Tuhan Yang Dikenali

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on whatsapp
Felix Bodung

Felix Bodung

Sigmund Freud

Kebudayaan suatu bangsa memiliki kekhasan tersendiri dalam memahami hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ada satu ajaran yang dikenal sebagai Paguyuban Ngesti Tunggal di kebudayaan Jawa (selanjutnya disebut Pangestu). Pangestu memiliki penjelasan mengenai tiga distingsi jiwa yang mampu mendorong manusia untuk mengenali Tuhan. Berbeda dengan kebudayaan Barat, utamanya dalam tradisi psikoanalisis Sigmund Freud. Freud memiliki pemahaman tersendiri mengenai distingsi jiwa yang selanjutnya dapat memaparkan bagaimana manusia dapat memilih sikap dan bertindak. Namun pendekatannya pada akhirnya mengarah pada dorongan libidinal. Kecenderungan ini mendorong manusia untuk mengenali apa yang dapat mereka kuasai dan apa yang tidak. Sedangkan Tuhan adalah suatu hal yang tidak dapat dikuasai oleh manusia.

Masing-masing tradisi, baik Pangestu maupun psikoanalisis Freudian, berusaha menjawab kondisi-kondisi manusia saat mengenali dan memilih suatu sikap. Keduanya memiliki kesamaan dan perbedaan, utamanya dalam menjawab bagaimana manusia memaknai Tuhan. Pembahasan mengenai eksistensi Tuhan selalu berkembang baik dalam tahapan metafisika atau psikologi hingga hari ini.

Distingsi Jiwa Menurut Pangestu

Pangestu merupakan salah satu aliran spiritual Jawa yang menarik nilai-nilai universal dari berbagai agama dan ajaran lain yang pernah ada sebelumnya. Pendirinya adalah Raden Soenarto. Ia dianggap telah menerima wahyu dari Sang Suksma Sejati. Pembukaan Sasangka Djati (sebuah buku induk ajaran Pangestu), dinyatakan demikian, “Wontene Serat Sasaka Djati punika naming mligi kasadijakaken kangge kandutanipun para Siswaning Sang Guru Sadjati, ingkang sami ngasrama ing Pagujuban Ngesti Tunggal tuwin para marsudi Kasunjatan Djati.[1] Artinya, Pangestu merupakan paguyuban yang ditujukan kepada para siswa[2] Pangestu yang didapat dari Tuhan sendiri sebagai bentuk jalan pencarian menuju realitas sejati.

Beberapa pengikutnya menyatakan bahwa Pangestu bukan lah aliran kepercayaan kejawen melainkan suatu ajaran moral dan tentang sifat manusia yang dapat membantu manusia berelasi dengan Tuhan tanpa harus mengkotak-kotakkan asal mula adat istiadat dari suatu agama atau aliran kepercayaan tertentu. Jiwa dalam diri manusia telah ada sejak bayi dilahirkan. Selain itu, Pangestu mengenal konsep sedulur papat limo pancer yang menjadi bagian dari kepercayaan tradisional di Jawa secara umum. Namun kekhasan ajaran Pangestu adalah pembahasan mengenai pembagian unsur-unsur jiwa yang secara umum terbagi menjadi dua yaitu Aku dan anasir. Demikian dijelaskan dalam Sasangka Djati, “Sadulur kang aran: Pangaribawa, Prabawa lan Kamajan, telu pisan mau dumadi saka ajang-ajangan utawa wejangane Tri Purusa (Ingsune Manungsa) kan minangka AKUNE Manungsa.[3] Aku merupakan kondisi batin yang mendasar dan mendorong manusia untuk mengenali sesuatu dan bersikap. Namun anasir juga menjadi faktor pendorong manusia dalam setiap tindakannya.

