Untuk Apa Menjadi Manusia di Abad 21?

Untuk apa menjadi manusia ketika semuanya sudah dapat ditangani oleh mesin dan big data?
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Untuk apa menjadi manusia ketika semuanya sudah dapat ditangani oleh mesin dan big data? Tidak dapat dipungkiri nyaris di segala bidang kehidupan bahwa teknologi menjadi peran pengganti manusia dalam membangun peradaban, alih-alih juga turut berperan dalam penghancuran bumi. Apa arti dari semua ini? Apakah kita berada di zaman yang sudah maju atau sebaliknya? Jangan-jangan abad ini adalah abad kemunduran yang pada dasarnya kita berbalik arah dan bunuh diri dari dalam. Sebuah momen di mana kemajuan adalah ilusi kronik dari sudut pandang manusia atas alam semesta. Alih-alih ingin menguasai alam, secara ironis manusia tidak dapat menguasai dirinya sendiri.

Setelah bom atom menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki, manusia tidak cukup puas. Kini manusia mulai mengerjakan proyek ekspansi antar bintang. Bukan hanya bumi yang sudah dikuras habis-habisan, tahun-tahun mendatang manusia memulai perjalanan baru, stasiun luar angkasa akan terbangun, dan selamat datang di stasiun antar planet bahkan antar bintang. Dan tentu, hanya para elite-elite politik, ekonomi, sains, sosial, dan berbagai bidang penting lainnya saja yang dapat merasakan udara panas dan padang pasir planet Mars. Para rakyat pinggiran tetap bergulat dengan kelaparan, penyakit pasaran seperti panu, kudas, mata ikan, dan migrain memikirkan besok mau makan apa. Kemajuan kah hal-hal seperti ini? Sampai kapan diagnosis Marx terhadap sejarah dapat berakhir? Ia mendiagnosis bahwa sejarah dunia adalah sejarah pertentangan kelas (pertentangan antara kelas borjuis dan kelas proletar). Harapan Marx cuma satu, teori dan diagnosisnya atas sejarah tidak benar, bahwa manusia dapat menghapus strata kelas-kelas yang sangat timpang tersebut. Dengan demikian, diagnosis Marx menjadi keliru, Marx dapat tersenyum sumringah, yang entah dia tersenyum di dunia yang antah berantah.

Jika nenek moyang kita cukup bahagia dengan makanan hasil bumi seperti jagung dan beras, dimasaknya menjadi matang, dan ditaburi garam untuk menambah cita rasa, hal seperti itu sudah lebih dari cukup bagi nenek moyang kita untuk merasakan nikmatnya bahagia. Berbeda halnya dengan manusia abad ini, mereka tidak cukup bahagia dengan makanan yang serba lezat seperti burger, pizza, ayam krispi, dan lain lain. Bahkan ironisnya, makanan tersebut melebihi kebutuhan tubuhnya sendiri. Dari kelebihan “sisa makanan” segelintir manusia di muka bumi, hal tersebut cukup untuk memberi makan seluruh orang kelaparan di Afrika. Lantas pertanyaannya, apa kabar deklarasi HAM? Apakah Anda baik-baik saja?

Mengenaskan, tak ayal penyakit ‘si manis’, alias diabetes menjadi “genosida” besar-besaran yang membunuh umat manusia. Bandingkan saja, ISIS hanya membunuh manusia sekitar 7000 orang saja pertahun. Diabetes? 400juta orang setiap tahun terbunuh dan akan terus meningkat! Bukankah ‘gula’ lebih kejam daripada fasisme ‘Sang Fuhrer’ alias Hitler? ‘Sudah’ tidak bahagia dengan fasilitas yang serba-ada, ditambah kerakusan yang tak kunjung habis memperkosa bumi dan memperkosa dirinya sendiri, manusia berada di ambang kepunahan. Alih-alih kemajuan, keliru sedikit dalam mempertimbangkan gerak sejarah, peradaban manusia terancam punah, tak tersisa sama sekali.

