Skip to content

Membaca Thomas Aquinas

Print Friendly, PDF & Email

Konsep Thomas Aquinas berbicara mengenai proses pengetahuan manusia (dalam Summa Theologiae – ST). Pembahasan ini bukanlah perihal mudah karena pola gagasan komprehensif Aquinas membedah hal tersebut. Tak jarang ia menggunakan banyak istilah teknis yang sebenarnya tidak mudah bagi para pembelajar filsafat pemula. Bahkan bisa dikatakan bahwa banyak terminologi yang dipilih Aquinas tidak mudah bagi yang sudah cukup lama belajar filsafat. Selain itu, Aquinas selalu mengutip atau mengelaborasi konsep-konsep berpikir banyak filosof atau teolog pendahulunya sehingga memahami ST sama dengan memahami banyak pemikiran lain yang ada di dalamnya. Berikut poin-poin yang menggambarkan gagasan tersebut.

Bagaimana Jiwa Memahami Hal-hal Jasmani yang Lebih Rendah pada saat Menyatu dengan Tubuh (Q 84)

Perihal proses kognitif manusia, Thomas Aquinas dipengaruhi oleh Aristoteles: objek-objek material yang ada di luar tubuh manusia mempengaruhi organ-organ sensorik eksternal manusia, untuk kemudian memasukkan data-data objek material tersebut kepada organ-organ sensorik internal sehingga membentuk sebuah konstruksi phantasm. Kekuatan intelek aktif, melalui proses abstraksi, kemudian mengabstraksikan species intelligibile dari panthasm sehingga menjadi intelek pasif.

Pada dasarnya, pendapat Thomas Aquinas berada diantara dua posisi ekstrim. Pada satu sisi, Aristoteles kuat menyatakan bahwa objek material eksternal tampak jelas secara langsung mempengaruhi intelek, sejajar dengan objek material tersebut mempengaruhi organ manusia (naturalisme ekstrem). Di sisi lain, ada Platon yang kuat meyakini bahwa objek material dan intelek manusia adalah dua hal yang terpisah sehingga objek tidak dapat mempengaruhi intelek secara langsung.

Apakah Jiwa Mengenal Tubuh Melalui Intelek? (Artikel 1)

Pertanyaan penting yang dikemukakan oleh Thomas Aquinas: apakah jiwa dapat mengenal hal-hal jasmani (tubuh) melalui intelek? Pada salah satu bagian keberatan (objection), Thomas Aquinas merujuk pendapat St. Agustinus mengenai jiwa yang tidak dapat mengenal hal-hal jasmani (tubuh) melalui intelek. Agustinus meyakini bahwa hal-hal material/jasmani jelas tidak dapat dikenal secara langsung oleh jiwa. Jiwa secara kodrati berhadapan dengan hal yang immaterial, bukan material. Karena intelek merupakan bagian dari jiwa, maka tepat kiranya jika dikatakan bahwa pengetahuan yang dihasilkan oleh intelek sejatinya bersifat universal, bukan partikular. Hal-hal material merupakan bentuk paling jelas dari realitas yang partikular dan fana. Aquinas menyajikan argumen yang berbeda berkaitan dengan pendapat Agustinus ini.

Tubuh dan hal material lainnya di dunia adalah benda yang tidak stabil, selalu berubah. Heraklitos sendiri mengatakan bahwa manusia tidak pernah menginjak sungai yang sama dua kali. Ini berarti bahwa ke-dinamis-an objek material di luar tubuh manusia tentu akan mempengaruhi intelek manusia jika memang jiwa mengenal tubuh melalui intelek. Permasalahannya adalah, jika intelek selalu menerima perubahan berdasarkan gerak (mobilitas) hal-hal materiil di luar jiwa manusia, bagaimana mungkin intelek bisa memiliki pengetahuan yang universal? Universalitas mengandaikan sesuatu yang stabil, satu dan abadi. Konsekuensinya, intelek dan objek-objek material benar-benar merupakan dua hal yang terpisah.

