Skip to content

Manusia Sebagai Dasein Menurut Martin Heidegger

Print Friendly, PDF & Email

Sekilas Tentang Martin Heidegger

Martin Heidegger adalah salah satu filsuf Jerman yang sangat terkenal. Membaca Heidegger tidaklah mudah, karena dalam tulisannya Heidegger banyak menggunakan istilah baru yang ia ciptakan sendiri. Meski begitu tulisan-tulisannya banyak mempengaruhi filsuf-filsuf setelahnya, sebut saja seperti Hans-Georg Gadamer, Emmanuel Levinas, Leo Strauss, Jean-Paul Sartre, Maurice Merlau-Pounty, Michel Foucault, Jacques Derrida, Hannah Arendt, dan lain-lain. Hal ini menandakan begitu pentingnya pemikiran Heidegger.

Martin Heidegger lahir di kawasan pinggiran daerah Black Forest, Messkirch, Jerman, 26 September 1889 dari pasangan Friedrich dan Johanna Heidegger. Ia dibesarkan dalam suasana keluarga menengah yang religius. Ayahnya seorang Katolik yang bekerja sebagai koster gereja St. Martinus. Heidegger muda sekolah di gymnasium kota Konstanz, sebuah sekolah menengah yang terletak di tepi danau bodensee pada tahun 1906. Mungkin karena pengaruh dari lingkungan, Heidegger muda bercita-cita menjadi pengikut Katolik yang setia. Tetapi, cita-cita itu hanya bertahan sekitar dua minggu saja.

Heidegger melanjutkan pendidikannya di Universitas Freiburg. Pada saat itu fenomenologi telah menjadi cara berpikir di dalam aliran filsafat. Sebelumnya, Heidegger muda telah dipengaruhi Aristoteles melalui pendidikannya di gereja Katolik. Saat itu, Heidegger telah berkenalan dengan konsep “Ada” (Being) (tentu dalam pengertian tradisional) yang kemungkinan besar dari Plato. Gagasan tentang “Ada” inilah yang menjadi titik sentral dalam karya Heidegger, Being and Time.

Pada tahun 1916, Edmund Husserl datang ke Freiburg. Heidegger yang tertarik dengan fenomenologi Husserl, menyambut baik kedatangannya. Heidegger dan Husserl menjalin persahabatan yang kental sebagai pribadi maupun teman berdiskusi. Kelak, buku Being and Time akan ia persembahkan sebagai tanda persahabatannya dengan Husserl.

Pada tahun 1923, Heidegger menulis magnum opus pertamanya, karya yang belum tuntas, Sein und Zeit (Being and Time), yang secara khusus dipersembahkan kepada Edmund Husserl. Selain Being and Time, Heidegger juga menulis karya-karya lain seperti: Kant und das Problem der Metaphysik (Kant dan Problem Metafisika) (1929), Was ist Metaphysik? (Apa itu Metafisika?) (1929), Holzwege (Jalan-jalan buntu) (1950), Einfuhrung in die Metaphysik (Pengantar Metafisika) (1953), Was heisst Denken? (Apa yang Dimaksudkan dengan Pemikiran?) (1954), Vortraage und Aufsatze (Ceramah-ceramah dan Karangan-karangan) (1954), Indentitat und differenz (Identitas dan Perbedaan) (1957), Zur Sache des Denkens (1969), Phanomenologie und Theologie (1970), Die Grundprobleme der Phanomenologie (Problem-Problem Dasar Fenomenologi) (1975).

Heidegger merupakan seorang pemikir yang ingin menunjukan sebuah originalitas dalam karyanya. Gagasan Heidegger tidak muncul begitu saja, ia juga terpengaruhi beberapa filsuf besar, seperti Friedrich W. Nietzsche, Soren Kierkegaard, dan terutama guru sekaligus sahabatnya, Edmund Husserl sebagai peletak dasar fenomenologi. Di sinilah pemikiran Heidegger menjadi hal penting untuk dikaji, pada dasarnya Heidegger membahas keseharian manusia sebagai Dasein.

Pemikiran Inti Martin Heidegger

Being and Time merupakan buku termasyhur dari Martin Heidegger. Buku tersebut terdiri dari dua bagian: Pengantar, di sini mempertanyakan apa itu Being, mengapa membahas Being itu penting, dan metode yang dipakai dalam mendekati pembahasan Being. Bagian satu mencoba memahami manusia melalui interpretasi akan Dasein yang berada dalam horizon temporalitas (ruang dan waktu) yang mempertanyakan keberadaannya. Dalam bagian satu, Heidegger membagi dua divisi, yakni analisis permulaan fundamental atas Dasein, dan yang kedua adalah Dasein dan temporalitas.1 Pemikiran Heidegger perihal Dasein nanti akan dibahas lebih mendalam pada sub-bab berikutnya.

