fbpx

Menyoal Esoterisme Tuhan dalam Filsafat Barat

Begitu banyak paham teologis yang meyakini bahwa adanya kodrat/esensi terlebih dahulu bukan berarti manusia kehilangan kehendak subjektif dan kebebasannya.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Friedrich Nietzsche

Daftar Isi

Tidak jarang menekuni filsafat kerap kali mendapat stigma ateis. Mungkin saja stigma itu mengakar pada dimensi pertanyaan tanpa batas dalam filsafat yang mengafirmasi manusia sebagai homo quaerens. Kutipan filsuf seperti Nietzsche yang kerap beredar di Internet seperti “God is dead, God remains dead, we have killed him“, sering juga dijadikan justifikasi bahwa filsafat semakin identik dengan segala corak ateistik.

Tulisan ini tidak akan dimaksudkan untuk membela Nietzsche atau para filsuf ateis lainnya, lebih dari itu justru ingin mempertanyakan kritik beberapa “filsuf tenar” mengenai Tuhan. Apakah kritik berbasis ketidakpercayaan akan eksistensi Tuhan ini diarahkan an sich kepada entitas yang dinamakan Tuhan? Apakah kritik itu menyoal benar atau tidaknyaketiadaan Tuhan? Atau apakah kritik hanya diarahkan kepada manusia sebagai subjek yang bertuhan?

Ateisme sendiri dalam diskursus filsafat modern sebagai sebuah pandangan yang menolak keberadaan Tuhan memuncak pada Ludwig Feuerbach, meskipun dari peradaban kuno hingga sebelum Feuerbach sudah ada beberapa riwayat mengenai ateisme di tengah-tengah komunitas masyarakat tiap zamannya. Namun boleh dikatakan Feuerbach cukup menarik perhatian dalam pandangan filsafatnya mengenai Tuhan sebagai proyeksi.

Feuerbach menyoal Tuhan—sekaligus agama—berangkat dari kritiknya terhadap Hegel. Menurut Hegel, Roh Absolut mengungkapkan diri dalam proses perkembangan sejarah melalui kesadaran manusia. Manusia memiliki kesadaran dan subjektivitasnya masing-masing dalam berkehendak, namun di balik itu Roh absolut mencapai tujuannya. Hegel seolah dianggap menjadikan relasi manusia dan Roh absolut sebagai wayang dan dalang, semisal di balik kehendak dan perbuatan manusia ada Roh Absolut yang sebenarnya menyatakan diri.

Bagi Feuerbach, Hegel memutarbalikkan subjek riil yang sebenarnya.  Hegel memberi penekanan bahwa subjek yang nyata adalah Tuhan, sementara manusia hanyalah proyeksi dari kehendak Tuhan. Feuerbach melawan pemikiran Hegel bahwa bukan manusia yang merupakan proyeksi pikiran Tuhan tapi Tuhan yang merupakan proyeksi pikiran manusia. Kritik itu berbasiskan pada penegasan Feuerbach mengenai satu-satunya realitas yang tak lagi dapat dibantah yakni pengalaman empiris. Dan bagi Feuerbach, manusia adalah realitas empiris yang semestinya menjadi tolok ukur filsafat.

Secara gamblang Feuerbach ingin menyatakan bahwa bukan Tuhan yang mencipta manusia, tapi melalui pikiran manusialah Tuhan dicipta. Kritik lebih lanjut ia menganggap bahwa sifat-sifat kesempurnaan Tuhan seperti Maha Kuasa, Maha Baik, Maha Adil merupakan refleksi atau cerminan dari hakikat manusia itu sendiri. Manusia cenderung mengidealkan kesempurnaan sebagai cita-cita kemanusiaan, namun ketidakmampuan manusia merealisasikan hakikat dan potensi secara utuh membuat manusia justru mengalihkan dengan memproyeksikannya ke dalam entitas asing (Tuhan) sebagai yang Maha Sempurna. Sehingga manusia mengasingkan hakikatnya ke dalam entitas yang asing.

Karl Marx mengadaptasi kritik Feuerbach terhadap Hegel ke dalam dimensi sosial-politik. Marx menyetujui pendapat Feuerbach bahwa Hegel memosisikan subjek dan objek secara terbalik. Mengikuti kritik Feuerbach, manusia dipertegas sebagai subjek dan Tuhan hanyalah objek pikiran dari subjek. Tidak berhenti sampai di sana, Marx mengkritik pandangan Feuerbach sendiri yang seolah memisahkan subjek manusia dari konteks sosialnya. Menurut Marx, manusia tidak bisa dipisahkan dari masyarakat dan negaranya. Manusia tidak bisa diandaikan secara abstrak, manusia selalu orang-orang yang riil dan konkret yang hidup sebagai warga dalam masyarakat.

Marx mempertanyakan mengapa manusia mengasingkan hakikatnya ke dalam Agama dan Tuhan? Mengapa manusia gagal merealisasikan potensinya? Marx mencari penyebabnya dari kondisi sosial manusia di mana ia hidup. Struktur sosial yang mencegah manusia merealisasikan hakikat dan potensinya yang menjadikan manusia membutuhkan pelarian dalam angan-angan.

Bagi Marx, agama dan Tuhan hanyalah ungkapan penderitaan manusia dalam struktur sosial yang menindas, angan-angan surgawi subjektif dibutuhkan manusia untuk meredakan ketertindasan objektif dalam masyarakat. Tuhan dan Agama dianggap sebagai pelarian imajiner manusia sengsara yang kalah dalam menghadapi kerasnya realitas dalam kerangka penindasan kelas. Di dalam agama, manusia mengekspresikan protesnya atas kondisi sosial yang memaksanya melarikan diri ke dalam agama, berangkat dari asumsi filosofis inilah kemudian Marx mengeluarkan ungkapanyang terkenal “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of our soulless conditions. It is the opium of the people.”

Sementara pandangan Nietzsche mengenai Tuhan dan Agama berangkat dari pandangan perspektivisme, karenanya ia menolak adanya absolutisme seperti kebenaran, agama dan moral universal. Tuhan termasuk simbol absolutisme kebenaran yang ditolak Nietzsche melalui metafora “God is dead”. Nietzsche jelas menganggap bahwa apa yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran seperti moralitas, agama dan Tuhan merupakan bentuk kreasi dari manusia.

Lebih jauh Nietzsche menjelaskan mengenai dua tipe moral secara fundamental yakni moralitas tuan (herrenmoral) dan moralitas budak (sklavenmoral). Moralitas tuan menjadikan tindakannya sebagai ukuran baik-buruk sementara moralitas budak menjadikan intensi atau niat sebagai ukuran baik-jahat.

Moralitas tuan biasanya digambarkan sebagai yang kuat, berdaulat, unggul, agresif, dan jenius sementara moralitas budak digambarkan lemah, pengecut, mengekor perintah tuan, lemah lembut, dan simpati.

Manusia dengan moralitas budak biasanya menyimpan ketakutan dan kekhawatiran pada individu-individu dengan moralitas tuan karena dominasi dan agresivitasnya. Ketakutan tersebut terpendam menjadi dendam, dari sanalah kaum dengan mentalitas budak melakukan pembalikan nilai atau biasa disebut transvaluation of values di mana terjadi kemenangan yang lemah terhadap yang kuat atau kemenangan pengecut terhadap yang unggul dalam dimensi imajiner. Pembalikan nilai ini menjadi suatu hegemoni sehingga yang lemah, pengecut, dan tidak berdaya dianggap sebagai yang baik sementara yang kuat, mendominasi, dan agresif dianggap buruk dan jahat. Dalam konteks pembalikan nilai yang Nietzsche maksudkan adalah kerangka moral peradaban barat yang dipengaruhi ajaran kristiani, di mana secara historis hal ini pernah terjadi ketika agama Kristen menjadi agama nasional di Romawi. Menurutnya, ajaran kasih, lemah lembut, empati dalam kristiani merupakan manifestasi dari moralitas budak (sklavenmoral) sehingga nilai-nilai kemanusiaan yang utuh dan sejati seperti agresivitas, kekuasaan, dan kebanggaan disingkirkan dan ditekan oleh Agama.

Tuhan, agama, beserta moralitas turunannya dianggap Nietzsche menghambat manusia mencapai esensi kemanusiaannya yang purna dan sejati atau apa yang disebut sebagai Übermensch. Übermensch hanya bisa dicapai jika manusia memaksimalkan dorongan will to power atau kehendak untuk berkuasa, sementara Tuhan dan agama menekan dorongan tersebut karena kepatuhan terhadap perintah ilahi untuk bersikap lemah lembut dan pengecut seperti di dalam moralitas budak.

Sementara itu Jean Paul-Sartre memulai kritik Tuhan dengan ontologinya yang membedakan dua cara Ada. Être en soi/Being in itself (Ada pada dirinya) dan Être pour soi/Being for itself (Ada bagi dirinya). Être en soi adalah ada yang tidak sadar dari benda-benda, ada begitu saja, dan identik dengan dirinya sendiri, sementara Être pour soi merupakan ada yang berkesadaran khas manusia, tidak ajek dan tidak identik pada dirinya sendiri, punya kemampuan untuk menegasi sehingga selalu dalam proses menjadi, hal yang tidak dapat dilakukan oleh objek padat dan ajek dengan Être en soi.

Bagi Sartre, ada dan kesadaran tidak pernah tercapai persesuaian, kesadaran menyadari diri sebagai “yang bukan apa yang disadarinya”, kesadaran melampaui keajekan dan kepadatan ada dari benda mati Être en soi. Dari ajarannya mengenai kesadaran ini, Sartre menyimpulkan jika Tuhan ada, seharusnya Ia merupakan identitas penuh antara Ada dan kesadaran atau Être en soi dan Être pour soi. Namun hal itu tidak mungkin ada karena sifat-sifat Tuhan seperti sempurna, kekal dan tidak berubah yang notabene merupakan ciri-ciri dari Être en soi saling berkontradiksi dengan kuasa, kehendak, dan kebebasan Tuhan yang merupakan ciri-ciri Être pour soi.

