fbpx

Keresahan Jacques Derrida terhadap Filsafat Barat6 min read

Makna tidak lagi di pandang sebagai sesuatu yang mutlak, tunggal, universal, dan stabil, melainkan selalu berubah.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Jacques Derrida

Daftar Isi

Dalam dunia filsafat, begitu banyak filsuf yang saling mengkritik, satu dengan yang lainnya. Selain itu, filsafat juga memiliki pembabakan waktu yang terbagi dari filsafat klasik Yunani Kuno (yang didominasi oleh rasionalisme), filsafat Abad Pertengahan (yang didominasi oleh dogmatisme), dan filsafat Abad Modern ( yang kembali didominasi oleh rasionalisme). Saat zaman terus berkembang, terdapat periode yang dikenal sebagai filsafat kontemporer, yang identik dengan masa posmodern. Dalam filsafat kontemporer terdapat beberapa persoalan, di antaranya ialah anggapan bahwa filsafat telah berakhir serta rasionalitas dan epistemologi tidak diperlukan lagi. Hal inilah yang dikritik oleh Jacques Derrida di berbagai tulisannya mengenai anggapan tersebut.

Sebelum membahas mengapa Derrida mengkritik filsafat Barat, mari kita mengenal terlebih dahulu profil Derrida. Ia adalah seorang filsuf kontemporer Perancis yang terkenal dengan teori dekonstruksi dalam filsafat posmodern. Pemikirannya lebih berfokus pada permainan serta filsafat bahasa. Karya-karya Derrida hampir semua merupakan kritik dari filsuf Plato sampai Descartes yang dianggapnya sangat logosentrisme. Namun di samping itu, Derrida tidak menutup kemungkinan terpengaruh dari pemikiran filsuf lain.

Pemikiran Derrida terhadap filsafat Barat menghasilkan sebuah teori baru yang disebut dekonstruksi dengan arti menunda atau sementara. Dekonstruksi merupakan sebuah ide yang dicetuskan degan tujuan pembongkaran, namun yang dilakukan bukanlah pembongkaran dan penghancuran yang berakhir dengan kenihilan (Turiman, 2015: 311). Pembongkaran suatu makna atau gagasan yang akan membangun sebuah makna atau gagasan baru.

Dekonstruksi merupakan sebuah cara yang tepat bagi seseorang yang mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi dan yang tidak pernah puas akan jawaban yang telah diwariskan, seakan-akan mencoba berpikir sendiri untuk menemukan jawaban yang dianggapnya benar. Dekonstruksi merupakan sebuah jalan untuk menghilangkan batas pemaknaan dan penyimpulan. Dekonstruksi membuka pintu agar sebuah tanda dapat diartikan sebagai apa saja, tidak terdapat batasan dalam pemaknaan.

Menurut Derrida, kata dekonstruksi tidak mempunyai definisi yang pasti, karena maknanya beragam dan akan selalu tertunda. Selain itu, dekonstruksi bukan suatu metode atau kritik, bukan suatu alat penyelesaian masalah terhadap objek. Derrida mengatakan bahwa kata dekonstruksi diadaptasi dari kata destruksi dari pemikiran Martin Heidegger. Jika kata destruksi memiliki arti menghancurkan, berbeda dengan kata dekonstruksi yang bermaksud membongkar dan mengganti dengan yang baru.

Pemikiran Derrida berawal dari keresahannya mengenai adanya strukturalisme dan logosentrisme dengan berkembangnya oposisi biner yang sudah mengubah sebagian besar filsafat Barat. Strukturalisme adalah sebuah paham yang menganggap seluruh tatanan di dunia harus terstruktur dengan berpusat pada yang baik. Dalam suatu strukturalisme, terdapat sebuah konsep perbedaan dalam bentuk oposisi biner yang membagi sebuah kata yang berbeda atau berlawanan dalam dua kategori, karena semakin berbeda atau berlawanan, maka kedua kata tersebut akan semakin bermakna.

Strukturalisme: Kaku dan Tidak Stabil

Dekonstruksi dimunculkan untuk membongkar gaya berpikir strukturalisme. Menurutnya struktur itu kaku dan tidak stabil. Derrida membuat sebuah konsep bernama Differance, berasal dari kata (to differ atau membedakan dan to deffer atau menunda). Menurut Derrida, kehadiran sebuah makna dikarenakan adanya sebuah perbedaan dan maknanya akan selalu tertunda. Konsep to differ adalah sebuah kata saling bergantung seperti, kata benar-salah, kata benar hadir karena terdapat kata salah, posisi kedua kata ini setara, meski berbeda kata atau makna. Konsep to deffer diartikan sebagai sebuah kata tidak dapat menjadi satu kesatuan atau utuh, karena adanya berbagai macam penjelasan mengenai satu kata. Jadi, tidak ada sebuah kata yang mempunyai makna absolut atau tunggal.

Derrida mengatakan bahwa filsafat Barat sangat dipengaruhi oleh “kata” atau “konsep” yang telah menunjukkan keabsolutan suatu makna. Dengan tegas, Derrida menolak tradisi tersebut dengan menyatakan bahwa kata mempunyai makna yang majemuk, tidak bersistem, dan tidak berstruktur. Pandangan tersebut harus didekonstruksi agar tidak hanya terpaku oleh satu makna saja. Derrida memberikan kritik terhadap filsafat Barat yang dianggap masih kental dengan cara berpikir logosentrisme.

