Merayakan Hidup Hedonis Ala Epikuros

Hedonisme Epikurean ialah perihal hidup yang tenang, tanpa kerakusan, ketakutan, dan pemanjaan terhadap keinginan-keinginan aneh
Hedonisme Epikurean | Ardin
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Manusia sering terlihat murung seketika membaca berita bencana di koran harian, kabar kematian, riuh politik, dan konflik komunitas masyarakat. Bukan hanya itu, kesedihan dan ketakutan kerap muwujud dalam ucapan-ucapan para ustad di mimbar ceramah: menakut-nakuti para jamaah dengan ancaman neraka dan azab Tuhan serta ketakutan pada hari kiamat. Tuhan dan agama, kematian dan pertikaian politik telah menjadikan manusia tersungkur dalam kesedihan, ketakutan, murung, dan kegalauan mendalam. Apa yang terjadi?

Adalah Epikuros, filsuf yang memperkenalkan hedonisme. Sementara, hedonisme yang jamak dipahami serta dibenci itu sama sekali bukan keinginan sang filsuf. Faktanya, istilah “hedonisme” seringkali diidentikan dengan hidup hura-hura, tanpa pertimbangan, dan pesta pora belaka.

Epikuros lahir di salah satu kepulauan Yunani, yakni Samos. Ia mendirikan sekolah filsafat di kota Athena pada tahun 306 SM. Ia berada dalam kebingungan sambil mencari kepastian dalam kekacauan sosial dan poltik pasca wafatnya Alexander Agung pada 326 SM. Pengembaraannya itu bertujuan untuk memperoleh fondasi yang kuat untuk mencari titik tengah antara bangunan filsafat skeptisisme dan idealisme.

Epikuros adalah pribadi yang sangat dihormati oleh para muridnya. Ia adalah sosok yang memiliki kepribadian yang halus, luhur, baik hati, serta selalu menjalin persahabatan yang sangat dalam. Hidupnya sangat sederhana, bahkan dalam keadaan sakit berat pun, Epikuros masih menunjukkan ketenangan dan kegembiraannya (Franz, 1987).

Menurut Epikuros, tak ada yang perlu ditakutkan dari Dewa-dewa, bahwa semua yang ada di jagad raya ini terjadi karena gerak atom-atom. Dewa-dewa menikmati kebahagiaan yang kekal dan tidak bisa diganggu oleh siapa pun. Manusia tidak mungkin mengganggu dewa-dewa maka mereka pun tidak akan mengganggu manusia. Dengan demikian maka manusia tidak perlu takut terhadap dewa-dewa (Harun, 1967).

Selanjutnya, Epikuros juga beranggapan bahwa kematian tidak perlu ditakuti karena selama manusia masih hidup berarti manusia belum mati. Pun jika manusia mati berarti tidak ada lagi sehingga tidak akan merasakan apa-apa. Jika manusia hidup dengan baik maka akan mati dengan baik pula (Franz M. S., 1997)

Menjadi Hedonis Ala Epikuros

Konsep hedonisme bisa saja mengalami reduksi besar-besaran, namun bukan tidak mungkin ia dapat menjadi “penghibur” di antara kebingungan manusia dan kegersangan masyarakat abad 21. Apa yang telah dikhawatirkan Epikuros sebagai ketakutan pada dewa dan kematian serta kekacauan politik akhir-akhir ini menggelar di tengah masyarakat modern yang justru mengalami kemajuan yang pesat.

Melalui simbolisasi agama, sesering mungkin Tuhan diidentikan sebagai seorang preman yang membawa senjata tajam berupa neraka. Penampakan itu kerap diucapkan di surau-surau, gereja, dan tempat ibadah. Sementara itu, faktanya, perang atas interpretasi agama juga mewarnai seluruh kekacauan umat manusia. Kita masih mendengar berita pertikaian antara Israel dan Palestina hingga pada detik ini. Interpretasi agama yang gegabah bukan hanya membuat manusia penganut agama berada dalam ketakutan-ketakutan, tetapi juga membuat tubuh dan akalnya tak bergerak sejengkal pun.