Being and Time adalah buku yang tidak selesai. Dari isi, Martin Heidegger menyelesaikannya sebatas pada bagian satu saja dengan dua divisi. Setidaknya dari isi buku tersebut ingin menyampaikan sesuatu yang berharga pada aliran filsafat. Heidegger juga akan mengilhami aliran besar dalam filsafat yakni fenomenologi, hermeneutika, dekonstruksi, dan eksistensialisme.

Magnum opus Martin Heidegger ini dikatakan sebagai untranslatable atau tidak dapat diterjemahkan. Menerjemahkan Being and Time sama saja melakukan pengkhianatan, karena Heidegger dalam magnum opus-nya terdapat banyak kosa kata yang sama sekali baru. Sehingga ketika mencoba menerjemahkannya tidak akan secara tepat menggambarkan maksud Heidegger bahkan terjadi penyimpangan.

Heidegger dalam Being and Time menyebut manusia sebagai Dasein (ada-di-sana). “Sein” berarti Ada, dan “Da” berarti di-sana, yakni Ada-dalam-dunia (Being-in-the-world). “Dunia” berbeda dengan “bumi”. Dunia adalah konsep pemikiran yang berhubungan dengan benda atau manusia lainnya. Sedangkan bumi sebagai kata benda berarti sebuah hal yang diam dan berarti sebuah tempat. Sebagai contoh: dunia-artis, dunia-kesehatan, dunia-perekonomian dan sebagainya. Hal ini menandakan bahwa Dunia Dasein berada pada temporalitas tertentu.

Heidegger dalam Being and Time secara fenomenologis ingin membedah struktur Dasein dalam proses menyehari. Heidegger, sebagaimana Husserl, menolak model kesadaran Cartesian, yaitu kesadaran tertutup yang menyebabkan terjadinya pengkultusan “aku” sebagai objek berfikir murni, yang terpisah dari keseharian.2 Pemikir sebelumnya dalam tradisi metafisika barat berada pada titik trasendental yang berbau idealisme. Artinya, mengawang-ngawang dan tidak menyentuh keseharian manusia. Heidegger menyebutnya sebagai destruksi metafisika. Kelak hal ini akan dibangun oleh Jacques Derrida sebagai dekonstruksi. Heidegger menyatakan bahwa metafisika barat lebih menekankan cogito atau pikiran, ketimbang mempertanyakan sum atau Ada.3 Bagi Heidegger, perilaku Dasein adalah keterlibatan secara aktif dengan objek keseharian. Seperti hubungan dengan orang lain, benda, maupun dengan dirinya sendiri (reflektif).

Heidegger menyebut modernitas telah terjebak pada kelupaan akan Ada. Mengapa? Karena “Ada” diperlakukan sebagai mengada. Menurut Heidegger Ada selalu berarti Ada dari mengada-mengada, tetapi Ada sendiri tidak merupakan suatu mengada. Arti mengada di sini sebagai proses menjadi. Metafisika barat senantiasa melihatnya sebagai hubungan kausal-produktif.4 Contoh, anda setahun yang lalu berbeda dengan anda yang saat ini, inilah mengada, proses menjadi. Modernitas menilai ‘mengada’ sebagai ‘Ada’. Inilah pentingnya membicarakan Ada kembali, yang telah mulai dilupakan oleh filsafat barat. Dari sinilah dalam analisis mendalamnya tentang Ada, Heidegger disebut the thinker of being. Selanjutnya, Heidegger menunjukkan bahwa untuk memahami Ada, maka haruslah membahas yang memikirkan dan menyadarinya yakni manusia.

Manusia Sebagai Dasein

Heidegger menyampaikan bahwa untuk memahami “Ada” terlebih dahulu memahami yang memikirkan “Ada”, yaitu manusia. Satu-satunya yang dapat memikirkannya hanyalah manusia melalui tindak kesadaran. Artinya, manusia menyadari keberadaannya. Berbeda dengan hewan yang tidak mempunyai kesadaran, hewan tidak menyadari keberadaannya di dalam dunia.

Heidegger berkata, “keduniawian merupakan konsep ontologis yang menandai struktur konstitutif ada-dalam-dunia.”5 Heidegger menyebutkan bahwa Manusia ada dalam dunia, menemui ruang keduniawian yang radikal, yakni dunia keseharian.6

Manusia menurut Heidegger adalah Dasein (Ada-di-sana). Manusia Ada-di-sana, yang berarti ada-di-dalam-dunia (Being-in-the-world). Manusia terlempar di dunia tanpa memilih dan manusia selalu berada pada suatu sejarah. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang menyejarah, karena manusia secara struktur ontologisnya Ada-dalam-dunia. Heidegger menyebutnya sebagai faktisitas (alasan dan tujuan tidak dapat diketahui dengan jelas oleh manusia itu sendiri). Faktisitas dari Dasein adalah faktualitas dari fakta bahwa Dasein ada.

