Aku Berbaju Maka Aku Ada

Apakah (tidak) mungkin manusia tidak memuat ‘kepribadian’ atau memakai ‘topeng’?
Nezami Benjavi

Rene Descartes, seorang pemikir Prancis, empat abad lalu pernah mendengungkan “Aku berpikir maka aku ada” (cogito ergo sum) sebagai premis filosofisnya. Pada dasarnya, persoalan pikiran, sebagai Ada dari “aku”, kini telah kehilangan maknanya. Sebab secara semiotis, ia tak lagi sebagai tanda yang memautkan antara penanda dengan tinandanya.

Manusia sebagai hewan berpikir (hayawan al-nathiq) telah kehilangan relevansinya dalam era di mana gawai telah menjadi ruang publik yang hegemonik. Menurut para bijak-bestari, esensi manusia terletak pada “pikiran”-nya (n-th-q) yang sebenarnya terjemahan dari logos, yang berarti “firman” atau secara eksistensial adalah manifestasi dari Realitas Ultim (k-n / kun). Bergerak dari situ, opini ini hendak bermanuver secara différance terhadap postulat umum yang secara aklamatif menyetujui bahwa bajulah esensi manusia.

Di hadapan ruang publik mutakhir, yang berpayung nalar virtual melalui gawai canggih, umat manusia menyongsong martabat diri dengan mendaku “aku” sebagai “aku yang berbaju”. Amat kentara bahwa kini umat manusia tak dapat beranjak dari pertanyaan “siapakah aku?” dan menginjak ketakjuban pada renungan “apakah aku?” Untuk pertanyaan pertama yang berupa pertanyaan superfisial, sebenarnya hanyalah pengikhtiaran diri untuk menjawab bahwa, “Aku adalah aku yang berbaju.”

Oleh karena melalui realitas virtual, manusia membentuk dirinya dalam ruang maya untuk memanipulasi performansi, merekayasa data diri, memoles rupa, memalsu personalitas, dan bahkan mengeksploitasi yang-lain (the other) untuk masuk dalam sengkarut tanda yang kandas acuannya.

Baju dalam pemaknaan keseharian adalah sesuatu yang menutupi badan manusia agar tidak tampak telanjang bulat. Sebenarnya, jika pemaknaan tersebut ditelisik lebih jernih dan ditilik lebih jeli, adalah juga untuk menunjukkan “akuku”, bahwa “aku adalah (harusnya) begini” karena “aku” memakai baju ini atau anu, sehingga “aku berbaju maka aku Ada”. Terdapat hiprokisi implisit yang menyelubung di dalam pemaknaan keseharian yang tidak disadari tersebut.

Baju memang serupa topeng, yang mengover diri manusia agar “ke(tidak)akuan”-nya tak terdiseminasi secara serampangan. Dengan kata lain, ada “aku-yang-ditampilkan” untuk merayakan kepalsuan di panggung publik sekaligus ada “aku-yang-dienyahkan” dari panggung publik agar tidak dipelototi dan tetap tidak terkuak. Dalam hal ini, dapat digarisbawahi bahwa sebenarnya, secara simbolis, “manusia berbaju” adalah “manusia inferior” yang takut akan orisinalitas kediriannya.

Pada dasarnya, “memakai baju” itu serupa dengan upaya untuk mengeksklusikan diri dari sesuatu yang tidak kongruen dengan “keinginan”. Sewajarnya manusia memang berupaya merengkuh “ingin”, yang sebenarnya hanyalah refleksi dari citra. Dalam proses refleksi tersebut, citra merupakan bentukan pertama dari ego “manusia-yang-ingin”.

Dengan demikian, secara ontologis, baju adalah “aku” (das Ich) yang membalut manusia untuk menjauh dari kebersahajaan autentik. Sehingga, secara eksistensial, kini manusia mengidap psikopatologi dalam alam tak-sadarnya untuk terus-menerus merekonstruksi “keakuan” melalui “ketidakakuan”. Ketidakakuan itulah yang saya sebut “aku berbaju maka aku ada”.

Dalam seluruh aliran agama dan mazhab kepercayaan, secara esoteris, “aku” adalah tirai yang menghalangi diri untuk merengkuh Realitas Ultim. Seorang mistikus pernah berkata, “Selagi tak kau tinggalkan aku-mu, selama itu pulalah tak pernah kau temukan Aku.” Miris, kini manusia dihadapkan pada gelombang kecenderungan untuk mengaku-aku dan mendaku bahwa, “inilah aku”. Bahkan, melampaui itu.

Sebab, realitas virtual dengan penanda-tinanda maya telah menyediakan akses untuk mendeviasi “aku” dengan cara mengeksplorasi “keakuan” yang bukan-aku. Dalam keseharian manusia, brand-brand baju, gelang, jam tangan, hingga celana dalam yang disodorkan dan bahkan disodokkan oleh industri kapitalisme telah mengkolonisasi kesadaran manusia massa (das Man) sebagai kesadaran majemuk yang terjajah.

Betapa konyolnya apabila kualitas “Ada” (Dasein—dalam istilah Martin Heidegger) seseorang bertolok ukur pada outfit yang mesti setinggi langit. Selain itu, secara kalkulatif laba-rugi, tragisnya, umat manusia malah merayakan euforia untuk sesekali mencicipi, bahkan melahapi, ideologi materialisme yang ditawarkan kapitalisme, yang sebenarnya menjauhkan “aku” dari “aku murni” atau “aku autentik”.

Sebagai penutup, untuk mendekonstruksi “aku”, penulis terngiang oleh sebuah petikan cerita yang amat puitik dari Nizhami, penyair kondang dalam jagat sastra Persia. Ada seorang pencinta yang mengetuk pintu kekasihya, “Siapa di luar?” kata kekasih yang ada di dalam. “Ini aku, pendambamu,sahut pencinta. Lalu kekasih menjawab, “Pergilah! Tak ada tempat bagi yang belum matang.

Sang pencinta menjadi gundah dan pergi dengan mengidap dukacita di hatinya. Suatu ketika ia kembali lagi di depan pintu kekasihnya, lalu mengetuk pintu tersebut, “Siapa di luar?” tanya kekasih. Dengan hati yang penuh harap dan takut, ia menjawab, “Ini adalah engkau, duhai kekasihku!” … Dengan jawaban seperti itu, kekasihnya memberikan izin masuk, “Masuklah! Sebab tak ada tempat bagi dua ‘aku’ di sini.

Oleh sebab itu, kata Jalal al-Din al-Rumi, “Maka ketahuilah bahwa badan hanyalah pakaian. Pergilah cari si pemakai, bukan hanya jubah. Dan anggaplah jasad hanyalah jubah yang kaupakai. Saat kautemui kekasihmu, akankah kaucium bajunya? Cari siapa yang terbungkus di dalamnya.” Kendati demikian, sebagai sebuah dekonstruksi, penulis menyodorkan pertanyaan différance, yaitu “Bagaimana jadinya manusia kalau tak memakai baju?”

Sebab, terminologi “persona” yang diterjemahkan sebagai “kepribadian”, dapat dirunut dari bahasa Yunani yang artinya “topeng”—dalam konteks tulisan ini dapat disinonimkan dengan “baju”. Sehingga, “Apakah (tidak) mungkin manusia tidak memuat ‘kepribadian’ atau memakai ‘topeng’?” Oleh karenanya, itulah mengapa “Aku berbaju maka aku ada.” Dan, “Bagaimana mungkin aku tiada?”

Angga Arifka

Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email