fbpx

Babi Ngepet dan Bias Kognitif5 min read

Ada kecenderungan manusia untuk langsung terburu-buru melompat dan menetapkan suatu kesimpulan, padahal bukti-bukti yang lain sebagai pendukung saja masih sangat terbatas dan masih belum lengkap sepenuhnya.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Bronislaw Malinowski
Bronislaw Malinowski

Daftar Isi

Seorang polisi, Rio Mikael Tobing, merespons isu yang sedang beredar di warga Depok mengenai babi ngepet. Ia mengatakan: “Apabila ada yang merasa pencurian agar segara menghubungi aparat agar segera ditangani.” Hal itu disampaikan pada warga Depok usai viralnya isu yang beredar mengenai babi ngepet di daerah tersebut.

Heboh isu babi ngepet ini terjadi setelah beberapa dari warga di RT 02 RW 04, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawahan, Depok sempat kehilangan sejumlah uang. Mereka pun menuding bahwa babi itu adalah penyebab hilangnya uang mereka karena beberapa kali sempat terlihat berkeliaran di pemukiman warga.

Dikutip dari KumparanNews pada 29 April 2021, bahwa polisi mengatakan belum bisa memastikan apakah memang babi tersebut adalah babi ngepet atau bukan. Pihak polisi sendiri melihat secara fisik babi itu memang terlihat seperti babi biasa “Secara fisik kondisi babi saat kami temukan, babi normal seperti babi hutan dan ukurannya sudah kecil. Kalau ada yang bilang dari besar terus mengecil, faktanya saat anggota ke sana ditemukan kecil. Berdasarkan cerita ini itu kita belum bisa menyimpulkan karena faktanya yang kami temukan hanya seekor babi.”

Lantas kenapa hal-hal yang kurang masuk akal, atau bahkan takhayul seperti itu, masih tetap ada dan masih tetap dipercaya?

Bronislaw Malinowski (2014) melihat bahwa manusia memiliki rasa ketakutan dan ketidakpastian yang pastinya akan membuat diri mereka tidak nyaman. Maka bagaimanapun caranya manusia akan berusaha untuk keluar dari rasa tidak nyaman tersebut.

Dengan adanya jawaban-jawaban yang diberikan oleh takhayul, seolah-olah membuat manusia memiliki atau menggenggam jawaban yang pasti dan mutlak. Diri manusia secara psikologis nyaman dengan jawaban yang sudah tidak bisa diperdebatkan lagi alias jawaban final (Thompson, 1981). Maka takhayul adalah jawaban yang dirasa paling akurat untuk menjelaskan sebab-akibat yang ada (Keinan, 1994).

Keinan (1994) menunjukkan bahwa ketika manusia mengalami stres yang sangat tinggi, dia akan cenderung lebih percaya dengan takhayul jika dibandingkan dengan manusia lain yang tidak terlalu stresnya. Jelas saja, mereka akan mencari semacam pegangan untuk bisa berpasrah diri dan menenangkan diri mereka.

Ada kecenderungan manusia untuk membuat atau mencari jawaban sederhana mungkin untuk persoalan yang kompleks dan holistik. Akan ada beberapa penyederhanaan dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan berakhir dengan bias yang luar biasa. Namun hal itu sangat normal dilakukan oleh manusia (Kahneman & Tversky, 1982; Morewedge & Kahneman, 2010; Tversky & Kahneman 1974, 1983).

Tylor (1871) dan Frazer (1911) mengemukakan pertanyaan, kenapa masyarakat membuat jawaban-jawaban takhayul untuk menerangkan berbagai persoalan? Jawabannya adalah karena ada semacam kesamaan atau keserupaan dari hal yang lebih empiris, yang kemudian ditarik dan diabstraksikan ke dalam ranah yang lebih supranatural. Dari sana ditarik benang merah dan kesimpulan sebab-akibat.

Sifat manusia untuk selalu ingin tahu, selalu berusaha membuat semacam perkiraan atau prediksi dengan tujuan mengetahui akhir dari suatu jalan cerita dan akan mempersiapkan seluruh hal yang dibutuhkan untuk mencapai garis akhir tadi. Itu semua menuntun pada hal-hal takhayul sebagai solusinya.

