Menu Close

Orpheus: Pengabaian dan Kesedihan

Dalam mitologi Yunani, Orpheus dewa musik anak Oeagrus kehilangan istrinya karena patukan ular berbisa. Euridis seorang peri yang dikenal karena kecantikkannya harus berpindah ke dunia Hades. Sebagai seorang dewa, Orpheus berusaha untuk menggunakan statusnya sebagai dewa untuk merayu Pluto agar dapat mengembalikan istrinya ke dunia manusia. Hades menerima penawaran Orpheus dan memintanya agar menghibur dunia bawah tanah dengan permainan liranya. Semua terhanyut dalam alunan musik Orpheus dan pada saatnya Hades menepati janji dengan mempersilahkan Orpheus kembali ke dunia bersama istrinya. Namun Hades memiliki satu syarat bagi mereka berdua. Selama perjalanan kembali ke dunia, Orpehus tidak diperbolehkan menatap istrinya hingga mereka sampai pada batas luar gerbang Hades. Euridis dan Orpheus saling menggenggam tangan, melewati sungai Stix sambil menahan kerinduan. Sejenak mereka akan sampai gerbang perbatasan dunia orang mati. Orpheus menahan kesesakan atas kerinduan pada istrinya  juga didera perasaan syukur dan hasrat yang terbatasi dengan persyaratan dari Pluto. Namun Orpheus sebagai dewa yang selalu hidup dalam keindahan akhirnya tidak dapat menahan dorongan tersebut. Ia menoleh ke belakang, menatap istrinya. Paras ayu Euridis masih tertanam dalam-dalam walau raganya belum mewujud secara sempurna. Euridis masih membentuk kabut halus berpendar seperti kesuciannya semasa hidup. Namun parasnya menampilkan ketakutan. Euridis menyadari bahwa tatapan Orpheus menebus kerinduan pasangan itu untuk sementara, namun dengan demikian mereka sekaligus akan menemui perpisahan untuk kedua kalinya, dan untuk selamanya.

Orpheus masih terpana, wujud halus Euridis perlahan-lahan menghilang bersamaan dengan sapuan matahari yang masuk melalui celah gerbang dunia Hades. Orpheus sekali lagi kehilangan Euridis. Dunia berhenti menyinari pasangan tersebut. Orpheus harus menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat kembali merengguh Euridis kembali. Hutan yang biasanya hangat dengan nyanyian Orpheus kini dingin dalam keheningan. Tragedi ini membuat dunia bungkam untuk sementara. Semua peri dan dewa-dewi yang turut berduka berusaha menghibur Orpehus, mereka menyatakan kehadiran Euridis yang akan selalu ada bersama mereka dalam segala hal di permukaan bumi ini. Keindahan Euridis diandaikan dengan tetesan embun, kabut pagi, sinar purnama dan suara manja anak rusa pada induknya. Orpheus yang tersesat dalam kesedihan perlahan pulih kembali. Dengan dentingan liranya ia kembali menghibur bunga yang mekar dan para peri hutan. Dibutuhkan waktu yang lama untuk Orpheus merangkai kembali rangkaian puji-pujian bagi cintanya. Perlahan seluruh dunia terhibur dan pulih kembali, Orpheus berhasil menggambarkan afeksinya atas Euridis kepada seluruh dunia. Hati yang keras meluluh lembut ketika mendengar nyanyian Orpheus tentang keindahan Euridis. Tak terkecuali para dewa, faun dan manusia yang menikmati bahwa nada-nada lantunan Orpheus. Kepedihan membuat musik Orpheus lebih indah dari sebelumnya. Semua ciptaan terbangun kembali kecuali Euridis – tidak ada yang mengetahui keadaan Euridis, bahkan para mitolog sekalipun. Akankah ia turut terhibur atau kembali menunggu dalam keheningan dunia orang mati.

Bila diamati secara parsial, roman ini menunjukkan kesejatian cinta Orpheus yang dapat dirasakan secara universal. Namun terdapat hubungan yang belum terselesaikan dalam mitologi tersebut. Sepintas dapat diamati bahwa Orpheus merupakan subjek utama dalam cerita. Euridis hanyalah salah satu karakter yang pasif dan mendukung kekuatan karakter Orpheus. Dalam mengkomentari kisah ini, Slavoj Zizek memunculkan kritik mengenai apa yang menyebabkan Orpheus memutuskan untuk melihat kebelakang, memutuskan untuk mengambil resiko di atas segala dorongan dan hasratnya. Zizek juga mengandaikan bila Euridis sengaja menarik perhatian Orpheus di dekat gerbang Hades agar suaminya menoleh dan mengagalkan prasyarat Pluto. Sebagaimana seluruh mitos, pembaca dapat memberikan ratusan pengandaian untuk mempelajari pola pikir masyarakat yang telah mengkonstruksi kisah tersebut.

Namun satu hal yang dapat dengan jelas diamati adalah bagaimana proses Orpheus menyembuhkan dirinya. Tanpa mengetahui bagaimana keadaan Euridis (yang dapat kita tempatkan sementara sebagai karakter pendukung pertama atau faktor pertama) setelah kedatangannya ke Hades, Orpheus dengan nasehat dan penghiburan para dewa – dewi dan peri (yang dapat kita tempatkan sebagai karakter pendukung kedua atau faktor kedua) justru mendapat ‘niai lebih’ dibandingkan Orpheus yang sebelumnya. Dalam pemilahan ini dapat dipertanyakan kembali siapa faktor yang paling berpengaruh dalam perubahan Orpheus lama menjadi Orpheus yang baru. Faktor satu dan dua (mereka tidak berurutan, ada karena memiliki peran yang sama dalam merubah subjek utama) seakan tidak berhubungan dan memiliki efek yang berbeda. Hilangnya Euridis membuat Orpheus sedih, namun penghiburan membuat Orpheus bangkit, kembali lagi derita dan sedih.  Kehadiran Orpheus yang baru menampilkan penambahan cita rasa dalam musik menjadi semakin indah dan mendalam.

Kembali ke tragedi Orpheus. Dalam hal ini di bawah sadarnya, Orpheus sebagai subjek utama telah melakukan proses objektivasi pada Euridis dengan dukungan para dewa –dewi dan peri. Keberadaan Euridis digantikan oleh keindahan dunia namun masih dengan penekanan atas tragedi ‘kehilangan’ yang muncul dalam bentuk puji-pujian. Nasib Euridis sama seperti kisahnya yang abstain dari imajinasi para pendongeng, telah secara mutlak terabaikan. Lepas dari pengandaian Zizek tentang alasan Sang Dewa Musik menoleh di ujung gerbang Hades, para dewa-dewi dan peri beralih menjadi subjek yang mendorong Orpheus mengobjektivasi Euridis.

Gambaran kisah kasih ini mirip sekali dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang pada masa ini. Manusia mencari tragedi untuk mendapatkan agony, dan selanjutnya menjadi pasion untuk memperkuat dorongan mereka untuk menghasilkan sesuatu. Perihal yang sama tidak asing ditemukan di dunia kesenian. Pergerakan sosialpun menggunakan cara yang sama untuk mengembangkan ideologi dan gerakan. Pada beberapa kasus, gerakan sosial tidak didasari atas kesadaran atas cita-cita mereka (kesadaran atas keadilan, kebebasan, dll). Para aktivis gerakan sosial justru sering kali membius kesadaran penggeraknya dengan belas kasih atau kemalang imitasi. Pembesar-besaran kesedihan, playing victim, dan perdagangan isu atas penderitaan menjadi motor yang tiba-tiba efektif untuk mendorong para penggerak sosial yang ‘miskin kesadaran’ ini. Mereka bergerak secara impulsif dan tanpa mempertimbangkan kausa awal – atau sistem yang menaungi. Hanya bergerak karena rangsangan luar, tragedi, tanpa berpatok pada proses pendalaman terlebih dahulu.

Gerakan filantopi rawan dengan infiltrasi konsep kasih yang senada dengan kisah Orpheus. Suatu gerakan yang didasarkan oleh kasih pada dasarnya dapat secara efektif melakukan perubahan sebatas kasih itu muncul dari dalam diri sendiri. Pengobjektivasian ‘korban’  – seperti Euridis- berbahaya bagi gerakan sosial baru karena akan menjatuhkan gerakan kepada target gerakan saja, bukan pada perubahan secara holistik.

Ambil saja contoh lain yang lebih ekstrem misalnya pada para seniman yang menjual tiket konsernya seharga tiga ratus ribu rupiah. Di tengah lantunan lagu-lagu cinta dan patah hati, ia menyelipkan lagu perjuangan dan prosa-prosa mengenai rakyat miskin, lapar dan tertindas. Estetika paradoks yang megah ini dapat menggugah perasaan para penikmat – seperti para dewa-dewi, peri dan faun – untuk sementara. Orpheus baru ini menjadi sangat dikenal dan dipuja karena kesedihan dan kasih yang mendalam. Menyerupai juga pengalaman para reporter perang di “The Bang-bang Club” yang mengabadikan kematian seorang anak di Afrika dan mendapatkan aplause serta penghargaan tingkat dunia karena keberhasilan mengabadikan penderitaan.

Orpheus-Orpheus baru lahir dari tragedi, melupakan Euridis yang tetap mendekam dalam kekelaman abadi. Zizek dalam hal ini mencoba membantu pembaca untuk kembali pada proposisi yang berbeda atas dorongan manusia menikmati keindahan. Apakah benar bahwa kesadaran benar-benar melandasi gerakan sosial? Benarkah penikmat musik hadir pada sebuah konser karena dorongan menikmati harmonisasi notasi alih-alih tragedi? Bahaya objektivasi telah laten dan mengakar dalam kehidupan pribadi, sosial hingga mempengaruhi pilihan estetis secara masif. Pendiaman atas fenomena ini hanya akan membuat Euridis-Euridis baru semakin terlupakan. Sementara para Orpheus baru, filantropis, reporter, relawan dan sebagainya semakin hanyut dalam melankolisasi kemalangan dan kesedihan yang ambigu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.