Menu Close

The Society Of spectacle

Argumentasi dari Situationist Guy Debord masih sama radikalnya seperti pada saat pertama kali dibuat. Mungkin hari ini argumentasinya tampak akrab atau bahkan membosankan, setidaknya yang nampak di permukaan di antaranya adalah budaya yang merupakan pengalih perhatian dari realitas material; demi kepentingan elit untuk menjaga massa tetap jinak; pekerja terasing dari hasil kerja mereka dalam masyarakat industri. Ide-ide ini telah diserap habis-habisan menjadi pemikiran radikal dan kiri dalam 40 tahun sejak Debord pertama kali mempublikasikannya dalam traktat seminar tahun 1967, The Society of Spectacle. Namun, sepertinya pemahaman radikal Debord tentang kondisi realitas hampir tidak dipahami atau ditindaklanjuti oleh siapapun untuk dikembangkan. 

Buku tebal dan dialektisnya, serta film dengan judul yang sama dibuat pada tahun 1973 dengan menggunakan suatu pendekatan terhadap realitas budaya yang dapat dianggap sebagai fiksi ilmiah politik. Dalam memeriksa landasan kehidupan modern yang “spektakuler”, Debord mengakui dan membahas bahwa makna biasa “spectacle” – hiburan, iklan, fetisisme konsumen, komodifikasi seksualitas – melangkah lebih jauh dengan menyarankan bahwa dunia yang terlihat itu sendiri telah menjadi Spectacle yang membutakan kita pada keadaan sebenarnya. Spectacle Debord adalah sebuah visi proto-Matrix yang dipolitisasi di mana kekuatan-kekuatan tak terlihat bersekongkol untuk menciptakan realitas buatan yang bertujuan hanya untuk kelanjutannya sendiri. Masyarakat spectacle adalah dunia itu sendiri dan segala sesuatu di dalamnya, khayalan massal di mana hampir semua orang dipenjarakan dalam siklus kerja berulang yang tak ada habisnya, dan “kesenangan” ritual kosong dari liburan atau akhir pekan yang busuk.

Buku The Society of the Spectacle pertama kali diterbitkan pada tahun 1967 dan setahun kemudian menjadi salah satu teks kunci dari pemberontakan mahasiswa Mei 1968 di Perancis. Hal ini menjadikan karya Denord sebagai polemik yang kompleks dan mempesona melalui kecerdasan dialektik khas Prancis dan kecenderungan untuk menumbuk bahasa, pembalikan makna, dan ide-ide yang kontradiktif. Bagi Debord, kontradiksi adalah hal yang penting: spectacle dimana kita semua hidup dibangun di atas fondasi yang saling bertentangan, dan melihat kontradiksi ini adalah untuk memahami absurditas masyarakat modern.

Versi film yang dibuat enam tahun kemudian adalah upaya Debord untuk mengilustrasikan teksnya, mengembangkan gagasannya lebih lanjut, dan memberikan contoh visual konkret tentang hal-hal yang ia tulis. Film ini juga merupakan bagian dari pidato perpisahan untuk peristiwa Mei 1968, sebuah perayaan revolusi “tanpa bentuk” yang dilihat Debord sebagai langkah pertama dari keinginan kuat menggulingkan kondisi budaya modern yang menindas.

Presentasi film ide Debord tentang spectacle mirip sekali dengan bentuk buku asli, yang terdiri dari 221 paragraf bernomor yang masing-masing menyajikan ide yang sepenuhnya terbentuk. Struktur bukunya adalah tambahan, masing-masing tesis agak terisolasi satu sama lain, dan juga membangun berdasarkan sila dan konsep yang ditetapkan dalam buku ini secara keseluruhan. 

Film ini memadukan struktur fragmen dengan mengutip secara bebas dari teks, mengkontekstualkan ulang kata-kata Debord menjadi pengisi suara dalam film. Narasinya jarang sekali diam, kecepatan film yang cepat dan banyaknya ide-ide kontradiktif yang bertekstur padat a la prosa Debord, yang menuntut definisi yang tepat. “Spectacle ini bukan kumpulan imaji,” katanya menjelang awal dari kedua buku dan film, “lebih tepatnya, itu adalah hubungan sosial antara orang-orang yang dimediasi oleh imaji. Dialektika “ini” atau”bukan ini” sering muncul; Debord mendefinisikan idenya dengan pertama-tama membatasi ikatan mereka, mendeklarasikan apa yang “bukan mereka” sebelum menunjukkan “apa” mereka. Presisinya bisa melelahkan, dan kecil kemungkinan untuk mengikuti secara tepat argumennya setiap kali ketika menonton filmnya untuk yang pertama kali, meski dengan pengetahuan sebelumnya mengenai teks sumber – yang lain hanya dapat mengimajinasikan bagaimana seseorang menonton filmnya tanpa merasakan konteks dan asal muasalnya. Kata-kata Debord tersaji lebih baik dalam buku daripada film, sehingga membuka kemungkinan untuk studi ini diperpanjang daripada stagnan di tempat yang sama. Untuk beberapa hal ia mengorbankan kejelasan dari tulisannya dengan mengubahnya pada medium yang berbeda.

Namun, film The Society of Spectacle  tidak hanya merupakan transposisi dari buku tersebut, dan konsepsi unik Debord tentang sinema menciptakan karya seni yang sepenuhnya baru dari bahan sumbernya. Orang akan mengharapkan seorang penulis dengan ideologi gambar yang dikembangkan secara menyeluruh untuk berpikir panjang sebelum membuat gambarnya sendiri, jangan-jangan dia secara tidak sengaja justru berkontribusi pada spectacle yang ia cari untuk dilemahkan.

Memang struktur film ini mencerminkan pertimbangan yang cermat tentang cara teks dan gambar mengalir ke satu sama lain, memunculkan komentar pada gambar, representasi, dan spectacle budaya. Dalam hal ini, ada veteran Prancis lainnya pada Mei 1968 yang filmnya mencerminkan hubungan antara gambar dan kenyataan: Jean-Luc Godard, dan ini memaksa penonton untuk membandingkan keduanya. Godard dan Debord adalah orang-orang sezaman, tetapi mereka jarang berinteraksi langsung satu sama lain, dan sampai batas tertentu mereka bertentangan: Situasionis Internasional Debord, selalu peduli untuk mendefinisikan kelompok-kelompok dan keluar-kelompok, menyatakan Godard sebagai reaksioner yang kurang radikal. Alasan pengutukan ini mungkin terletak pada pendekatan yang berbeda yang dilakukan kedua pria itu untuk memperlakukan imaji dalam pekerjaan mereka.

Konsep Debord tentang détournement – sebuah kata yang diciptakan oleh Situasionis untuk mendeskripsikan daur ulang elemen artistik dalam konteks baru untuk mengekspresikan makna yang berbeda dari artis aslinya – secara halus berbeda dari pendekatan Godard terhadap pastiche dan penghormatan genre. Di beberapa titik dalam film, ia mengutip panjang lebar dari film oleh Orson Welles, Nicholas Ray, John Ford, Sergei Eisenstein, dan lain-lain.

Hampir tidak ada perspektif satir dalam penyisipan ini, atau bahkan korespondensi langsung dengan narasi. Intinya adalah hanya untuk mengkooptasi tontonan, untuk menempatkan gambarnya dalam konteks di mana tontonan terus diruntuhkan, di mana pertentangan antara yang spektakuler dan yang tidak spektakuler dapat menjadi jelas. Untuk tujuan yang sama, Debord menggunakan fotografi fashion dan potongan-potongan gambar sensual lunak, gambar-gambar spektakuler yang fungsinya dalam masyarakat secara tidak jelas dijelaskan oleh pengisi suara. Ketika Godard akan memasukkan gambar-gambar seksual dalam karya periode radikalnya – seperti yang ia lakukan secara radikal dalam abumif Numéro Deux – presentasinya tentang seksualitas sering secara agresif mendekonstruksi dan meredakan reaksi yang diharapkan. Ini tidak terjadi dengan Debord, yang memungkinkan gambar seksualitas komersial yang tidak berubah menjadi ada di dalam struktur filmnya, mempercayai kontradiksi antara gambar dan teks untuk membangkitkan pemikiran, bukan reaksi mendalam. Cara ini tidak selalu menjadi taktik yang sukses, karena keterusterangan gambar seksual membuat mereka sangat resisten terhadap upaya rekontekstualisasi semacam itu, tetapi hal ini juga merupakan hasil logis dari prinsip-prinsip fundamental Debord. Untuk melakukan lebih dari sekadar menampilkan gambar dan berbicara tentang mereka yang akan beresiko menjadi spectacle.

Memang bahaya ini secara eksplisit diakui oleh Debord dalam segmen prescient mengenai komodifikasi ketidakpuasan. Untuk mengilustrasikan bagian ini, Debord memilih gambar-gambar band rock n ‘roll remaja, kontorsi seksual dan kejang pseudo-kekerasan yang berdiri di dalam untuk pemberontakan yang lebih berarti terhadap spectacle. Titik dasar Debord adalah bahwa spectacle itu, pada titik ini dalam sejarah, totalitas kehidupan, dan bahwa apa pun dapat dikooptasi atau diserap oleh kekuatan yang luar biasa ini. Dalam rock n ‘roll, ketidakpuasan pemuda dengan kondisi kehidupan dikemas, diberi bentuk konkret dan dengan demikian dibuat laku. Revolusi disalurkan ke musik keras dan idola seks, dan para pemuda lebih memilih berkumpul untuk menyaksikan konser rock daripada membentuk sebuah revolusi. Inilah sebabnya mengapa Debord melihat keselamatan dalam bentuk tanpa bentuk, yang secara harfiah tidak dapat dikatakan atau tidak dapat diungkapkan, yang tidak dapat dikomodifikasikan dan dijual kepada massa. Titik balik pemberontakan pemuda sebagai sebuah komoditas adalah komodifikasi revolusi proletariat itu sendiri. Kenyataan yang ada di uni soviet di bawah stalin. Dalam salah satu adegan film yang paling dahsyat dan padat, sulih suara Debord menggambarkan penciptaan tontonan borjuis dalam konteks anti-borjuis, sebagaimana cuplikan dari Stalin yang berpidato dalam diam. Bagi Debord, penindasan Stalinis mungkin merupakan lambang dari masyarakat yang spektakuler, sebuah ilusi absurd di mana para pejabat Soviet harus secara bersamaan menghuni identitas yang bertentangan: sebagai revolusioner proletar dan sebagai birokrat totaliter. Ini menciptakan keadaan paradoksal dimana pemerintah yang merupakan representasi tidak pernah bisa meghuni secara total antara dua kutub yang bersebrangan ini, mereka justru bimbang diantara statemen publik dari ide ploretarian dan kepemilikan privat dalam struktur pemerintahan yang mana elitnya secara alami berkontradiksi dengan tujuan proletar.

Ini adalah contoh yang ampuh dari ilusi dan pemisahan yang berada pada jatung realitas kontemporer dan kejelasan intelektual Debord dan pertolongan yang kaku untuk menggali dan mengeksplorasi manifestasi sepektakuler ini. orang bisa berasumsi, dari cara ia menggunakan cuplikan Mao Tse Tungberjabat tangan dengan Richard Nixon dan Henry Kissinger sebagai sebuah ilustrasi dari keterkaitan internasional, yang dilihat Debord semua pemerintah di dunia sama sama bersalah dalam memegang tabir spektakuler untuk menutupinya dari massa. Bagi Debord, untuk terlibat dalam kritik politik yang lebih spesifik akan melewatkan poin tersebut. Sejak masalah dunia tidak terbatas pada pemerintah lokal tetapi mendasar, tertulis pada masyarakat kita yang penuh kosmetik. Filmnya sangat radikal dan secara mengejutkan ketika itu dibuat, tahun 1973, dan hari ini menyisakan mata yang mampu memeriksa kekuatan global, kontrol dan penindasan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: