Skip to content

Manusia, Kesadaran, dan Bahasa

Print Friendly, PDF & Email

Manusia yang terlempar ke dunia, manusia yang mengada di dunia, manusia, dasar dari segala yang sentral di dalam alam semesta. Ia mempunyai sesuatu yang dinamakan akal dan kesadaran, dan berfungsi untuk berpikir. Dari kesadaran, manusia mempunyai suatu sejarah di masa lalu, bermula, dan entah kapan berakhirnya.

Dari akal dan kesadaran, manusia membentuk sebuah definisi apa yang dapat diserap oleh indrawinya. Manusia menamakan apa yang tampak maupun yang tak tampak, singkatnya, yang fisik dan yang metafisik. Manusia berada dengan subjek-subjek lain yang sama mempunyai kesadaran, dan lagi-lagi ia menamakannya dengan ‘sebutan’ (nama panggilan). Ramai sekali dunia dengan nama-nama. Berbagai arti telah dicipta, mengikuti Muhammad Iqbal, “manusia diciptakan Tuhan, dan manusia menciptakan nilai-nilai.” tentu, melalui tindak kesadaran.

Jika kesadaran bermula, maka sebelum kesadaran ada apa? Sebelum manusia memberi nama pada alam semesta. Fisika menjelaskannya, matematika tak luput darinya (menjelaskan alam semesta). Sebelum kesadaran hadir pada diri manusia, bahkan manusia belum tercipta dan “ada”, alam semesta telah hadir lebih dulu. Inilah sebuah momen pra-kesadaran manusia. Quentin Meillassoux menyebutnya argumen ansestral, sebuah pra-kesadaran. Ada eksistensi sebelum kesadaran manusia hadir dan memberi nama-nama melalui wilayah kebahasaan.

Pra-kesadaran, dapatkah kita menyebutnya wilayah tanpa bahasa? Ya, dapat dikatakan seperti itu. Dengan demikian, pra-kesadaran merujuk pada ketanpa-bahasaan, tidak adanya proses bahasa, kosongnya pemaknaan. Hal terdasar bahkan yang mendasari manusia dan alam pikirnya adalah bahasa. Tanpanya, kita akan sama dengan kucing yang me-meong dan tak jelas bagaimana mempergunakan daya eksistensinya ada-dalam-dunia. Maka, untuk mengetahuinya dapat ditelusuri dalam tubuh sains. Yang mencari-cari data material atas kejadian alam semesta. Lagi-lagi setelah hadirnya kesadaran manusia.

Bahasa adalah sebuah momen pemberian tanda kepada objek diluarnya. Khas dari manusia, sebuah pengejewantahan murni dari akal budi. Momen kebahasaan, penanda-tanda, untuk memberi tahu sebuah dunia di seberang teks. Makna adalah hal yang di seberang teks yang tak tampak oleh indrawi manusia. Ia ada dan benar-benar hadir pada konseptual manusia. Ambil saja contoh, Anda sedang ingin menikmati sunyi di sebuah warung kopi, lalu Anda memesan secangkir kopi susu, “Mas, saya pesan kopi susu yang cangkir.” Lalu, Anda disuguhkan sebuah gelas, air yang berbentuk coklat. Lantas di manakah “kopi” dan “susu” yang Anda pesan tadi? Seharusnya jika merujuk pada perkataan Anda, setidaknya Ada kopi (buahnya) dan sebuah susu sapi, tetapi Anda telah disediakan cangkir dengan seduhan air kopi dan susu. Bukankah ini momen pemaknaan “maksud” dari subjek berkesadaran? Ya, kita hidup dalam interpretasi dan jejaring-jejaring tanda yang tak terbatas.

Lantas, bagaimana dengan kehidupan manusia? Bahasa adalah rumah Ada, begitulah kira-kira Heidegger mengatakannya. Apa maksudnya? Satu-satunya yang memiliki kesadaran akan dunianya, akan ekistensinya, bahkan dalam metafisika hanya manusia yang dapat mimikirkannya. Dan, seperti yang telah kita ketahui, bahwa hal terdasar dari akal manusia adalah bahasa. Pemahaman mengenai realitas akan terjewantah dengan bahasa.

Setelah kosongnya proses kebahasaan pra-kesadaran, lalu, apa yang akan terjadi setelah pasca-kesadaran? Singkatnya, ketika umat manusia punah, apa yang tersisa? Masih adakah bahasa? Masih adakah yang memikirkan metafisika? Dapatkah akal berjarak sejauh-jauhnya melihat sebuah momen tidak adanya proses kebahasaan, tidak adanya akal di alam semesta. Nir-makna, yang ada hanyalah benda-benda material. Alam semesta, untuk apa? Seonggok atom yang bergentayangan di entitas hampa.

Dalam sains modern alam semesta sangatlah luas, adakah kesadaran atau akal yang sama seperti manusia? Makhluk yang lain yang hampir sama dalam memikirkan alam semesta dan keberadaan tubuhnya, entah di planet sebelah mana. Jika tidak ada, maka alam semesta yang akbar dan terlampau luas ini, menjadi sebuah tempat yang sia-sia, begitu ucap Carl Sagan. Apakah kita sendirian di alam semesta? Adakah dia yang lainn di luar sana yang hampir sama dengan manusia? Setidaknya, sekarang manusia belum menemukan bukti konkret dan jelas atas keberadaan yang lain tersebut.

Sendiri? Sepi? Manusia, adalah penjelmaan kesunyian. Sebuah hal terdasar dalam dirinya. Selalu mencari sesuatu di luar dirinya, dan merindukan sebuah titik keabadian, ajeg, dan tak dapat digoyahkan untuk mengatasi sebuah kesepian. Tetapi, rimba alam semesta berkata lain, semuanya yang seakan-akan diam dan statis, ternyata terus bergerak. Semuanya mengalir, pentha rei, begitulah Heraklitos menyebutnya. Anda sebagai manusia, tidak pernah mandi di sungai yang sama.

Bagaimana sepi membuat manusia dapat berfikir dan membahasakan dunia? Sadarkah, bahwa seluruh pencetak sejarah peradaban manusia dari masa ke masa tidak lepas dari intimnya kesunyian. Sebuah refleksi mendalam, singkatnya, sebuah proses kebahasaan, yang bahasa pun tak dapat menjelaskannya. Heidegger memperjelas hal ini, bahasa tak mumpuni, tapi diperlukan. Heidegger dalam Sein un Zeit, sampai-sampai membuat Sein coret (adaan yang bukan Ada) untuk menjelaskan sebuah realitas yang bahasa pun tak dapat menyampaikannya. Manusia, dalam keterbatasannya, merindukan sebuah hal di seberang sana, tak tersentuh oleh analitis logis manusia. Metafisika sebuah keajegan yang dogmatis, inilah penyakit terbesar akal manusia.

Bagaimana mungkin manusia sangat takut akan kesendirian dan kesunyian? Padahal darinya, kedalaman akan mewujudkan dirinya. Sampai bahasa pun akan menuju kepada metafora (menjelaskan makna A melalui B). Tetapi, jelas tak ada yang dapat menganalogikan makna, tidak ada sama-dengan (=) dalam makna. Semua makna mempunyai kedalaman yang tak dapat disampaikan dengan analogi. Jelas, mempermudah adalah hal terdasar dari analogi. Maksud murni A tidak akan dapat dijelaskan dalam B. Hal ini terjadi, karena diferensial tanda dalam bahasa, yang majemuk, goyah, dan tidak stabil. Dalam kehidupan manusia, tanda tak terbatas, setiap kebudayaan manusia dalam suatu wilayah mempunyai tanda yang berbeda dengan tanda di wilayah lain. Dengan demikian, penafsiran terhadap sesuatu akan majemuk, bahkan mencapai titik yang tak terbatas. Tidak ada medan pemaknaan tunggal dalam sebuah teks. Begitu pula dalam mengkhayati kehidupan manusia ada-dalam-dunia.

Setiap subjek mempunyai pengalaman makna yang berbeda-beda atas kegelisahan eksistensialnya. Bermula dari pertanyaan mengapa kita ada, manusia bergerak menuju sebuah ruang-ruang pencarian tanpa henti, akal budi bertanya dan berakhir dengan pertanyaan. Ketika pertanyaan tidak ada lagi, kesadaran pun tidak memungkinkan untuk hadir, semuanya telah tiada dan berakhir. Meski berbau antroposentris yang sangat kuat, di sini tak dapat disangkal ada sebuah objek-objek yang diserap dan dicerna oleh manusia. Di sini, manusia berpijak pada dua tebing epistemologis secara bersamaan, yakni rasionalisme dan empirisme.

Lantas, dengan berbagai kemungkinannya, kita mengetahui bahwa pra-kesadaran terdapat objek-objek material sebelum ternamai oleh akal, Post-kesadaran akan tetap ada objek-objek material yang telah ternamai dan tidak ada yang membahasakannya kembali, singkatnya, berhentinya proses pencarian dan kebahasaan. Manusia, seperangkat penamaan terhadap yang belum ternamai. Manusia ditakdirkan sunyi saat ini, atau ia dapat membahasakan maknanya kepada yang lain dengan simbol-simbol matematis di masa depan sana, ketika ia telah berjumpa dengan makhluk yang nyaris sama dengannya (alien). Singkatnya, yang lain mempunyai sebuah kesadaran akan eksistensinya, adanya proses bahasa, simbol, dan tanda.

