Refleksi dari “Tarian Hantu”: Bernard Stiegler tentang Jacques Derrida, Hauntologi, dan Tarian Hantu

Bernard Stiegler
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Wawancara Bernard Stiegler.
Bernard Stiegler lahir di Paris 1 April 1952. Stiegler focus pada tema-tema seperti teknologi, waktu, individuasi, konsumerisme, kapitalisme, dsb. Karyanya yang terkenal adalah Technics and Time dan The Fault of Epimetheus. Dia merupakan seorang filsuf Prancis kontemporer yang banyak terpengaruh oleh Sigmund Freud, André Leroi-Gourhan, Gilbert Simondon, Friedrich Nietzsche, Paul Valéry, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Karl Marx, Gilles Deleuze, dan Jacques Derrida.
Diterjemahkan oleh R.H. Authonul Muther

Masa Depan adalah Milik "Hantu"

Ketika Jacques Derrida mengatakan, “masa depan adalah milik para Hantu. Yang saya percayai adalah kalimat paling penting, yang ia katakan dalam film Ken McMullen berjudul Ghost Dance yang merupakan sinema dan psikoanalisis. Di sini, ia menyentuh sesuatu yang berada di hadapan kita. Dia berkata, di bagian keenam dalam bukunya berjudul La Grammatologie, “that language is always already writing; bahwa Bahasa selalu merupakan tulisan. Saya pikir, kita dapat mengatakan setelah menontonnya di Ghost dance dan juga di dalam wawancaranya yang kami lakukan bersama perihal televisi; dan lebih tepatnya tetang TV dalam kaitannya dengan Ghost Dancejika bahasa selalu merupakan tulisan maka kehidupan  juga selalu merupakan sinema.

Mesin Keinginan

Ketika saya mulai mengembangkan teori saya tentang mesin ekonomi keinginan, Jacques Derrida meninggal. Bagaimanapun, ketika Jacques Derrida berkata, “masa depan adalah milik para Hantu; dengan membuat hubungan antara sinema dan psikoanalisis, dia mengajukan pertanyaan di depan kita—bukan di belakang kita—yang merupakan pertanyaan tentang ekonomi yang berdasarkan libido.

Ekonomi khusus ini melewati ‘sinematografi’ jiwa (psyche, psikis, jiwa), bukan hanya yang saya sebut sebagai karakteristik archi-‘sinematografi’yang dapat kita bandingkan dengan apa yang didefinisikan Jacques Derrida sebagai karakteristik tulisan archi-writingtetapi dalam hal ini juga tentang karakteristik dari sinematografi. Di sini terdapat teknologi sinematografi, seperti peralatan kamera dan sistem penyiaran. Industri film besar ini telah menjadi industri utama dari seluruh perkembangan industri saat ini. Seperti yang dikatakan Jean-Luc Godard, “abad ke 20 adalah abad sinema”.

Namun, proses pengembangan industri selama lebih dari seabad terakhir, telah sampai pada fase dimana ia menghancurkan libido. Ketika Plato mengatakan bahwa tulisan menghancurkan ingatan (memory), Jacques Derrida menanggapi dengan mengatakan bahwa ingatan sudah selalu tertulis dan selalu bersifat teknis. Karena itulah Jacques Derrida mengandaikan bahwa memori tertulis, memori teknis, selalu merupakan memori hidup. Namun, Jacques Derrida setuju dengan ide Plato tentang bahaya proses penulisan di tangan para kaum Sofis. Dengan cara yang sama, kita dapat mengatakan bahwa hidup merupakan archi-‘sinematografi’. Demikian juga dengan jiwa, dalam sinema yang merupakan komponen dari hasrat. Jadi bisa dikatakan bahwa industri film menghancurkan hasrat atau keinginan. Plato benar, ketika mengatakan para kaum Sofis pada zaman Yunani Kuno menghancurkan pengetahuan atau sebuah ‘kota’. Saat ini kita hidup di dalam konfrontasi pertanyaan ini.

Jika kita mengatakan, “Masa depan adalah milik para Hantu. Itu berarti bahwa masa depan adalah perihal pengulangan, munculnya yang tertindas, re-aktivasi yang telah mati, virtualisasi, dst… Hal ini berkaitan dengan pertanyaan Walter Benjamin dan anakronisme (ketidakcocokan dengan zaman tertentu); Ini tentang re-aktivasi dalam fenomenologi yang diungkapkan oleh Husserl; Ini tentang gagasan bahwa pengetahuan hanya dapat diproyeksikan ke masa depan dengan kembali pada dorongan masa lalu (jejak).

Video dari Ken McMullen dalam Ghost Dance,Dihantui oleh Hantu…adalah untuk mengingat sesuatu yang belum pernah Anda jalani seumur hidup untuk ingatan, merupakan masa lalu yang tidak pernah mengambil bentuk saat ini.

Peperangan Hantu-Hantu

Masa depan sedang berada dan menuju peperangan hantu-hantu. Peradaban Barat mengenal dirinya dengan fakta bahwa hanya ada satu spirit. Satu-satunya spirit ini adalah spirit universal. Ini adalah sejarah metafisik dari peperangan hantu-hantu. Namun, di setiap masyarakat, terdapat ekonomi libido, yang berarti ekonomi hantu dan spirit. Apa yang Jacques Derrida sebut sebagai hantu adalah semangat dalam masyarakat tradisional. Ini sebuah bentuk kembali pada yang telah mati. Di setiap masyarakat tradisional sebelum masyarakat monoteis, orang-orang biasanya dihantui oleh roh yang telah mati. Hal ini adalah apa yang disebut Jacques Derrida sebagai “Hauntologi’.

Hari ini “Hauntologi’ memasuki era baru. Perang baru akan pecah. Perang ini adalah peperangan para hantu, spirit (ideologi dan sejenisnya) dan gambar. Hal ini adalah perang “sinematografi” di dalam ruang siber. Peperangan ini menggunakan kelompok sinematografi seperti televisi, komputer, dan sistem digital lainnya. Perang ini mengangkat isu masa depan libido.

Impuls

Libido—dan Freud mungkin akan setuju—adalah apa yang mensosialisasikan dorongan kita untuk menciptakan kekuatan yang mengikat. Aristoteles menyebutnya “Philia”, yang berarti persahabatan di antara manusia. Dengan kata lain, sebuah ikatan sosial. Libido pada dasarnya adalah apa yang memungkinkan impuls dari luar yang kita bawa ke dalam diri kita dan mulai menyimpang dari objek langsung melalui proses ekonomi.  Proses ini berlangsung melalui prinsip realitas, perbedaan waktu dari kepuasan yang oleh Jacques Derrida disebut differánce” yang memungkinkan libido untuk mengubah objek konsumerisme menjadi objek pemujaan. Misalnya, jika saya jatuh cinta pada seseorang dengan karya seni atau pada sinema, saya akan mengkultuskan objek tersebut. Dan saya akan memproyeksikan dan men-trasenden-kan objek tersebut, saya akan berfantasi kepada titik; saya tidak bisa membandingkan dan mengkalkulasinya. Hal ini menjadi objek yang secara struktural dan intrinsik bersifat singular. Masalahnya adalah untuk memahami bagaimana kapitalisme menguasai libido dan menghasilkan proses “pembusukan” melalui sistem eksploitasinya. Hal ini adalah proses penguraian. Dalam arti bahwa jika kita mengekploitasi libido, kita melakukan kalkulasi terhadapnya. Namun, dengan mengkalkulasi objek libido, maka kita menghancurkan objek libido itu sendiri. Dengan melakukan hal tersebut, kita menghancurkan hasrat.

Di seluruh dunia, industri “gambar” telah menghancurkan horizon libido dan horizon harapan. Dan hal tersebut telah digantikan oleh logika keputusasaan. Itu sebabnya masa depan adalah milik para Hantu yang berarti masa depan adalah milik terorisme. Itulah masalahnya.

Hantu dan ketakutannya

Di Houston, Texas, Jacques Derrida menonton adegan di Ghost Dance, Pascale Ogier mendengarkannya dan Derrida berkata pada Pascale, “masa depan adalah milik para Hantu”. Sementara itu, Pascale Ogier meninggal dunia. Derrida kemudian menjelaskan di “Echographies of Television” bahwa dia melihat seorang wanita yang mendengarkannya mengatakan, “masa depan adalah milik para Hantu.” Dan sekarang perempuan itu sudah meninggal. Perempuan itu adalah hantu. Karena itulah perempuan tersebut adalah masa depan dari apa yang dikatakan Derrida. Dimensi ini menunjukkan bahwa Jacques Derrida memainkan perannya sendiri. Maksud saya adalah, bahwa Jacques Derrida yang direkam oleh Ken McMullen di film Ghost Dance, telah menjadikan Jacques Derrida sebagai hantu. Derrida adalah hantu itu sendiri. Dia sudah dalam proses menjadi hantu.

Dibandingkan dengan Jacques Derrida yang memainkan perannya sendiri, saya memikirkan Anita Ekberg di ‘Inversita’ Fellini, di mana dia memerankan karakternya sendiri dari ‘Dolce Vita’. Dia melihat dirinya sendiri 20 tahun yang lalu bermain dengan Mastroianni, di air mancur (fountain) Roma. Pada saat itu Anita menakjubkan, dia adalah seorang ’dewi’… 20 tahun kemudian dia jauh lebih cantik. Dia memberi kesan bahwa dia telah membiarkan dirinya pergi. Kita berada di dalam situasi di mana ‘Inversita’ Fellini memintanya untuk melihat akting-nya sendiri di dalam ‘Dolce Vita’. Dia melakukan akting di bawah arahan sutradara. Tapi, sebenarnya dia tidak bertindak. Dia sedang melihat dirinya berakting di ‘Dolce Vita’. Dan kita melihat Anita Ekberg yang melihat dirinya sendiri.  Itulah kenyataannya. Anita Ekberg yang melihat dirinya sendiri 20 tahun yang lalu. Terdapat sesuatu yang tidak dapat dipastikan saat ini. Jadi ketika kita melihat Jacques Derrida memainkan perannya  dalam sebuah film Ken McMullen, kita menghadapi apa yang selalu Jacques Derrida katakan, yaitu ‘bahwa kita tidak pernah bisa membuat perbedaan kentara apa yang Husserl sebut sebagai retensi primer dan sekunder, antara persepsi dan imajinasi’. Dengan kata lain, antara realitas dan fiksi.

Ini semua tentang ‘sinematografi’. Terdapat sebuah sistem ‘sinematografi’ khusus yang membuat seseorang berakting dalam kondisi ini dan itu. Misalnya, ketika saya memberikan kuliah di universitas, atau ketika Jacques Derrida melakukan seminar di Ecole des Haustes Etudes atau di Ecole Normale Superieure, ia bertindak seperti di dalam sebuah film oleh Ken McMullen, tetapi tidak dengan cara yang persis sama. Masalahnya adalah untuk mengetahui apa saja kriteria antara film yang bagus dan yang buruk, antara kuliah yang bagus dan yang buruk. Masalah berikutnya adalah kita tidak tahu apakah kita berada di dalam sinema atau fiksi, atau antara sinema dan kenyataan, karena pada akhirnya kita selalu berada di dalam sinema itu sendiri.  Hal ini untuk mengetahui apakah Jacques Derrida memainkan perannya dengan baik atau tidak? Saya pikir, jika Jacques Derrida menerima Ghost Dance itu karena dia memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini secara mendalam. Dia tidak berpikir memainkan perannya sendiri di dalam film. Namun, ia menafsirkan perannya sendiri dalam film, seperti yang ia lakukan pula di tempat lain tetapi dalam struktur tertentu, jadilah sebuah film oleh Ken McMullen.

Dia menerima perannya melalui kontrak dengan Ken McMullen, dengan penonton, atau dengan Pascale Ogier, dan hal tersebut melampaui dirinya. Jacques Derrida mungkin mengatakan, “Itu selalu melampaui kita… Ecole Normale Superieure, Ecole des Haustes Etudes, Galilee Editions dan Michel Delorme, semua itu melampaui saya.”***

Leave a Reply

Baca Lagi

Close Menu