Thomas Aquinas menggunakan gagasan Plato sebagai dasar untuk mulai menyusun argumennya. Plato mengatakan bahwa antara intelek dan benda material haruslah merupakan dua hal yang terpisah. Bagaimana mungkin benda material bisa berada dalam intelek secara nyata? Atau dalam bahasa yang sederhana, bagaimana mungkin sebuah meja kayu bisa berada dalam intelek? Apa yang ada dalam intelek, menurut Plato, adalah ide bukan benda material itu sendiri. Pendapat ini bukannya tanpa masalah. Jika manusia melihat objek material sebagai hal yang benar-benar terpisah, Aquinas kemudian mempersoalkan: bagaimana mungkin bisa dibangun sebuah pandangan mistik tentang tubuh manusia?

Thomas Aquinas juga menentang pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa intelek menerima benda-benda jasmaniah secara berbeda dengan kenyataan. Bagi Aquinas, benda material memang mengalami perubahan karena memang berada dalam ruang dan waktu. Namun demikian, konsep manusia tentang benda tersebut tidak akan pernah berubah karena pengetahuan mengenai benda tersebut sejatinya bersifat universal di dalam intelek. Ragam data mengenai bentuk meja misalnya, yang diterima oleh organ sensorik akan menunjukkan suatu ide universal tentang meja yang selanjutnya disimpan dalam intelek.

Thomas Aquinas mengatakan bahwa semua data sensorik yang ditangkap oleh indera manusia akan mengalami proses abstraksi sehingga kemudian menjadi konsep-konsep pengetahuan manusia. Menurut Aquinas, ketika indera menangkap realitas objektif dan dimasukkan ke dalam intelek, yang ditangkap adalah kualitas dari objek tersebut, bukan kuantitas materiilnya. Proses abstraksi merupakan upaya intelek memisahkan kualitas-kualitas objektif yang masuk ke akal budi.

Apakah Jiwa Memahami Hal-Hal Jasmani Melalui Esensi? (Artikel 2)

Pada artikel 1 sudah dijelaskan bahwa jiwa mengenal hal-hal material melalui intelek setelah indera menangkap kualitas objek dan kemudian diabstraksikan di dalam intelek. Pertanyaan selanjutnya, apakah jiwa mengenal hal-hal jasmani melalui inti (esensi) akal budi? Aristoteles pernah mengatakan bahwa “jiwa dalam segala hal adalah segalanya” (De Anima III, 8). Adagium Aristoteles ini menyiratkan bahwa jiwa dalam banyak hal akan menjadi apa yang ia kenali lewat intelek.

Kembali pada perdebatan mengenai pengenalan objek di dalam intelek sebagai sesuatu yang material atau immaterial, Aquinas melihat bahwa Platon pada satu sisi benar ketika mengatakan bahwa tidak mungkin objek material bisa berada di dalam intelek. Itu sebabnya Aquinas mengatakan bahwa yang ada di dalam intelek adalah bersifat immaterial (kualitas objek). Intelek mengabstraksikan objek (spesies) tidak hanya pada tataran materinya semata, namun juga pada tataran kondisi. Hal-hal jasmani tersebut sehinga bisa dinyatakan eksis. Artinya, intelek mengabstraksi objek material secara menyeluruh dan sempurna lewat fakultas sensorik.

Berdasar simpulan tersebut, Aquinas mengajukan suatu pertanyaan mendasar: apakah segala hal yang diketahui oleh intelek secara utuh dan menyeluruh tersebut terjadi melalui inti jiwa (esensi intelek)? Permasalahan yang muncul dari pertanyaan ini adalah jika memang intelek menerima hal-hal jasmani melalui intinya, maka intelek dengan demikian harus mengetahui segala sesuatu tentang hal-hal jasmani tersebut secara utuh. Padahal inti jiwa (intelek) tidak akan berubah walau ada banyak informasi/data yang dimasukkan oleh organ sensorik.

Thomas Aquinas kemudian menyimpulkan sebagai berikut. Manusia tidak akan pernah memahami keseluruhan pengetahuan tentang hal-hal jasmani melalui inti akal budi (intelek/jiwa). Intelek manusia terbatas. Aquinas mengatakan bahwa hanya Tuhan yang dapat memahami segala sesuatu melalui inti jiwa, karena hanya Dia yang memahami segala sesuatu. Segala yang ada sudah eksis secara immaterial dalam Diri Tuhan.

Apakah Pengetahuan Intelek Diperoleh dari Hal-Hal Inderawi/Sensible? (Artikel 6)

Thomas Aquinas selanjutnya membahas dua hal yang cukup penting dalam proses pengetahuan manusia, yaitu kognisi dan sensasi (organ indrawi). Ada banyak perdebatan berkaitan dengan fungsi kedua hal ini. Ada yang mengatakan bahwa baik kognisi dan sensasi berfungsi dalam satu perintah yang sama (filosof alam). Ada juga yang mengatakan bahwa kedua hal tersebut dijalankan dalam perintah yang berbeda.

Platon mengatakan bahwa baik sensasi maupun kognisi berada pada perintah yang berbeda. Sensasi berkaitan erat dengan penggunaan organ tubuh manusia. Sementara itu, kognisi berkaitan erat dengan hal-hal yang sifatnya immaterial. Platon meyakini bahwa fungsi kekuatan sensorik (sensasi) adalah mendorong agar kekuatan intelek dapat menghasilkan tindakan (act). Namun demikian, kekuatan intelek ini lebih merupakan bentuk partisipasi dari Ide Abadi daripada bersumber dari objek-objek materiil.

Aristoteles sejatinya setuju dengan gagasan Platon bahwa kesatuan antara sensasi (organ inderawi) dan juga intelek (immaterial) tentu dapat menimbulkan masalah. Pada dasarnya kedua hal tersebut memiliki substansi yang berbeda. Namun demikian, Aristoteles bersikeras bahwa manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa. Bagaimana cara menyatukannya?

Thomas Aquinas menunjuk peran intellectus agens sebagai titik temunya. Intellectus agens adalah sebuah prinsip aktif dalam jiwa yang bertanggung jawab atas abstraksi bentuk yang dapat dipahami dari phantasm sehingga terarah pada kecerdasan pasif. Phantasm yang dibangun oleh imajinasi (bersumber dari organ sensorik) pada dasarnya tidak cukup memadai untuk menandai dan memahami spesies agar dapat diterima oleh intelek pasif. Hal ini disebabkan phantasm tersebut masih berhubungan dengan kondisi material objek persepsi. Aquinas menyimpulkan dengan mengatakan bahwa meskipun sensasi tidak dapat dianggap sebagai penyebab total dan sempurna dari kognisi intelektual, setidaknya dianggap sebagai penyebab material dari kognisi tersebut.

Apakah Intelek dapat Benar-Benar Memahami Objek Inteligibilis, tanpa Beralih ke Phantasm? (Artikel 7)

Kegelisahan dasar yang Thomas Aquinas coba sodorkan pada bagian ini adalah apakah mungkin intelek dapat berpikir sendiri tanpa melibatkan phantasm? Dengan kata lain, Aquinas mencoba menunjukkan sebuah kemungkinan, berdasarkan perdebatan banyak orang, dimana intelek manusia mampu bertindak dan memutuskan sendiri produk pengetahuan tanpa harus “bekerjasama” dengan phantasm.

Namun bagi Aquinas, hal ini tidak mungkin karena ada banyak hal. Aquinas begitu menekankan pentingnya konsep persatuan antara tubuh dengan hal-hal spiritual. Misalnya saja ketika manusia mencoba untuk mengingat sesuatu yang konkrit, ia tidak dapat menggunakan inteleknya sendiri secara bebas (tanpa mempengaruhi hal lain). Manusia akan kembali pada phantasm dimana memori mengenai hal-hal konkrit tersimpan. Baru setelah kembali pada phantasm manusia dapat membayangkan benda-benda konkret tersebut.

