fbpx

Mindfulness: Teknologi Diri Abad Ke-21

Praktik mindfulness adalah bentuk nyata dari teknologi diri (technology of the self). Tujuannya beragam, di antaranya pada ranah kesejahteraan psikis, kebijaksanaan, dan budi daya kasih sayang.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Seputar Mindfulness

Kesehatan mental adalah alasan di balik ramainya praktik mindfulness lebih subur hari ini. Pada tahun 2018, Hannah Ritchie dan Max Roser melaporkan bahwa beban gangguan mental harus dipikul oleh satu dari sepuluh orang secara global yang berkontribusi pada penurunan kesejahteraan psikologis seseorang. Lalu, bagaimana dengan orang Indonesia? Berdasarkan data Google Trends, pencarian kata atau istilah depresi dan kecemasan mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir. Selain itu, pencarian kata profesi tertentu yang berkaitan dekat dengan penanganan kesehatan mental, yakni psikolog dan psikiater juga meningkat selama lima tahun terakhir. Data tersebut berguna selaku salah satu indikator kenaikan tren masalah kesehatan mental dan perilaku, serta pencarian bantuannya di Indonesia berdasarkan pemaparan Zitting dan kawan-kawannya pada penelitian epidemiologi. Namun, jumlah persebaran ahli kesehatan mental belum merata di berbagai daerah berdasarkan data Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK Indonesia) pada tahun 2021 dan Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) pada tahun 2018, sehingga layanan ini masih sulit diakses merata oleh orang Indonesia. Untuk sekarang, beberapa tanggapan solutif adalah upaya promotif sebagai pengajaran keterampilan hidup demi mewujudkan kesejahteraan psikologis, salah satunya mindfulness.

Istilah mindfulness dikenal juga dengan nama sati. Sati dikaitkan dengan arti ingatan. Bila dihubungkan dengan mindfulness, sati berkaitan dengan tujuan praktiknya: ingatan akan pentingnya pembudidayaan kebijaksanaan dan welas asih, seperti yang dikatakan oleh Laurence J. Kirmayer. Mindfulness adalah pelatihan kondisi kesadaran seseorang agar bisa merasakan momen yang terjadi sini-kini tanpa adanya penilaian tertentu terhadap momennya ujar Christopher Germer.  Beliau menjelaskan bahwa praktik tersebut mulai diterapkan luas dalam ilmu psikologi negara Barat dalam praktik terapis abad ke-21. Pengobatan dengan mindfulness pun terbukti pada peringanan gangguan kesehatan mental: stres, depresi, kecemasan, dan insomnia. Praktiknya cukup sederhana, duduk tegak, pejamkan mata, dan perhatikan napas yang masuk. Bila pikiran kita melantur, tinggal bujuk diri agar perhatian tertuju pada napas kita lagi. Kita bisa masukkan kegiatan ini sebagai salah satu kebiasaan baik yang bisa diadopsi dalam hidup sehari-hari. Sederhana bukan? Tidak asing lagi praktik ini adalah cara peringanan penderitaan masalah mental. Mari kita lihat contoh penerapannya di negara Vietnam pada tahun 2021 yang 14,9 persen populasinya adalah penganut Buddhisme.

Mai Chi Vu & Roger Gill mewawancarai beberapa pemimpin perusahaan yang menganut Buddhisme di Vietnam. Mereka menemukan penerapan mindfulness dapat berguna dalam kondisi kerja dan tantangannya. Praktiknya dilaksanakan sesuai kebutuhan masing-masing tergantung pada konteks yang mereka hadapi. Misalnya, dampak positif terhadap kesehatan mental pemimpinnya dalam bentuk kedamaian, kelola emosi, dan work-life balance. Lebih penting lagi, hal yang ingin mereka kembangkan adalah kesadaran akan pentingnya keyakinan Buddhisme: ketidakkekalan (anitya), ke-tiada-akuan (anatman), sebab-akibat (karma), dan sebagainya. Ini berarti mengukir diri agar bisa berwelas asih kepada orang lain dan bijaksana dalam menangani tantangan sesuai kebutuhan kondisi masing-masing. 