Bagaimana menjadi bijaksana dalam menyikapi hidup? Epikuros menyatakan bahwa manusia harus bersikap arif terhadap keinginan-keinginannya. Sesuatu yang mesti diperhatikan ialah perihal yang alami alih-alih memanjakan hasrat. Orang yang bijaksana, menurutnya, ialah orang yang hidup hingga ia sehat dan tenang jiwanya sebab pada dasarnya manusia hanya memerlukan kedua perihal itu untuk bahagia jasmani dan rohani, bebas dari perasaan sakit badani dan perasaan takut serta resah. Tetapi bukan dengan kerakusan, maka Epikuros menganjurkan untuk hidup yang penuh kesederhanaan. Kenikmatan tak selalu identik dengan sensualitas, tetapi ia adalah pembebasan dari rasa sakit badan dan jiwa. Orang yang bijaksana menurutnya ialah yang mengetahui seni untuk menikmati selama dan sedalam mungkin. Selanjutnya, ia berpendapat bahwa persaudaraan dan persahabatan ialah penting sebagai sarana untuk mencapai kenikmatan.

Kenikmatan sesungguhnya didapatkan melalui apa yang disebut sebagai ataraxia, yaitu ketenangan (tranquility). Ia dicapai melalui cara yang bijaksana dalam menyikapi keinginan-keinginan, maka keinginan yang berpotensi menimbulkan ketidak-nikmatan ialah keinginan yang harus dibiarkan berlalu begitu saja.

Mengkaji pemikiran epikuros sesungguhnya adalah mencari cenayang di tengah gersangnya umat manusia. Dengan kemajuan pengetahuan, teknologi dan informasi dewasa ini, manusia justru terjerembab dalam ketakutan-ketakutan: ketakutan akan bahaya nuklir, obat-obatan terlarang, dan senjata canggih yang sedapat mungkin mengancam peradaban manusia. Hedonisme bukan kerakusan, sebaliknya ia adalah kemampuan kita untuk membatasi keinginan-keinginan. Dalam etika pribadi, hedonisme sesungguhnya ialah usaha untuk menjadi tenang, nikmat, dan membatasi keinginan-keinginan yang berpotensi melahirkan ketidaknikmatan berkepanjangan.

Dalam masa yang segalanya mudah terjangkau ini, manusia justru membutuhkan kebijaksanaan untuk menahan rasa ingin kepada hal-hal yang dapat menjadikannya tidak bahagia. Perihal itu dapat dipraktikkan, misalnya dengan tidak tergoda pada barang-barang diskon di mall. Sebab mengenyangkan perut lebih bermanfaat untuk tubuh dan jiwa. Demikianlah upaya untuk menemukan ataraxia atau ketenangan.

Dalam konteks politik, ketidakmampuan untuk menahan rasa ingin suatu komunitas masyarakat (baca: negara) telah menjadikannya menjajah negara lain, mengancam dan bahkan menggelar perang. Epikuros menentang segala kenikmatan yang justru menghadirkan ketakutan kepada pihak lain.

Hedonisme Epikurean ialah perihal hidup yang tenang, tanpa kerakusan, ketakutan, dan pemanjaan terhadap keinginan-keinginan aneh. Hidup yang bersandar pada kebahagiaan diaktualisasi tanpa memikirkan penderitaan-penderitaan yang berkepanjangan. Kita semua mencarinya saat ini, pada masa yang justru menawarkan keinginan-keinginan, hasrat yang berlebihan, dan tawaran yang tumpah. Orang orang yang berbahagia ialah orang-orang yang menahan.

Referensi Bacaan

Franz, M. S. (1987). Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.

Franz, M. S. (1997). 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani. Yogyakarta: Kanisius.

Harun, H. (1967). Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius.

Leave a Reply

Baca Lagi

Close Menu