Penolakan Sartre atas Tuhan juga sejalan dengan penolakannya terhadap esensi yang sudah ada sebelum eksistensi, yang artinya Sartre secara tegas menolak adanya kodrat bawaan manusia yang sedemikian rupa ditetapkan oleh Tuhan sebelum manusia ada di dunia. Sartre menganggap jika esensi sudah ada pada manusia maka eksistensi manusia hanya merupakan perkembangan dari tujuan yang sudah ditetapkan pada esensi tersebut, hal itu tidak ada bedanya antara manusia yang berkesadaran dengan benda mati seperti pohon, tanaman ataupun objek benda mati yang sudah ajek memiliki esensinya.

Bagi Sartre, manusia berada dalam keterlemparan/faktisitas (Geworfenheit), ia harus bereksistensi di dunia, menjalaninya, menghidupinya, menegasinya kemudian setelah itu manusia baru dapat mendefinisikan dirinya serta menetapkan makna hidupnya. Artinya manusia harus merealisasikan apa yang ada pada dirinya, dari sanalah ia memperoleh esensinya. Kemampuan untuk merealisasikan itu terletak pada kebebasan manusia,  di mana kebebasan yang diandaikan Sartre merupakan kebebasan radikal oleh karenanya manusia tidak akan mampu merealisasikan kebebasannya jika Tuhan ada. Maka Sartre berasumsi bahwa Tuhan tidak boleh ada karena adanya kebebasan manusia itu sendiri. Seperti pembalikan diktum Dostoyevski “Jika Tuhan tidak ada, maka semuanya boleh” menjadi diktum ateistik ala Sartre “Karena manusia bebas, maka Tuhan tidak ada”

Mungkin akan begitu banyak Filsuf ateistik yang mengkritik Tuhan dan Agama, namun di sini hanya dicukupkan pada Feuerbach, Marx, Nietzsche, dan Jean Paul-Sartre. Keempat filsuf tersebut memiliki dasar argumen antroposentris yang kurang-lebih hampir sama yakni mengkritik Tuhan demi terealisasinya kemanusiaan secara utuh dan tidak terintervensi sedikit pun oleh batasan-batasan transenden. Feuerbach berpendapat manusia harus menolak yang Maha Adil, Maha Baik, Maha Tahu agar manusia dapat merealisasi hakikatnya yang adil, baik, dan tahu. Marx berpendapat manusia mengasingkan diri ke dalam agama dan Tuhan karena kondisi sosialnya yang menghambat manusia merealisasikan dirinya secara penuh. Nietzsche menganggap Tuhan dan agama simbol absolutisme yang mencegah manusia untuk mencapai Übermensch yakni kemanusiaan sejati yang utuh dan unggul. Sementara Sartre menolak Tuhan karena Tuhan diasumsikan sebagai antitesis kebebasan, kebebasan yang menjadi dasar manusia untuk merealisasikan individualitasnya sebagai manusia.

Hal ini semakin memperjelas pertanyaan di awal tulisan ini “Apakah kritik itu menyoal benar atau tidaknya ketiadaanTuhan?” atau “Apakah kritik hanya diarahkan kepada manusia sebagai subjek yang bertuhan?”

Tidak ada satu pun di antara keempat filsuf di atas yang berbicara persoalan esoteris mengenai benar tidaknya ketiadaan Tuhan, mereka hanya berbicara dimensi subjektif manusia semata-mata. Seolah keyakinan akan eksistensi Tuhan didasarkan problem psikologis ataupun sosiologis, padahal dimensi subjektivitas manusia tidak bisa menjadi ukuran yang valid atas ketiadaan Tuhan.

Feuerbach dan Marx melihat Tuhan dan agama hanya sebatas aspek fungsionalnya yakni menjadikan Tuhan sebagai sarana refleksi hakikat manusia yang sebenarnya, sama sekali tidak memasuki ranah esoterik. Sementara Nietzsche dan Sartre melihat Tuhan sebagai musuh imajiner kemanusiaan.

Terkhusus kesalahpahaman Sartre mengenai Tuhan dan kebebasan juga mengundang kritik. Sartre bersikeras jika Tuhan ada, maka kebebasan tidak ada. Hal itu justru menjerumuskan pada pandangan fatalistik, begitu banyak paham teologis yang meyakini bahwa adanya kodrat/esensi terlebih dahulu bukan berarti manusia kehilangan kehendak subjektif dan kebebasannya. Kebebasan manusia akan tetap ada, itulah faktor fundamental dalam teologi pada umumnya terdapat konsep dosa-pahala, karma buruk-karma baik, dan sejenisnya yang tentunya. Jika tidak ada kebebasan, tidak akan ada pula konsep dosa-pahala, semua perbuatan baik-jahat seolah didalangi oleh Tuhan.

Fauzian Aulia Muslim

Pegiat filsafat dan pengajar Sejarah