Kondisi jiwa yang utama berada dalam kesatuan Aku yang selanjutnya akan dibagi menjadi tiga yaitu Prabawa, Pangaribawa, dan Kemayan. Aku berkembang melalui tiga bagian ini. Berikut R. Soenarto menjelaskan mengenai konsidi jiwa yang tiga ini:

Dene kabeh mau biasane kelakon sedyane dadi tindak, menawa kabijantu (didjiwani) dening angen-angen tetelu mau. Jaiku sadulur kang aran: Pangaribawa, Prabawa, lan Kamajan. Mungguh sedjatine kang den arani Pangaribawa iku, piker utawa tjipta. Prabawa iku angen-angen (nalar), dene Kamajan iku pangerti utawa akal budi.[4]

Prabawa merupakan bagian dari Aku yang bertugas untuk mengenali segala sesuatu secara parsial dan spesifik. Kemampuan ini berdasarkan dari kemampuan manusia mengenali sesuatu berdasarkan pengalamannya. Informasi yang diterima dan dikelola oleh Prabawa dapat disebut sebagai angen-angen atau suatu pengetahuan yang belum final. Selanjutnya bagian dari Aku yang kedua ialah Pangaribawa. Pangaribawa bertugas untuk menjadikan sebuah pengetahuan menjadi bentuk yang lebih komprehensif (pemahaman). Pemahaman ini mengandaikan manusia dapat berkembang sesuai dengan kemampuan Pangaribawanya. Sehingga pemahaman yang sebelumnya parsial dapat bersatu menjadi pemahaman yang lebih menyeluruh dan mendalam. Kamayan merupakan kondisi Aku di mana Aku menjadi satu bagian yang sama, bersamaan dengan pemahaman mendalam yang telah dimiliki.

Dalam pembagian ini, Pangestu menekankan bahwa Prabawa, Pangaribawa, dan Kamayan memiliki kemampuan yang bertahap, yang mampu mengondisikan manusia untuk mengenali Tuhan-nya. Demikian dijelaskan dalam Sasangka Djati,

Sawuse Roh Sutji manut miturut marang tuntutane Suksma Sadjati, kalawan bisa nampani dewe marang tumetesing dawuh pangandikan-Ingsun, jaiku ing sawuse bisa nglungguhi watak: sabar lan temen, serta wus anglilakake (masrahake) gagamane (tjiptane) marang Suksma Sadjati, ing sabandjure siswa mau uga kudu anglilakake (masrahake) gagamane maneh lijane, jaiku pangwasane Suksma Sadjati kang sinebut: prabawa utawa nalar (ngen-ngen), uga kasilemake ing djaman kaheningan, dadi mung kari uriping pangreti bae, kang wus ora tansah obah dening pakartining nalar, kang tansah agawe kurang rilane lan sapanunggalane.

Dalam konsep Prabawa, Tuhan akan dikenali sebagai sosok yang manusiawi dan mudah dikenal. Sementara itu, Pangaribawa merupakan bagian dari kemampuan mental manusia untuk melakukan suatu bentuk pengenalan atas Tuhan yang memiliki sifat. Pada tahap ini, manusia tidak lagi butuh sosok Tuhan yang menyerupai manusia. Pada tahap ini, manusa dapat mengenali Tuhan melalui pemahaman atas sifat-sifatnya. Kamayan merupakan kondisi di mana manusia dapat mengenali Tuhan tanpa ada gambaran apapun. Manusia mengenali Tuhan sebagai yang menurunkan Aku.

Melalui ketiganya, manusia dianggap mampu memahami dirinya melalui tahapan yang berbeda. Hingga hari ini, Pangestu masih memilih menjelaskan konsep tersebut. Meski demikian, Ketiga konsep di atas merupakan tak lain kemampuan awali manusia yang belum lengkap karena. Demikian R. Soenarto:

Jen napsu-napsu mau wus dadi reh-rehan, angen-angene ija gampang anggone ngereh, supaja ngumpul dadi sidji, utawa dikumpulake dadi sawidji aneng telenging ati, adja kongsi sambung kalawan utek, kang dadi kreteg panggandeng antarane sadulur papat (napsu-napsune) lan sadulure tetelu mau (angen-angene tetelu), supaja ora tansah goreh bujar pating selebar, dening diobahake pakartining napsu-napsu kang isih diumbar (during dihereh).[5]

