnya ada. Terkadang dalam term sederhana, kita menggunakan kalimat misalnya: seseorang telah tiada bagi mereka yang telah wafat. Dalam artian sederhana, hal ini mengungkapkan bahwa ketika jiwa seseorang telah terpisah dengan dirinya maka ia dianggap sudah tidak berada di dunia. Penjelasan filosofi mengenai jiwa tidak sederhana, belum lagi kompleksitas penelitian psikologi yang menambah keluasan pembahasan mengenai jiwa. Namun secara garis besar jiwa dapat dipahami sebagai satuan manusia yang tak terpisahkan dengan dirinya, dimana semua jiwa adalah sama, dan dengan demikian maka semua manusia pada hakikatnya adalah sama. Jiwa tersebut merupakan tanda yang merujuk pada kodrat semua manusia sebagai makhluk yang setara. Tidak ada jiwa yang lebih tinggi dari yang lainnya. Pembeda dalam kehidupan manusia baik dalam kasta dalam kepercayaan Timur, atau peran manusia dalam masyarakat bukan menandakan disposisi jiwa melainkan dari pilihan manusia mengafirmasi jiwanya. Selain jiwa manusia kemampuan atau perangkat yang dinamakan insting, nalar dan moralitas. Insting lebih diidentikkan dengan perilaku manusia dalam kaitannya dengan panggilan alamiah misalnya, insting untuk bertahan hidup, melindungi diri, atau bertahan dalam sebuah kelompok. Aspek ini disebut Bakker sebagai diferensiasi manusia utuh dalam strata psikis. Sementara itu, nalar dinyatakan sebagai kemampuan intelektual, bukan sebagai hasil pendidikan melainkan sebagai kemampuan alamiah untuk mengenali benar dan salah secara tepat. Selain itu terdapat moralitas yang terkandung dalam diri manusia, yang biasa dinyatakan juga sebagai hati nurani. Moralitas bukan merupakan produk keagamaan atau kepercayaan tertentu. Moralitas adalah kemampuan yang membantu manusia untuk mengenali dirinya melalui panggilah naluriah atau dengan kata lain kemampuan manusia untuk menentukan baik atau buruk atas suatu hal. Baik moral maupun nalar merupakan kemampuan yang membedakan manusia dengan animalia lainnya. Keduanya menyangkut diferensiasi manusia dalam strata human, yang menjadikan modal manusia berperan seutuhnya. Dalam kebudayaan global juga terdapat pembagian metafisis yang menandakan pembagian sifat segala hal dalam dua kutub yaitu feminin dan maskulin. Kecenderungan ini dilakukan manusia dalam mengenali kondisi kosmologisnya baik yang makro maupun mikro. Maskulin cenderung berhubungan dengan segala sesuatu yang bersifat keras, tegas atau melindungi misalnya Bapa Langit. Sementara itu, feminin cenderung diidentikkan dengan segala sesuatu yang bersifat lembut, bijaksana, dan merawat misalnya Ibu Bumi. Dia perbedaan tersebut saling melengkapi dan kadang bertentangan. Pertentangan tersebut dalam tradisi tertentu justru dipercaya sebagai bentuk keseimbangan dimana Bagua, Yinyang, Lingga-Yoni dan sebagainya; dipercayai merupakan simbol keharmonisan kosmis. Sama halnya dengan sifat yang terbentuk, ketika manusia laki-laki dan perempuan bersinggungan. Pembagian metafisis ini, dilakukan semenjak manusia telah mengalami revolusi kognitif hingga hari ini. Walaupun pembagian dualisme dalam dunia modern terkadang dituding sebagai dasar dari perilaku labelling, namun hal tersebut mampu mempermudah manusia untuk memahami sifat-sifat alam dan hukum yang berlaku di dunia.

Manusia dan eksistensi

Manusia dengan substansi menandakan bahwa pada hakikatnya semua manusia adalah sama. Namun, hal tersebut tidak serta merta ditemukan dalam fenomena harafiah karena manusia memiliki berbagai kekhususan tertentu. Kekhususan ini yang menyebabkan manusia satu dan lainnya dapat dibedakan. Dengan demikian, manusia memiliki cara untuk menunjukkan dirinya. Cara atau jalan manusia untuk menunjukkan bahwa dirinya ada di dunia disebut sebagai eksistensi. Sebuah eksistensi manusia dapat diperoleh melalui berbagai cara misalnya dengan bersosialisasi atau menampilkan kriteria yang berbeda dengan manusia lain. Dalam pendasaran eksistensial setidaknya terdapat dua kekhususan manusia secara umum yaitu laki-laki dan perempuan.

Karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan kuat untuk bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan makhluk lainnya maka eksistensi manusia menuntut mereka untuk saling berhubungan. Hubungan ini dibentuk terlebih dahulu melalui keluarga atau persatuan laki-laki dan perempuan. Baru pada tahap berikutnya, manusia bereksistensi melalui satuan suku, bangsa, atau yang dalam masa modern disebut sebagai negara. Seseorang dapat menyatakan dirinya ada, bila ia memiliki pengakuan dari orang lain, yaitu mereka yang saling berhubungan baik dalam bentuk keluarga atau simpul yang lebih besar. Dengan jalinan eksistensi ini maka jelas bahwa pada hakikatnya seluruh substansi yang menyususn satuan keluarga, suku dan seterusnya berada dalam posisi yang sama.

