fbpx

Paul Lazarsfeld, Media Massa, dan Relevansinya Hari Ini

Di era ini, aktivisme mungkin tetap hidup, namun sifat reaksioner dapat dengan mudah tumbuh dibandingkan dengan penyikapan-penyikapan revolusioner.

Agaknya sulit membayangkan dunia komunikasi massa tanpa gagasan-gagasan dari Paul Felix Lazarsfeld. Sebagai contoh, Lazarsfeld adalah orang pertama yang membuat model two step flow of communication yang menyatakan bahwa pengaruh media massa akan semakin kuat jika informasinya disampaikan melalui para penggiring opini (opinion leaders). Contoh penerapan model tersebut mudah sekali kita temui setiap saat di media massa, ketika banyak orang begitu mudah percaya pada kata-kata “orang terkenal”. Sebelum two step flow of communication diajukan oleh Lazarsfeld, media massa percaya pada model yang merumuskan bahwa hanya dengan intensitas komunikasi terus menerus, orang kemudian dapat terpengaruh (one step flow of communication).

Paul Felix Lazarsfeld lahir di Wina, Austria-Hungaria pada tahun 1901. Pada sekitar tahun 1920, Lazarsfeld tergabung dalam kelompok intelektual bernama Lingkaran Wina. Lazarsfeld muda sudah dapat bergaul dengan para pemikir besar Wina seperti Otto Neurath dan Rudolf Carnap. Hal yang menarik dari Lazarsfeld muda adalah ketertarikannya yang kuat di wilayah ilmu sosial – yang sebenarnya tidak terlalu populer di kalangan pemikir Lingkaran Wina. Hal yang membuat Lazarsfeld tetap diterima di lingkungan Lingkaran Wina, yang notabene diisi oleh pemikir-pemikir di bidang eksakta, adalah karena Lazarsfeld memasuki wilayah ilmu sosial lewat kepandaiannya yang menonjol di bidang matematika dan penelitian kuantitatif.

Pada tahun 1933, Lazarsfeld berkesempatan untuk pergi ke Amerika Serikat atas pembiayaan dari Rockefeller Foundation. Meski rencana awalnya hanya berdiam di Amerika Serikat selama dua tahun, namun situasi di Eropa yang mulai memanas akibat menguatnya pengaruh Nazi, membuat Lazarsfeld yang seorang Yahudi Eropa tidak dapat memutuskan untuk kembali ke Wina. Lazarsfeld melanjutkan karir dan hidupnya di Amerika Serikat sebagai peneliti di University of Newark sebelum kemudian pindah ke Columbia University. Lazarsfeld meninggal pada tahun 1976 di New Jersey, Amerika Serikat.

Teks Kanon Media Massa

Pada tahun 1948, Lazarsfeld bersama rekannya, Robert K. Merton menulis artikel berjudul Mass Communication, Popular Taste, and Organized Social Action yang memberi pengaruh besar, terutama dalam konteks Amerika Serikat yang pada masa itu tengah membangun kekuatan melalui media massa. Meski demikian, Mass Communication, di sisi lain juga merupakan tulisan yang berupaya mengingatkan masyarakat di kala itu – yang mungkin relevan juga hingga hari ini – mengenai bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh media seperti radio, televisi, ataupun koran.

Pada bagian artikel tersebut yang berjudul Impact upon popular taste, Lazarsfeld melihat bagaimana media massa ini punya peran penting dalam membentuk selera pasar. Pemikiran semacam itu mungkin terdengar sangat lumrah bagi para akademisi hari ini. Namun di tahun-tahun pasca perang dunia, belum pernah ada yang menuliskan dengan sedemikian kritis seperti Lazarsfeld. Lazarsfeld mengakui bahwa keberadaan media massa membuat akses masyarakat terhadap banyak hal semakin mudah, termasuk pula di antaranya seni-seni tinggi yang tadinya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Namun di sisi lain, akses tersebut berbanding terbalik dengan kemampuan dalam memahami. Lazarsfeld memberi ilustrasi lewat kegiatan membaca yang kalimatnya adalah sebagai berikut: “People read more but understand less. More people read but proportionately fewer critically assimilate what they read.”

Kemudian Lazarsfeld melanjutkan analisisnya pada fungsi-fungsi sosial yang ditimbulkan oleh media massa. Poin-poin ini begitu penting sehingga Mass Communication kerap dijuluki sebagai “teks kanon media massa”. Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut:

  • Fungsi penganugerahan status (The status conferral function) – Melalui media massa, seorang individu, kelompok, organisasi, atau kejadian tertentu dapat terangkat statusnya, jika diberitakan secara baik atau positif oleh media. Anggapannya (terutama di masa itu), media massa adalah saluran yang netral dan dapat dipercaya, sehingga apa yang diwartakan dianggap sebagai “kebenaran”.
  • Fungsi penegakan norma sosial (The enforcement of social norms) – Melalui media massa, persoalan normatif yang terjadi di wilayah privat, dapat diangkat dan diberitakan untuk menjadi konsumsi publik. Dapat dikatakan bahwa media massa mempersempit jarak antara ruang privat dan ruang publik. Contohnya, pemberitaan di media massa tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang politisi, membuat publik enggan memilih kembali politisi tersebut di pemilu mendatang.
  • Fungsi pembius atau candu (The narcotizing dysfunction) – Melalui media massa, orang menjadi terinformasikan dengan berbagai isu. Namun dalam analisis Lazarsfeld, hal ini justru berbanding terbalik dengan respons dalam bentuk aksi sosial. Di bagian ini, Lazarsfeld melihat bahwa media massa dapat membius orang untuk seolah-olah tahu dan peduli, walau sebenarnya setelah orang tersebut mendengar acara radio favoritnya dan membaca koran, ia akan pergi tidur (dan melupakan keinginannya untuk beraksi secara langsung). Lazarsfeld melukiskannya lewat sebuah paragraf yang sangat tajam, yang mungkin bisa kita renungkan dalam konteks hari ini:

He comes to mistake knowing about problems of the day for doing something about them. His social conscience remains spotlessly clean. He is concerned. He is informed. And he has all sorts of ideas as to what should be done. But, after he has gotten through his dinner and after he has listened to his favored radio programs and after he has read his second newspaper of the day, it is really time for bed.”

hlm. 239

Meski media massa yang dimaksud Lazarsfeld masa itu sudah satu per satu berguguran di hari ini (televisi, koran, radio) dan digantikan oleh media digital, namun tulisan Mass Communication tetap tidak dapat dikatakan usang. Pada kenyataannya televisi, koran, dan radio, masih tetap hidup namun bertransformasi dalam bentuk yang berbeda. Hanya saja, Lazarsfeld belum berkesempatan untuk membayangkan bahwa dalam konteks digital, segalanya berlangsung begitu kompleks: siapa pun bisa menjadi penggiring opini lewat misalnya fitur user generated content. Siapa pun bisa memberi “penganugerahan status” bagi orang atau kejadian yang dikehendaki, dan siapa pun dapat mengangkat hal pribadi untuk dikonsumsi publik.

Apa yang dibayangkan Lazarsfeld sebagai media yang dapat membentuk selera publik, ternyata hari ini dapat dibalik: selera publik yang dapat menyetir media. Misalnya, seorang YouTuber yang membuat konten sendiri dengan alat-alat milik sendiri, menjadi diminati banyak orang dan bahkan media kemudian memberitakannya. Atau, pasti sudah tidak asing, bahwa media sekarang ini membuka kanal-kanal bagi jurnalisme warga (citizen journalism), yang membuat siapa pun tanpa harus punya latar belakang jurnalistik hingga dapat mewartakan kabar ke seluruh dunia.  

Jika perkembangan media sudah sedemikian berubah, maka sisi sebelah mana dari pemikiran Lazarsfeld dalam Mass Communication yang kiranya masih dapat ditarik sebagai relevansinya untuk kondisi hari ini? Kita bisa perhatikan poin yang ia rumuskan dalam the narcotizing dysfunction, yang mungkin bisa mengingatkan kita pada beraneka gerakan sosial yang ada di kanal media sosial. Kita lihat sudah seberapa sering orang berupaya mengubah persoalan sosial melalui situs petisi seperti change.org atau program urun daya (crowdfunding) lokal semacam kitabisa.com. Meskipun secara tampilan mengesankan, namun kita tidak pernah tahu apakah gerakan-gerakan sosial tersebut benar-benar bisa mengubah keadaan atau, kalau pun bisa mengubah, entah seberapa besar dan nyata efeknya.

Analisis ini tidak bertujuan untuk mengecilkan arti dari program-program petisi atau donasi sejenis. Dalam konteks ini, yang perlu diingat adalah bagaimana Lazarsfeld dengan tulisannya mewanti-wanti kita untuk tidak merasa sudah bersikap padahal hanya sampai pada tahap mengetahui saja. Celakanya, di masa ini muncul istilah click activism untuk orang-orang yang merasa sudah tahu, berbuat, namun pada kenyataannya, tidak jelas apakah aktivismenya tersebut benar-benar mengubah atau tidak. Hal yang lebih mengerikan selanjutnya adalah jika kemudian seseorang meletakkan dirinya pada ilusi bahwa ia telah menjadi aktivis hanya dengan duduk di depan gawai atau memainkan mouse-nya. Di era ini, aktivisme mungkin tetap hidup, namun sifat reaksioner dapat dengan mudah tumbuh dibandingkan dengan penyikapan-penyikapan revolusioner.

Referensi

Jeřábek, Hynek. (2001). Paul Lazarsfeld — The Founder of Modern Empirical Sociology: A Research Biography. International Journal of Public Opinion Research 13: 229 – 244.

Lazarsfeld, Paul & Merton, Robert K. (1948). Mass Communication, Popular Taste, and Organized Social Action dalam Bryson L. (ed.), The Communication of Ideas. New York: Harper.

Pollak, Michael. 1980. Paul F. Lazarsfeld: A Sociointellectual Biography. Knowledge. 2 (2): 157 – 177.

Syarif Maulana

Syarif Maulana adalah mahasiswa doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, pengajar di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, inisiator kelas belajar daring Kelas Isolasi (@kelas.isolasi), dan penulis buku Kumpulan Kalimat Demotivasi: Panduan Menjalani Hidup dengan Biasa-Biasa Saja (Buruan & Co., 2020).

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.