Sebenarnya, Dasein dapat dimengerti secara sederhana bila kita melihat segala sesuatu seperti seorang pemula.7 Contohnya, ketika anda bertemu dengan mantan yang sedang berdiri di depan anda. Anda dapat menanyakan bagaimana ia berada di sana. Tentu anda dapat menjawabnya, karena mantan anda bisa berada di sana karena menaiki bus dari kosnya di daerah Surabaya. Namun, jawaban tersebut tidak radikal atau mendalam, karena itu mari mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu apa yang memungkinkan ke-disana-an mantan anda. Jawaban yang paling memungkinkan diberi adalah ke-disana-an mantan anda karena kelahirannya, sehingga memberi makna kepada mantan anda ada-dalam-dunia. Lebih radikal lagi, mantan Anda adalah ada-begitu-saja tanpa keinginan untuk dilahirkan. Inilah faktisitas yang dimaksudkan oleh Heidegger.

Namun, anda dengan mantan anda terjalin sebagai Dasein, yang berbeda dengan mengada-mengada lain (contohnya, meja, mobil, kursi, hewan, dan lain lain). Dasein mempersoalkan makna Ada-nya. Artinya, Dasein memberi pemaknaan pada Ada. Contohnya, ketika anda berhadapan dengan sebuah buku, anda akan memberikan sebuah pemaknaan bahwa buku adalah untuk menulis, membaca, dan aktifitas tulis menulis lainnya. Hubungan Dasein inilah yang disebut Heidegger sebagai eksistensi. Dalam faktisitas, pertama-tama Dasein berjumpa dengan benda-benda konkret, inilah sebentuk perjumpaan yang ontologis dengan yang ontis (benda-benda konkret yang tidak memiliki kesadaran).

Setelah faktisitas, menurut Heidegger, Dasein mempunyai karakter lagi, yakni pemahaman atau antisipasi dan kejatuhan. Artinya karakter Dasein mempunyai tiga karakter, yakni faktisitas, antisipasi, dan kejatuhan.8

Pemahaman atau antisipasi melibatkan fore structure yang meliputi fore-having, fore-sight, dan fore-conception.9 Hal-hal tersebut harus dilihat sebagai satu situasi yang serentak. Contohnya, saya mengerti bahwa tensi darah telah memiliki makna sebelum saya mempunyai pemahaman secara menyeluruh tetang tensi darah tersebut, yaitu sebuah pra-pemahaman bahwa tensi darah merupakan alat di antara alat lainnya yang digunakan dalam pemeriksaan fisik. Inilah dimensi fore-having. Selanjutnya, saya mengerti bahwa tensi darah mempunyai kegunaan sebelum saya mengukur tinggi atau rendahnya sirkulasi darah dalam tubuh. Artinya saya bisa mengerti bahwa saya bisa menggunakan tensi darah jika saya ingin menentukan tinggi rendahnya sirkulasi darah pada tubuh pasien saya. Dengan kata lain, bahwa tensi darah adalah sebuah instrumen untuk membuat harapan saya akan ukuran tinggi rendahnya sirkulasi darah pasien saya menjadi nyata atau terwujud. Inilah dimensi fore-sight. Secara serentak saya juga menyadari bahwa tensi darah mempunyai makna dari cara beradanya bagi tenaga kesehatan, sama seperti wajan dan kompor gas mempunyai hubungan makna pada cara berada seorang koki. Inilah yang dinamakan fore-conception. Dengan demikian Dasein berada di dalam ketiga hal yang terjadi secara serentak, yakni fore-having, fore-sight, dan fore-conception.

Selanjutnya, Dasein dalam dunia dengan proses keseharian disebut Heidegger sebagai kejatuhan. Dasein yang terseret ke dalam hal yang ontis setelah perjumpaan dengan benda-benda konkret. Artinya, momen kejatuhan Dasein sebagai yang ontologis tergeser kepada pesona-pesona ontis. Kejatuhan ini membuat penyingkapan atas ke-disana-an. Penyingkapan ini sebagai situasi melalui suasana hatinya (Befindlichkeit). Dalam situasi ini, hubungan Dasein dengan keseharian memberikan karakter-karakter tertentu pada benda, pengada lainnya, dan eksistensi dirinya sendiri. Artinya, larut dalam keseharian dan suasana orang lain. Di titik ini kita dapat memahami ungkapan Heidegger bahwa eksistensi yang otentik bukanlah sesuatu yang di luar keseharian Dasein, melainkan menangkap keseharian secara kreatif dan termodifikasi. Sederhananya, sadar tentang keseharian dan apa yang kita perbuat dalam sehari-hari.