Lebih lanjut, mindfulness bersama praktik meditasi lainnya digunakan untuk mempersiapkan para pemimpin kerja dalam menanggapi situasi kerja dan bermacam-macam tantangan demi tumbuh-kembang kebijaksanaan para karyawannya. Intinya, kepentingan mindfulness dan praktik lainnya dapat bermanfaat untuk pengembangan diri agar menjadi lebih bijak, welas asih, dan damai pada para pemimpin perusahaan Vietnam beserta karyawan yang dipimpinnya. Bila kita perhatikan lebih lanjut, mindfulness dilaksanakan oleh para pemimpin perusahaan agar terciptanya kebijaksanaan dalam penanganan kondisi kerja yang terus berubah dan tak terduga setiap harinya. Tujuannya agar mereka tetap ingat pada keyakinan Buddhisme bagaikan buku panduan hidup mereka dalam menumbuhkan rasa damai, kelola emosi, dan work-life balance. Lalu, apa sebabnya mereka melakukan ini semua?

Teknologi Diri

Ada ketertarikan dari Michel Foucault, seorang filsuf abad ke-20, pada berbagai aktivitas dan larangan yang dilaksanakan oleh masyarakat Romawi Kuno. Dalam buku Sejarah Seksualitas Vol. 2, Foucault menjelaskan kumpulan praktik bagi laki-laki bebas (bukan untuk budak dan perempuan) zaman Romawi Kuno terkait seks dengan satu tujuan: pembatasan seksualitas. Tujuan pembatasannya ialah demi terjaminnya kebugaran diri, menjadi contoh tentang kelakuan baik bagi masyarakat setempat, akses pada kebijaksanaan supra-manusiawi, dan terjaminnya maskulinitas. Pada penjaminan maskulinitas, ada nasihat tentang pentingnya tidak mengepang rambut atau tidak mengenakan perhiasan, begitulah kata Seneca. Apa dorongan penjaminan maskulinitas dan mindfulness dalam pribadi seseorang?

Michel Foucault menyatakan bahwa praktik tersebut berupa cara-cara mengukir terbentuknya kepribadian diri. Beliau namakan dengan istilah teknologi diri (technology of the self). Teknologi diri bersumber dari aturan-aturan dan praktik-praktik yang ada dalam kebudayaan, masyarakat, dan lingkungan sekitar individu. Teknologi diri berguna mewujudkan kebahagiaan, kebijaksanaan, kesucian; intinya teknologi diri adalah pembentukkan subjek yang “berkelakuan etis”. Berkelakuan etis di sini berarti pembentukkan pribadi secara optimal. Berarti, kebijaksanaan diukir dalam pribadi seseorang penganut Buddhisme Vietnam lewat mengingat pengalaman masa lampau yang berbudi luhur demi meninggalkan penderitaan.

Kembali pada praktik dan larangan pada masyarakat laki-laki bebas Romawi Kuno, Foucault mengutarakan pula praktik tersebut sebagai kepentingan seseorang untuk merawat diri (self-care). “Seseorang perlu menjadi dokter bagi dirinya sendiri,” ia simpulkan sebagai salah satu tema teknologi diri laki-laki bebas Romawi Kuno. Menjaga maskulinitas dan diri sendiri, tidak kalah penting dengan urusan politik laki-laki, sebagaimana petani merawat sawahnya agar terhindar dari hama, dan seorang raja menjamin kemakmuran dan keselamatan masyarakatnya. Namun yang perlu diingat, teknologi diri akan berbeda pada zaman dan tempat yang berbeda. Berbagai asumsi yang mendasari praktik dan larangan teknologi diri laki-laki Romawi Kuno tentu akan berbeda dengan pemimpin perusahaan penganut Buddhisme modern di Vietnam. Sekarang, teknologi diri berupa rawat diri (self-care) justru muncul kembali dalam berbagai aktivitas sederhana dalam membentuk kebiasaan menurut berbagai ahli kesehatan fisik dan kesehatan mental. Sebagai contoh adalah minum air putih, berpikir positif, berolahraga, menjalani hobi, mengambil waktu bersantai, mempraktikan mindfulness, dan sebagainya. 