Analisis Sigmund Freud

Sigmund Freud dikenal sebagai seorang ateis. Ia menolak konsep Tuhan yang selama ini lahir dari kalangan kaum beragama, yang melahirkan ikon-ikon Tuhan dengan sifat kebapak-bapakan. Freud berusaha menekankan bahwa sikap manusia didasari oleh dorongan libidinal. Pandangan Freud ini tidak terlepas dari Psikoanalisis yang tidak bisa menempatkan hakikat fisik dalam kesadaran. Namun ia wajib memandang kesadaran sebagai satu sifat psikis yang mungkin ada di samping sifat-sifat lain.[6]

Untuk memahami Tuhan, terdapat dua tesis yang hendak disampaikan Freud. Pertama, manusia memiliki kehendak berkuasa yang sangat besar. Bagi manusia, alam merupakan sebuah entitas yang hadir untuk dikuasai. Saat muncul kegagalan, manusia akan sadar bahwa ada hal besar yang lebih hebat dari manusia. Kedua, manusia menamai hal yang besar tersebut sebagai Tuhan karena manusia tidak dapat menggambarkannya sebagai hal lain selain yang takterkalahkan. Sifat ini kemudian mengingatkan manusia pada makna “dominasi” yang sebelumnya pernah mereka temui pada sosok ayah. Pada tahap ini, Ego terbentuk. Sebagaimana Freud mengatakan, “Ego pertama-tama dan terutama adalah ego ragawi; ia bukan hanya sebuah entitas permukaan, tetapi ia sendiri adalah proyeksi permukaan.”[7] Manusia selanjutnya menganggap Tuhan sebagai ayah atau yang melindungi dan yang menata atau yang menghakimi segala bentuk keputusan manusia. Namun manusia kerap mengatakan bahwa gagasan itu tersembunyi lalu menafikannya. Artinya, manusia sewaktu-waktu bisa menyentuh kesadaran dan berperilaku atasnya.[8]

Dorongan pertama dan kedua, bagi Freud, merupakan dorongan yang dilandasi dari kecenderungan libidinal manusia, seperti kehendak untuk berkuasa dan kehendak untuk membangun hubungan Oedipus Complex di antara manusia dan Tuhan.[9] Pada tahap ini Ego akan mulai ada namun masih lemah. Manusia menjadi sadar atas objek-kateksis, entah karena menerimanya atau karena berusaha menghalaunya dengan proses represi.[10] Namun manusia berusaha menolak kenyataan tersebut dan menggunakan bangunan alam psikisnya untuk memahami relasinya dengan Tuhan. Tuhan telah termanifestasi menjadi sosok ayah yang menanamkan moralitas. Bagi Freud, jika manusia mengenal Tuhan, ia juga dapat mengenal dirinya sendiri. Hal ini dapat dilihat melalui pendapatnya atas keutuhan manusia atau keilahian manusia yang dimulai dari gabungan antara elemen jantan dan betina.

Bagi Freud, hubungan antara manusia dan Tuhan terbentuk melalui relasi anak dan ayah. Freud merasa bahwa dosa berasal dari konsekuensi libidinal. Hal ini dinyatakan oleh Jones, “Karena neurosis obsesional sebenarnya terjadi karena rasa kehilangan, maka Freud menduga bahwa tabu sebenarnya berarti sebuah penolakan terhadap sebuah hal yang sebenarnya merupakan sebuah dorongan, tapi karena berbagai alasan penting maka hal tersebut dilarang.”[11]

