Menulis untuk kami

Jika kamu memiliki perenungan yang mendalam, segera kobarkan! Ingatan tidak kuat melawan waktu.

Anda dapat berkontribusi dengan mengirim artikel ke redaksi@lsfdiscourse.org Adapun hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Refleksi merupakan wadah bagi para kontributor untuk menuangkan gagasannya pada isu-isu terkini dan perenial secara filosofis;
  • Kajian Tokoh merupakan wadah pembahasan pemikiran tokoh-tokoh filsafat (baik klasik maupun kontemporer). Tulisan yang dimuat dalam Kajian Tokoh harus bernuansa semi-ilmiah dengan mencantumkan rujukan yang jelas;
  • Ulasan dibagi menjadi dua jenis, yaitu Buku dan Film. Ulasan menyediakan wadah untuk mengulas buku dan film secara filosofis;
  • Format berkas .doc atau .docx, 300 – 3000 kata, Huruf Times New Roman ukuran 12, Spasi 1,5, marjin 3 : 3 : 3 : 3;
  • lsfdiscourse.org tidak memberikan uang honorarium kepada kontributor;
  • Kontributor harus mencantumkan nama lengkap, profil singkat, foto pribadi, dan akun media sosial di dalam berkas yang akan dikirim;
  • Tulisan akan disunting oleh Tim Redaksi sebelum ditayangkan;
  • Tulisan yang sudah ditayangkan di lsfdiscourse.org dapat ditayangkan di tempat lain dengan syarat harus mencantumkan bahwa tulisan tersebut pernah ditayangkan di lsfdiscourse.org.

Redaksi lsfdiscourse.org mengundang kawan-kawan untuk menulis artikel dalam bentuk refleksi, ulasan buku/film, kajian tokoh atau fenomena dalam sudut pandang filosofis. Ajakan ini merupakan bagian dari semangat kami untuk terus membangkitkan diskursus filsafat di tengah kehidupan sehari-hari. Pada triwulan Juni-Juli-Agustus 2020 ini kami memilih tema ‘Dunia yang Tak Lazim’ dalam usaha merengkuh makna dalam konteks keseharian dunia yang tidak baik-baik saja. Namun tentu saja kawan-kawan dapat bebas mengirimkan karyanya tanpa harus terikat dengan tema yang telah ditentukan.

Kawan-kawan dapat berbagi wawasan dengan mengirimkan artikel ke lsfdiscourse@gmail.com dengan menyertakan bio singkat seperti nama lengkap, nomor hp, akun media sosial (Instagram/Facebook/Twitter), komunitas atau instansi, aktivitas, dan minat.

Kontribusi artikel yang dikirim akan diedit oleh tim redaksi lsfdiscourse.org bersama dengan penulis. Artikel akan dipublikasikan di laman kami dan akun media sosial ig dan twitter @lsf_discourse serta FB LSF Discourse.

Tiap bulannya redaksi akan membagikan satu goodie bag dan buku dari @discoursebook untuk kontributor lsfdiscourse.org bagi kawan-kawan yang menuliskan artikelnya sesuai dengan tema triwulan yang ditentukan.

Untuk ketentuan umum penulisan silakan melihat poster atau menghubungi 081235073935.

Salam,
Tim Redaksi lsfdiscourse.org

Tema Kepenulisan

Dunia yang Tak Lazim

Sebuah pengantar untuk tema kepenulisan LSF Discourse triwulan Juni-Juli-Agustus 2020

Dunia atau the world secara umum merujuk pada satuan lingkup hidup manusia yang disadari. Dalam filsafat Timur seperti kearifan India, Dunia merupakan suatu tempat dimana jiwa dapat bergerak untuk menunaikan laku demi capaian tertingginya. Hal yang tidak jauh berbeda juga dipercaya dalam filsafat Cina, dimana Dunia bermakna locus yang menjadi arena manusia untuk terus menciptakan keharmonisan sebagai puncak pencapaian tertinggi dari hidup. Selain itu The World dalam kerangka pemikiran filosof barat modern-kontemporer memiliki kekhasan makna yang beragam pula. Sebagaimana banyak dari fenomenolog dan sastrawan modern menggambarkan Dunia sebagai titik sadar manusia atas keberadaannya. Dengan kata lain Dunia dapat terbangun karena manusia memahami keberadaannya di antara entitas lainnya. Masing-masing era dan peradaban memiliki keunikan dalam memandang Dunia. Namun terdapat garis merah di antara semua konsep di atas, ialah bahwa Dunia merupakan bagian dari manusia, sekaligus sebaliknya.