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, telah ditetapkan bahwa mindfulness adalah bentuk praktik diri guna meringankan masalah mental. Banyak penggunaannya berguna demi meringankan penderitaan masalah kesehatan mental seseorang (Khoury dkk., 2013; Zoogman dkk., 2015). Bahkan, mindfulness dalam ilmu psikologi bagaikan hansaplast untuk mengobati luka masyarakat umum. Namun, ada potensi penyalahgunaan mindfulness sebagai praktik rawat diri kesehatan mental masa kini, salah satunya adalah komodifikasi mindfulness.

Komodifikasi Mindfulness

Komodifikasi mindfulness justru bisa tidak memenuhi tujuan teknologi diri guna mewujudkan kebahagiaan, kebijaksanaan, kesucian, dll. Mai Chi Vu & Roger Gill meneliti perbedaan penerapan mindfulness yang bercorak populer dalam perusahaan konvensional dan perusahaan yang dipimpin dengan cara Buddhisme di negeri Vietnam. Dalam perusahaan konvensional, mindfulness berkembang sebagai praktik pembentukan resiliensi atau kemampuan adaptif di tempat kerja serta identifikasi work-life balance pada karyawan. Hal ini berlandaskan pada pentingnya kesejahteraan dan pemberdayaan karyawan.  Namun, penerapannya bisa juga bermotif pengoptimalan produktivitas dan keuntungan sebelum membicarakan hal lain, seperti masalah kesejahteraan dan pengembangan pribadi karyawannya. 

Motif keuntungan yang dilakukan oleh perusahaan justru berlawanan dengan keyakinan Buddhisme, yakni tujuan keuntungan belaka sebagai bentuk keinginan merupakan penyebab penderitaan itu sendiri.  Hal tersebut ironis bila sebuah perusahaan menyerukan kesehatan mental dalam misi mereka namun pada akhirnya tidak mencoba menerapkannya  secara nyata di tempat kerja tersebut. Sebagai gantinya, mereka mengadakan webinar mengenai topik-topik kesehatan mental. Belum juga praktik ini akan berlaku sama rata bagi semua karyawan yang tentunya nihil pertimbangkan keunikan dan kebutuhan karyawan yang bekerja dalam perusahaan tertentu. Satu konsekuensi sunyi lainnya adalah mindfulness oleh Byung-Chul, seorang filsuf abad ke-21 Han menjadi satu dari beraneka ragam cara untuk membentuk subjek berprestasi (achievement-subjects). Subjek berprestasi terus memenuhi gaung panggilan bekerja terus-menerus. Hal ini berdampak pada pengejaran sasaran yang tak pernah selesai sehingga terpikul pada pundaknya masalah kesehatan mental, bahkan bisa menimbulkan muak dengan dirinya sendiri. 

Berdasarkan paparan tersebut, apakah berarti kita bisa simpulkan bahwa penerapan mindfulness sebagai teknologi diri hari ini bersifat eksploitatif? Belum tentu. Kita perlu tahu bahwa memang dampak peringanan penderitaan yang dialami seseorang lewat praktik mindfulness itu telah didukung oleh berbagai penelitian kuantitatif terdahulu. Praktik ini bisa mewujudkan damai, kebijaksanaan, dan welas asih seperti yang diutarakan oleh pemimpin dengan kepercayaan Buddhisme di Vietnam. Tidak heran apabila banyak orang, termasuk perusahaan konvensional secara gencar mengikuti tren mindfulness dan mereka belum sadar akan efek samping yang mengikuti praktiknya. Meski hanya fokus pada aspek pribadi, hanya dengan mindfulness sebenarnya  belum cukup bila tujuannya adalah kesehatan mental. Ada faktor hubungan interpersonal, kondisi ekonomis, yang tidak akan cukup kunjung habisnya bila dibahas pada artikel ini. Yang tidak kalah pentingnya, intervensi mindfulness perlu sadar akar asalnya, tujuannya, dan konsep terkait agar terbentuknya pribadi yang sejahtara psikisnya.