Berangkat dari tesis Freud mengenai Tuhan ini kita dapat melihat bahwa ego adalah bagian dari Id yang dimodifikasi oleh pengaruh langsung dari dunia luar.[12] Sedangkan ego pada dasarnya adalah representasi dari dunia luar. Bertolak belakang dari itu, super-ego adalah representasi dunia internal, representasi Id.[13] Contoh Freud menarik yang digambarkannya dalam pengalaman Leonardo da Vinci ketika mengagumi alam yang sangat indah dan luar biasa. Leonardo bermaksud untuk mengatakan bahwa cinta yang dipraktikkan oleh manusia bukan lah jenis cinta yang tepat dan dapat dibenarkan. Seseorang seharusnya mencintai dengan cara sedemikian rupa sehingga mampu menahan pengaruhnya dan membawanya ke dalam proses refleksi lalu membiarkannya.[14] Bagi Freud, inti dari sifat seperti ini, dan rahasia yang terdapat di dalamnya, muncul setelah rasa ingin tahu yang berhasil melakukan sublimasi atas satu bagian besar dari libidonya ke dalam suatu dorongan untuk melakukan penyelidikan.[15] Keseluruhan sifat ini merepresentasihan dorongan Id yang selanjutnya berhadapan dengan batasan-batasan ego manusia sebagai yang berusaha mengenali segala sesuatu, hingga akhirnya penyikanpan manusia terhadap Tuhan, sebagaimana digambarkan oleh Freud dalam contoh: Kaum Kristiani yang taat atau Kecintaan da Vinci atas keindahan kosmologis merupakan representasi Super Ego yang telah meliputi dua pembagian jiwa yang lainnya.

Perbandingan konsep dalam mengenali Tuhan

Persamaan antara psikoanalisis Freud dan ajaran Pangestu terletak pada afirmasi kemampuan psikologis manusia dalam Tuhan. Tidak kerap ditemui adanya ajaran atau pendekatan yang menyajikan penjelasan psikologis mengenai hubungan manusia dengann Tuhan. Sering kali hubungan ini sudah dimaknai secara rohani sehingga dorongan psikologis sering kali dipinggirkan. Beberapa penjelasan dalam psikoanalisis Freud dan ajaran Pangestu memperlihatkan bahwa aspek psikologis, utamanya mengenai kemampuan manusia menerima konsep Tuhan dan dorongannya, hadir di tengah kehidupan manusia. Aspek psikologis selanjutnya dibagi menjadi beberapa tahap. Misalnya Freud yang menjelaskan mengenai tahap manusia menciptakan figur Bapak, hingga pengagungan Sang Bapak dalam agama. Maupun tahap Prabawa, Pangaribawa, dan Kemayan yang diajukan oleh ajaran Pangestu. Kondisi psikologis keduanya menunjukkan bahwa pada mulanya dan pada kondisi yang seharusnya, manusia melakukan proses pencarian atau pendirian Tuhan dari dalam dirinya. Dorongan ini memunculkan kecenderungan-kecenderungan yang beragam, namun tidak terlepas dari kondisi psikologis manusia.

Perbedaan antara psikoanalisis Freud dan ajaran Pangestu terletak pada titik tolak manusia sebagai yang mengenali Tuhan. Bagi psikoanalisis Freud, Tuhan merupakan objek yang dibangun manusia untuk memuaskan hasratnya dalam penguasaan atas segala sesuatu. Dalam analisis Freud, Tuhan menjadi objek sementara subjek utamanya adalah manusia. Walaupun Tuhan diagungkan, namun pengagungan itu merupakan sikap yang diberlakukan, diberikan pada Tuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan ini merupakan kepercayaan yang artifisial yang lahir dari dorongan psikologi libidinal manusia dalam menjawab kebutuhannya. Semakin seseorang membutuhkan mengakuan atas kekuatannya terhadap alam atau lingkungannya, semakin seseorang tersebut membutuhkan Tuhan, yang akhirnya dimanifestasikan dalam agama.

Sementara itu ajaran Pangestu mengemukakan bahwa manusia dapat mengenali Tuhan karena memiliki modalitas psikologis yang hadir dalam dirinya. Pangestu mengedepankan kemampuan psikologis Prabawa, Pangaribawa, dan Kemayan yang berhubungan dengan tingkatan derajat diri manusia. Manusia yang masih memiliki keterikatan keduaniawian memilliki proses pengenalan psikologis yang berbeda dalam mengenal Tuhannya. Sementara itu manusia yang sudah mengalami penerimaan atas nilai-nilai abstraksi universal akan memiliki proses pengenalan akan Tuhan yang berbeda. Dalam Pangestu Tuhan dapat dikenali berdasakan gambaran, identitas, atau sifat-sifatnya. Bagi manusia yang telah memiliki kesadaran yang cukup tinggi, maka ia akan menerima konsep-konsep Tuhan yang universal. Manusia merupakan subjek yang berusaha mencari kembali Tuhannya. Tuhan merupakan subjek yang Agung sehingga terdapat hubungan intersubjektif yang ilahi antara manusia dan Tuhan. Hal ini membuat seseorang semakin dapat meninggalkan tradisi-tradisi agama dengan tetap menghormatinya, karena Tuhan diamini sebagai yang hadir di mana pun dan kapan pun. Keimanan orang semacam ini adalah keimanan dengan kemampuan tertinggi.

Konsepsi pengenalan Tuhan dalam tradisi modern di Barat cenderung merasionalkan kecenderungan-kecenderungan manusia sehingga secara positif melihat segala sesuatu dengan alasan yang kasat mata. Sedangkan ajaran Pangestu yang lahir dalam tradisi Timur mengamini adanya dorongan manusia untuk mencari yang ilahi, bahkan dalam hubungan dan alasan yang tak kasat mata. Aspek rohani diterima secara menyeluruh sehingga tidak dapat dijelaskan dalam ranah empiris. Tidak seperti psikoanalisis Freud yang berusaha menjawab segala fenomena, termasuk hubungan manusia dan tuhan dalam peristiwa-peristiwa kesejarahan yang termanifestasi dalam data.

Psikoanalisis Freud dan ajaran Pangestu memiliki keunikan dan pendekatannya masing-masing. Freud lebih banyak menyatakan bahwa pengetahuan manusia atas Tuhan merupakan bangunan pemikiran manusia atas kebutuhannya. Manusia merupakan yang unggul di antara segala entitas. Namun saat bertemu dengan alam, ia merasa rentan karena alam tidak dapat ditaklukkan. Dengan demikian maka manusia menciptakan konsep Bapak yang mampu melindunginya sehingga muncullah konsep Tuhan yang maha pelindung dan kuasa. Sementara itu Pangestu lebih menekankan kemampuan psikologis manusia untuk mencari keutamaan ilahi. Terdapat tiga tingkat kemampuan psikologis manusia dalam mengenali Tuhan-nya.

Daftar Pustaka

Freud, Sigmund. Ego dan Id. Tanda Baca. Yogyakarta: 2018.

———-. Leonardo da Vinci: A Memory of His Childhood. Shira Media. Yogyakarta: 2018.

———-. Masa Depan Sebuah Ilusi. Circa. Yogyakarta: 2018.

———-. Totem & Taboo. Shira Media. Yogyakarta: 2017.

Jones, Ernest. Hidup dan Karya Sigmund Freud. IRCiSoD. Yogyakarta: 2015.

Kung, Hans. Ateisme Sigmund Freud. Basabasi. Yogyakarta: 2017.

R. Soenarto. Sasangka Djati. Pusat Paguyuban Ngesti Tunggal. Surakarta: 1963.

Riyanto, Armada, CM. Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Penerbit Kanisius. Yogyakarta: 2018.


[1] R. Soenarto. Sasangka Djati. Hlm. 6

[2] Sebutan bagi orang yang mempelajari Pangestu atau bersatu dalam paguyuban tersebut

[3] [3] R. Soenarto. Sasangka Djati. Hlm. 62

[4] Ibid., 63

[5]  R. Soenarto. Sasangka Djati. Hlm. 65

[6] Sigmund Freud. Ego dan Id. Hlm. 3

[7] Ibid. Hlm. 24

[8] Ibid. Hlm. 4-5

[9] Sigmund Freud. Masa Depan Sebuah Ilusi. Hlm. 20.

[10] Sigmund Freud. Ego dan Id. Hlm. 29

[11] Ernest Jones. Hidup dan Karya Sidmund Freud. Hlm. 402.

[12] Sigmund Freud. Ego dan Id. Hlm. 23

[13] Ibid. Hlm. 40

[14] Sigmund Freud. Leonardo da Vinci: A Memory of His Childhood. Hlm. 59

[15] Ibid. Hlm. 64

Leave a Replay