Logosentrisme: Fokus terhadap Suatu yang Tampak di Permukaan

Selanjutnya, logosentrisme adalah kepercayaan penuh terhadap kebenaran berdasarkan kepada hal yang tampak di permukaan, sehingga pemikiran ini menekankan rasio. Menurutnya, logosentrisme hanya menghambat filsafat karena manusia haruslah meyakini rasio yang telah diwariskan atau bisa dikatakan kebenaran tunggal. Kritik yang dilakukan Derrida bertujuan untuk menciptakan kebebasan manusia dalam berpikir dari belenggu kebenaran dominan. Pencarian jawaban dengan logosentrisme justru akan terjebak ke dalam oposisi biner.

Oposisi biner dalam logosentrisme bersifat hierarkis atau hadirnya sebuah tingkatan. Contoh dari oposisi biner seperti pintar-bodoh, baik-buruk, benar-salah, dan maskulin-feminin. Dalam oposisi biner terdapat satu kata yang dianggap lebih superior dari pasangannya yang terletak di posisi kedua. Kata pertama selalu menjadi pusat dan lebih dominan atas kata berikutnya. Manusia hidup dalam sebuah rezim di mana hadirnya sebuah kata atau makna dianggap mempunyai keunggulan dibandingkan dengan kata lain.  Ciri logosentrisme inilah yang dikritik oleh Derrida karena dianggap dapat memunculkan ketimpangan dalam dunia posmodern.

Derrida memulai kritiknya dengan berpusat terhadap bahasa, karena ide atau gagasan biasanya diungkapkan melalui bahasa. Melalui bahasa, realitas dianggap telah terwakili dalam pandangan modernisme. Oleh karena itu, Derrida mengkritik logosentrisme dengan mengkritik definisi kata potlach dalam teks Marcel Mauss” L’essai sur le don: (Esai tentang pemberian, 1932). Definisi kata potlach dalam teks tersebut sudah menimbulkan makna yang kontradiksi, sehingga Derrida mencoba untuk membongkar makna dari kata potlach. Definisi awal dari kata potlach adalah pemberian yang dipertukarkan.

Mauss tidak menyadari bahwa kata yang digunakannya mempunyai makna lain. Derrida menyatakan bahwa istilah potlach tidak lain seperti pinjaman yang dikembalikan atau dengan kata lain meniadakan sebuah pemberian. Hal ini terjadi karena ketika seseorang memberi pinjaman berarti orang yang meminjam akan mengembalikan yang diberikan. Dalam teksnya, Mauss memaknai pemberian kedua atau pengembalian pinjaman menimbulkan kesan seakan-akan sebagai bentuk pemberian kedua.

Derrida juga menolak kebenaran absolut atau kebenaran makna tunggal dalam sebuah teks atau tulisan. Karena setelah adanya kebenaran, akan ditemukan kebenaran lainnya dalam sebuah kata atau disebut dengan jejak (trace). Derrida sebagai filsufposmodern menganggap masaposmodern adalah masa di mana banyak hal yang identik dengan ketidakpastian dan susah untuk diprediksi. Selain itu, pembongkaran makna harus terus dilakukan sembari kita sebagai manusia bermain bebas dengan “permainan” teks. Jadi, metode dekonstruksi dapat diterapkan ketika pembaca tidak langsung percaya atau mempertanyakan sebuah kata dalam teks dan akhirnya berusaha membongkar makna kata dalam teks tersebut.

Teori dekonstruksi yang dicetuskan oleh Derrida memberi pengaruh penting bagi filsafat posmodern. Berkat dekonstruksi Derrida, makna tidak lagi di pandang sebagai sesuatu yang mutlak, tunggal, universal, dan stabil, melainkan selalu berubah. Dekonstruksi berusaha membatasi diri untuk membongkar narasi-narasi yang sudah ada dan mengungkapkan hierarki dualistis yang disembunyikan. Sebagai dekontsruktivis, Derrida berusaha menolak oposisi biner dengan mencoba membongkar pandangan umum atau pusat, agar tidak ada kata yang termarginalisasi. Secara tidak langsung, metode atau pemikiran Derrida membongkar dan menyusun ulang dengan cara yang berbeda. Dampak menggunakan pemikiran ini akan menimbulkan kebingungan sehingga kebenaran akan selalu tertunda karena terdapat banyak keragaman dalam suatu makna.

Referensi

Haryatmoko. (2017). Derrida yang Membuat Resah: Rezim Dogmatis & Kepastian.

Basis, No. 11-12: 4-15.

Turiman. (2015). Metode Semiotika Hukum Jacques Derrida: Membongkar Gambar

Lambang Negara Indonesia. Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke-44, No. 2:

308-339.

Siregar, Mangihut. (2019). Kritik Terhadap Teori Dekonstruksi Derrida. Journal of

Urban Sociology, Vol. 2, No. 1. 65-74.

Ariza Rahman Hasraf

Seorang mahasiswa yang mencintai sejarah, musik, dan sekarang berusaha mendalami dunia filsafat.