Dunia juga dapat diintrepretasikan sebagai universe atau semesta, yang memiliki dimensi –setidaknya ruang dan waktu— yang terus dipahami dan terus digali. Bagi para Sufi seperti Jalaluddin Rumi dan Yunus Emre, semesta adalah ruang tunggu bagi manusia yang merindukan kedatangan Sang kekasih – Tuhannya. Sementara itu bagi para datakrit, semesta merupakan wilayah biner dimana angka nol dan satu mampu menentukan segala pilihan serta sikap. Berbeda pula dengan para filolog seperti Peter Asa Berger atau Ernest Cassirer yang menganggap bahwa semesta merupakan rangkaian manifestasi simbolik dari benak dan pengetahuan manusia. Diskursus atas Dunia telah banyak dan terus berkembang.

Dalam triwulan Juni-Juli-Agustus 2020 ini, Lingkar Studi Filsafat Discourse mengajak kawan-kawan untuk menuliskan berbagai ide dan wacana mengenai Dunia. Namun diskursus mengenai dunia yang tak mengenal titik akhir ini terpaksa dibatasi oleh pemahaman kita dalam mengenali konteks kehidupan sehari-hari, berkaitan dengan permasalahan kehidupan nyata yang kita temukan tepat di depan cakrawala keseharian kita.

Tema triwulan “Dunia yang Tak Lazim” yang berusaha kami angkat kali ini adalah bagian dari keprihatinan atas dunia yang sedang berubah. Perubahan sebagai proses yang niscaya kerap tidak dapat dihindari, dan bahkan bagi para naturalis dan dialektis, perubahan menjadi poin yang krusial sebagai ketetapan substansi di Dunia. Walau taraf kelaziman masih mungkin untuk diperbantahkan namun, di sisi lain dapat disepakati pula bahwa yang terpenting dari semua teori ialah cara manusia untuk memahami dan menanggapi perubahan. Sebagaimana etika Aristoteles dan Kant, keutamaan atau landasan metafisik dari moralitas tidak akan pernah terwujud tanpa adanya tindakan. Karenanya, satu langkah kecil dan pasti yang dapat kita ambil di awal perubahan ini ialah merumuskan dan menarasikan perubahan melalui refleksi filosofis. Usaha ini telah dicontohkan Yuval Noah Harari yang menarasikan perubahan cara manusia memahami konsep tuhan sebagai salah satu bentuk keberlangsungan hidup. Sama halnya dengan usaha Fritjof Capra untuk merumuskan perubahan pendekatan fisika (dari mekanistis ke holistis) yang menyebabkan kian cepatnya Dunia kita berlari.

Pada titik kesadaran ini, kita dapati bahwa dunia memang telah berada pada titik perubahan –telah berada pada tahap yang berbeda dari sebelumnya, sebuah ketak-laziman. Perubahan Dunia telah menandai zaman, dimana tangan menjadi ragu untuk menjabat, wajah menjadi lebih jelas dalam pertemuan virtual, para pejalan tinggal diam di dalam rumah, yang berkarya sejenak berhenti menguras tenaga, hingga lahirnya pandangan tentang normalitas yang baru. Di luar konsekuensi yang dilahirkan oleh pandemi tahun ini, dunia tetap tidak baik-baik saja. Selalu ada perubahan, namun belum tentu dalam keadaan yang natural bagi manusia dan lingkungannya. Alienasi terus berlangsung, keberpihakan tertuju pada sistem, otomatisasi menghanguskan hasil karya tangan dan intelektual, manusia terkadang gagal mengenali dirinya, pula tujuan hidup dan kondisi alamiahnya kerap dibiaskan oleh berbagai penyebab. Di balik sisi, teknologi kian berkuasa, harapan atas masa depan berubah. Kuasa pengetahuan dikalahkan oleh kekuatan media dan ‘pengaturan kebenaran’. Pada akhirnya, melalui fenomena kecil dalam keseharian, dapat kita ketahui bahwa dunia sedang tak lazim – tidak berada pada tahap yang biasa-biasa saja.

Melalui sekapur sirih ini kami mengajak kawan-kawan untuk mengkritisi keadaan dan melakukan refleksi terhadapnya. Kawan-kawan dapat memperkaya refleksi dengan bantuan kearifan lokal atau bangunan konsep para pemikir terdahulu melalui teori dan tesisnya. Dan semoga dari tulisan yang kita susun bersama, lahir semakin banyak kegelisahan dan kesadaran atas kondisi dunia yang sedang tak baik-baik saja. Semoga kejelasan dan kritik semakin meluas hingga menggugah pemahaman serta kesadaran baru yang lebih baik sebagai bahan pertimbangan kita untuk bersikap di kemudian hari.