Skip to content

Waktu, Sejarah, dan Ketidakpastian

Print Friendly, PDF & Email

Dalam keseharian, manusia selalu dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai waktu. Misalnya kapan waktunya uts? jam berapa kuliah? dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini sangat berhubungan dengan konsep waktu. Ketika anda telat untuk hadir dalam suatu acara atau momen tertentu, anda akan menerima kritik . Lalu apa yang sebenarnya yang dipermasalahkan? Waktu kah? Manusia sering salah kaprah dalam mempersepsikan waktu.  Manusia terjebak pada waktu sebagai angka, padahal waktu adalah proses mengada, menjadi dan terus bergerak. Artinya setiap hal yang dilakukan selalu diselimuti oleh waktu. Apapun kegiatan kita dari suatu kegiatan ke kegiatan lainnya. Waktu adalah hal pokok yang menjadikan alam semesta bergerak, tidak terkecuali kita sebagai manusia.

Waktu

Bayangkan apabila terdapat sebuah gelas yang jatuh ke tanah, lalu apa yang akan terjadi? Sebelumnya, pastilah ada yang menyebabkan gelas tersebut jatuh dan pecah berkeping-keping. Gelas tersebut bergerak dari atas meja menuju lantai dan akhirnya pecah. Demikian senada dengan pendapat Whitehead[1] bahwa alam semesta bukanlah fakta statis yang tergeletak dalam kehampaan yang tidak dinamis, tapi suatu struktur peristiwa yang sifatnya terus menerus mengalir secara kreatif. Artinya, semesta terus bergerak dan bukan suatu produk. Maka, alam semesta dalam ketakterbatasannya bersifat potensial. Sama seperti gelas tadi yang semula utuh (aktual) memiliki potensialitasnya yakni selain bentuk gelas tersebut, yaitu menjadi berkreping-keping, dan kepingan-kepingan gelas membentuk sebuah aktualitas baru.

Seperti gelas tadi, perubahan dari gelas menuju pecahan berkeping-keping terikat pada waktu. Hakikat waktu dalam fisika modern adalah tidak ada kelanjutan mengenai waktu dalam hal materi. Proses perkembanganmelibatkan proses-proses yang berbeda secara kualitatif. Kualitas gelas kaca akan berubah menjadi pecahan-pecahan kaca ketika jatuh sehingga kualitasnya pun berbeda. Waktu memeluk semua dalam bentuk masa lalu dan masa depan. Masa lalu merupakan kejadian-kejadian yang telah tertutup akan kemungkinan-kemungkinan, sedangkan masa depan adalah kemungkinan-kemungkinan yang terbuka. Gelas yang telah pecah tidak akan dapat kembali menjadi gelasgkecuali ada yang membuat pecahan tersebut menjadi gelas baru lagi (objek efisien). Gelas yang telah pecah inilah yang disebut kemungkinan-kemungkinan yang tertutup (masa lalu) sekaligus terbuka menjadi hal-hal lain selain kepingan gelas (masa depan). Contoh kemungkinan terbuka adalah misal, disusunnya pecahan-pecahan itu menjadi sebuah piring. Inilah yang dinamakan potensialitas.

Coba bayangkan dua jam ke depan akan terjadi sesuatu dan itu harus bersifat pasti. Dapatkah kita meramalkan sebuah kepastian dalam dua jam ke depan? Tidak bisa. Katakanlah; dua jam kedepan pasti mantan ku akan datang ke Malang, pernyataan tersebut bukanlah hal yang pasti melainkan hanya sebuah perkiraan semata. Tidak ada yang benar-benar pasti di depan sana. Masa depan tak dapat dikalkulasi tetapi hanya dapat dipersiapkan menurut Derrida.[2] Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kemungkinan-kemungkinan yang terbuka dan alam semesta yang dinamis. Semuanya bergerak, tidak ada yang diam. Sekalipun anda tertidur, tiada gerakan sedikit pun,  jantung anda akan terus memompa darah agar tetap hidup. Dengan demikian waktu adalah proses keberadaan, maka semua perjalanan menuju masa depan mensyaratkan ketidakpastian dan sebuah misteri.