Kondisi kejatuhan itulah manusia di titik kecemasan radikalnya, mulai membuka diri terhadap masa depan. Masa depan adalah kemungkinan-kemungkinan, dan merupakan salah satu cara ketersingkapan makna Ada. Keberadaan manusia di masa depan adalah menuju kematian (Sein-zum-tode), inilah conditio humana menurut Heidegger. Inilah kondisi yang memungkinkan Dasein menjadi otentik atau tidak otentik. Dalam proses menuju kematian, Dasein akan menjadi otentik jika mengkhayati proses kesehariannya dalam dunia. Kematian menjadi momen yang khas ketika Dasein menghadapi kemungkinan untuk menjadi tidak-mungkin. Hal ini sangat berbeda dengan kemungkinan-kemungkinan seperti menjadi dokter, perawat, guru, filsuf, dan sebagainya. Kematian hanya mengungkapkan kemungkinan untuk tidak menjadi apa-apa, hanya menjadi tiada (nothing). manusia tidak pernah tau secara empiris setelah kehidupannya di dunia. Karena pasca kehidupan ia tidak dapat kembali ada-dalam-dunia dan menceritakannya dengan bukti-bukti empiris. Dengan begitu, celah masuknya teologi sebagai kabar dari langit hadir sebagai kemungkinan adanya dunia lain setelah kehidupan di dunia. Sebagai salah satu mengatasi kecemasan dan kejatuhan manusia dalam titik terakhir sebagai Dasein.

Bila manusia ingin menemukan ekistensinya yang otentik, maka Dasein harus memulihkan kepedulian orisinal.10 Pemulihan yang demikian hanya dapat dicapai bila Dasein berhadapan dengan ide kematiannya sendiri sebagai kemungkinan fakta riil yang terakhir. Kontemplasi otentik atas kematiannya sendiri mengingatkan Dasein kepada struktur ontologisnya dan keterbatasan eksistensinya dalam dunia. Sehingga Dasein bergerak kepada proyeksi futuristiknya (masa depan). Masa depan ini sangatlah penting untuk dicapai, masa lalu manusia telah pergi dan dengan antisipasi menghadapi sebuah masa depan. Artinya, Dasein bersusah payah menemukan hakikat keberadaannya untuk mencapai kemungkinan positif di masa depan.

Kesimpulan

Heidegger dalam konsepnya mengenai Dasein, memperlihatkan sesuatu yang sangat berharga dalam mengkhayati ada-dalam-dunia (Being-in-the-world). Manusia terlempar di dunia tanpa memilih, sebuah faktisitas. Manusia dalam keberadaannya menuju kepada kematian. Lantas, apakah kita sebagai manusia menuju kematian secara otentik? Atau justru kita menuju kematian menjadi hal yang tidak otentik? Apakah kita dengan cara bahagia menyambut kematian? Apakah kehidupan kita sebagai Dasein hanya sebatas terlempar tanpa mengkhayati kehidupan kita? Manusia dalam berada di dunia didasari oleh careness (kepedulian, sorge). Tanpa kepedulian, pengkhayatan, dan pemaknaan, manusia hanyalah seonggok daging yang bernafas. Dengan kata lain, manusia adalah binatang yang hanya berbicara tanpa proses kebahasaan. Yang artinya, tidak ada pemaknaan dan tidak ada makna yang tersampaikan. Karenanya, Dasein mengada dalam jejaring-jejaring makna.

1 Martin Heidegger. Being and Time. Terj. Joan stambaugh. State of New York Press. 1996.

2 Donny Gahral Adian. Pengantar Fenomenologi. Depok: Penerbit koeskosan.2010. hlm 51.

3 Martin Heidegger. Being and Time. Hlm. 43

4 Setyo Wibowo. Para Pembunuh Tuhan. Yogyakarta: KANISIUS. 2016. hlm. 43.

5 “Worldliness is an ontological and designates the structure of constitutive factor of being-in-the-world.”Ibid. BT. Hlm. 60.

6 Taufiqurrahman, “Metafisika-Puitika Martin Heidegger”, COGITO: Jurnal Mahasiswa Filsafat, Vo.3 No.2 Oktober 2016, hlm 125

7 Ibid. BT. hlm.52

8 Donny Gahral Adian. Pengantar Fenomenologi. Depok: Penerbit koeskosan. 2010. hlm. 53

9 Ibid. Hlm. 53

10 Edi Mulyono. Belajar Hermeneutika. Yogyakarta: IRCiSoD. 2013. hlm. 87.

Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.