Ketika ada suatu hal dan kemudian kemunculan hal ini akan selalu dibarengi dengan kemunculan hal lain, maka bukan tidak mungkin orang akan mencari-cari penghubung antara kedua hal ini. Apabila frekuensi dari kemunculan dua hal ini dianggap sering, maka bukan tidak mungkin orang akan meyakininya sebagai suatu sebab-akibat, meskipun itu sama sekali tidak ada kaitannya. Dia seolah-olah akan terlihat selalu relevan satu sama lain, dan akan selalu dicari-cari keterhubungannya (Langer, 1975; Rudski, 2004).

Ada kecenderungan manusia untuk langsung terburu-buru melompat dan menetapkan suatu kesimpulan, padahal bukti-bukti yang lain sebagai pendukung saja masih sangat terbatas dan masih belum lengkap sepenuhnya. Maka jelas saja, penjelasan dengan takhayul adalah hal terbaik (Kahneman, 2011).

Kemungkinan terakhir adalah karena ada bias konfirmasi. Maksudnya adalah, dalam konfirmasi suatu informasi, masih kental dengan bias yang terdapat dalam proses pengolahan data tersebut. Ketika telah menetapkan suatu kesimpulan, maka orang akan memiliki sejumlah pembenaran. Namun ketika menemui semacam fakta lain yang kebetulan bertentangan dengan kesimpulan yang telah dia yakini di awal tadi, maka dia akan langsung mengabaikan fakta itu, serta tetap terus menjunjung tinggi bias kebenaran dengan sejumlah pembenaran di awal tadi (Klayman & Ha 1987; Wason, 1966). Bias konfirmasi ini mampu menjelaskan kenapa informasi takhayul tetap saja dipertahankan meskipun telah banyak informasi lain yang lebih empiris terbukti mampu membantahnya.

Dari seluruh kemungkinan akan lahirnya suatu pemikiran takhayul dan kemudian dapat berkembang serta dapat terus dipertahankan bahkan hingga masa modern ini, bagaimana menurut kalian akan korelasinya dengan fenomena isu babi ngepet di Depok?

Referensi

Frazer, J. G. (1911). The Golden Bough: A Study in Magic and Religion (Vol. Anthropos6, 700-702.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Macmillan.

Kahneman, D., & Tversky, A. (1982). On the Study of Statistical IntuitionsCognition11(2), 123-141.

Keinan, G. (1994). Effects of Stress and Tolerance of Ambiguity on Magical ThinkingJournal of personality and social psychology67(1), 48.

Klayman, J., & Ha, Y. W. (1987). Confirmation, Disconfirmation, and Information in Hypothesis TestingPsychological review94(2), 211.

Kumparannews. (2021). “Polisi soal Babi Ngepet di Depok: Faktanya Hanya Seekor Babi” dalam https://kumparan.com/, dikutip pada 29 April 2021.

Langer, E. J. (1975). The Illusion of ControlJournal of personality and social psychology32(2), 311.

Malinowski, B. (2014). Magic, science and religion and other essays. Read Books Ltd.

Morewedge, C. K., & Kahneman, D. (2010). Associative processes in intuitive judgment. Trends in cognitive sciences14(10), 435-440.

Rudski, J. (2004). The illusion of control, superstitious belief, and optimism. Current Psychology22(4), 306-315.

Thompson, S. C. (1981). Will it hurt less if I can control it? A complex answer to a simple question. Psychological bulletin90(1), 89.

Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under uncertainty: Heuristics and biases. science185(4157), 1124-1131.

Tversky, A., & Kahneman, D. (1983). Extensional vs. Intuitive Reasoning: The Conjunction Fallacy in Probability Judgment, 91 psychol.

Tylor, E. B. (1871). Primitive culture: Researches into the development of mythology, philosophy, religion, art and custom (Vol. 2). J. Murray.

Wason, P. C. (1966). Reasoning”. In BM Foss (ed.), New Horizons in Psychology. Harmondsworth: Penguin.

Ahmad Dzul Ilmi Muis

Mahasiswa Antropologi Universtias Airlangga