Kesimpulan

Praktik mindfulness adalah bentuk nyata dari teknologi diri (technology of the self). Tujuannya beragam, di antaranya pada ranah kesejahteraan psikis, kebijaksanaan, dan budi daya kasih sayang. Ragam tujuannya dihasilkan dari keyakinan dan asumsi yang diterima pada budaya tertentu. Bisa disimpulkan ada dua jenis mindfulness, yaitu pandangan psikologis dan pandangan Buddhis menurut Laurence J. Kirmayer. Pandangan psikologis berfokus pada praktik penyingkapan cara kerja pikiran serta efek pengobatannya terhadap masalah kesehatan mental. Satu lagi, pandangan Buddhis yang terhubung dengan praktik beserta pentingnya pengembangan kebijaksanaan, welas asih, dan damai. Kedua hal itu adalah dua dari segenap bentuk teknologi diri yang diterapkan oleh manusia lewat bentuk pengetahuan diri (self-knowledge) dan rawat diri (self-care).

Referensi

Foucault, M. (1988). Technologies of the self. In L. H. Martin, H. Gutman, & P. H. Hutton (Eds.), Technologies of the self: A seminar with Michel Foucault (1st ed, pp. 16–49). The University of Massachusetts Press

Foucault, M. (1990). The history of sexuality vol. 2: The use of pleasure (Robert Hurley, Trans.). Vintage Books (Original Work Published 1984).

Germer, C. K. (2013). Mindfulness: What is it? What does it matter? In Siegel, R. D. & Fulton, P. R. Mindfulness and psychotherapy (2nd ed., pp. 3–35). Guilford Press.

Han, B.-C. (2015). The burnout society (Erik Butler, Trans.). Stanford Publisher (Original Work Published 2010).

Ikatan Psikologi Klinis Indonesia. (2021). Statistik keanggotaan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia. https://data.ipkindonesia.or.id/statistik/keanggotaan-ikatan-psikolog-klinis-indonesia/

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Hasil utama riset kesehatan dasar. https://labmandat.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2018/Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf

Khoury, B., Lecomte, T., Fortin, G., Masse, M., Therien, P., Bouchard, V., Chapleau, M. A., Paquin, K., & Hofmann, S. G. (2013). Mindfulness-based therapy: A comprehensive meta-analysis. Clinical Psychology Review, 33(6), 763–771. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2013.05.005

Kirmayer, L. J. (2015). Mindfulness in cultural context. Transcultural Psychiatry, 52(4), 447–469. https://doi.org/10.1177/1363461515598949

Nguyen, M.-N. (2021). Vietnam: share of religions. Statista. https://www.statista.com/statistics/1108165/vietnam-share-of-religions/

Ritchie, H., & Roser, M. (2018). Mental health. Our World in Data. https://ourworldindata.org/mental-health

Vu, M. C., & Gill, R. (2018). Is there corporate mindfulness? An exploratory study of Buddhist-enacted spiritual leaders’ perspectives and practices. Journal of Management, Spirituality and Religion, 15(2), 155–177. https://doi.org/10.1080/14766086.2017.1410491

Zitting, K.-M., Holst, H. M. L. der, Yuan, R. K., Wang, W., Quan, S. F., & Duffy, J. F. (2021). Google Trends reveals increases in internet searches for insomnia during the 2019 coronavirus disease (COVID-19) global pandemic. Journal of Clinical Sleep Medicine, 17(2), 177–184. https://doi.org/10.5664/JCSM.8810

Zoogman, S., Goldberg, S. B., Hoyt, W. T., & Miller, L. (2015). Mindfulness interventions with youth: A Meta-analysis. Mindfulness, 6(2), 290–302. https://doi.org/10.1007/s12671-013-0260-4

profil abdurrazzaq
Abdurrazzaq Luthan

Mahasiswa fakultas psikologi yang tertarik dengan psikologi klinis dan filsafat manusia.

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.