Lantas, apa artinya bahagia di zaman ini? Bukankah lebih baik hidup sederhana dengan alam seperti nenek moyang kita, tetapi merasa bahagia dan berkecukupan? Daripada hidup dengan gegap gempita teknologi, tetapi penuh dengan depresi dan penyakit psikis lainnya. Nietzsche benar, manusia pada abad 20 dan 21 akan melakukan “re-evaluasi nilai” besar-besaran. Manusia menjadi gamang akan nilai dan sudut pandangnya terhadap dunia, pengoreksian secara menyeluruh mulai dikerjakan. “Nilai-nilai” lama warisan abad modern menjadi semakin “bangkrut”, alam menegur manusia dengan teguran keras, “berteman dengan alam, atau tidak sama sekali”, begitu sabda dari suara keresahan dalam diri manusia.

‘Re-evaluasi nilai’ pertama-tama datang untuk mempersoalkan kembali “humanisme” sebagai hasil pemikiran terbesar dari sudut pandang modernisme. Kekerasan kepada di luar subjek manusia adalah dampak tak terelakkan dari humanisme-yang terpenting adalah manusia, manusia adalah sumber dari segala sesuatu. Arogansi tersebut membuat manusia sendiri bunuh diri, ironisnya, ini tidak disadari pada abad 20 dan 21 awal. Setelah ‘re-evaluasi nilai’, manusia tampak sadar sedang berada di tepi jurang kepunahan. Kesadaran ini tercermin dari adanya gerakan ekologis, hak asasi binatang, dsb. Humanisme hasil dari pemikiran abad modern dari abad 18-19 M nyaris bangkrut dan gulung tikar. Melalui pendekatan sains sekalipun, binatang mempunyai sisi afeksi dan emosional. Mereka juga memiliki sistem hormonal, neurologis, dan sistem cerebrum untuk mengolah fungsi organik yang datang dari impuls luar. Sains mengkritik humanisme dalam konteks bahwa manusia dan binatang lainnya semacam gorila, burung, dan binatang lainnya juga mempunyai sisi emosional dan afeksi. Humanisme yang sangat bercorak antroposentris menjadi tidak relevan lagi, manusia mulai mendengar suara the-Other, suara yang-Lain dari dirinya sendiri. Benarkah sains dapat mengkritik humanisme dengan cemerlang? Arogansi mulai ditundukkan, sayangnya, humanisme ini belum sepenuhnya “bangkrut”, aroma jurang kepunahan tetap menghantui umat manusia.

Mengapa humanisme tidak benar-benar bangkrut dan gulung tikar? Sederhana, melalui manusia, alam semesta mengenal dirinya sendiri. Manusia cukup mampu menanggulangi bencana yang mulai menghantui di masa depan. Dengan ramalan-ramalan sains-meski ramalan itu tidak pernah absolut-dapat meramalkan kejadian-kejadian ‘fisis’ dari alam semesta. Sebagai contoh, matahari akan colapse dan runtuh 4 miliar tahun lagi, mau tidak mau, manusia harus mempersiapkan “hunian” baru selain bumi yang kita tinggali saat ini. Memanfaatkan kemajuan sains itu sendiri, manusia mulai menyediakan alternatif-alternatif lain seperti membuat dunia baru di luar angkasa dan ekspansi antar planet untuk hunian baru, dan mulai memanfaatkan metode budidaya hasil rekayasa genetika untuk mencukupi konsumsi umat manusia.

Vice versa! Sains membuat konsumsi membludak, produksi menjadi berlebihan. Alih-alih hanya ingin mencukupi, konsumsi menjadi membludak dan berakhir pada budaya “konsumerisme”. Tragisnya, angka kelaparan di Afrika, Haiti, Timur Tengah, dan negara-negara “terbelakang” lainnya relatif cukup tinggi. Kritik atas humanisme melalui sains memakan korban lagi, paradoksnya itu melanggar nilai-nilai humanisme yang kita percayai. Alhasil, manusia untuk kedua kalinya terjebak pada ‘humanisme’ tetapi dalam bentuk yang berbeda. Permasalahan ini erat berkelindan dengan ekonomi-politik global yaitu neo-kapitalisme-atau dapat dikatakan, neo-liberalisme. Sudut pandang eko-pol ini menjadi kebebasan-semu, dan bahkan berada di ambang kebangkrutan pula. Jelas sekali, sistem liberalisme di dasarkan pada paradigma humanisme, bersamaan dari itu pula, kebangkrutan dari keduanya berada di depan mata.