Konsep ini sebenarnya sudah diurai oleh Aristoteles dalam buku ke III, De Anima. Aquinas menambahkan beberapa argumen berkaitan dengan hal ini. Pertama, misalnya ketika organ utama yang berhubungan dengan kekuatan imajinasi terluka. Orang akan terhambat untuk memiliki pemahaman aktual mengenai objek yang terserap indera. Ini menunjukkan bahwa intelek sejatinya selalu berada dalam hubungan dengan phantasm sehingga tidak dapat berdiri sendiri.

Kedua, argumen ini berkaitan dengan instropeksi. Ketika manusia mencoba untuk mengintropeksikan dirinya. Ia akan membayangkan sesuatu yang pernah dilihat dan tersimpan dalam phantasm. Manusia tidak pernah mampu memikirkan apa yang tidak pernah tersimpan dalam phantasm.

Inilah yang kemudian membedakan antara manusia dengan malaikat, misalnya. Malaikat memiliki kognisi immaterial murni yang memungkinkan mereka untuk menggunakan intelek tanpa harus beralih ke phantasm. Manusia memiliki intelek yang berkarakter immaterial, namun “sumber data” nya berasal dari objek material. Itu sebabnya manusia akan selalu beralih ke phantasm agar dapat memaksimalkan kemampuan inteleknya.

Apakah Penilaian Intelek Berhenti Ketika Kekuatan Sensibilitas Dihentikan? (Artikel 8)

Hal yang Thomas Aquinas persoalkan dalam artikel 8 ini sebenarnya cukup sederhana: apakah intelek dapat bekerja ketika kekuatan sensorik tidak beroperasi? Pertanyaan ini tentu tidak tepat diajukan pada contoh seseorang yang menutup mata. Orang yang menutup mata akan tetap bisa menggunakan inteleknya karena organ-organ lain masih berfungsi dan otak masih dalam keadaan sadar.

Thomas Aquinas mempertanyakan ini pada kasus yang lebih ekstrem. Misalnya, pada orang yang tidur atau pingsan. Orang yang tidur, organ-organ sensoriknya benar-benar tidak dapat berfungsi. Lantas apakah intelek manusia tidak dapat bekerja pada situasi semacam itu? Aquinas mengatakan bahwa intelek manusia akan bekerja dalam keadaan yang sama dengan kemampuan organ sesnsoriknya. Semakin lemah organ sensorik, semakin lemah juga kemampuan intelek dalam memaksimalkan kekuatannya.

Bentuk dan Perintah Pemahaman Intelek (Q 85)

Thomas Aquinas telah menunjukkan gagasan pokok pemikirannya tentang konsep pengetahuan dalam Q 84. Jika diringkas, gagasan pokoknya itu dapat disampaikan sebagai berikut: kekuatan sensorik eksternal menerima objek material yang sesuai dengan kualitas objek aslinya. Kekuatan indera internal mengumpulkan data yang diterima oleh kekuatan sensorik eksternal dalam spesies sensorik yang dikenal sebagai phantasm. Kekuatan aktif intelektualitas menerangi phantasm dan dengan melakukan hal itu intelek aktif memperoleh ide universal dari objek yang tercerap indera (proses abstraksi). Spesies yang dapat ditangkap oleh intelek aktif ini kemudian tersimpan di dalam intelek pasif. Spesies yang diekspresikan dari kecerdasan pasif menyediakan materi konseptual yang dengannya proses penalaran intelektual dimulai.

Apakah Intelek Manusia Memahami Hal-Hal Jasmani dari Proses Abstraksi atas Phantasm? (Artikel 1)

Artikel pertama ini akan lebih berfokus pada kemampuan intelek untuk mengabstraksi phantasm. Thomas Aquinas memberikan jawaban yang berfokus pada tiga kekuatan kognisi yaitu kognisi inderawi, pemikiran malaikat dan pemahaman manusia. Objek kognisi inderawi adalah benda material yang eksis di luar organ tubuh manusia sehingga dapat tercerap oleh indera.

