Melawan Materialisme a la McCandless

Nama Christopher Johnson McCandless tak sering terdengar beberapa waktu ini. McCandless ramai dibahas pada pertengahan tahun 1990 hingga tahun 2000-an, sejak kematiannya di tahun 1992. Ia lahir di tengah keluarga yang berkecukupan pada 12 Februari 1968, lebih dari setengah abad lalu. Ayahnya pernah bekerja untuk NASA sebagai ahli antena sementara ibunya pernah bertugas sebagai sekretaris di Hughes Aircraft, sebuah perusahaan penerbangan di Amerika Serikat. McCandless dikenal sebagai sosok petualang, seorang pemuda pengembara. Ia menghabiskan waktunya selepas kuliah untuk menyusuri wilayah Amerika, mendaki gunung, menjelajah hutan, mengarungi sungai-sungai yang mengalir indah ke samudera (terdengar mirip lagu pembuka kartun Ninja Hattori, bukan?) Kenyataan bahwa hidup McCandless bertentangan dari lingkungan dan zamannya menjadikan namanya diceritakan.

Chris McCandless lahir dan tumbuh di masa banyak orang Amerika memandang bahwa kehidupan adalah perkara mengejar pendidikan formal tinggi, berkarir, dan menghasilkan banyak uang. Catatan oleh Huffington Post pun menyatakan demikian. Kehidupan materialistis mulai berkibar di Amerika Serikat pada tahun 1970-an, dan mencapai puncaknya sejak akhir 1980-an hingga awal 2000-an. Banyak orang Amerika saat itu yang menilai bahwa ukuran kebahagiaan adalah seberapa banyak uang yang bisa seseorang hasilkan, seberapa mahal mobil yang bisa dibeli, seberapa mewah rumah yang ia miliki. Singkat kata, sebagian masyarakat di Amerika di masa itu mengukur kebahagiaan mereka secara bendawi. Sebagian masyarakat Amerika di tahun 80 hingga 90an memandang kesuksesan dan kebahagiaan dari barang-barang yang bisa mereka beli atau miliki. Di tengah maraknya kehidupan materialistis kala itu, Christopher McCandless adalah salah seorang sosok yang memilih untuk melawan arus dan berusaha menjalani hidup dengan caranya sendiri.

Semenjak masa kuliah, McCandless banyak mengalami pertentangan batin dan menunjukkan betapa jengahnya ia dengan materialisme. Ia percaya, bahwa manusia bisa dan sepatutnya sanggup hidup tanpa terikat belenggu material. Bagi McCandless, hidup tidak boleh dihabiskan hanya dengan duduk di belakang meja, semata-mata untuk mengejar uang. Hidup tak boleh juga dimaknai sekadar memiliki uang, barang-barang mewah, ataupun privilese kekuasaan. McCandless memandang bahwa ada yang jauh lebih penting dalam hidup daripada memberhalakan materi. Ia pun sadar memilih jalan melawan materialisme dengan caranya sendiri.

Seusai pendidikan universitas, McCandless menyumbangkan hampir seluruh tabungannya untuk sebuah yayasan sosial. Ini bisa diartikan sebagai langkah pertamanya selepas kuliah untuk menampar wajah materialisme. Secara tak langsung, ia sedang mengatakan bahwa uang bukanlah hal penting untuk bertahan hidup seusai kuliah. Seusai mendapatkan gelar sarjana, McCandless justru memilih untuk bertualang dan hidup di alam terbuka, tanpa fasilitas, juga jauh dari kenyamanan dan kemapanan. Ia pergi ke berbagai negara bagian di Amerika Serikat dan menyelinap secara ilegal ke Meksiko. Dalam perjalanannya, bahkan, ia memilih untuk bepergian tanpa uang. Di awal perjalanannya, McCandless membakar uang tunai yang ia miliki. Perjalanan lintas negara bagian pun ia lakukan dengan menumpang kendaraan yang kebetulan lewat, sebelum akhirnya selalu berjalan kaki ke daerah terpencil dan hidup dari alam. Untuk memenuhi kebutuhan makannya, McCandless mengumpulkan apa yang dapat dia temukan di alam, buah-buahan, tetumbuhan liar, bahkan hewan-hewan buruan.

McCandless bisa dikatakan sebagai anak muda antimainstream kala itu. Seorang yang anarki terhadap kemapanan pandangan sosial dan keterikatan material. Ia seorang yang sangat berprestasi, baik secara akademis maupun nonakademis. Ia lulus dengan dua gelar sarjana sekaligus, yaitu antropologi dan sejarah; ditambah predikat cum laude yang membuktikan kemampuan luar biasa di bidang akademis. Selama menjadi mahasiswa, ia pun pernah menjabat sebagai ketua klub lari lintas alam, bahkan terdaftar sebagai atlet lari elit di kampusnya. Dalam pandangan kebanyakan orang saat itu, sosok anak muda seperti McCandless sudah pasti enggan menyia-nyiakan bakat dan rekam jejaknya untuk segera meniti karir dan mengumpulkan harta.

Chris McCandless tak pernah tertarik pada sikap materialistis. Baginya, materialisme membuat manusia menjadi serakah. Alih-alih mengendalikan, materialisme malah memupuk dan menyuburkan keinginan manusia yang tanpa batas. Materialisme mendorong manusia untuk selalu menginginkan materi jauh lebih banyak dari yang ia butuhkan. Menurut McCandless, sikap materialistis juga mengekang manusia untuk tunduk pada rutinitas. Karena materialisme mendorong seseorang untuk mengejar kepemilikan fisik, ia akan mati-matian mengumpulkan lebih banyak uang. Konsekuensinya, manusia akan terjerat dengan rutinitas bekerja lewat batas wajar bahkan bersedia melakukan pekerjaan seperti apapun demi mengejar kesuksesan materi. Hal itu membuat manusia menjadi selayaknya robot, melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang sepanjang hidup. Lebih buruk lagi, pusaran materialisme dapat membuat manusia terus mementingkan kepentingan pribadi dan melupakan kepentingan manusia lain yang tak seberuntung dirinya. Singkat kata, McCandless melihat bahwa materialisme mengubah seorang manusia tak menjadi diri seutuhnya dan terputus dari eksistensi sejatinya.

Materialisme memicu manusia dengan serakah memperkaya diri sendiri, bahkan sering kali membiarkan sesamanya kelaparan. Bagi Chris McCandless, tak seharusnya manusia membiarkan sesamanya kelaparan, sementara ia terus-menerus memperkaya diri. Di masa SMA, McCandless banyak menghabiskan akhir pekannya bertandang ke tempat-tempat terkumuh di sekitar tempat tinggalnya untuk bercakap-cakap dengan mereka yang tertepikan oleh masyarakat. Tak jarang juga, McCandless membelanjakan uang sakunya, membelikan makanan untuk para tunawisma. Sempat pula suatu ketika, McCandless mengasuh seorang tunawisma secara diam-diam di dalam trailer milik orang tuanya. Ia membiarkan seorang tunawisma tinggal di trailer tersebut selama beberapa waktu, tanpa diketahui orang tuanya. Membiarkan sesama manusia kelaparan dan kedinginan memang perkara yang tak pernah masuk akal bagi McCandless.

Bagi McCandless, jalan yang harus ia tempuh untuk melawan materialisme adalah dengan berpetualang. Berpetualang adalah sarana untuk melepaskan diri dari kemelekatan terhadap materi. Petualangan adalah pisau untuk membunuh segala kepalsuan manusia yang ditimbulkan dari kemelekatan terhadap materi. Petualangannya di alam terbuka selama dua tahun adalah perjalanan spiritual pribadinya untuk lepas dari belenggu materialisme dan membuktikan bahwa sejatinya manusia mampu bertahan hidup tanpa suatu ketergantungan terhadap materi.

Materialisme pada dasarnya adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini nyata karena memiliki materi atau memiliki wujud empiris tertentu. Dalam konteks yang lebih spesifik, materialisme dapat diartikan sebagai suatu doktrin bahwa kesuksesan materil adalah tujuan hidup tertinggi. Seseorang mungkin tak menganggap dirinya materialistis, namun mengejar kesuksesan materil sepanjang hayat menunjukkan bahwa ia materialistis. Keinginan untuk terus memiliki barang-barang lebih dari yang dibutuhkan seseorang juga merupakan indikasi sikap materialistis.

Di saat anak muda lain seusianya mulai melamar kerja, membangun karir, dan mengumpulkan kekayaan setelah lulus kuliah, McCandless malah membalikkan badan dan melawan arus materialisme di zamannya. Ia secara sadar memilih untuk menjalani hidup sangat sederhana–bahkan terkesan menggelandang–di alam terbuka. Lebih ekstrim lagi, McCandless begitu terobsesi untuk membuktikan bahwa materialisme itu sampah dan manusia bisa mencukupi penghidupan tanpa harus terikat pada sikap materialistis.­­­

Tinggalkan Balasan