Pertanyaan akan hadir dengan membabi buta, misterius, dan sering kali merasuk pada kegelisahan yang amat mendalam. Pernahkah Anda sebagai manusia bertanya, untuk apa kita Ada dengan kesadaran yang sangat melelahkan ini? Mengapa evolusi kita sebagaimana a la Darwin memilih manusia untuk berkesadaran? Mengapa atom-atom berevolusi menghasilkan sebuah kesadaran? Mengapa? Dan untuk apa kesadaran kita? Hanya melakukan aktivitas makan, minum, seksualitas, tidur, dsb, singkatnya proses fisiologis. Untuk itukah kesadaran? Dengan demikian, tidak ada bedanya struktur manusia dengan hewan. Yang hanya mengandalkan insting untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Ya, kesadaran akan mengejewantah dalam bahasa, dan akan bergerak pada proses pemaknaan. Sehingga, keberadaan manusia tidak hanya seonggok materi-materi yang terombang-ambing.

Memakai Husserl yang mengembangkannya dari F. Brentano, bahwa kesadaran selalu terintensionalitas (tertuju pasa sesuatu). Pasti ada yang dituju dalam suatu proses tindak kesadaran. Tidak ada yang kosong, dan tak tertuju. Yang membedakan manusia dengan seluruh yang diketahuinya adalah kesadaran. Terdapat sebuah ruang dalam diri manusia selain fungsi analitis-logis dari akal. Sebuah ruang yang mencari-cari sesuatu di balik yang tampak, dan tentu dengan pertanyaan.

Dari tubuh sains, ada sebuah bongkahan pertanyaan yang tak dapat dijawab. Semacam, mengapa manusia harus berkesadaran? Dalam sisi sains hanya dapat menjawab bagaimana kesadaran tercipta secara fisiologis, namun pertanyaan ‘mengapa’ akan memasuki ruang-ruang yang misteri dan nyaris tak terjelaskan. Dengan itulah, manusia mempunyai sebuah ruang untuk mengukuhkan sebuah metafisika, yang mendasari segala sesuatu. Manusia menyebutnya Tuhan, sebagai awal dari segala hal-ikhwal, causa prima (sebab yang tak tersebabkan), segala yang Ada dari yang ada.

Jika melihat dalam sejarah awal filsafat, pertanyaan apa yang mendasari segala sesuatu telah ada dan mendasarkan diri dalam metafisika. Sebelum ada sains sebagai pijakan data-data empiris. Sains mencoba menjawab sesuatu yang belum diketahui dalam diri manusia. Secara meyakinkan membuktikan kebenaran objektif tanpa unsur-unsur subjektif manusia. Benarkah demikian? Adakah objektifikasi murni? Ke-apa-ada-an yang murni.

Sains melakukannnya dengan sebuah metode ilmiah yang dapat diverifikasi, bersifat universal, dan dapat diuji di belahan dunia mana saja. Sains berguna di dalam disiplin ilmu pengetahuan, tetapi sains tidak dapat dijadikan sebuah acuan satu-satunya dalam menjelaskan alam semesta. Lebih-lebih dalam menjelaskan sisi makna yang sangat khas dalam penafsiran teks. Sains tidak dapat masuk dalam proses pemaknaan, karena unsur subjek akan mendapatkan ruang besar untuk hal ini. Modernism percaya bahwa untuk menjelaskan alam semesta sains adalah segala-galanya. Sehingga sains tak lebih dari sebuah dogma-dogma. Ia mandeg dan semacam menjadi agama baru. Dengan sudut pandang inilah para teoritikus ilmu sosial abad modern percaya bahwa sains dapat memasuki wilayah ilmu-ilmu humaniora, seperti August Comte dan Max Weber. Ilmu-iilmu sosial tak lebih dari sebuah data-data kuantatif a la sains.

Fakta-fakta yang telah menjadi angka, sebuah usaha untuk mencapai sesuai hukum-hukum alam. Bila begini, maka akan begitu, sebuah pemikiran deduktif-nomologis. Hal ini tidak akan selalu dapat diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial. Karena kesadaran manusia terjadi pada gerak menjadi, tidak berhenti, dan selalu berubah. Perlu diingat bahwa pemutlakan akan satu-satunya jangkar yang mendasari segala realitas adalah suatu penyakit dogmatis. Sebuah racun yang membelenggu alam pikir manusia. Meneguhkan satu-satunya realitas, sebuah metafisika yang ajeg dan mapan, berhenti pada satu posisi dan menyingkirkan yang lain, singkatnya sebuah logosentrisme, begitulah menurut Derrida. Sebuah posisi logika biner, menyingkirkan yang liyan, sebuah otoritas pemaknaan.

Objektifitas murni tidak ada dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia. Subjektif murni pun tidak ada. Yang ada adalah sebuah pijakan pada dua tebing yang saling melengkapi, yakni subjek yang mengenali objek dan objek yang dikenali oleh subjek. Aku terhadap sesuatu di depanku, yang aku cerna oleh kesadaranku. Antara subjek dan objek ada sebuah jarak, sebuah ruang kediantaraan subjek dan objek. Di sanalah terjadi sebuah proses kebahasaan, proses pemaknaan, interpretasi atas sebuah objek. Sebuah interpretasi yang tak kunjung henti, dirombak, dibangun, dan dirombak kembali. Selamat datang dalam rimba tanda tanya, sebuah kemungkinan dalam pencarian yang tak terbatas jumlahnya.

Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.