fbpx

Mengurai Konstruksi Cinta Menurut Alain Badiou4 min read

Tidak ada keseriusan dalam mencintai, pudarnya kesakralan atas cinta, dan bisa saja hanya digunakan untuk mengemas hasrat seksual belaka.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Daftar Isi

Ketika mendengar kata “Cinta” maka yang terbayang adalah keindahan, ketulusan, kesetiaan, pengorbanan, hasrat, kedekatan, komitmen, kasih sayang, dan hal lain yang membawa manusia pada senyuman yang penuh dengan kebahagiaan. Meski demikian, dalam perkembangannya cinta dianggap sebagai sesuatu yang terberi (given) atau diterima begitu saja (taken for granted). Hal ini membuat cinta selanjutnya menjadi kajian yang tidak begitu menarik, karena muncul asumsi bahwa semua orang telah paham dan dapat mengimplementasikan konsep cinta dengan baik. Harus diakui, bahwa di bidang sastra dan seni, cinta menjadi topik unggulan yang digemari oleh banyak orang. Namun kegemaran itu hanya berhenti sampai pada tahap konsumsi semata misalnya: cinta yang diekstrak menjadi sejumlah produk, seperti novel, lagu, dan film. Lebih lagi, produk-produk tersebut tetap memosisikan cinta sebagai sesuatu yang dirasa tidak perlu untuk dikaji secara mendalam.

Melalui fenomena ini filsafat memberikan ruang dan kesempatan bagi manusia untuk dapat mengkaji, merenungi, dan memaknai kembali cinta. Melalui filsafat cinta tidak hanya menjadi komoditas konsumtif. Banyak filosof yang telah mencetuskan gagasannya mengenai cinta. Dalam percakapannya dengan Nicholas Truong —seorang jurnalis Perancis— dalam Festival Avignon, Alain Badiou —seorang novelis dan filosof Perancis— mengidentifikasi sejumlah filosof yang berbicara tentang cinta, di antaranya adalah Plato yang berdalil bahwa cinta merupakan benih dari universalitas. Selain itu juga Arthur Schopenhauer yang menganggap cinta sebagai kesia-siaan alamiah dari seks, Jacques Lacan yang berargumen bahwa cinta merupakan unsur pengisi dalam hubungan seksual, dan Soren Kierkegaard yang justru menganggap cinta merupakan jembatan menuju eksistensi religius. Di luar para filosof tersebut tentu masih banyak filosof  yang memiliki gagasan menarik tentang cinta, seperti Erich Fromm, Gabriel Marcel, Nizami Ganjavi, Jalaluddin Rumi, dan lain sebagainya. Identifikasi ini menandakan bahwa cinta merupakan fenomena yang tidak sederhana, multiperspektif, dan memiliki kedalaman makna.

Cinta dan Pertemuan

Kita sering mendengar istilah “Cinta pada Pandangan Pertama” atau “Cinta Dimulai dari Tatapan Mata”. Bertolak dari istilah-istilah tersebut, kita dapat meninjau gagasan Badiou mengenai hubungan cinta dan pertemuan. Bagi Badiou cinta selalu dimulai dan bermula dari sebuah pertemuan, di mana pertemuan fisik akan berlanjut pada terhubungnya batin dari dua individu yang sedang jatuh cinta. Pada titik ini, Badiou menegaskan bahwa pertemuan tidak berhenti pada terhubungnya batin, melainkan berlanjut pada sebuah komitmen untuk membangun kehidupan bersama. Suatu kehidupan yang didasarkan tidak hanya dari satu perspektif melainkan dari dua perspektif, karena komitmen tersebut dibangun oleh dua individu yang memiliki karakteristik khasnya masing-masing. Badiou menyebut fase ini sebagai “Dua Adegan”. Jika yang terjadi adalah “Satu Adegan”, ialah salah satu individu memaksakan perspektifnya atau menyerah atas paksaan tersebut, maka yang tercipta adalah cinta yang dominatif atau ketergantungan.

Menurut Badiou, cinta tidak bisa berhenti di fase pertemuan, karena baginya cinta adalah konstruksi. Artinya cinta perlu dibangun dan punya potensi untuk terus dibangun, sehingga ada unsur durasi di sini. Baginya cinta tidak hanya soal ekstasi awal, artinya suatu perasaan yang luar biasa di fase pertemuan namun cinta perlu diteruskan untuk kemudian menjadi sebuah konstruksi yang tahan lama. Cinta harus kuat, kokoh, tahan lama, meskipun terdapat berbagai rintangan yang ditawarkan ruang, waktu, dan dunia. Menurut Badiou, jika manusia bisa memastikan hal ini, maka ia akan tiba pada kesejatian atas cinta.

Mengkonstruksi Cinta

Untuk dapat mengupayakan kuatnya konstruksi atas cinta, bagi Badiou penting untuk terus menyatakan dan mengucapkan cinta. Bahkan menurutnya, deklarasi atas cinta— ialah pernyataan dan ucapan— dapat menandai transisi dari suatu hubungan yang awalnya bersifat kebetulan menjadi semacam takdir. “Aku Mencintaimu”, itulah frase sederhana yang dapat terus dinyatakan dan dinyatakan kembali, bahkan bagi Badiou frase tersebut ditakdirkan untuk terus dinyatakan berulang-ulang. Tentu pernyataan atas cinta tidaklah sebatas ucapan di bibir saja. “Aku Mencintaimu” adalah frase yang telah mengekstraksi beberapa variabel yang dibutuhkan dalam relasi cinta, seperti bertahan, komitmen, dan kesetiaan. Tentu ini berimplikasi pada pencarian manusia atas kebahagiaan dan kesejatian cinta.

Jika ada individu yang mempermainkan frase “Aku Mencintaimu” di fase pertemuan sebagai ekstasi awal, Badiou mengidentifikasi bahwa ada kecacatan di dalamnya. Tidak ada keseriusan dalam mencintai, pudarnya kesakralan atas cinta, dan bisa saja hanya digunakan untuk mengemas hasrat seksual belaka. Inilah yang tidak diinginkan oleh setiap manusia dalam dinamika percintaannya. Ini juga yang membuat sebagian individu sulit untuk mencintai dan bahkan menolak untuk percaya pada cinta. Pada bagian kesimpulan, Badiou menegaskan kembali gagasannya tentang cinta, bahwa ketika muncul ungkapan “Aku Mencintaimu”, itu artinya ada kamu sebagai sumber hidupku. Di dalam sumber inilah kita temukan kebahagiaanku, kebahagiaanmu, dan kebahagiaan kita.

Referensi:

Badiou, Alain. 2009. Eloge de l’amour. Terjemahan Andreas Nova. 2020. Sanjungan Kepada Cinta. Edisi Pertama. Circa: Yogyakarta

profil dimas
Dimas Adiatama

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta