Ruang-Ruang Lain: Utopia dan Heterotopia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on whatsapp
Kristoforus J. Sadewa

Kristoforus J. Sadewa

Mirror Building | Photo by drmakete lab on Unsplash

Obsesi terbesar dari abad ke-19, sebagaimana kita ketahui, ialah sejarah: dengan tema-tema perkembangan dan ketegangan, atas krisis dan siklus, tema-tema dari masa lalu yang kian menumpuk, dengan perenungan-perenungan awal dari manusia yang telah wafat, dan ancaman dunia yang terus mencair. Abad ke-19 menemukan sumber utama dari mitologi mereka yang dianggap esensial dalam hukum termodinamik kedua. Epos pada masa ini mungkin menjadi epos yang mengatasi segala epos atas ruang. Kita, berada dalam epos atas simultanitas: kita berada dalam epos atas penyejajaran, epos atas kedekatan dan kejauhan, atas sisi demi sisi, dan atas yang tersebar. Kita dalam satu momen tertentu, percaya bahwa, pengalaman kita atas dunia kurang dari seluruh perjalanan hidup yang berkembang melalui waktu, dan jika dibandingkan dengan jaringan yang terbentuk dari hubungan banyak titik, saling menghubung membentuk sebuah jaring tersendiri. Seseorang mungkin dapat mengatakan bahwa konflik ideologi tertentu menggerakan polemik hari ini, bertentangan dengan keturunan dari waktu yang saleh dan para penduduk yang terbatasi oleh ruang. Strukturalisme, atau  apa pun yang setidaknya berkelompok di bawah istilah yang agak terlalu umum, merupakan bentuk usaha pengembangan, antara berbagai elemen yang mungkin saling berhubungan dalam poros yang temporal, satu rangkaian relasi yang mampu membuatnya muncul bersandingan, bergantung, dan terlibat satu dengan yang lainnya, –hal ini membuat mereka dapat dilihat, atau secara ringkas, menjadi satu dalam sebuah konfigurasi. Sesungguhnya, strukturalisme tidak mengekor pada penolakan atas waktu; ia terlibat dalam beberapa tatanan yang berhubungan dengan apa yang kita sebut sebagai waktu dan sejarah.

Namun, merupakan hal yang penting untuk dicatat adalah bahwa ruang yang kini muncul untuk membentuk horizon konsentrasi kita, teori kita, sistem kita, bukan merupakan inovasi baru; ruang sendiri memiliki sejarah dalam pengalaman manusia Barat, dan untuk saat ini tidak mungkin kita dapat mengabaikan persimpangan fatal antara ruang dengan waktu. Seseorang dapat mengatakan, dengan menyusuri sejarah ruang secara umum, bahwa pada Abad Pertengahan telah muncul hierarki atas kesatuan tempat-tempat: tempat suci dan tempat profan (biasa atau dapat dikotori): tempat yang dilindungi dan yang terbuka, tempat yang dipertontonkan: tempat bagi orang kota dan pinggiran (semua ini merupakan konsentrasi atas kehidupan manusia). Dalam teori kosmologi, terdapat tempat superselestial (surgawi), sebagai yang berlawanan dengan tempat selestial (tidak surgawi), dan tempat selestial pada gilirannya akan berlawanan dengan tempat terestrial (yang berada di darat). Terdapat beberapa tempat di mana beberapa benda diposisikan sedemikian rupa karena mereka sebelumnya telah dipindahkan secara paksa, dan kemudian sebaliknya terdapat tempat-tempat di mana benda-benda menemukan lokasi natural (sesuai dengan kondisi awalinya) dan stabilitas. Contoh-contoh di atas merupakan hirarki, oposisi, hubungan dari berbagai tempat yang terkonstitusi dengan sangat keras hingga dapat dikatakan, bahwa ruang era medieval ialah: ruang berkedudukan.

Ruang berkedudukan ini diperkenalkan oleh Galileo. Skandal terbesar Galileo tidak terletak pada penemuan atau penemuan kembalinya, di mana bumi berputar mengelilingi matahari, melainkan mengenai konstitusinya mengenai yang tak terbatas, dan ruang tak terhingga. Dalam ruang yang seperti itu, tempat dalam konsep medieval terpecahkan, seolah-olah; tempat dari sebuah benda tidak lagi merupakan suatu hal khusus melainkan satu titik dalam gerakannya, sebagaimana stabilitas sebuah benda merupakan gerakan lambat tanpa batas. Dengan kata lain, dimulai dengan penemuan Galileo dan perkembangan di abad tujuh belas, penambahan menjadi pengganti bagi cara melokalisasi.

Hari ini, sebuah situs telah digantikan dengan penambahan yang dilakukan suatu hal melampaui kedudukannya. Letak ini dimengerti dalam relasi kedekatannya dengan suatu titik atau elemen; secara formal kita dapat mendefinisikan relasi ini sebagai urutan, cabang, atau kisi-kisi. Lebih lanjut lagi, pentingnya mengetahui letak menjadi masalah dalam karyak teknis kontemporer sebagai mana kita kenal kini: kumpulan data atau hasi antara dari kalkulasi mesin, sirkulasi elemen dengan hasil acak (lalulintas kendaraan adaah contoh sederhana, atau tentu saja misalnya suara yang terhubung dalam sambungan telepon kabel.); identifikasi dari elem yang tertandai atau terkodifikasi dalam suatu ikatan mungkin dapat terdistribusi secara acak, atau mungkin terangkai berdasarkan kasifikasi tunggal atau rangkap.

Dalam tata yang tertata, masalah menempatkan suatu perihal manusia muncul dalam demografi. Masalah penempatan atau tempat tinggal manusia tidak sesederhana cara kita menghitung tempat yang layak bagi manusia di seluruh dunia – masalah yang kadang kala cukup penting— namun juga dengan mengetahui hubungan antara kecenderungan, kebutuhan penyimpanan, sirkulasi, penandaan, dan klasifikasi dari elemen-elemen hidup manusia yang diadopsi sebagai situasi terbaru dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Epos kita adalah salah satu yang berada di dalam ruang, yang membentuk relasi dengan situs tertentu.

Dalam beberapa kasus, saya percaya bahwa kecemasan di era kita berhubungan erat dengan ruang, tidak ragu lagi, hal serupa terjadi dengan hubungan kita dengan waktu. Waktu kemungkinan muncul bagi kita hanya sebagai operasi distribusi yang beragam, yang mungkin bagi berbagai elemen yang tersebar dalam ruang.

Kini, terlepas dari semua teknik yang memisahkan ruang, atau terlepas dari segala jaringan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk membatasi atau memformulasi ruang, ruang kontemporer mungkin tidaklah merupakan keseluruhan dari usaha pensucian ruang (tidak seperti waktu, akan nampak, sebagai yang dilepas dari usaha penyucian pada abad kesembilan belas). Untuk memastikan beberapa teori pelepasan-kekudusan atas ruang (yang salah satunya dijelaskan dalam karya Galileo) telah terjadi, kita mungkin bahkan belum mencapai titik  pelepasan-kekudusan tersebut dan mungkin kehidupan kita masih diatur oleh beberapa posisi angka yang tidak dapat diganggu gugat, di mana tidak seorang pun berani meruntuhkan institusi dan perilaku kita. Oposisi ini adalah yang selama ini dianggap sebagai pemberian sederhana: contohnya antara ruang publik dan ruang privat, antara ruang keluarga dan ruang sosial, antara ruang budaya dan ruang guna, antara ruang memperoleh ketenangan dan ruang kerja. Semua ini dipelihara oleh kehadiran konsep kesucian yang tersembunyi.

Karya monumental (Gaston) Bachelard dan deskripsi fenomenologi telah mengajarkan kita untuk memahami bahwa kita, tidak hidup dalam ruang yang kosong dan homogen, namun secara kontras, ialah di ruang yang sepenuhnya dijiwai oleh kuantitas dan bisa jadi pula oleh fanatisme. Ruang dalam persepsi primer kita, ruang dari mimpi dan hasrat kita berdasar dari kualitas yang kiranya bersifat intrinsik: terdapat sebuah cahaya, sangat halus, ruang transparan, atau lagi, gelap, keras, ruang yang tak dapat dihitung; ruang dari atas, atau dari puncak, atau sebaliknya ruang yang berada di bawah dan penuh lumpur, atau lagi; ruang yang dipenuhi air yang sangat jernih, atau ruang yang ditetapkan, beku seperti batu atau kristal. Namun, di sisi analisis ini, hadir refleksi fundamental di masa kita, yang secara khusus berkonsentrasi terhadap ruang internal. Saya akan senang untuk dapat berbicara mengenai ruang eksternal.

Ruang di mana kita hidup, yang menandakan diri kita, baik sebagai proses erosi dari hidup kita, waku kita, dan sejarah di mana kita berada, ruang yang mencengkeram dan mengunyah diri kita di dalam dirinya, ialah ruang heterogen. Dengan kata lain kita tidak hidup di ruang kosong, yang di dalamnya kita dapat menempatkan beberapa individu atau benda. Kita tidak hidup dalam ruang kosong yang dapat diwarnai oleh beragam bayangan cahaya, kita hidup di dalam sebuah kesatuan relasi yang menggambarkan lokasi di mana kita tak dapat saling mereduksi satu dengan yang lainnya, dan secara absolut tidak saling tumpang tindih.

Tentu saja seseorang dapat berusaha untuk menjelaskan perbedaan lokasi-lokasi ini dengan melihat pada kesatua relasi yang dapat terdefinisikan. Contohnya, menelaskan satuan relasi dari lokasi terdefinisikan mengenai kondisi transportasi, jalan, kereta (kereta adalah bentuk istimewa dari berbagai kesatuan relasi karena yang satu dapat melewati jalur yang telah dilewati oleh kereta lain, dan ia juga dapat menunjukkan perpindahan satu kereta menuju posisi kereta yang lainnya, dan kereta merupakan benda yang terus berjalan.) seseorang dapat mendeskripsikan, melalui pengelompokkan relasi yang dapat diaplikasikan kepada suatu hal untuk mendefinisikannya, lokasi temporer untuk bersantai – kafe, bioskop, pantai. Sebagaimana seseorang dapat mendeskripsikan, melalui jaringan relasi, sebuah lokasi tertutup atau semi tertutup untuk beristirahat – rumah, ruang tidur, dipan, dan lain sebagainya. Namun di antara semua tempat ini, saya tertarik beberapa di antaranya yang memiliki sesuatu yang mencurigakan berkaitan dengan relasinya dengan tempat lain, namun dengan mencurigainya, menetralkan, atau menemukan satu set relasi yang membuat mereka ditunjuk atau direfleksikan. Ruang-ruang ini, sebagaimana sebelumnya, terhubung satu dengan yang lainnya, yang bagaimana pun juga berseberangan dengan yang lainnya pula, dan mereka memiliki dua tipe yang berbeda.

Heterotopia

Pertama, terdapat utopia. Utopia adalah tempat di mana tidak ada lokasi yang nyata. Terdapat tempat-tempat yang memiliki relasi umum dari analogi langsung atau yang terburai dari ruang nyata dalam masyarakat. Masyarakat saat ini adalah bentuk yang sempura, atau masyarakat lain yang memiliki proses jungkir-balik, namun dalam kasus apapun dapat ditarik penegasan bahwa utopia adalah ruang tidak nyata.

Juga terdapat, barangkali hampir di setiap kebudayaan, di setiap peradaban, tempat yang nyata – tempat yang benar-benar hadir dan terbentuk dari penemuan masyarakat – ialah yang lebih mirip dengan ruang yang terhitung, sebuah bentuk pemberlakuan dari utopia di tempat yang nyata, semua lokasi lain yang dapat ditemukan berdasarkan budayanya, yang secara bersamaan merepresentasikan, diperebutkan, atau ditemukan. Tempat macam ini berada di luar kategori tempat lainnya, bahkan bila kita dapat mengenali lokasinya dalam realitas. Karena tempat macam ini benar-benar  berbeda dari seluruh lokasi yang direfleksikan dan dibicarakan, saya harus menyebutnya, untuk memberi perbedaan nyata dengan utopia, sebagai heterotopia. Saya percaya bahwa di antara utopia dan beberapa lokasi lain, terletak heterotopia, yang mungkin mengandung beberapa campuran, pengalaman yang berkesinambungan, yang dapat menjadi cermin. Cermin ini, di antara semuanya, adalah utopia, sejak ia dipahami sebagai tempat yang tak berlokasi. Dalam sebuah cermin, saya melihat diri saya berada di tempat yang tidak ada, dalam ruang tak nyata, virtual, yang terbuka di balik permukaan; saya di sana, di mana saya sebenarnya tidak berada, merupakan sekumpulan bayangan yang memberi kemampuan untuk dapat terlihat, cermin ini memungkinkan saya melihat diri di mana saya absen: semacam utopia dalam cermin. Namun hal ini juga merupakan heterotopia sejauh ketika kita mengakui bahwa cermin benar-benar hadir dalam kenyataan, di mana ia melakukan serangan balasan menuju daerah yang saya kuasai. Melalui sudut pandang cermin, saya menemukan keabsenan diri dari tempat di mana saya melihat diri saya dalam cermin. Dimulai dari pengamatan ini, sebagai mana yang nampak, tertuju langsung padaku, dari dasar ruang virtual yang ada di sisi lain kaca, saya datang kembali menuju diri saya sendiri; saya mulai lagi untuk mengarahkan mata saya ke pada diri saya sendiri dan untuk mengkonstitusikan diri saya di mana saya berada. Fungsi cermin sebagai heterotopia dalam hal khusus ini: ialah menjadikan tempat di mana saya berada pada saat saya melihat diri di dalam kaca sekejap menjadi benar-benar nyata, terhubung dengan semua ruang yang mengelilingnya, dan menjadi pula benar-benar tak nyata, sejak hal ini dilakukan dengan sengaja untuk mencapai titik virtual yang ada di sana.

Mengenai heterotopia seperti itu, bagaimana ia bisa dideskripsikan? Apa makna yang mereka miliki? Kita mungkin mengimajinasikan sebuat deskripsi tatanan sistematik – saya tidak sedang mengatakannya sebagai pengetahuan karena kata ini begitu membingungkan sekarang –  di mana mungkin, dalam masyarakat yang telah terberi, telah menjadikannya sebagai objek studi, analisis, pendeskripsian, dan ‘pembacaan’ (sebagaimana beberapa orang senang mengatakannya demikian sekarang) mengenai ruang-ruang yang berbeda, dari tempat yang berbeda pula. Sebagai serangkaian mitos yang simultan dan berkontestasi nyata atas ruang di mana kita hidup, deskripsi ini dapat disebut sebagai heterotopologi.

Prinsip pertama dari hal ini adalah kemungkinan hadirnya kebudayaan yang tidak tunggal dalam dunia, yang gagal untuk mengkonstitusikan heterotopia. Hal ini berlangsung konstan di setiap kelompok. Namun heterotopia jelas-jelas mengambil bentuk yang sangat beragam, dan mungkin tidak akan ada satu bentuk pasti serta universal yang dapat ditemukan untuk heterotopia. Kita dapat, bagaimana pun, mengklasifikasikannya menjadi dua kategori.

Dalam apa yang disebut sebagai masyarakat primitif, terdapat beberapa bentuk heterotopia yang saya sebut sebagai heterotopia krisis, di mana terdapat lokasi yang dikuasai, disucikan, atau disembunyikan, disediakan khusus untuk individu yang memiliki relasi dengan masyarakat dan dengan lingkungan manusia di mana mereka hidup, dalam kondisi kritis: misalnya masa remaja, perempuan yang sedang haid, wanita hamil, para tetua, dan lain sebagainya. Dalam masyarakat kita, krisis heterotopia ini secara menyeluruh telah hilang, dan hanya hadir melalui beberapa puing yang dapat diamati. Contohnya; rumah asrama yang terbentuk pada abad kesembilan belas, atau kemiliteran pemuda yang memerankan banyak fungsi, sebagai manifestasi pertama dari kejantanan seksual yang secara faktual harus dipindahkan ke ‘suatu tempat’ di dalam rumah. Bagi para gadis, terdapat pula, hingga pertengahan abad kedua puluh, tradisi yang disebut sebagai ‘perjalanan bulan madu’ yang menyangkutkan tema luar angkasa. Para wanita muda yang sudah tidak ranum lagi juga dipindahkan ke ‘tidak-kemana-mana’ dan, pada saat kereta atau hotel tempat bulan madu benar-benar sudah lewat, pengalaman ini membentuk sebuah heterotopia tanpa membentuk tanda geografis tersendiri.

Namun heterotopia krisis ini kian menghilang hari ini, dan ia digantikan, saya yakin, dengan apa yang mungkin akan kita sebut sebagai heterotopia penyimpangan: di mana individu-individu yang perilakunya menyimpang dari relasi norma dan sifat umum akan ditempatkan secara khusus. Kasus-kasus dari rumah peristirahatan dan rumah sakit psikiatri, dan tentu saja penjara, serta mungkin dapat kita tambahkan lagi, rumah pensiunan (panti jompo) adalah, hal yang berada di antara heterotopia krisis dan heterotopia penyimpangan, sejak, katakanlah, masa tua di mana hal tersebut merupakan krisis, namun juga merupakan penyimpangan sejak masyarakat kita menganggap bahwa waktu luang adalah aturan, sementara kemalasan adalah penyimpangan.

Prinsip yang kedua dari deskripsi atas heterotopia adalah bahwa masyarakat, seiring dengan sejarah yang kian terbuka, dapat membangun kehadiran fungsi heterotopia melalui beragam cara; dengan masing-masing heterotopia memiliki fungsi yang tepat dan terbatas di dalam masyarakat, dan di saat yang sama heterotopia dapat, berdasarkan sikronisasi kebudayaan yang sedang berlangsung, memiliki setidaknya satu fungsi yang khusus.

Sebagai contoh saya mengambil satu kasus heterotopia aneh dari perkuburan. Perkuburan adalah tempat kebudayaan yang berbeda dengan yang lainnya. Ruang ini bagaimana pun juga menghubungkan berbagai tempat di kota tempatnya berada, negara, masyarakat, atau desa, dan sebagainya sejak tiap individu atau keluarga memiliki hubungan terhadap kuburan. Dalam tradisi barat, perkuburan selalu hadir. Namun perkuburan memiliki perubahan penting. Hingga akhir abad ke delapan belas, pemakaman selalu ditempatkan di jantung kota, tepat di sebelah gereja. Di dalamnya terdapat hierarki dari makam-makam yang memungkinkan. Terdapat rumah makam di mana di dalamnya, tubuh yang akan hilang terakhir mengenal individualitasnya, terdapat beberapa makam yang terpisah dan kemudian terdapat pula makam di dalam gereja. Makam-makam baru dapat dikenali dalam dua tipe, baik nisan sederhana dengan keterangan, atau sebuah musoleum dengan patung-patung. Dengan rumah duka yang terletak di dalam ruang suci di dalam gereja, kini memiliki perang yang berbeda di peradaban barat, dan saya curiga, di masa kini di mana peradaban menjadi sangat ‘ateistik’, maka dapat dikatakan bahwa peradaban barat sebagai pemujaan terhadap orang mati.

Pada dasarnya wajar bahwa dalam kepercayaan atas kebangkitan badan dan kekekalan jiwa, kepentingan tidak terletak pada sisa-sisa tubuh. Namun sebaliknya, di saat masyarakat tidak lagi yakin bahwa mereka memiliki jiwa atau bahwa tubuh dapat menguatkan kehidupan maka perlu ada usaha lebih untuk memberi perhatian terhadap tubuh yang telah mati, di mana hal ini merupakan satu-satunya cara untuk melacak eksistensi kita di dunia dan dalam bahasa. Dalam berbagai kasus, dimulai dari awal abad ke sembilan belas di mana semua orang memiliki hak untuk kotak kecil mereka, untuk menempatkan masing-masing sisa tubuh mereka (abu), namun di sisi lain hal ini berlaku dimana perkuburan mulai dilokasikan di perbatasan luar kota. Dalam hubungannya dengan pengindividualisasian kematian dan derma para borjuis di pemakaman, muncul obsesi kematian yang dianggap sebagai ‘kematian’. Orang yang telah mati, kemungkinan saja, membawa penyakit untuk orang-orang yang masih hidup. Sementara itu kehadiran orang mati di sebelah tempat tinggal, tepat di samping gereja, hampir ada di tiap pinggiran jalan, merupakan relasi kedekatan yang membawa kematian itu sendiri. Tema besar atas penyakit ini tersebar berdasarkan penularan di pemakaman sebagaimana kita ketahui persis pernah terjadi di abad ke delapan belas, hingga, sekitar abad ke sembilan belas, selanjutnya, perpindahan perkuburan menuju daerah suburban dimulai. Pemakaman kemudian kian terkonstitusikan, tidak lagi menjadi sakral dan menjadi jantung kota yang tak pernah mati, namun menjadi kota tersendiri, di mana keluarga yang telah beristirahat tinggal dalam kegelapan.

Prinsip ketiga. Heterotopia mudah disandingkan dengan satu tempat nyata atau beberapa ruang, beberapa lokasi yang dalam dirinya sendiri mereka sebenarnya tidak kompatibel. Lalu sebuah teater dengan panggung segi empat, satu muncul setelah yang lainnya, sebuah rangkaian untuk dari tempat-tempat asing bagi satu sama lain; lalu hadir sinema dengan ruang persegi empat yang ganjil, dan diakhir, dari layar dua dimensi, seseorang melihat proyeksi dari ruang tiga dimensi, namun mungkin contoh paling kuno dari heterotopia yang mengambil bentuk kontradiksi ialah taman. Kita tidak boleh lupa bahwa Di Taman Oriental, kreasi menakjubkan yang kini mungkin berusia ribuan tahun, memiliki makna mendalam yang ditanamkan. Taman tradisional Persia merupakan ruang sakral yang diharapkan dapat membawa seluruh hal di dalam empat bagian persegi untuk merepresentasikan empat bagian dari dunia, dengan ruangan lain yang sedikit lebih sakral di antara yang lainnya yang nampak seperti putarang cangkang keong, pusaran dengan dunia di tengahnya (sebuah mangkok air dengan air mancur di dalamnya); dan segala vegetasi di taman tersebut ditujukan agar dapat dinikmati secara bersamaan di ruang ini, sebagai bentuk dari mikrokosmos. Sebagaimana karpet, yang diproduksi dari rupa taman (taman dalam permadani dengan seluruh dunia menjadi simbol kesempurnaan, permadani itu merupakan taman yang dapat dipindah sepanjang ruang). Taman adalah rangkaian terkecil dunia dan kemudian merupakan juga bentuk totalitas dari dunia. Taman tersebut adalah sekumpulan kebahagiaan, yang menguniversalitaskan heterotopia sejak dianggap sebagai benda antik. (Kebun binatang modern saat ini memiliki model dari sumber yang sama dengan taman ini).

Prinsip keempat. Heterotopia sering kali terhubung dengan potongan-potongan waktu –yang dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mereka membuka kemungkinan atas apa yang ditentukan, demi kesimetrisan, heterokronis. Heterotopia dimulai dengan fungsi berkapasitas penuh ketika manusia tiba pada serangkaian perpecahan absolut dengan tradisi mereka mengenai waktu. Situasi ini menunjukkan kepada kita bahwa kuburan sebenarnya merupakan sebuat lokasi heterotopik tingkat tinggi, sejak, bagi para individu, perkuburan itu dimulai dengan heterokroni yang aneh, sebuah bentuk hilangnya kehidupan, dan dengan kuasi keabadian dalam nasib permanen yang hancur dan hilang.

Dari sudut pandang umum, dalam masyarakat seperti masyarakat heterotopia dan heterokronis kita, terstrukturkan dan terdistribusikan dalam gaya yang relatif  kompleks. Yang paling menonjol di antara semuanya, terdapat heterotopia mengenai bagaimana kita mengakumulasi pengenalan atas waktu, contohnya yang terjadi pada museum dan perpustakaan. Museum dan perpustakaan menjadi sebuah heterotopia karena waktu tidak berhenti dibangun dan mencapai titik puncaknya, di mana pada abad ketujuh belas, bahkan di ujung abad tersebut, museum dan perpustakaan menjadi ekspresi dari selera individu. Sebaliknya, ide untuk mengumpulkan segala sesuatu, untuk menjaga keberlangsungan dari arsip umum, keinginan untuk mendekat pada suatu tempat di setiap waktu, setiap epos, setiap bentuk, setiap cita rasa, ide untuk mengkonstitusikan sebuah tempat yang tersusun dari beragam waktu yang sebenarnya berada di luar sifat waktu itu sendiri, dan bahwa di sana tidak ada perusakan, proyek untuk mengorganisir dengan cara mengabadikan dan membuat akumulasi waktu dan ruang tak bergerak menjadi tidak terbatas, ide ini dimiliki oleh modernitas kita. Museum dan perpustakaan adalah heterotopia yang pantas hadir dalam tradisi barat di abad kesembilan belas.

Berlawanan dengan heterotopia ini, yang terhubung dengan akumulasi waktu, terdapat jaringan lain, yang sebaliknya, justru berusaha mengalirkan waktiu, bersifat sementara, aspek yang sangat genting, dalam waktu yang dirangkum dalam sebuah festival. Heterotopia ini tidak disusun untuk mencapai keabadian, mereka berusaha untuk sepenuhnya temporer (kronikal). Sebagai contoh, adalah pekan raya, pekan yang membawa ruang gegap gempita namun kosong di pinggiran kota dari kota-kota besar yang penuh kerumunan, sekali atau dua kali setiap tahunnya. Dipenuhi dengan stan, ruang pamer, objek-objek ganjil, para petarung, perempuan ular, para peramal, dan sebagainya. Belakangan ini, sebuah bentuk heterotopia temporer telah ditemuan: desa wisata, sebagaimana dapat dilihat di desa-desa Polinesia yang menawarkan paket selama tiga minggu penuh dengan penduduk primitif dan telanjang. Lihat, lebih lagi, dua bentuk heterotopia di atas dapat hadir dalam waktu yang bersamaan, heterotopia dari sebuah festival dan kemampuan abadi mengakumulasi waktu, ialah di pondok-pondok di Djerba yang membangun nuansa relatif antara perpustakaan dan museum, atau dengan penemuan tata hidup polinesia yang seakan menghapus waktu; juga pengalaman yang menjadi bentuk penemuan kembali atas waktu, seolah-olah seluruh sejarah manusia mencapai titik balik pada mode aslinya yang dapat diakses oleh pengetahuan instan.

Prinsip kelima. Heterotopia selalu mengasumsikan sistem pembukaan dan penutupan dari proses isolasi atas suatu hal, lalu membuatnya mudah untuk diresapi. Secara umum situs heterotopik tidak dapat dengan mudah diakses di tempat umum. Di mana cara mengaksesnya menuntut kewajiban tersendiri, sebagaimana dalam kasus memasuki sebuah barak atau penjara, atau hal lain yang bersifat individual yang memerlukan ritus atau proses penyuciannya tersendiri. Untuk memasukinya, seseorang harus memiliki izin tertentu dan melakukan beberapa usaha. Lebih lagi, terdapat juga heterotopia yang secara menyeluruh tersucikan sehubung dengan proses penyucian – pengkudusan yang merupakan bagian dari hal relijius dan sekaligus higienis, seperti mengucapkan kata amin dalam tradisi kaum muslim, atau proses purifikasi lain yang muncul sebagai suatu hal yang benar-benar bersih, layaknya sauna a la Skandinavia.

Lain lagi, sebaliknya, pembukaan yang murni dan sederhana, namun secara umum menyembunyikan pengecualian yang aneh. Semua orang dapat memasuki situs heterotopis, namun kenyataan bahwa hal tersebut merupakan sebuah ilusi – kita mengira bahwa kita memasuki tempat di mana kita berada, dengan kenyataan kuat bahwa kita memasuki sesuatu, dan hal ini dikecualikan. Saya memikirkan sebuah contoh, dari keberadaan model ruang tidur terkenal di perkebunan-perkebunan besar di Brazil atau di mana pun di Amerika Selatan. Pintu masuk tidak membimbing kita menuju ruang utama di mana keluarga berinteraksi, dan setiap orang atau pelancong yang datang memiliki hak membuka pintu ini, untuk memasuki ruang tidur, dan beristirahat di sana pada malam hari. Kini, ruang-ruang tidur itu menjadi sedemikian rupa sehingga individu yang masuk di dalamnya tidak akan dapat mengakses bagian rumah yang menjadi pusat hidup keluarga. Pengunjung itu semata-mata menjadi tamu untuk transit, bukan menjadi tamu yang diharapkan. Tipe heterotopia ini, yang prakteknya telah terhapus dari peradaban kita, mungkin dapat ditemukan di ruang-ruang motel Amerika yang terkenal, di mana seseorang datang dengan mobil bersama kekasih gelapnya dan seks ilegal menjadi sangat terlindungi dan benar-benar tertutup, terisolasi tanpa diizinkan di tempat terbuka.

Prinsip keenam. Sifat heterotopia yang terkahir ini memiliki fungsi dalam menghubungkan semua ruang yang tersisa. Fungsi ini terbentang di antara dua kutub ekstrim. Baik yang satu, perannya adalah untuk menciptakan ruang ilusi yang dapat memaparkan ruang nyata, seluruh ruang yang di dalamnya kehidupan manusia dibagi-bagi, sebagai ilusi lebih (mungkin ini juga peran yang dimainkan oleh beberapa rumah bordil terkenal yang mana telah kita rampas). Atau lain lagi, sebaliknya, peran mereka untuk menciptakan ruang yang lain, ruang nyata lain, yang sama sempurnanya, sama detailnya, sama tatanannya sebagaimana kita memberantakannya, dibangun dengan buruk, dan campur aduk. Tipe yang terakhir ini merupakan heterotopia, bukan ilusi, namun dengan kompensasi, dan saya bertanya-tanya bila beberapa koloni tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Dalam kasus tertentu, mereka bermain, dalam level organisasi yang besar dalam ruang terestrial, peran dari heterotopia. Saya memikirikan sebagai contoh, ialah gelombang pertama kolonialisasi abad ketujuh belas, dari masyarakat Puritan yang orang Inggris dirikan di Amerika, dan di sana merupakan ruang sempurna yang lain. Saya juga memikirkan kolonI Yesuit yang luar biasa yang didirikan di Amerika Selatan; menakjubkan, koloni yang tertata secara menyeluruh yang menunjukkan kesempurnaan manusia dalam mencapainya secara efektif. Kaum Yesuit Paraguay mendirikan koloni keberadaannya diatur pada setiap kesempatan. Pemukiman ditata sedemikian rupa berdasarkan rencana ketat mengelilingi sebuah tempat persegi dengan pusat gereja; di satu sisi terdapat sekolah; di sisi lainnya terdapat pemakaman, dan kemudian, di depan gereja, dibangun dua jalan yang menyilang dengan sudut yang tepat; tiap keluarga dapat memiliki kabin kecil di sepanjang dua jalan yang saling bersilang ini dan dengan demikian maka tanda Kristus benar-benar tereproduksi. Kristianitas menandai ruang dan geografi dunia Amerika dengan tanda fundamentalnya.

Kehidupan sehari-hari dari seseorang telah ditata, bukan melalui siulan melainkan melalui bunyi lonceng. Semua orang terbangun di saat yang sama, semua orang mulai berangkat bekerja di saat yang sama; makan dilakukan pada tengah hari dan pada pukul lima sore, kemudian tiba waktunya untuk beristirahat, dan pada tengah malam muncul apa yang disebut sebagai bangun tidur marital, saat terdengar dentang dari lonceng gereja, tiap orang pergi menjalankan kewajiban mereka.

Rumah bordil dan koloni adalah dua jenis heterotopia ekstrim, dan jika kita merenung, bagaimana pun juga, bahwa sebuah perahu terapung adalah ruang yang mengambang, sebuah tempat tanpa tempat, yang hadir oleh dirinya sendiri, yang tertutup dengan sendirinya dan di saat yang sama memberikan diri pada lautan dan di mana, dari pelabuhan ke pelabuhan, dari rumah bordil ke rumah bordil, ia pergi sejauh koloni pergi mencari harta karun paling berharga yang pernah mereka tanam di kebun mereka, kamu akan dapat mengerti mengapa kapal bagi peradaban kita, dari abad ke enam belas hingga kini, bukan hanya menjadi instrumen perkembangan ekonomi (saya tidak akan membahas ini hari ini), namun juga secara bersamaan juga menjadi sumber imajinasi bagi kita. Kapal adalah heterotopia par excellence. Dalam peradaban tanpa perahu, mimpi menjadi kering, spionase menggantikan petualangan, dan para polisi mengambil peran bajak laut.


Judul asli naskah ini ialah Des Espace Autres, dan dipublikasikan oleh Jurnal Prancis bernama Architecture /Mouvement/ Continuité bulan Oktober  1984, di mana bahan ini digunakan dalam kuliah Michel Foucault pada Maret 1967. Walau tidak memiliki review publikasi dan tidak tergolong dari koleksi resmi oleh penulisnya sendiri namun manuskrip Foucault ini telah menjadi domain publik pada pameran Berlin yang dilaksanakan tepat sebelum kematian Foucault. Diterjemahkan dari bahasa Prancis ke bahasa Inggris oleh Jay Miskowiec, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Kristoforus J. Sadewa

Leave a Replay