Platon dan Sokrates

Bayangan dalam cermin adalah yang tidak nyata. ‘Sang kucing’ adalah pengetahuan. Kucing-kucing partikular lain, adalah opini.
Litograf Agora Kuno di masa Perikles
Share on facebook
Share on google
Share on twitter

Bila berbincang tentang filsafat, kita akan sampai pada negeri para dewa, ialah Yunani. Jika kita membicarakan Yunani, maka kita tak akan luput dengan tokoh besarnya, Aristoteles dan Platon. Dan bila kita berbincang tentang Platon, kita akan terseret pula pada kisah mengenai seseorang bernama Sokrates.

Sokrates. Dia adalah seorang guru yang mengajari Platon berfilsafat. Selain itu, banyak di Athena, anak-anak muda dan elit yang menduduki kursi pemerintahan, yang pula merupakan murid Sokrates. Namun banyak pula anggapan bahwa Sokrates merupakan sosok yang direka Platon. Karena selain tidak adanya bukti tulisan yang ditinggalkan Sokrates sendiri, hampir keseluruhan karya Platon  menggunakan Sokrates sebagai tokoh utamanya. Sementara kita pun tahu, karya-karya Platon memiliki corak sastra yang sangat kental dengan dialog. Sehingga terkadang sulit memisahkan antara pemikiran orisinil Sokrates dengan Platon. Namun bisa kita anggap saja, bahwa mereka adalah dwi tunggal. Satu kesatuan.

Sokrates dikisahkan lahir dalam golongan keluarga yang sederhana. Ibunya adalah seorang bidan dan kesehariannya hanya diisi dengan berkeliling ke pasar-pasar untuk berdiskusi serta bedialog seputar kebenaran. Dia adalah seseorang yang meninggal sekaligus menginjak umur 70 tahun pada 399 SM.

Ada banyak kisah mengenai Sokrates. Satu di antaranya adalah ketika ia berkeliling pasar. Di sana ia tak membeli barang sesuatu pun. Pada satu hari, ada seseorang bertanya perihal kedatangannya setiap hari (yang tak membeli apa-apa tersebut). Ia pun menjawab, aku sedang menghitung seberapa banyak benda yang tidak aku butuhkan. Dan wah, bisa kita bayangkan jika ia hidup di masa sekarang. Berapa supermall yang ia sambangi dan betapa kehidupan sekarang – baginya – menyiapkan lebih banyak yang tak ia butuhkan.

Sokrates dulunya adalah seorang serdadu yang dikisahkan pula sangat tangguh. Dia sanggup menghadapi musim dingin yang hebat hanya mengenakan pakaian biasa dan tanpa memakai alas kaki. Sementara rekannya sesama serdadu perlu pakaian berlapis-lapis untuk keluar pondok. Pun ketika perjalanan jauh dan terputus dari perbekalan, ia dengan ketahanannya tubuhnya bisa tetap berangkat tanpa makanan. Hal itu pula yang kemudian membuat cemburu serdadu-serdadu lain. Kemampuannya menahan nafsu duniawi begitu ditonjolkan dalam kisahnya. Dia tidak minum anggur, tapi ketika minum dia bisa mengalahkan siapa pun yang jago minum. Karena itu, tak berlebihan jika bagi Platon, Sokrates menjadi citra yang sempurna untuk sosok Pandita Orpheus. Karena penguasaannya mengenai dualitas jiwa dan tubuh, surgawi dan duniawi, telah ia kuasai secara penuh.

Ia sering pula mengalami keadaan tak sadar yang menyebabkannya dia membeku (cataleptic trace).

Suatu pagi ia memikirkan masalah yang tak dapat dipecahkan. Ia pun tidak mau menyerah sehingga kemudian dia pun membisu di satu tempat saja. Tindakannya itu mendapatkan perhatian oleh banyak orang. Kemudian, bahkan setelah malam pun ia masih termenung berpikir. Orang-orang Ionia yang penasaran kemudian datang dan menggelar tikar di sekitar Sokrates berdiri untuk menyaksikkannya yang sedang tercebur dalam lamunannya. Sambil berspekulasi, apakah ia akan berdiri terus sepanjang malam. Dan kemudian, sampailah pada pagi hari esoknya. Barulah Sokrates pergi.

Ada kemungkinan-kemungkinan yang timbul bahwa dari hasil permenungan yang demikian ekstrem tersebut, yang kemudian menyebabkan pemikiran dan sosoknya dianggap begitu menarik dalam sejarah Athena.

Dia memiliki banyak murid. Namun ada dua murid utama darinya, yakni Xenopanes dan Platon. Sementara itu, Platon adalah murid yang lebih memiliki pengaruh besar dalam mengabadikan pemikirannya dalam bentuk karya-karya yang luar biasa. Sedangkan Xenopanes adalah seseorang mantan serdadu yang biasa saja pun dalam segi pemikiran. Ia pun kemudian bersimpati begitu luar biasa kepada Sokrates ketika gurunya tersebut dijatuhi hukuman mati oleh pemerintahan Tiga Puluh Tiran yang dipimpin Critias.

Dikisahkan, Sokratesnya Platon pernah bertanya pada Oracle Delphi perihal siapakah seseorang yang bijaksana di Athena. Ada dua versi yang muncul dalam hemat saja, satu mengatakan bahwa “tiada yang bijaksana” dan satu lain “Sokrates lah yang bijaksana di Athena.” Dan karena ketidakpuasannya dengan jawaban tersebut, ia kemudian memilih untuk berkeliling Athena mencari jawabannya sendiri ihwal siapa kah seseorang yang bijaksana.

Dia mendatangi orang-orang yang terkenal bijaksana, pertama-tama dia datangi politisi. Dia mengajukan pertanyaan mengenai kebijaksaan, namun segera Sokrates mengetahui bahwa ia bukan lah bijaksana. Dia sampaikan itu dengan tegas dan lugas. Hal-hal demikian lah yang akan memunculkan rasa benci dan sakit hati dari orang-orang yang pernah ditanyai. Seperti terluka harga dirinya akibat pertanyaan dan simpul dari Sokrates. Kemudian, dia mendatangi para penyair. Ia minta untuk menjelaskan tentang karya-karya mereka, namun yang didapatkan hanyalah penyair itu mendapatkan semacam kecerdasan dan ilham dalam menulis syairnya, bukan dengan kebijaksanaan. Serta ia pun mendatangi tukang, dan jawaban yang didapatkan pun mengecewakan.

Karena banyak seseorang yang menjawab dan menisbatkan bahwa dirinya sendiri lah yang bijaksana, maka Sokrates sampailah pada suatu kesimpulan. “Yang bijaksana adalah Dewa, dan manusia tak mengetahui apa-apa tentang kebijaksanaan. Dewa menggunakan namaku (Sokrates) hanya sebagai perumpamaan. Seolah-olah berkata bahwa dia lah yang bijaksana, seperti Sokrates yang mengetahui bahwa kebijaksanaan itu tidak ada dalam dirinya.

Kemudian, banyak anak-anak pedagang atau elit kaya yang karena tidak mempunyai pekerjaan, akhirnya mendengarkan ceramah Sokrates. Mulai lah mereka menjadi murid dan pendengar dari seorang Sokrates. Agaknya hal tersebut lebih memantik rasa cemburu yang kemudian banyak bagian dari pemerintah memutuskan bahwa Sokrates bersalah.

Ada tiga dakwaan yang dijatuhkan kepadanya: menolak kehadiran dewa-dewa, mempengaruhi pikiran anak muda, serta membuat kepercayaan baru (filsafat). Dari sini lah, Platon kemudian mengabadikan pembelaan gurunya tersebut dalam sebuah buku berjudul Apology. Bagaimana seorang Sokrates yang dianggap perusak Athena dengan dalih yang kurang masuk akal tetapi justru dengan gagah menerima hukuman mati yang sepertinya pun terlalu berlebihan. Dia tak memikirkan ajakan murid-muridnya untuk pergi. Karena baginya, ia telah terikat dengan suatu komitmen dengan hukum di Athena. Akan tak berguna kebijaksanaan selama ini yang dibicarakannya ke mana pun jika ia lebih memilih mencurangi negaranya.

Akhirnya ia pun mati menenggak racun. Sebagai martir kebenaran dan kebijaksanaan yang selama ini ia cari.

Akibat kejadian ini, demokrasi yang ada di Athena kelak akan dikritik habis-habisan oleh Platon. Karena kekecewaannya pun ia kemudian pergi mengembara selama 12 tahun sebelum akhirnya kembali lagi dengan mendirikan sekolah bernama Academia.

Corak filsafat yang telah dibawa Sokrates a la  Platon mulai memasuki antroposentris dari yang sebelumnya kosmosentris. Dan bahwa etis lah yang lebih ditekankan dalam segi pemikiran dalam kisah-kisahnya. Bagaimana cara yang dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan etis tersebut adalah dengan dialog seperti yang dilakukan pada orang-orang untuk mencari kebijaksanaan. Sehingga kelak akan dikenal dengan istilah dialogis atau dialektika. Namun sebenarnya cara tersebut telah dilakukan oleh Zeno.

Kemudian setelah kematian martir kebijaksaan tersebut, corak filsafat Yunani akan berkembang lebih menarik lagi.

Sparta

Setelah kita bercakap perihal Athena dan Sokrates, ada guna pula sedikit menyinggung Sparta. Sparta adalah polis yang terletang di sebelah tenggara Peloponessus, bagian tenggara dari Athena. Orang-orang Sparta terkenal sebagai ras penguasa di daratan.

Mitos tentang Sparta yang luar biasa tangguh, yang diceritakan di abad pertengahan dan modern ini terutama diciptakan oleh Plutarchus. Sparta telah menjadi romantika masa silam yang menawan tentang kesatrianya yang gagah memerangi bangsa Persia.

Sebelumnya dikisahkan bahwa Sparta sama seperti polis-polis di Yunani lainnya. Yang pula terkenal dengan para penyair dan senimannya. Namun setelah Lycurgus pergi ke Kreta, Ionia, dan Mesir, dia kembali ke negerinya dan terilhami oleh pengetahuan yang didapatnya dari perjalanan tersebut. Agaknya, tokoh ini dipercaya sebagai mitos yang arti namanya adalah Penakluk Srigala dan daerah asalnya dari Arcadia. Salah bentuk pengaturan undang-undang adalah tentang pembagian tanah secara merata dengan tujuan menghapuskan kekurangan, keserakahan dan kecemburuan sosial. Dia pun melarang penggunaan uang emas dan perak, hanya memperbolehkan uang besi sahaja. Yang oleh karenanya, tiada pedagang yang mau pergi kesana dikarenakan mereka benci dengan uang besi.

Undang-undang yang diberlakukan adalah semua warga negara sama di mata negara. Mereka lahir adalah untuk melayani negara. Seolah-olah bukan untuk dirinya sendiri.

Semenjak kecil, bayi-bayi yang lahir telah diseleksi untuk kelak dimasukkan ke dalam kamp pelatihan pada usia tertentu sampai 20an tahun. Bayi-bayi yang tak lolos seleksi karena kurang sehat atau cacat, tidak mustahil untung dibuang karena hanya akan merepotkan negara kelak. Sementara itu, bagi masyarakat Sparta, baik laki-laki maupun perempuan wajib mendapatkan perlakuan yang sama. Sama-sama tinggal dalam tempat pelatihan dan berlatih dengan kadar yang sama. Alhasil, pendidikan dengan keras tersebut untuk membuat warganya tahan derita serta menghilangkan emosi-emosi yang tak berguna, akan menumbuhkan orang-orang yang begitu tangguh di medan laga. Baik itu laki maupun perempuan mereka hanya terlahir demi satu tujuan. Perang!

Satu-satunya berita paling menyenangkan yang dibawa oleh Lycurgus ke kotanya adalah melarang segala bentuk pekerjaan kotor dan tak perlu berpikir untuk menjadi kaya. Karena di negeri itu, barang-barang tak ada artinya. Pekerjaan kotor dan nista akan diselesaikan oleh Helot. Yakni budak yang diadopsi dari tempat yang telah mereka taklukkan sebelumnya.

Kisah yang paling epik mengenai Sparta adalah ketika peperangan melawan imperium Persia yang berjumlah ratusan ribu orang berhadapan dengan 300 tentara Sparta. Perang tersebut dinamakan perang Thermopylae. Meski pun kekalahan ditelan oleh Sparta, namun kisah keberaniannya yang agung dikenang sebagai wujud kegagahan bangsa Sparta.

Potret bangsa Sparta memang sangat berbeda. Tak ada orang yang termanjakan akan kekayaan. Mereka hidup serba bersahaja, gagah, dan dan tak diricuhi pelbagai pikiran. Agaknya hal itu yang membuat banyak pemikir untuk melirik bangsa tersebut sebagai suatu bentuk negara yang ideal. Tak terkecuali bagi Platon.

Platon

Setelah Sokrates meninggal, Platon pergi mengembara karena kekecewaannya. Selama 12 tahun, sebelum akhirnya ia kembali lagi ke Athena dan mendirikan sekolah bernama Academia yang bertahan selama ratusan tahun. Di sekolah tersebut, kemudian Platon menjadi pengajar filsafat dan menghabiskan kurang lebih 40 tahun sisa hidupnya untuk mengabdikan diri pada visi kebenaran, filsafat.

Platon, adalah sosok di balik dikenalnya Sokrates oleh khalayak dunia filsafat. Dia berperan sangat penting dalam mengekstraksi gagasan-gagasan tentang ide, negara utopia, imortalitas jiwa, dan beberapa hal lainnya.

Ia termasuk dalam golongan kaum ningrat, yang dalam istilah kita. Masih termasuk dalam famili Tiga Puluh Tiran yang pada waktunya mencederai kepercayaannya mengenai demokrasi. Karena selain dihukum matinya Sang Guru, Sokrates, waktu itu pula Athena dalam keadaan kalah perang. Baginya, yang lebih ideal adalah negara yang dipimpin oleh seorang filsuf. Dalam pada ini, ia melirik negeri Sparta sebagai sebuah ideal negara yang seharusnya ada.

Barangkali karena posisinya yang aman dari segi perekonomian tersebut, maka jauh dari kata kurang perihal sandang dan pangan. Sehingga ada beberapa hal yang ia kemukakan dalam kaitannya dengan pendidikan filsafat. Yakni ia begitu memusuhi kaum sofis yang hanya bekerja membolak balikkan kenyataan menggunakan keterampilannya beretorika, hanya untuk mencari bayaran. Karena baginya, waktu senggang adalah syarat penting untuk mencapai kebijaksanaan. Yang dengan demikian, tak dimiliki oleh orang-orang yang sibuk bekerja dan mencari nafkah. Dan dengan bahasa yang lain pula, kaum sofis yang sibuk mencari bayaran atas jasa mengajar dan semacamnya, tidak lah akan sampai kebijaksanaan tersebut.

Platon sepenuhnya bercorak Socratik. Banyak sekali tokoh dengan nama Sokrates yang dia gunakan dalam karya-karyanya.

Filsafat Platon agaknya pun selain terilhami Sokrates, juga terpengaruh oleh Pythagoras, Parmenides, dan Heraklitos. Dari Pythagoras, ia memandang penting matematika sebagai syarat penting untuk mencapai kebijaksanaan yang sejati. Karena sifatnya yang bersifat eksak, maka orang yang tak mengerti matematika tak akan sampai lah ia pada kebijaksanaan sejati. Selain itu semangat Orphisme yang religius, yang hanya bisa didapatkan lewat laku hidup seperti yang dilakukan Pythagoras, akan mengantarkan filsafatnya dalam bentuk pembauran intelek dan mistisme.

Dari Parmenides, ia mendapatkan argumen perihal realitas yang selalu abadi, kekal, dan tak berbatas waktu, serta seluruh perubahan adalah semu. Dari Heraklitos, ia mempelajari tentang tak ada yang tetap di dunia ini. Bahwa manusia adalah seseorang yang berbeda sekaligus sama. Kelak, kedua doktrin ini lah yang membawanya pada kesimpulan bahwa pengetahuan tidak diperoleh dari indera, melainkan diperoleh lewat intelek. Dan hal ini pula, yang rupa-rupanya kelak membawa pada dunia ide dan dunia forma. Tentang pengetahuan dan ihwal opini.

Dan tentunya dari Guru Besar Sokrates, ia mempelajari tentang etika dan kebijaksanaan yang kelak akan berujung pada kebaikan tertinggi, yaitu ‘Yang Baik’ atau ‘The Good’, dan dalam hemat saya perihal kebijaksanaan pula ia dapatkan dari seorang tragedi bernama Sokrates. Ia kemudian menempatkan kebaikan ‘The Good’ sebagai sesuatu yang istimewa. Dalam pemaparan Bertrand Russell, ilmu pengetahuan adalah seperti kebaikan, namun kebaikan lebih tinggi kedudukannya.

Apabila kita akan membahas mengenai Platon, akan banyak sekali dan tak putus. Namun di sini kita hanya akan membatasi pada filsafat utama yang dia bawa, yakni tentang dunia ide. Pun hanya seiris kulit saja.

Adalah ide dan forma yang menjadi pikiran utamanya. Benda-benda yang terindera, merupakan forma atau tiruan dari dunia ide yang ada di luar waktu, yang bersifat abadi, yang supra-inderawi. Bahwa yang terindera tersebut lah yang kelak membawa seseorang ke dalam opini. Dan yang supra-inderawi tersebut ditemukan dalam pengetahuan. Atau dengan catatan lebih sederhana, bahwa realitas adalah tiruan yang fana dari dunia ide yang bersifat abadi.

Layaknya mata yang tersinari cahaya, begitu lah ketika keadaan jiwa saat terberi pengetahuan. Tetapi saat cahaya semakin berkurang, sehingga akhirnya tiada terkena cahaya, mata tadi, maka yang muncul hanyalah persepsi atau opini terhadap sesuatu. Atau dalam kasus yang lebih mudah, hal-hal tentang yang indah seperti gambar atau lukisan, adalah sebuah opini. Sedangkan pengetahuan adalah keindahan itu sendirinya.

Kemudian mengenai teori yang teramat penting terhadap pemikiran Platon. Tentangnya, Russell membedakan menjadi yang bersifat logis dan metafisis.

Bagian logisnya adalah demikian. Ada kata ‘ikan’ yang kemudian membawa pikiran kita pada taraf tertentu yang berbeda dari ikan ini dan ikan itu. Bahwa ada semacam sifat keikanan yang melekat pada ikan-ikan lain. Sehingga pernyataan perihal ‘ikan’ bukan lah mengacu pada seekor ikan saja. Namun suatu yang universal dan olehnya kita bisa menyebutkan ikan-ikan paartikular yang lain. Keikanan tersebut tidak lahir saat seekor ikan lahir dan mati saat seekor ikan partikular mati. Singkatnya, keikanaan itu bersifat abadi karena terletak di luar ruang dan waktu.

Serta bagian metafisisnya adalah kata ‘ikan’ tadi mengandung sesuatu yang ideal. Yakni ‘sang ikan’ yang bersifat tunggal. Kemudian ada ikan-ikan lain yang partikular ambil bagian dari sifat ‘sang ikan’ yang tunggal tadi. Karena sifatnya adalah meniru atau ambil bagian, maka tentunya pula ikan-ikan partikular tadi bukan lah dalam bentuk yang sempurna. Mirip seperti cermin. Bahwa bayangan dalam cermin adalah yang tidak nyata. ‘Sang kucing’ adalah pengetahuan. Kucing-kucing partikular lain, adalah opini.

Demikian lah pembicaraan singkat mengenai Platon yang Sockratik atau pun sebaliknya. Saya pikir akan sama saja jadinya. Ia pada akhirnya menjadi seseorang yang ajarannya tetap dipakai oleh teologi dan filsafat Kristen melalui corak neo Platonisnya ketimbang aristotelian. Dan barangkali hingga sekarang, argumennya mengenai dualitas dunia ide akan selalu menjadi selimut bagi orang-orang yang masuk dalam kancah filsafat.

Baca lagi

Sastra, Moralitas, dan Konfusius

Hukum manusia tidak perlu diterapkan sebagai pengatur hidup manusia apabila moralitas manusia dan masyarakat telah terbentuk.

Perjuangan Kebenaran a la Mahatma Gandhi

Melihat perjuangan Gandhi lebih dalam lagi, kita akan menemukan banyak pelajaran, baik tentang pentingnya satyagraha dalam perjuangan – yang tak lain dari proses perjuangan kebenaran berdasar cinta – serta moralitas yang harus selalu menemani dalam proses manusia dalam perjuanganannya.

Close Menu