The Theory of Everything

Narasi merupakan gambar yang hidup (bios graphos) di mana sesosok manusia dapat mengabadikan kehidupannya sebagai peninggalan bagi manusia lain.
Film The Theory of Everything

Stephen Hawking telah melakukan penelitian selama lebih dari 40 tahun guna menemukan model yang tepat untuk menjelaskan deduksi standar seluruh fenomena alam semesta. Model itu disebut Theory of Everything (ToE), yang pada masa lampau disebut Archimedes sebagai aksioma mengenai dunia. Meski model tersebut belum ditemukan hingga Hawking wafat, pioner ilmu pengetahuan lain terus mencoba untuk memadupadankan model-model fisika kuantum dan fisika mekanik demi merumuskan pengetahuan baru bagi manusia atas universalitas jagat raya. Hal ini dilakukan sebagai penghargaan tertinggi pada motif yang selama ini mendasari penelitian Hawking, ialah menggenapi penantian para ilmuwan dan kosmolog atas ‘teori mesias’ guna menyelamatkan kebenaran serta pengertian manusia atas kejadian-kejadian kosmik. Namun terdapat dua ToE yang ditinggalkan Hawking bagi dunia, di mana ToE pertama merupakan warisan untuk para pencari pengetahuan dan ToE kedua merupakan warisan bagi manusia yang merayakan kehidupan. ToE kedua tersebut dirilis pada tahun 2014, ialah biografi perjalanan Hawking bersama Dennis Sciama, Jane Wilde, serta Elaine Mason. ToE ini bukan merupakan teori yang berusaha memaparkan pembentukan atau kejatuhan semesta melainkan film pemecah urutan ketujuh box office di Amerika Serikat. ToE dalam ramuan James Marsh menampilkan sosok yang lebih dikenal sebelumnya sebagai Newt Scamander atau Marius Pontmercy, ialah Eddie Redmayne yang dalam kesempatan ini berperan sebagai Stephen Hawking.

Hawking berpulang pada tahun 2018 atau empat tahun setelah Film ToE dirilis. Film tersebut—berikut memoar yang dituliskan Jane Wilde berjudul Travelling to Infinity—sejenak mengalihkan perhatian masyarakat dari usaha para mahasiswa matematika terapan di Cambridge atau para peneliti nuklir di CERN. Masyarakat ilmiah yang sebelumnya menantikan kelahiran Teori segala sesuatu, sejenak menerima pengalaman cinematik melalui biografi Hawking. Pergeseran fokus masyarakat dari penelitian Hawking menuju sinema biografi kehidupan pribadinya merupakan hal yang signifikan bagi manusia. Narasi hidup tidak dapat menjelaskan bagaimana batas antar gravitasi terbentuk namun dapat memberi aksentuasi dalam diri seseorang. Kesempatan, dorongan hidup, kejatuhan dan penghayatan Hawking atas ilmu membuat narasi ToE menyalurkan arti yang lebih penting dari penelitiannya sendiri. Bagi sebagian besar orang penemuan-penemuan Hawking hanya berarti dalam ruang seminar yang formal, di depan para pelajar dan kaum naturalis, atau dianimasikan sebagai pembaharu dalam pendidikan fisika bagi anak-anak. Namun jawaban atas, ‘Siapa Hawking?’ tidak kalah pentingnya bagi para pelajar, cendikia, dan saintis yang ingin memahami karya Hawking. Rona keingintahuan yang sama hadir dalam diri setiap orang yang sesekali mendengar atau membaca nama Hawking di media massa.

Kehadiran sinema biografi Hawking yang sempat mengalihkan perhatian masyarakat dari konsepsi teori Hawking sendiri, merupakan salah satu contoh yang membuktikan bahwa narasi merupakan sebuah hal penting yang diinginkan manusia. Seseorang dapat tercatat atau terhapus dalam sejarah namun ia akan selamanya hidup melalui cerita, sebagaimana ucapan Lagertha saat menjadi hakim dalam The Vikings, “Kita (manusia) hanyalah sebuah cerita”. Kisah atau narasi mengandaikan persentuhan manusia dan mengandung dunia-dunia lain yang dapat memperluas cakrawala pengetahuan pembaca-penonton-pendengar. Dalam filsafat, pengagungan narasi ini digaungkan oleh beberapa filosof eksistensialis seperti Hannah Arendt yang mengabdikan hidupnya untuk menarasikan kebanalitasan, Simone de Beauvoir yang mengabdikan diri sebagai narator dari keseharian para filosof cafe de flore, atau Julia Kristeva yang menghargai detail kecil kehidupan Melanie Klein, Teresa Avila, dan Arendt. Deretan narator ini didukung oleh kecintaan hidup dari berbagai penulis autobiografi, jurnalis biografi, pendongeng, dan pencerita. Seluruh penulis tersebut selalu berusaha untuk merangkai kehidupan sebagai perjalanan, dengan kata lain mengisahkan kehidupan sebagai entitas baru yang terikat sekaligus terlepas dari kehidupan itu sendiri. Kehidupan tanpa cerita bukan merupakan kehidupan yang layak dijalani. Setidaknya demikian pendapat Arendt dalam karya Kristeva ketika berusaha menggambarkan bentuk kebaikan dalam hidup. Bagi Arendt, narasi merupakan gambar yang hidup (bios graphos) di mana sesosok manusia dapat mengabadikan kehidupannya sebagai peninggalan bagi manusia lain. Aspek rekreasi dan refleksi—bernafas dan melihat pantulan—dari narasi merupakan bagian yang penting dalam keseharian, ialah satu-satunya cara untuk menghargai jalannya kehidupan yang belum pernah dapat ditebak hingga hari ini. Kehadiran biografi Hawking, Arendt, dan serangkaian sosok lainnya merupakan bagian dari penghargaan manusia atas kehidupan sekaligus timbunan warisan masa depan yang berharga setara dengan jawaban atas pencarian masa depan dunia.

Pustaka

Guberman, Ross Mitchell (ed.). Julia Kristeva: Interviews. Columbia University Press: 1996, New York.

Kristeva, Julia. Hannah Arendt: Life is a Narrative. University of Toronto Press: 2001, Toronto.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email