Pembeda tiap substansi

Dalam konstruksi masyarakat yang lebih kompleks muncul perntanyaan: Bila seluruh komponen masyarakat memiliki substansi serta eksistensi yang sama, maka apa yang membedakan semua manusia?

Kondisi Tubuh

Yang pertama adalah kondisi fisik dimana laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan jelas. Hal tersebut disebut perbedaan yang kodrati sehingga manusia tidak mampu untuk menggantikan konsekuensi, yang menjadi konsekuensi bagi manusia. Tersebut misalnya, rahim yang hanya dimiliki oleh perempuan menjadikan perempuan memiliki kemampuan untuk mengandung. Demikian pula, laki-laki memiliki lebih banyak hormon testosteron sehingga menumbuhkan jakun dan memfungsikan organ laki-laki. Hal demikian memungkinkan laki-laki memproduksi sel sperma, sementara perempuan tidak. Perihal biologis tidak dapat dipaksakan walaupun pada perkembangannya, manusia mencoba untuk memanipulasi hal tersebut. Kodrat biologis seperti jakun, payudara, rahim dan lain sebagainya, hadir sebagai kemampuan dan potensi. Namun, penggunaannya berada pada kebebasan manusia itu sendiri. Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk mengandung, sementara ia tidak menginginkannya. Pada akhirnya, pilihan untuk menggunakan kemampuan per individu bergantung atas kehendak pribadi. Persoalan kehendak seringkali bertentangan dengan model kuasa yang berlaku.

Pengalaman

Pengalaman berkaitan dengan konteks tempat, waktu dan kondisi seseorang. Pengalaman para perempuan di Hulu sungai Kapuas dengan perempuan di New Zealand sangat berbeda. Pengalaman seorang ibu di tahun 1920 dan seorang ibu di tahun 2020 juga akan sangat berbeda. Pengalaman ini menyangkut apa yang dimiliki oleh seorang manusia, kondisi apa yang dihadapinya, dan bagaimana ia menghadapinya. Dimensi pengalaman manusia ini yang kemudian melatarbelakangi gerakan feminisme dan maskulinisme. Gerakan-gerakan ini seharusnya tidak bertabrakan, namun justru mengangkat keunikan masing-masing. Pengalaman koki perempuan akan berbeda dengan koki laki-laki, pengalaman aktivis mahasiswa perempuan juga berbeda dengan aktivis laki-laki. Demikian selanjutnya, bila salah satu gerakan, baik feminisme atau maskulinisme saling menyerang dan melakukan proses blaming maka gerakan tersebut mengingkari dimensi pengalaman yang mana menjadi milik semua manusia.

Pilihan

Kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain terlebih adalah karena manusia memiliki pertimbangan nalar dan pilihan. Manusia diciptakan dengan kemampuan rekognisi biner secara garis besar dan mampu memperkirakan kemungkinan-kemungkinan. Resepsi informasi dan alur pemikiran seseorang dapat sangat berbeda, pun ketika semuanya mempelajari logika yang sama. Pertimbangan tersebut selain dipengaruhi oleh kemampuan internal, juga dipengaruhi oleh pengalaman. Pilihan manusia merupakan sikap, yang mana menjadi penentu bagi hadirnya pengalaman-pengalaman baru. Dalam hal ini perempuan secara khusus akan memiliki kecenderungan memilih hal yang sama dengan sesama perempuan, walaupun hal tersebut bukan sebuah keniscayaan.

Hasilnya adalah kekhasan

Melalui pengalaman dan pilihan tersebut muncul kekhasan di antara manusia. Karena laki-laki dan perempuan memiliki kecenderungan yang berbeda diakibatkan panggilan biologisnya, maka masing-masing di antaranya akan lebih menyerupai masing-masing gendernya. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa di antara laki-laki dan perempuan akan dapat saling bertukar kecenderungan. Sekali lagi hal tersebut dapat terjadi karena faktor dan dimensi manusia yang berbeda.

Sesekali dalam waktu tertentu muncul perdebatan mengenai kebutuhan dunia atas gerakan maskulinis dan feminis. Gerakan-gerakan tersebut muncul dari berbagai latar belakang dan dorongan tertentu. Di satu sisi, gerakan tersebut menyuarakan urgensi karena muncul kesadaran untuk menciptakan kondisi yang lebih baik, sebut saja gerakan anti kekerasan atau anti labelisasi. Namun di sisi lain, hal yang sering terlupakan adalah bahwa gerakan-gerakan tersebut muncul dari pengalaman-pengalaman manusia baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Gerakan-gerakan tersebut dibutuhkan dunia untuk tetap mengingatkan kita bahwa eksistensi manusia beragam dan dengan keragaman tersebut maka kompleksitas manusia dapat terselesaikan dengan spesifikasinya masing-masing. Manusia dapat menjadi manusia karena jiwanya, namun ia dapat mengenali dirinya dan dikenal oleh orang di luar dirinya melalui eksistensinya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: