Tuhan Tanpa Kitab Suci: Komparasi Pandangan The God Who Maybe Richard Kearney dan The Perhaps Jacques Derrida

Tulisan ini membahas pandangan dekonstruksi Derrida mengenai Tuhan, yang tentu saja tidak secara eksplisit berhubungan dengan Tuhan, melalui komparasi dengan konsep anatheisme[1] dari Richard Kearney. Makalah ini didasarkan pada tulisan Kearney sendiri dalam buku Derrida and Religion. Ia membandingkan konsep The God Who May Be dengan The Perhaps dari Derrida. Kedua konsep tersebut didasari oleh pemikiran yang mirip, yaitu hubungan antara “yang mungkin” dengan “yang tidak mungkin”. Kerumitan hubungan tersebut, yang berputar dan membentuk paradoks, kemudian akan ditarik pada penjelasan-penjelasan metafisika, epistemologi dan etika yang lalu akan terlihat kaitannya dengan cara pandang dekonstruktifisme terhadap konsep tentang Tuhan.

Pemikiran ini memberikan cara pandang baru yang post-metaphysical, keluar dari teks kitab suci, mengenai Tuhan. Tuhan tidak dilihat dengan segala kekuatan dan kemampuannya. Membongkar tradisi teologi yang kaku. Derrida sendiri tidak mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang anti terhadap kebangkitan, ketika ditanya oleh Kearney mengenai pandangannya terhadap hubungan dekonstruksi dengan kebangkitan. Dalam pemikiran dekonstruksinya Derrida harus mematuhi apa yang disebut keniscayaan akan kemungkinan. Ia melihat hubungan tersebut bukanlah hubungan dalam arti terjadi interaksi, atau hubungan yang dialektis dan bukan juga hubungan yang berjenjang, namun sebagai khôra. Lebih sebuah hubungan kesetaraan yang sebenarnya tidak berhubungan dan memiliki jalan sendiri-sendiri. Derrida mengkritik bahwa pandangan mengenai kebangkitan sebagaimana diartikan secara deterministik, menjadikan keimanan tidak lagi murni, keimanan tidak ubahnya seperti sains. Tuhan didekati sebagai yang mungkin, yang terlibat dengan hidup kita, berbeda dengan Tuhan yang dilihat secara metafisik. Setiap orang kemudian memiliki kapasitas untuk ditransformasi dan mentransformasi Tuhan. Derrida menekankan pada peristiwa, bahwa setiap diskursus mengenai beyond adalah kegairahan akan yang tidak mungkin, kegairahan untuk pergi kemana anda tidak mungkin pergi. Peristiwa penting bagi Derrida, karena peristiwa dapat terjadi karena ia “akan datang” dan peristiwa datang diafirmasi oleh transendensi.

Dari Teisme Tradisional ke Hermeneutika Religius

Pemikiran teisme tradisional didominasi oleh teologi dan persepsi-persepsi yang ditafsirkan oleh kitab suci. Tuhan dipikirkan dan disimpulkan sebagai sesuatu yang aktual (actus purus[2]), Tuhan teraktualisasi. Tuhan haruslah aktual atau nyata walaupun dalam caranya sendiri. Tuhan dalam tradisi tersebut tidak bisa tidak harus melebihi manusia, ia lebih nyata, lebih kuat, lebih kuasa. Masalahnya adalah, logika positif selalu menjadi dasar untuk memandang Tuhan. Pandangan ini membawa problematik bahwa ternyata Tuhan harus ditunjuk, dimanakah Tuhan berlokasi? Apakah Tuhan marah? Apakah Tuhan berkehendak?

Pandangan ontoteologis telah mulai ditentang sejak Heidegger, bahwa tidak mungkin mencampur adukan antara “Ada” dengan “pengada”. Sehingga ontoteologi menganggap atau menyamakan “Ada” dengan Tuhan dan Tuhan adalah “Ada”.[3] Pandangan ontoteologis merupakan gabungan antara ontologi yang mempertanyakan “apakah yang Ada?” dengan teologi yang mempertanyakan “apakah pengada tertinggi?” Pertanyaan ontoteologi merupakan dasar universal pengada-pengada.[4] Dalam pemikiran kontemporer, pemahaman tersebut kemudian dibongkar. Dikeluarkan dari kerangka pemikiran dan persepsi kitab suci, Tuhan bukan lagi menjadi otoritas kitab suci, Tuhan bukan lagi milik agama dan manusia yang memeluk agama. Tuhan tidak tidak lagi dikaitkan dengan urusan Ada dan pengada, Tuhan bukan juga bagian dari wilayah metafisika dan ontoteologi. Tuhan dalam tradisi kontemporer menjadi wilayah yang luas baik bagi pemikiran teisme maupun ateisme. Tradisi teologi yang dominan diruntuhkan. Pemikiran tentang Tuhan bukan lagi sebagai sesuatu yang aktual. Tuhan sekarang menjadi bagian dari hermeneutika. Hermeneutika religius digunakan sebagai metode interpretasi pandangan tentang Tuhan. Pemahaman yang menyeluruh mengenai aspek historis dan temporalitas manusia, di mana Tuhan ada di dalamnya. Dan proses pemahaman bersifat linguistik. Dengan begitu kita mengenal apa yang disebut sebagai “peristiwa bahasa” oleh Richard E. Palmer dalam Hermeneutics.[5] Hakikat bahasa adalah berbicara atau mengatakan, dan itu adalah peristiwa yang menunjuk pada diri atau yang lain. Disinilah peran penting hermeneutik, membawa realitas menampilkan dirinya.

God Who May Be

Richard Kearney mengemukakan pemikiran, ketimbang memikirkan Tuhan sebagai sesuatu yang aktual, mungkin lebih baik Tuhan dipikirkan sebagai “yang mungkin dari yang tidak mungkin” – God who may be. Menerjemahkan eskatologi ke-Ilahi-an sebagai lawan dari ontoteologi. Pemikiran ini menantang pandangan bahwa yang mungkin hanya merupakan subordinasi dari yang aktual daripada menganggap bahwa yang mungkin dari Tuhan justru merupakan tanda ke-Ilahi-an yang utama.[6] Tuhan yang mungkin berarti memiliki ke-tak terbatas-an, Ia tidak dikurung dalam penamaan, tidak dibahasakan dan tidak dibatasi oleh pemahaman manusia.

Yang menarik dari “yang mungkin dari yang tidak mungkin” adalah, pemikiran ini mendorong pengalaman manusia akan agama dan iman menuju arah yang baru, pemikiran yang sama sekali baru dan berbeda. Lebih jauh ke dalam pandangan bahwa Tuhan dimengerti sebagai yang tidak bisa diterka, tidak bisa dipastikan dan tidak bisa dipetakan atau dikendalikan. Ini berarti menempatkan Tuhan di wilayah yang berbeda bahwa Tuhan tidak bisa disamakan dengan subjek dan juga objek. Tuhan memiliki wilayahnya sendiri, ia berada tidak di tempat kita atau di tempat lain. Apa yang dilakukan Kearney merupakan solusi jalan tengah diantara teisme dan ateisme. Ia menyebutnya sebagai anatheism, kembali kepada Tuhan setelah Tuhan mati, menyambut kembali Tuhan setelah beberapa dekade Tuhan menjadi keasingan dalam hidup manusia. Pandangan kompromis dengan memberikan makna baru pada Tuhan agar dapat diterima kembali, dengan membuang cara pandang ontoteologi dan berusaha meyakinkan bahwa pandangan bahwa Tuhan yang mungkin adalah ada namun tidak akan mengganggu kehidupan manusia seperti yang dilakukan Tuhan antropoteologis ataupun metafisis dan ontoteologis, sebab Tuhan yang mungkin tidak perlu melakukan apapun dan tidak menunjukan kekuatan apapun.

Jacques Derrida kemudian melihat pandangan Kearney tentang “God who may be” ini sebagai pandangan yang tidak menempatkan Tuhan pada posisi sebagai yang tidak terbatas, dalam arti penuh dengan kekuatan, dan maha kuasa, tapi justru sebagai yang tidak berkekuatan.[7] Tidak berkekuatan yang artinya Tuhan tidak memerlukan daya apapun atau melakukan apapun untuk menunjukkan kekuasaan- Nya. Mengenai masalah “yang mungkin dari yang tidak mungkin” Derrida kemudian akan mengkaitkan dan membandingkannya dengan pemikiran mengenai the perhaps (peut-etre) dan Khôra.

The Perhaps dan Khôra

  Sebelum masuk dalam komparasi antara pemikiran The God who may be dengan the Perhaps[8], mari kita ulas sekilas pemikiran Derrida mengenai the Perhaps dan Khôra. Derrida menngasosiasikan the Perhaps dengan peristiwa atau tindakan. Ia adalah pengalaman akan “yang mungkin dan tidak mungkin” secara bersamaan.[9] Disini kita melihat adanya relasi sekali lagi antara “yang mungkin” dan “yang tidak mungkin”, namun berbeda dengan Kearney, penekanan Derrida adalah “yang mungkin” dan “yang tidak mungkin” dalam relasi peristiwa. Keniscayaan menjadinya peristiwa yang akan datang melalui relasi yang rumit antara mungkin dan tidak mungkin. The Perhaps mengacu pada situasi tak bersyarat yang melampaui ketidak terbatasan. Suatu situasi yang yang sebenarnya lebih merupakan hasrat untuk ketidak berkekuatan dan bukan sebaliknya. The Perhaps merupakan suatu keharusan dalam setiap pengalaman agar pengalaman tersebut dimungkinan. Dan itu datang hanya dari “yang lain” yang tidak bisa diprediksikan dari masa datang. Dan the Perhaps merupakan sebuah keterbukaan akan masa datang, maka ia niscaya untuk “dimungkinkan”–nya peristiwa. Disini kita lihat bahwa dalam relasi yang mungkin dan yang tidak mungkin ada keterlibatan “yang lain”, dan ia menjadi penentu dari mungkin dan tidak mungkin. Lebih detail akan dijelaskan pada penjelasan mengenai relasi “yang mungkin” dan “yang tidak mungkin”.

Merujuk ke atas, kita bisa melihat kemiripan konsep ini dengan the God who may be dari Kearney. Ketidak berkekuatan disini tidak diartikan sebagai sesuatu yang lemah atau rapuh, tapi sebuah ke-diam-an, tidak ada atau tanpa kekuatan apapun, hanya itu. Tidak memerlukan kekuatan untuk menunjukan dan tidak perlu kekuatan untuk melakukan apapun, dan tidak perlu melakukan apapun. Ke-tidak-an tersebut justru dipandang sebagai sesuatu yang menunjukan ketidak terbatasan dari Tuhan. Dengan begitu pemahamannya dengan peristiwa menjadi; bahwa suatu peristiwa hanya dimungkinkan justru dari ketidak mungkinannya sendiri.[10] Karena ketidak mungkinannya maka ia niscaya terjadi atau dilakukan. Bagi Derrida sangat penting keterbukaan pada peristiwa yang akan datang, karena itu artinya membuka interpretasi-interpretasi baru. Dan itu hanya bisa dilakukan ketika peristiwa tidak bisa diprediksikan, ketika kita berhadapan dengan kejutan yang tidak kita sangka, tentu bukanlah sebuah kejutan apabila kita telah mengetahui atau menyangkanya. Itulah sifat dari the Perhaps.

Khôra menurut Derrida juga merupakan ketidak berkekuatan. Ia merupakan hal di antara yang dimengerti dengan yang dirasakan, yang memungkinkan kita memikirkan dan mengenali perbedan antara ada yang sejati dengan ketidak beradaan. Membedakan saya dengan yang lain, atau yang lain dengan yang lainnya lagi. Khôra ada tanpa mengada, ia ada sebelum kosmos, tidak memiliki tempat, tidak memerlukan ruang, sesuatu yang pra-filosofis, ia ada sebelum ada.[11] Khôra ada tanpa perlu diafirmasi, ia selalu ada dalam tindakan manusia. Derrida menggambarkannya sebagai “yang lain” yang radikal dan memberi tempat untuk “Ada”. Dimana tanpa “Ada” di sana maka ia akan mengelakkan segala penjelasan antropoteologis, sejarah, pengungkapan dan kebenaran. Ia tidak sama dengan Tuhan dan tidak bisa saling akses diantara keduanya, bagi Derrida Khôra adalah sebuah pilihan. Khôra merupakan suatu posisi tersendiri dalam dekonstruksi sebagaimana Tuhan dalam Teisme. Ia adalah yang memungkinkan bagi yang lain agar yang lain itu menjadi mungkin. Kearney juga memiliki pandangan tersendiri mengenai Khôra. Seperti Derrida, ia tidak menyamakan Khôra dengan Tuhan, melainkan seperti partner diantara keduanya. Partner dalam dialog.[12] Disini dapat kita lihat bagaimana khôra tidak berusaha dilihat secara metafisik. Ia lepas dari masalah Ada dan pengada karena ia tidak berusaha menunjukan apapun. Dalam posisi dialogis dengan Tuhan pun ia bukanlah antitesis, tidak mengasi satu sama lain.

Yang Mungkin dan Yang Tidak Mungkin

Baik Tuhan sebagai yang tidak berkekuatan, maupun the Perhaps, keduanya merupakan bentuk tertinggi dari kemungkinan bagi Derrida dan Kearney. Lebih tinggi dari yang aktual, “yang mungkin” sebagai lebih dari “yang tidak mungkin”. Untuk memahaminya kita perlu memikirkan dan mempertimbangkan kembali pemikiran tradisional mengenai kemungkinan. Dalam tradisi pemikiran tradisional, yang aktual dipandang sebagai yang superior ketimbang yang mungkin, karena yang aktual mampu menghadirkan diri dihadapan subjek. “Yang mungkin”, hanya bisa dikenali atau didekati lewat fenomen-fenomen, tanda-tanda. Bukankah bentuk kehadiran sendiri kemudian seperti harga mati? Bahwa dengan hadir maka seusatu tersebut mendeterminasikan dirinya dihadapan subjek? Bahwa ia tidak bisa adalah bentuk yang mengada tersebut. Ia tidak lagi bisa menghindar atau mentransformasikan dirinya menjadi sesuatu yang lain. Dengan kata lain sesuatu tersebut telah memiliki batasan. Dan dalam pemikiran kontemporer, cara pandang ini dibalik. Bukankah dengan subjek tidak mampu menangkap objek yang mengada, adalah tanda bahwa pengada tersebut berada diluar jangkauan manusia? Bahwa ketidakmampuan kita memprediksi berarti kita tidak mampu menangkap pengada tersebut? Kita bertanya-tanya dalam ketidaktahuan dan kebingungan karena kita tidak mampu memperkirakan pengada tersebut, dengan kata lain, keterbatasan kita tidak mampu menangkap sesuatu yang di luar batasan kita. Maka kita tidak mungkin mengetahui yang mungkin yang akan terjadi, dan ketidak mungkinan tersebut yang kemudian membuat kita mampu mengenali yang mungkin. Sehingga sebuah peristiwa dapat termanifestasi. Yang mungkin terbuka untuk mentransformasi dan ditransformasi, artinya ia bisa berada dimanapun dan sesuai dengan apapun. Ia tidak menjadi ganjalan dan penghalang bagi kehidupan manusia, malah ia menjadi pendukung kehidupan karena ia meniscayakan hidup manusia dalam mungkin-Nya, tentu saja Derrida tidak memperdulikan posisi ini karena berbeda dengan Kearney, Derrida melihat Tuhan dan khôra sebagai posisi yang tidak dialogis, tidak ada hubungannya dan tidak saling berinteraksi.

Kita harus keluar melampaui kecenderungan-kecenderungan metafisis yang memandang “yang mungkin” sebagai sebuah usaha yang lemah untuk mencapai aktualisasi dalam kenyataan, sebab aktualisasi bukan lagi bukti kekuatan Tuhan, namun keterbukaan akan masa depan yang menandakan ke-tidak terbatas-an Tuhan. Mempertimbangkannya kembali sebagai sesuatu yang lebih dan melampaui “Ada”. Melampaui karena Tuhan tidak lagi memerlukan kekuatan apapun. Derrida kemudian mengartikan kembali “yang mungkin” sebagai modalitas the Perhaps yang tidak bisa lagi direduksi. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa the Perhaps dan God who may be, keduanya melibatkan hubungan antara “yang mungkin” dengan “yang tidak mungkin”. Di mana “yang mungkin” hanya bisa menjadi mungkin disebabkan “ketidak mungkinannya”, seperti apa sebenarnya hubungan ini? Tanpa keterbukaan pada “yang mungkin” yang secara radikal tidak menentu, maka tidak mungkin ada keputusan yang sungguh-sungguh dibuat. Juga tidak mungkin jika tanpa mengangkat the Perhaps. Dengan kata lain, ketidak ter-prediksi-an yang mungkin membuka kepada kita untuk melakukan keputusan, bukan keputusan namanya jika kita melakukan apa yang sudah kita ketahui, karena yang sudah kita ketahui mungkin bagi kita akan secara otomatis dijalankan. Konsekuensinya secara logis adalah, jika tidak ada keputusan yang aktual yang mungkin, tanpa melibatkan the Perhaps yang terbuka pada peristiwa yang akan datang maka tidak mungkin ada keputusan sama sekali. Bagi Derrida, suatu keputusan bukanlah mengenai kemungkinan yang ia miliki untuk diambil oleh dirinya sendiri, tapi juga melibatkan kemungkinan dari yang lain yang bisa jadi mewakili ketidak mungkinan dari kemungkinan dirinya. Ia mempertanyakan apakah keputusan yang ia ambil, yang memanifestasikan tindakannya, membuka apa yang sudah pasti mungkin bagi dirinya dan merealisasikannya dalam tindakan, merupakan sebuah keputusan? Ia menjawab tidak. Tidak memerlukan keputusan untuk sesuatu yang mungkin untuk menjadi peristiwa. Bahwa tanpa ke-tidak mungkin-an maka sesuatu tidak perlu ditebak dan sudah pasti terduga akan terjadi. Dan keputusan yang sungguh-sungguh sama dengan tanggung jawab yang sungguh-sungguh, tidak mengenai dirinya sendiri tapi juga mengenai yang lain. Derrida mengutip Levinas yang mengatakan bahwa sebuah keputusan yang bertanggung jawab merupakan hasil dari ke-tidak mungkinan yang mungkin dari sebuah keputusan yang pasif atau keputusan yang dipengaruhi oleh “yang lain” namun tidak menghilangkan baik kebebasan saya maupun tanggung jawab saya.[13] Lebih jauh Derrida mengatakan bahwa setiap pertanggung jawaban harus melintasi kerumitan hubungan mungkin dan tidak mungkin ini yang menggerakan kita pada pemikiran baru tentang “yang mungkin”.

Lebih lanjut Derrida, dalam epistemologi, mencontohkan permasalahan interpretasi. Dalam logika aporistik tersebut, maka sebuah interpretasi hanya mungkin dibuat jika ia masih menyisakan ke-tidak memadai-an atau dengan kata lain bahwa sebuah interpretasi yang memadai adalah tidak mungkin. Suatu interpretasi yang memadai berarti suatu keputusan yang tidak mengimplikasikan apapun dan tidak berarti. Karena suatu interpretasi seharusnya berkembang sambil berjalan, sehingga ia selalu butuh diinterpretasikan terus-menerus, maka interpretasi yang memadai berarti menghentikan proses tersebut dan menutup kemungkinan yang akan datang, dan dengan begitu ia membuat segalanya menjadi tidak mungkin. Kita menunjuk pada realitas dengan bahasa, kita memilih kata untuk menunjuk pada realitas. Namun untuk menjelaskan kata tersebut kita merujuk dengan kata-kata lain, selalu terjadi pemaknaan-pemaknaan baru terhadap realitas, ia tidak pernah berhenti. Realitas terbuka pada interpretasi, jika ia tidak terbuka, tidak memungkinkan, pada interpretasi maka realitas tersebut menjadi tidak lagi bermakna, tidak bermakna berarti tidak penting atau tidak berarti bagi manusia. Singkatnya, nothing out of the text. Derrida juga menemukan hal yang sama terjadi pada masalah penemuan. Sebuah penemuan hanya mungkin terjadi atas apa yang mungkin ditemukan, tapi penemuan itu sendiri hanya mungkin apabila ia tidak menemukan sesuatu yang baru dari dirinya sendiri. Artinya, sebuah penemuan bukanlah sesuatu dari yang benar-benar baru, sebuah penemuan adalah sebuah proses yang membiarkan “yang lain” untuk datang, berlaku dan terjadi. Dan kenyataannya “yang lain” adalah selalu bukan sesuatu yang datang dari dirinya sendiri, melainkan faktor luar dari “yang mungkin” dan tidak mungkin bagi dirinya sendiri, ini berarti penemuan yang mungkin adalah penemuan dari yang tidak mungkin. Disini kita temukan bahwa “yang lain” selalu memiliki peran, artinya dalam kesendirian kita tidak memerlukan keputusan, dalam kesendirian kita tidak memerlukan tindakan. Kehadiran “yang lain” memberi mengakibatkan kita perlu melakukan sesuatu, mengambil keputusan, tindakan, meng-interpretasi dan sebagainya. Keterbukaan pada “yang lain” adalah keterbukaan pada kemungkinan, dan yang lain tidak mungkin kita duga, prediksi dan diketahui dengan pasti.

Dalam penjelasan etis, Derrida mencontohkan melalui perihal “maaf”. Dalam logika hubungan mungkin dan tidak mungkin yang sama, ia mengatakan bahwa “maaf” hanya dimungkinkan apabila ia berhadapan dengan “yang tidak termaafkan” atau sama dengan “yang tidak mungkin”. Artinya “maaf” menjadi tidak berguna dan tidak ada artinya ketika ia berhadapan dengan sesuatu yang termaafkan, karena yang termaafkan sudah pasti dimaafkan. Suatu tindakan yang termaafkan secara otomatis berarti tidak ada yang perlu dimaafkan maka bisa dikatakan tindakan maaf kemudian menjadi tidak penting lagi. Disini kita lihat bahwa pe-maknaan atas sesuatu jelas muncul karena ketidak pastian kita atas sesuatu, atau pe-maknaan justru timbul akibat situasi yang sebelumnya dianggap sebagai oposisi. Tapi dalam pemikiran kontemporer, oposisi tidak dilihat sebagai lawan, oposisi justru mengafirmasi, memberikan makna terhadap apa yang dioposisikan. Sesuatu menjadi ada bukan karena memang ia ada sebelumnya, ia menjadi ada karena ia tidak ada sebelumnya. Segalanya menjadi mungkin apabila ia tidak mungkin, yang sentral disini adalah keterbukaan pada yang mungkin.

Maka dalam pemikiran ini kita dituntut untuk melakukan “yang tidak mungkin” agar dapat menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Namun itu dilakukan dengan tidak menghilangkan atau mengurangi aturan-aturan moralitas dan prasangka-prasangka, dari tugas dan kewajiban kita. Disini kita bisa pahami bahwa, ketidak mungkinan bukanlah lawan dari yang mungkin, justru ketidak mungkinan hadir sebagai penanda, pembaharu dan peristiwa yang memungkinkan “yang mungkin”. Agar sebuah peristiwa menjadi niscaya, ia harus mungkin dan sekaligus tidak mungkin.[14] Jika kita kaitkan dengan uraian mengenai khôra, maka dapat kita lihat kehadiran khôra dalam tindakan-tindakan tersebut. Kondisi yang tidak mungkin ditemukan Tuhan metafisis atapun ontoteologis di dalamnya sebab dalam pengertian- pengertian tersebut Tuhan selalu dibagi antara logika positif dan logika negatif atau diterima secara imanen.

Pertanyaan Tentang Tuhan

Lalu apa hubungannya uraian di atas dengan pertanyaan tentang Tuhan? Kita tidak bisa menemukan kaitan langsung di sini, karena Derrida tidak pernah menghubungkan secara langsung pemikirannya mengenai the Perhaps atau khôra dengan implikasi secara eskatologis maupun teologis. Namun ia meninggalkan satu dua petunjuk yang menurut Kearney dapat dirujuk pada pandangan Keraney mengenai may be.[15] Derrida menyebutkan tentang “yang mungkin” sebagai “yang lebih daripada yang tidak mungkin”.[16] Kita dapat anggap bahwa ia sebenarnya merujuk pada maksim Angelus Silesius “Tuhan sebagai yang lebih daripada ketidak mungkinan adalah mungkin”.[17] Derrida memberikan ruang bagi kita untuk membawa atau menambahkan “Tuhan yang mungkin” dalam analisa-analisanya, sebagai contoh dalam Sauf le Nom, ia mengatakan bahwa seluruh kerumitan hubungan mungkin – tidak mungkin atau yang lebih dari ketidak mungkinan akan kemudian bersarang dan juga akan keluar dalam sesuatu yang kita sebut hasrat, cinta atau keterarahan pada yang baik, dan lain-lain. “Yang lain-lain” disini membuka kepada kita untuk memasukan “Tuhan yang mungkin”. Ia tidak berpihak atau mengakui Tuhan dengan tidak menyebutnya secara eksplisit, namun ia memberikan ruang kepada kita untuk membongkar Tuhan dalam analisis dekonstruksi. Bahwa analisis dekonstruksi kemudian menjadi bebas untuk diaplikasikan kepada segala sesuatu, termasuk kepada Tuhan. Derrida enggan menganalisis Tuhan, karena ia tidak secara spesifik mengemukakan pandangan dekonstruksi untuk dikenakan kepada Tuhan, ia lebih mementingkan analisis itu sendiri ketimbang bagaimana hasilnya, sekali lagi, tidak ada yang diluar teks, maka teks itu sendiri penting, karena di dalam teks terdapat interpretasi mengenai realitas. Jadi bukan realitas itu sendiri yang dipermasalahkan, tapi interpretasi-interpretasilah yang kemudian akan menentukan cara pandang kita atas realitas. Tidak penting dalam pemikiran kontemporer apakah Tuhan itu dan bagaimana Tuhan itu sebenarnya, karena pernyataan-pernyataan tersebut tidak akan mengubah apapun, tidak memiliki signifikansi apapun terhadap kehidupan manusia. Cara pandanglah yang akan mengubah hidup manusia, dan ketika Tuhan menempati posisi penting dalam hidup manhusia, maka cara pandang manusia tentang Tuhan dan bagaimana Tuhan didekati, itu yang signifikan.

Derrida sendiri mungkin juga bermaksud menyinggung hubungan tertentu antara kerumitan yang mungkin dengan yang tidak mungkin dan kerumitan yang tidak bisa diputuskan mengenai siapa atau apakah itu khôra. Dan khôra dalam karya Derrida sama esensialnya dengan membicarakan Tuhan dalam karya Caputo. Namun pendekatan eskatologis sama sekali tidak disentuh oleh Derrida, ia berusaha mendekati “yang mungkin” secara post-metafisik dengan cara memikirkan kembali “yang tidak mungkin” tidak secara negatif atau melumpuhkan. “Yang tidak mungkin” harus di afirmasi sebab hanya dengan ke-tidak mungkin-anlah “yang mungkin” menjadi terbuka sehingga ia menjadi mungkin. Paradoks kemudian diidentikan dengan pengalaman keimanan. Di dalam, dari yang tidak mungkin tidak diragukan lagi adalah radikal, keras dan tidak terelakan, tapi tidak sesederhana penyangkalan atau dialektika; ia memperlihatkan “yang mungkin”….membuatnya mungkin, membuatnya berputar menuruti temporalitas yang bertentangan dengan jaman atau pengabdian yang hebat, yang disebut keimanan.[18] Derrida menghubungkan antara “virtualitas” dengan “kesejatian iman” sebagai sesuatu yang membentuk, secara diam-diam, keseluruhan struktur pengalaman manusia dan bukan pengalaman religius tertentu tentang ke-Tuhan-an. Kita tidak pernah memiliki dan melakukan keimanan secara penuh atau memadai, namun selalu bertentangan (diingatkan) atau tetap menunggu (dijanjikan).

Kearney melihat bahwa pemikiran dekonstruksi Derrida bukanlah oposisi dari pemikiran kebangkitan. Tapi sebagai sebuah penyempurnaan, sebuah perbedaan yang meluaskan pandangan satu sama lain. Bahwa Derrida melihat hubungan yang mungkin dan yang tidak mungkin sebagai struktur pengalaman yang menyeluruh, sedangkan pandangan kebangkitan dari Kearney lebih melihatnya sebagai penanda pengalaman Tuhan yang religius. Dan keduanya bukan sebuah retorika melainkan sebuah rujukan. Perbedaan yang menunjukkan klaim atas kebenaran. Bahwa kemudian pemikiran Derrida membawa kita pada cara pandang baru tentang eskatologi dan keimanan, Derrida sebagai seorang ateis tidak tertarik untuk lebih jauh masuk pada wilayah tersebut. Pemikiran ini lebih terlihat sebagai penghormatan bagi mereka yang memang berada dalam wilayah tersebut seperti, Caputo, Hart, Olthuis dan lain-lain, bagi Derrida hal tersebut bukan urusannya. Implikasi pemikiran paradoksal yang mungkin dan tidak mungkin atas struktur pengalaman “messianic” secara keseluruhan, merupakan bukti bahwa pemikiran tersebut sendiri adalah dekonstruktif karena ia bisa lepas dari struktur apapun dan melintas kesegala arah dan tidak dipentingkan oleh Derrida. Ia lebih mementingkan peristiwa yang mungkin terjadi sehari-hari ketimbang kebenaran atau masalah keimanan.[19] Analisa dekonstruksi mengenai yang mungkin dan tidak mungkin dalam kenyataannya membantu kita untuk melakukan pemikiran secara mendalam mengenai pemurnian dari gagasan-gagasan “yang murni” atau “dogmatis” mengenai kemungkinan yang menganggap dirinya sebagai kekuatan untuk mengungkap, secara imanen, tentang “yang lain” yang memungkinkan. Yang menarik adalah, Derrida menunjukan jalan kepada kita, tapi ia enggan untuk melewati jalan tersebut. Ia memilih “tidak”.

Dalam pandangan dekonstruksi, masalah pertanyaan keimanan adalah masalah mengenai peristiwa yang mungkin terjadi dalam keseharian, dan tidak terputuskan serta tidak terprediksi, bukan masalah keimanan dalam arti yang religius. Dengan begitu Derrida mampu membuka teka-teki yang menantang mengenai hubungan yang mungkin dengan yang tidak mungkin dan menghubungkannya dengan kesejatian iman. Derrida kemudian menunjukkan kepada kita kegagalan konsep metafisik konvensional seperti dumanis, potential atau possibilitas, mengenai “yang mungkin”. Kegagalan dalam memahami “yang mungkin” sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari “yang nyata”. Ia membalik pemikiran ontoteologi yang menganggap Tuhan sebagai yang aktual dan absolut melampaui kemungkinan. Tuhan tidak mungkin menjadi Tuhan jika tidak ada kita sebagai saksinya, dan meng-afirmasi-nya.

                Derrida lebih memilih khôra ketimbang Tuhan, sebab menurut Derrida, khôra yang tidak membutuhkan kekuatan, tidak membutuhkan ruang, tidak membutuhkan pernyataan, dapat melintas begitu saja dalam tindakan maupun nafsu manusia. Berbeda dengan Tuhan dalam konsep religius, di mana butuh keterbukaan kita terhadap Tuhan, agar Tuhan dapat masuk dalam tindakan dan nafsu atau gairah manusia. Kita dapat menutup diri terhadap Tuhan dan menyangkal-Nya, dengan menjadi ateis, tapi khôra tidak akan terpengaruh oleh posisi tersebut, kekosongan, ketidak berkekuatan, kediaman, ketidak bertempatan tetap ada dalam peristiwa. Khôra tidak membutuhkan manusia sebagai saksinya agar ia bisa menjadi khôra, sebab ia tidak meng-eksistensi, tidak dibahasakan dan ia tidak peduli, hanya diam tanpa kekuatan.

Kesimpulan

Seluruh kehidupan manusia penuh dengan interpretasi, kita berusaha menunjuk suatu realitas dengan bahasa, menjelaskan pandangan kita terhadap realitas tersebut. Interpretasi dijelaskan dengan kata-kata yang lain untuk menunjukkan, dan menjelaskan kata-kata yang lain itu juga dengan kata-kata lain. Begitu terus, maka seluruh kehidupan manusia dibangun dari struktur yang terbentuk melalui interpretasi. Selama ribuan tahun manusia berkutat dengan usaha untuk meng-interpretasi mengenai apa yang ada di balik kehidupan? Yang mennyebabkan alam semesta dan kehidupan. Dan selama ribuan tahun manusia berada dalam tegangan antara penjelasan imanen yang tidak memerlukan pembuktian apa-apa, dan berpikir sebaliknya merupakan sebuah keburukan dan memiliki konsekuensinya sendiri. Dan penjelasan ontoteologis yang tidak memiliki konsekuensi apa-apa selain kebingungan karena kita berusaha meng-identifikasi Tuhan. Teks kitab suci menggambarkan Tuhan secara personal, seolah memiliki sifat-sifat sebagaimana manusia namun sangat sempurna. Sosok yang lebih ditakuti ketimbang didekati. Mendekati Tuhan berarti melewati rintangan yang hebat yang tidak semua manusia mampu melewatinya, ada tuntutan pengorbanan diri dari manusia untuk mendekati Tuhan. Sebagian hidup manusia harus dikorbankan. Dan tetap kita tidak bisa mendapatkan penjelasan tentang Tuhan sejauh itu. Perjalanan panjang kemudian filsafat yang dipengaruhi oleh cara berpikir teologi yang dominan saat itu mengaitkan Tuhan dengan masalah metafisika, mencari eksistensi Tuhan. Peleburan filsafat dengan teologi ini kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran yang mengkaitkan Tuhan dengan Ada. Metafisika seperti berusaha membuktikan pandangan teologis, dan fokusnya adalah, bahwa Tuhan ada dan hadir walaupun manusia tidak bisa menangkapnya. Dijelaskan begitu rumitnya, namun tetap kita belum mengerti tentang Tuhan. Segala daya upaya pemikiran ontoteologis dan teologis selama ribuan tahun hanya berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu Ada, dan Ada yang merupakan penyebab utama. Dalam pandangan modern yang positivistik dan materialistik, ini kemudian menjadi masalah.

Timbul perlawanan menentang Tuhan dengan pemikiran Ateisme. Pertentangan besar-besaran antara filsafat dengan teologi. Penjelasan metafisika kemudian ditolak mentah-mentah. Keteganganya kemudian menjadi pembuktian bahwa Tuhan ada (secara teologis dan metafisis) dengan pembuktian bahwa Tuhan tidak mungkin ada (secara positivistik dan ateistik). Sentral filsafat kemudian beralih kepada manusia. Di sini manusia mulai meninggalkan Tuhan dan lebih fokus pada pengembangan dirinya. Selama ratusan tahun Tuhan telah mati bagi manusia (sebagian) dan sangat asing. Manusia telah bisa benar-benar memisahkan diri dari Tuhan dan tidak memberikan ruang bagi Tuhan untuk ada. Namun perdebatan terus berlangsung hingga ke masa kontemporer.

Tuhan atau entitas tertinggi apapun yang dipercaya, dan hubungannya dengan manusia menjadi rumit. Dan ini menimbulkan pertanyaan dalam pemikiran saat ini. Pertanyaannya adalah, haruskah Tuhan atau apapun entitas tertinggi itu harus didekati dengan cara seperti itu? Kenapa kita mati-matian bertengkar demi membuktikan ada atau tidaknya dan menentukan apa itu Tuhan? Dan tetap tidak mendapatkan jawaban. Atau apakah perlu kita mendapatkan jawaban? Lalu apa yang mau kita lakukan dengan jawaban tersebut? Sebuah rasa kemenangan atau kejayaan atas yang lain? Pemikiran kontemporer yang relatif dan bebas kemudian tidak memusingkan siapa itu Tuhan. Pemikiran yang tidak menolak tapi juga tidak menerima. Pemikiran yang tidak peduli siapakah di balik itu, namun yang penting adalah apa yang terhadir di depan kita untuk kita analisis dan kita bongkar, sehingga kita bisa mendapatkan gambaran, interpretasi – bukan kepastian dan kebenaran yang rigid dan tidak mencari jawaban yang pas melainkan membuka wacana, akan realitas yang dimaksud. Pemikiran ini menghasilkan cara pandang yang kompromis sebenarnya. Tidak memancing amarah teisme dengan mengatakan konsep Tuhan sebagai nonsense dan tidak juga menggoda ateisme dengan mengatakan bahwa Tuhan adalah penyebab utama. Metode analisis yang bisa digunakan oleh kedua belah pihak, berdiri obyektif meng-interpretasi-kan realitas apa adanya dan membuka kemungkinan interpretasi lebih luas.

Derrida seorang ateis, namun dalam pemikiran dekonstruktifisme-nya ia tidak kemudian menolak atau menerima Tuhan atau entitas tertinggi apapun. Baginya entitas tertinggi adalah pilihan. Dan Derrida memilih khôra sebagai sebuah peristiwa. Khôra tidak sama dengan Tuhan dan tidak bisa diperbandingkan karena tidak ada interaksi diantara keduanya, berbeda dengan pandangan Kearney yang menganggap khôra dan Tuhan memiliki hubungan dialogis. Namun Derrida mengungkapkan bahwa kedua hal tersebut memiliki kesamaan, tentu saja di luar konteks kitab suci dan ontoteologis, yaitu relasi mungkin dan tidak mungkin. Dengan pemahaman “yang tertinggi” haruslah yang mengatasi segalanya. Mengatasi segalanya berarti tidak sama dengan yang diatasi tapi sekaligus ada dalam yang diatasi.

Tuhan metafisis dan Tuhan teologis membutuhkan keterbukaan manusia. Namun Tuhan metafisis maupun teologis tidak terbuka terhadap kemungkinan, karena seperti telah dibakukan dan dikultuskan sebagai yang “ter..”. maka setiap logika negatif tentang-Nya akan dengan cepat dianggap sebagai penyangkalan. Tidak begitu dengan konsep the Perhaps dan khôra dari Derrida, atau bahkan dengan God who may be dari Kearney. Mereka adalah yang mungkin. Yang mungkin berarti terbuka terhadap kemungkinan, ia tidak dikultuskan dan tidak dibakukan. Terbuka terhadap interpretasi, terhadap masa depan bahkan terhadap yang tidak mungkin. Yang tidak mungkin juga tidak dilihat sebagai negasi, justru sebagai penanda. Yang mungkin hanya akan mungkin karena ketidak mungkinan. Maka yang mungkin selalu dapat ber-transformasi, dan arena ia selalu terbuka terhadap masa depan, yang mungkin tidak memerlukan kekuatan dan tidak perlu melakukan apapun. Di sinilah dekonstruksi Derrida terhadap cara pandang pemikiran ontoteologi dan metafisika tradisional.

Pertanyaan kemudian, apakah memang Tuhan dalam teks kitab suci merupakan sesuatu yang harus dipahami seperti itu? Ataukah justru karena dilatarbelakangi kefanatikan, picik, inferior dan kebutuhan akan rasa aman manusia yang kemudian menafsirkan, atau meng-interpretasikan Tuhan dalam konteks kitab suci sebagai absolute, yang tidak bisa diganggu gugat dan tidak bisa didekati manusia? Dan kemudian memberikan reaksi terhadap pandangan metafisika, seperti tabu, sehingga harus menyamakan Ada yang penyebab utama haruslah Tuhan. Ataukah ini sebuah cara yang paling mudah dilakukan, dengan menafsirkan Tuhan secara antropoteologi, menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat manusia namun dalam kadar super, sehingga muncul rasa takut akan Tuhan yang mengakibatkan mereka yang percaya akan mudah dikondisikan? Jangan-jangan justru teks kitab suci yang sebenarnya sejalan dengan analisis dekonstruksi.

Daftar Pustaka

Atkinson, Sam (ed). The Philosophy Book : Big Ideas Simply Explained, London: Doren Kindersley. 2011

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. 2000

Derrida, Jacques. As If It Were Possible. California: Stanford UP. 2002

Frost, S.E. Basic Teachings of The Great Philosophers. New York: First Anchor. 1989 Hart, Kevin and Sherwood, Yvone. Derrida and Religion : Other Testaments. London: Taylor and Francis. 2004

Hite, Jean. Reflections on Khôra. http://jeanhite.wordpress.com . 2012

Iannone, A. Pablo. Dictionary of World Philosophy. London: Routledge, 2001

Kearney, Richard. The God Who May Be : A Hermeneutics of Religion. Indiana: Indiana University Press. 2001

Lacey, A.R. A Dictionary of Philosophy : New Edition. London: Routledge. 2005

Mudhofir, Ali. Kamus Filsuf Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2001

Niall, Lucy. Khôra, Plato’s and Derrida’s Definitions. (articles) 2008

Sastrapratedja, M. Mencari Alternatif Pandangan Tentang Allah. Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila. 2011.

Thompson, Curtis L. Must or May, God Be The God Who May Be?. Pennsylvania: Thiel College. 2003

Zeillinger, Mag.Dr. Peter. Jacques Derrida’s Speaking In The Mode of The Perhaps. (hand out), Recht Und Gerechtiket Institut für Pholosophie. 2010


[1] After the Atheism, pandangan jalan ketiga antara ateisme dan teisme, agak sulit dibedakan dengan agnostisisme. Penjelasan Kearney sendiri tertera dalam judul bukunya: Anatheism: Returning to God after God tahun 2009. Menyambut kembali Tuhan setelah Tuhan dianggap mati dan menjadi sesuatu yang asing saat ini.

[2] Thomas Aquinas, pure action, kesempurnaan absolut Tuhan, aktualdan sempurna tidak terbantahkan

[3] Kesalahan Ontoteologi bagi Levinas bukan karena menganggap Ada sebagai Allah, tetapi mengangap Allah sebagai Ada (Sastrapratedja, M. Mencari Alternatif…..2011. p.84)

[4] Ibid. p.95

[5] Ibid. p.108

[6] Thompson, Curtis L. Must or May, God Be The God Who May Be. (Pennsylvania: Thiel College, 2003) p. 3-4

[7] “I think you are absolutely right to attempt to name God not as sovereign, as almighty, but precisely as powerless” (Jacques Derrida). Derrida and Religion: Other Testaments.in Deconstruction, God and the Possible, by Richard Kearney. p.298

[8] Pilihan kata asli Derrida adalah peut-être, yang merujuk pada mungkin untuk sesuatu terjadi

[9] Derrida, As If It Were Possible…..,. p.343-370

[10] Yvone Sherwooddan Kevin Hart, Derrida and Religion : Other Testaments (London: Taylor and Francis. 2004) p.343-370

[11] Niall, Lucy. Khora, Plato’s and Derrida’s Definitions. 2008

[12] Hite, Jean. Reflection on Khôra. http://jeanhite.wordpress.com, 2012. Diunduh 5 November 2013.

[13] Hart, op.cit, p.300

[14] Ibid. p.301

[15] Ibid.

[16] Plus qu’impossible ou plus impossible (Poetique du Possible, 1984)

[17] Das uberunmöglichschste ist möglich – God as more than impossible is possible

[18] The in of the im-possible is no doubt radical, implacable, undeniable, but it is not simply negative or dialectical; it introduces to the possible…it makes it come, it makes it revolve according to an anachronistic temporality or incredible filiality – a filiality which is also, he avows, the origin of faith. (Derrida and Religion., p.302)

[19] Hart, op. cit., p.304

Tinggalkan Balasan