Mau tidak mau, manusia abad ini berada di ruang ‘antara’. Satu sisi humanisme tidak seluruhnya bangkrut, di sisi lain, kepunahan karena disebabkan humanisme di depan mata. Menghilangkan sisi kemanusiaan sama sekali juga berarti bunuh diri, melebihkan sisi kemanusiaan membuat arogansi dan bunuh diri ‘eksistensial’ secara perlahan. Suatu situasi hibrid, maju kena-mundur kena. Lantas, pertanyaan yang relevan untuk kondisi seperti ini adalah, untuk apa menjadi manusia?

Menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah, ketika berada di ruang ‘antara’, mensyaratkan tegangan di antara dua ‘kutub’ yang saling tarik menarik. Apakah jalan moderat cukup meyakinkan untuk situasi hibrid antara humanisme dan kosmosentrisme ini? Tidak, jalan tengah hanya kata lain dari melanggengkan status quo. Alih-alih ingin mengubah warisan lama yang sudah bangkrut seperti humanisme, kita semakin terjebak di dalam kegamangan terus menerus, dan alhasil tidak dapat mengubah apa-apa.

Lantas, apakah jalan lain seperti yang ditawarkan teknologi cyborg untuk menggantikan fungsi manusia yang penuh dengan ‘kelalaian’ memungkinkan? Teknologi robotik akan cukup mampu menggantikan ketidakstabilan yang dihasilkan ulah tangan manusia itu sendiri. Begitulah keyakinan para saintis-alih-alih saintis yang reduksionis lebih mempercayai keyakinan ini. Di sisi lain, pertimbangan ini tidak cukup meyakinkan, teknologi robotik mutakhir tetap bergantung pada operasi manusia. Tanpa manusia, robot tidak akan menjalankan fungsinya. Di sinilah titik di mana, kategori ‘imperatif’ manusia menjadi titik sentral.

Manusia misalnya, dari banyak teknologi canggih lainnya dapat menciptakan mobil yang dapat menyupir sendiri secara otomatis yang diatur melalui teknologi algoritma. Tetapi, teknologi algoritma tidak dapat menimbang nilai etis secara langsung dan otomatis. Contohnya, terdapat ada anak kecil di depan mobil otomatis tersebut, jika tidak membanting setir anak akan terbunuh, jika membanting setir akan membunuh kakek dan nenek di trotoar. Apa yang dilakukan oleh mobil otomatis tersebut? Bukankah ini memerlukan pertimbangan etis, yang selama ini membutuhkan kesadaran umat manusia yang tidak dimiliki oleh teknologi cyborg? Alasan para saintis adalah memprogram nilai etis di dalam sistem algoritma mobil otomatis tersebut. Ambil saja contoh etika ‘deontologi’ Immanuel Kant. Dari sikap etis a la Kantian ini maka mobil otomatis tersebut akan memilih membanting setir dan membunuh kakek dan nenek tua di trotoar, dikarenakan pertimbangan bahwa kakek dan nenek tersebut sudah cukup lama merasakan ‘dunia’. Dengan kata lain, sikap etis hasil dari refleksi Kant menjadi sesuatu sistem yang ditanam dalam algoritma. Sederhananya, jika kejadian ini, maka yang dilakukan itu, setelah dilakukan itu maka lakukan ini… dan seterusnya, inilah yang dinamakan algoritma.

Mau tidak mau, sistem algoritma robotik tetap membutuhkan refleksi kesadaran manusia dalam memprogram sikap etis tersebut untuk ditanam dalam sistem algoritma. Untuk saat ini, robot tidak mampu menimbang sikap etis. Bom atom Hiroshima tidak mempertimbangkan kemanusiaan. Jika atom dibelah maka akan terjadi ledakan maha hebat, atom hanya menjalankan sifat-sifat ‘fisis’ hukum alam. Manusia? Ya, manusia menghendaki ledakan tersebut. Dalam artian, bahwa setiap manusia tidak pernah netral, tetapi objektifitas selalu memungkinkan.

Jika teknologi cyborg tidak memungkinkan dalam merumuskan suatu corak baru atas ‘kebangkrutan’ humanisme, lantas apa yang mungkin menyelamatkan kepunahan umat manusia? Jalan alternatif lain adalah, merubah manusia itu sendiri dari dalam. Jika ditilik lebih luas lagi, ‘kebangkrutan’ dari semua ini adalah dampak dari corak pemikiran modernisme yang serba mereduksi, dan berdampak pada pemikiran yang bersifat ‘instrumental’. Artinya, corak berpikir ‘instrumental’ ini adalah corak berpikir yang mengkalkulasi, menguasai, menundukkan, dan eksploitatif. Maka, untuk mengatasi corak berpikir seperti itu adalah-meminjam istilah Heidegger, “das andenkende Denken”-mengubah pola berpikir manusia menuju corak berpikir “yang-memperhatikan”. Menolak pemikiran instrumental yang serba mereduksi tersebut, Heidegger menawarkan sebuah corak berpikir yang sama sekali berbeda. Manusia harus menyadari kondisi eksistensialnya, mendengarkan makna keseharian yang selalu menuju kematian. Di sinilah tawaran baru menjadi alternatif berikutnya, manusia tidak akan pernah bisa meninggalkan ‘humanisme’ dalam keutuhannya, tetapi manusia sendiri dapat melampauinya, inilah kondisi yang perlu dicoba, sebuah peristiwa ‘post-humanisme’.

Sebuah momen melampaui ‘humanisme’ melalui “corak berpikir yang-memperhatikan” adalah membuang asumsi-asumsi terhadap ‘sesuatu’ yang terbenam dalam konsep-konsep kita. Dengan kata lain, melihat ‘sesuatu’ itu secara baru, menghargai secara utuh ‘sesuatu’ itu kepada diri kita. Dalam konteks ini corak berpikir yang-memperhatikan adalah menempatkan segala ‘sesuatu’ menjadi subjek. Misalnya, jika kita mendapati pohon yang tidak kita ketahui dan melihatnya pertama kali di hutan, mau tidak mau dengan segenap ketidaktahuan, kita mencoba untuk memahaminya secara benar dan terus bertanya pada dalam diri kita sendiri, ‘apa’ dan ‘bagaimana’ pohon tersebut. Hal tersebut memungkinkan, jika, dan hanya jika kita menunda asumsi-asumsi yang kita punya. Kita menjadi seorang anak polos yang terus menerus menyadari ketidaktahuan kita, melihat sesuatu secara baru terus-menerus. Corak berpikir seperti inilah yang tidak dipunyai oleh ‘modernisme’. Mereka mendambakan keutuhan, dan menundukkan segala sesuatu menurut konsep ‘ideal’ manusia sehingga berujung pada ‘instrumentalisasi’, atau meminjam istilah Heidegger sebagai das rechnede Denken (pemikiran yang-memperhitungkan). Hal ini sangat jelas tampak di dalam paradigma Sains dengan arogansinya yang ingin menguasai alam semesta. Tak ayal, sains di satu sisi menyumbang teknologi yang mengesankan, di sisi lain, berada di puncak pertama penyebab genosida masal umat manusia.

Begitu sulit menjawab pertanyaan untuk apa menjadi manusia di abad yang penuh “kegamangan” ini. Apakah kita serta merta menerima pertimbangan yang ditawarkan Heidegger untuk dapat mempertanyakan kondisi keseharian kita secara ‘ontologis’ dalam mengatasi permasalahan abad ini? Terdapat celah yang cukup untuk menambahkan sedikit kekurangan dalam pemikiran Heidegger. Jika kita menggunakan corak berpikir ‘yang-memperhatikan’ dan mengatasi corak berpikir instrumental dan metafisis, lantas apakah manusia akan benar-benar terlepas dari ancaman kepunahan? Tidak, jika berpikir ‘yang-memperhatikan’ mensyaratkan penundaan asumsi-asumsi maka hal tersebut hanya membuat ‘sesuatu’ tersebut seperti ‘apa adanya’ dalam kebaruannya terus menerus, manusia hanya menjadi ‘subjek’ pasif. Dengan kata lain, kita hanya melanggengkan status quo dari kondisi teknologi. Hal tersebut tidak memungkinkan dalam mengkhayati kondisi teknologi cyborg abad ini. Kita tidak bisa ‘pasif’ dalam kondisi abad 21.

Di sisi lain, kita tidak dapat mengabaikan begitu saja argumentasi Heidegger yang mampu merombak struktur epistemologi modern. Maka, aktifitas berpikir yang mungkin di dalam kondisi zaman ini adalah, berpikir ‘yang-memperhatikan’ tanpa terjebak di dalam ‘pasifitas’. Artinya, tidak mungkin kita secara pasif mengkhayati dan menampakkan teknologi atau barang-barang hasil berpikir instrumental dan mendapatkan makna-dari-ada-nya tanpa asumsi-asumsi, melainkan kita wajib merubah cara berpikir yang ‘pasif’-memperhatikan, dan mengubahnya menjadi cara berpikir ‘aktif’-memperhatikan. Kita bukan lagi ‘penggembala Ada’ seperti yang dikatakan Heidegger. Tetapi kita, di titik ekstrimnya, adalah ‘pengatur Ada’, tidak lagi aktif-sekaligus-pasif seperti ‘penggembala’. Kita harus senantiasa ‘aktif’ dalam merenungkan, memikirkan, dan mengubah Ada itu sendiri. Jika sifat ‘pasif’ a la Heidegger di buang, dan yang tersisa adalah ‘aktif’-nya, maka manusia mampu ‘menolak’, setidaknya ‘menunda’ kepunahan di masa depan dengan cara ‘menolak’ dan memperbarui realitas saat ini. Pengkhayatan akan ‘eksistensial’ manusia menjadi mungkin, dan di sisi lain mempunyai dorongan kuat untuk mengubah realitas. Di satu sisi, kita tidak terjerat dalam berpikir ‘metafisis’ dan ‘instrumental’, di sisi lain tidak terjerembab dalam pasifitas yang hanya mengkhayati makna-Adanya, dan tidak mengubah apa-apa.

 Menjadi manusia pada abad ini bukan perkara mudah ketika nyaris di segala bidang sudah dapat digantikan dengan teknologi robotik. Satu-satunya yang ‘belum’ terjelajahi oleh teknologi terbarukan adalah kesadaran dan daya refleksi atas realitas. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah manusia abad ini harus mampu mengatasi dan melampaui ‘humanisme’ yang sedang bangkrut, di sisi lain tidak boleh meninggalkan hal yang begitu enigmatik yang bernama kesadaran. Me-reevaluasi nilai seperti yang dikatakan Nietzsche belum cukup, mau tidak mau kita harus merevisi sampai corak terdasar pemikiran umat manusia yang sudah, dan telah berjalan ribuan tahun. Pencarian habis-habisan untuk membongkar, merubah ‘yang-misteri’ menjadi “yang-misteri-baru” tanpa pernah menemukan titik final. Dengan demikian kondisi post-humanisme telah memungkinkan. Kata ‘selesai’ hanya mungkin, ketika tidak ada lagi yang bernama kesadaran.

Lantas, apakah manusia ditakdirkan untuk punah dan “selesai”? Dengan kata lain, kesadaran tiada, manusia telah punah tak tersisa sama sekali. Alam semesta kehilangan salah satu, bahkan “satu-satu”nya hal untuk dapat mengenal dirinya sendiri. Karena hanya kitalah yang mampu, dan telah mampu memikirkan Ada. Apakah Ada turut punah bersamaan dengan punahnya manusia? ***

Leave a Reply

Baca Lagi

Close Menu