Pemikiran malaikat hanya dapat dipahami dalam spesies immaterial yang setara dengan malaikat itu sendiri. Bentuk materi yang eksis dalam pemikiran malaikat hanya ada dalam diri mereka dan Tuhan, bukan seperti benda material dalam manusia. Pemahaman (kecerdasan) manusia berada pada titik tengahnya, yaitu pada kemampuan intelek untuk mengabstraksi phantasm sebagai produk dari organ sensorik yang mencerap objek material. Phantasm diproduksi dari kekuatan jiwa manusia.

Keberatan (objection) pertama mengatakan bahwa jika intelek mengabstraksi phantasm tanpa mengabstraksi objek materialnya secara langsung, maka intelek sejatinya tidak pernah memahami objek material. Intelek hanya memahami phantasm. Aquinas kemudian menjawab keberatan ini. Ia membuat sebuah distingsi5 yang jelas berkaitan dengan model/bentuk abstraksi sehingga akan terlihat kekeliruan dalam membedakan proses abstraksi oleh intelek.

Metode pertama melibatkan abstrak hal-hal yang berhubungan satu sama lain (dia menyebutnya sebagai cara komposisi dan pembagian). Metode ini memungkinkan terjadinya kesalahan saat kita menjabarkan hubungan yang tidak diabstraksikan dalam kenyataan. Modus abstraksi kedua (modus pertimbangan sederhana dan mutlak) memisahkan hal-hal yang tidak diabstraksikan dalam kenyataan dan menganggapnya dalam istilah absolut dan bukan relasional.

Aquinas lebih condong menggunakan metode kedua dalam menjelaskan proses intelek mengabstraksi phantasm. Metode kedua ini lebih memberi ruang bagi intelek untuk melihat sifat dari objek material yang diabstraksikan dalam phantasm daripada sekadar melihat kekhususan (partikularitas) dari objek tersebut. Dengan melihat sifat, maka intelek akan memperoleh karakter universal dari objek material yang sudah diabstraksi dalam phantasm, walau dalam realitasnya objek material tersebut bisa saja berubah.

Keberatan kedua menunjukkan pemahaman mereka tentang objek material sebagai hal yang secara harfiah material. Artinya, ketika organ sensorik eksternal mencerap objek material dan mengambil “unsur” immaterialnya saja sebagai bahan untuk ide umum yang akan ditanam dalam intelek, otomatis intelek tidak akan pernah memahami objek material seutuhnya. Mengapa? Karena intelek tidak memasukkan unsur material dari objek sebagai data sensoriknya.

Keberatan ketiga beralih ke gagasan bahwa phantasm dapat bertindak seperti kecerdasan pasif dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh organ sensorik. Bisa dikatakan bahwa tidak perlu intelek aktif dan proses abstraksi jika phantasm melakukan semua hal. Aquinas membedah gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh keberatan ketiga ini. Ia menjelaskan bahwa posisi phantasm berbeda dengan intelek aktif ataupun pasif. Phantasm berada pada lingkar materi yang didalamnya terdapat organ indera sensorik eksternal ataupun internal. Sementara itu, intelek aktif dan pasif merupakan dua hal yang murni immaterial. Karena materi tidak dapat secara langsung mempengaruhi hal yang immaterial, maka manusia membutuhkan intelek aktif (prinsip immaterial aktif) yang bertanggungjawab untuk mendapatkan informasi dari phantasm dan kemudian dihantarkan kepada intelek pasif.

Apakah Spesies yang Diabstraksikan dari Phantasm sama seperti Spesies yang Dipahami dalam Intelek? (Artikel 2)

Persoalan yang digeluti dalam artikel 2 ini sebenarnya sederhana: apakah spesies yang dipahami dalam intelek pasif itu sama persis dengan yang diterima dari phantasm? Jika yang diterima oleh intelek pasif hanyalah merupakan abstraksi dari phantasm, tentu pengetahuan manusia mengenai objek material yang dicerap oleh indera menjadi tidak murni/tidak sama. Dengan kata lain, apa yang dipahami oleh manusia dalam inteleknya tak lebih hanyalah produk intelek aktif bersama dengan phantasm, bukan lagi objek material secara utuh.

Aquinas menjawab persoalan ini dengan memberikan dua sanggahan. Pertama, jika memang apa yang dipahami oleh intelek hanyalah hal yang murni sudah di dalam jiwa manusia (species intelligibilis dari intelek aktif dan phantasm), maka ini juga seharusnya akan berlaku untuk pengetahuan sains/alam. Artinya, kelompok yang mengikuti paham di atas juga mengatakan bahwa pengetahuan alam tentu berasal dari jiwa manusia. Aquinas menolak hal tersebut. Pengetahuan alam jelas berkaitan dengan dunia eksternal manusia, bukan dunia internalnya.

Kedua, mereka yang memisahkan antara produk phantasm dengan objek material hanya akan jatuh dalam suatu subjektifisme radikal. Kaum yang seperti ini hanya akan meyakini apa yang ada di dalam “kepalanya” sebagai suatu kebenaran. Hal yang berada di luar dirinya dianggap sebagai sesuatu yang keliru.

Bagi Aquinas, ketika seseorang melihat objek manusia di luar dirinya, yang ia tangkap dalam inteleknya adalah kemanusiaan dari manusia itu sendiri, bukan kondisi-kondisi individualnya. Kondisi individu tidak mungkin dapat masuk ke intelek karena apa yang material tidak dapat mencampuri yang immaterial.

Apakah Hal yang Semakin Universal Merupakan Hal yang Utama dalam Intelek Manusia? (Artikel 4)

Pertanyaan sederhana yang ingin disampaikan dalam bagian ini adalah: apakah ada gradasi universalitas dalam intelek manusia. Artinya, apakah intelek manusia memiliki klasifikasi mengenai urutan universalitas dari sifat objek material yang tercerap? Aquinas kemudian menjawab bahwa ketika organ sensorik eksternal menangkap objek material. Hal yang ditangkap dari objek tersebut tentu sifatnya partikular/singular. Akibatnya, pengetahuan yang ditangkap oleh intelek juga sejatinya belum universal seutuhnya. Di sinilah letak keunikan epistemologi Thomas Aquinas. Ia melihat bahwa pengetahuan manusia merupakan sebuah proses yang dapat mencapai kesempurnaannya karena perjumpaan dan pembelajaran yang terus menerus dengan objek. Pengetahuan kognitif manusia bergerak dari potensialitas menuju aktualitasnya. Dari kognisi yang belum lengkap menuju kelengkapannya. Ujung dari proses ini adalah pengetahuan ilmiah lengkap mengenai objek kognisi.

Apakah Intelek Manusia Mengerti dengan Komposisi dan Pembagian (Artikel 5)

Thomas Aquinas mengatakan bahwa pemahaman manusia itu sejatinya bersifat progresif. Manusia perlu proses agar dapat memiliki pengetahuan yang utuh akan segala sesuatu. Selalu ada hal yang terlintas yang dapat ditangkap manusia dalam proses potensialitas menuju aktualitas. Apa yang manusia tangkap hari ini dalam keseharian adalah salah satu tahap untuk mencapai pemahaman yang utuh pada saatnya nanti. Secara lebih spesifik, proses pengetahuan manusia ini melibatkan komposisi dan pembagian yang harus dilalui secara bertahap. Untuk memahami satu wajah, manusia akan mulai dengan mengenali bagian per bagian dari wajah tersebut, baik secara sadar ataupun tidak.

Hal ini berbeda dengan pemahaman para malaikat di surga. Malaikat tidak mengalami komposisi atau pembagian layaknya manusia. Malaikat dan Tuhan tidak perlu mengumpulkan komposisi dan pembagian untuk dijadikan suatu pengetahuan utuh. Segala yang ada adalah percikan dari substansi Tuhan sehingga Tuhan tidak perlu lagi berupaya keras mengumpulkan komposisi untuk bisa memahami segala sesuatu.

Ilustrasi oleh Trio Kurniawan
Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.