St. Agustinus membagi waktu menjadi dua, waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu objektif adalah waktu yang berada mandiri di luar manusia atau subjek, waktu subjektif adalah waktu menurut akal budi. Immanuel Kant mengkritik waktu objektif, waktu berada dalam diri manusia bukan di luar dan secara mandiri terpisah dari manusia. Contoh; ketika anda bersama kekasih anda maka waktu akan terasa sangat cepat. Hal menjadi berbanding terbalik ketika anda duduk di atas tungku panas selama sedetik. Waktu seakan akan terasa sangat lama. Inilah yang dinamakan waktu subjektif, Pernyataan ini nantinya akan dikembangkan oleh Albert Einstein.

Ruang selalu terikat dengan waktu, dan waktu selalu terikat oleh kesadaran manusia. Manusia akan terus mengada dalam ketiganya (ruang, waktu, dan kesadaraan) dalam satu kesatuan. Dalam keseharian manusia selalu berhubungan dengan sesamanya dan berinteraksi. Dalam interaksinya manusia menemukan makna akan kehidupannya, ada bersama dengan sesamanya dinamakan Mitdasein oleh Heidegger. Bagi Heidegger, waktu adalah horizon manusia, ia terlempar di dunia (Dasein)[3]. Manusia berhadap-hadapan dengan keberadaannya sekaligus menyadari. Apa yang diserap indrawi adalah nyata dan eksis. Dalam proses berada manusia dengan dinamisnya konsep waktu akan menghasilkan benturan-benturan eksistensial dalam ruang dan waktu di dunia. Ambil saja contoh keadaan ketika anda sedang menuju sebuah pantai untuk berlibur dan mendapat kabar buruk bahwa teman anda di kontrakan sedang sakit. Seketika anda mengurungkan niat menuju pantai dan akhirnya membuat ingatan sekaligus sebuah sejarah dalam kehidupan yang berkenaan dengan kondisi teman Anda saat itu dan di masa yang sebelumnya. Dengan demikian, ketidakpastian merupakan hal yang pasti dalam keberadaan manusia.

Sejarah dan Kepastian

Sejarah merupakan hasil dari benturan-benturan eksistensial. Di sisi lain keluasan pemahaman dan kritik merupakan bahan bakar sejarah untuk terus bergerak. Lantas, apakah sejarah terdiri atas tiga konsep waktu pada satu pijakan yang sama? Tiga konsep waktu di sini adalah masa lalu, saat ini dan masa depan.
Sejarah ditandai dengan peristiwa-peristiwa penting yang menandai sesuatu. Kejadian-kejadian dalam sejarah tetap terikat dalam ruang dan waktu. Sejarah mempunyai rasionalitas dan kesadarannya sendiri, katakanlah pada Abad Pertengahan rasionalitas dan kesadaran bercorak teologis dan modern dengan hadirnya rasionalisme dan empirisme. Melalui gambaran tersebut dapat diketahui bahwa setiap zaman mempunyai corak pandangnya sendiri terhadap dunia.

Dalam tiga konsep waktu, semua berdiri pada satu kesatuan pada saat ini. Masa lalu menamakan saat ini sebagai masa depan. Masa depan menamakan saat ini sebagai masa lalu. Jadi kita berdiri dalam suatu konsep masa depan dan masa lalu dengan keberadaan saat ini. Masa lalu adalah saat ini yang telah dijalani dan yang telah bergerak, sedangkan masa depan adalah jalan-jalan yang akan dilalui. Sebagaimana pada contoh gelas yang telah pecah, kepingan-kepingan adalah masa depan bagi gelas, dan gelas merupakan masa lalu bagi pecahan-pecahan. Hal ini berlaku bagi semuanya dan tidak terbatas pada gelas saja.

Kesimpulan

Manusia selalu dihadapkan dengan masa depan. Sedangkan masa depan hanya dan “jika hanya”, ia merupakan misteri. Jika ia bukan sebuah misteri dan tergeletak apa adanya, ia bernama saat ini dan akan menjadi masa lalu. Lantas, apakah kita akan pasrah dan pesimis terhadap kehidupan? Takut akan kejadian tragis di masa depan? Bukankah karena misteri itu sendiri kehidupan sangat menarik untuk dijalani? Jika kita pasrah dan pesimis akan masa depan maka sama saja dengan membawa akal budi kepada tiang gantungan.

[1] Ohaitimur, Johanis. 2006. Metafisika sebagai Hermeneutika. Jakarta: OBOR. Hlm.126

[2] Al-Fayyadl, Muhammad. 2006. Derrida. Yogyakarta: LKiS

[3] Heidegger, Martin.1996. Being and Time. Terj. Joan Stambaugh. New York: State University of New York Press.

Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.