fbpx

Pandangan mengenai perempuan dari berbagai zaman

Pandora karya John W. Waterhouse
Pandora karya John W. Waterhouse

Masing-masing dari kita adalah anak zaman. G.W.F Hegel dalam konsepsinya mengenai Zeitgeist (roh zaman) meyakini bahwa tiap orang tidak bisa melampaui atau lepas dari pemikiran dalam konteks zamannya. Michel Foucault sebagai sejarawan pengetahuan juga meyakini adanya semacam tableau (skematisasi) dalam ranah “tak sadar” kognisi manusia yang membatasi pengetahuan manusia di tiap era. Para filsuf pun tidak lepas dari pengaruh zamannya, walaupun secara paradoks, filsuf bisa memberikan terobosan bagi pemikiran masa depan. Begitu pula pandangan filsuf mengenai perempuan. Di tiap zaman yang berbeda, masyarakat dan filsuf memiliki definisi yang khas mengenai pengertian dan posisi perempuan. Tidak selalu manis, demikian panjang dan naik-turun perjalanan pemahaman atas perempuan dalam pandangan tiap peradaban. Berikut ini merupakan beberapa pandangan mitologi, filosofis, dan definisi filsuf mengenai perempuan dari berbagai zaman.

Zaman Yunani Arkais (750-500 SEU)

Pada zaman Yunani Arkais, pengetahuan masyarakat berasal dari mitologi. Kendati di masa tersebut terdapat pemujaan terhadap dewi-dewi seperti Aphrodite dan Athena, terdapat juga sentimen tajam terhadap perempuan sebagaimana beberapa figur seperti Pandora dan Medusa.

Mitologi Pandora

Dikisahkan, Pandora adalah perempuan pertama yang diciptakan oleh Dewa, penciptaan Pandora memang bermotifkan siasat licik untuk menghukum umat manusia. Prometheus yang diutus untuk mengurus manusia di bumi hadir dalam pernikahan Epimetheus dan Pandora. Dalam pernikahan tersebut, Prometheus memberikan hadiah titipan para Dewa berupa sebuah kotak. Prometheus mengetahui terdapat hal buruk di dalam kotak tersebut. Ia mewanti-wanti Pandora untuk jangan sampai membuka kotak tersebut. Namun Pandora yang sangat penasaran membuka kotak tersebut yang ternyata berisi segala macam keburukan bagi dunia: kejahatan, iri dengki, kemarahan, nafsu, angkara, dan lain sebagainya keluar dari kotak tersebut dan menyisakan satu hal yakni, “harapan”.

Mitologi Medusa

Dari perspektif Yunani Arkais yang bercorak phallosentris, Medusa dikisahkan sebagai perempuan berhati baik dan berparas sangat cantik yang menjalankan penyembahan terhadap Dewi Athena di kuil Athena. Medusa di dalam laku penyembahannya telah bersumpah untuk tetap perawan dan suci dari urusan duniawi. Namun Dewa Poseidon sebagai musuh Dewi Athena ingin merusak citra pengikut terbaiknya tersebut dengan melakukan tindak pelecehan terhadap Medusa. Dewi Athena yang mengetahui Medusa telah tidak suci malah mengutuk Medusa menjadi monster berambut ular yang akhirnya dipenggal kepalanya oleh ksatria berjiwa militan bernama Perseus. Berabad setelah wiracarita ini dibuat, para pakar feminisme dalam analisis mengenai tendensi phallocentrism menemukan bahwa kisah tersebut berhubungan dengan pengebirian hak-hak perempuan untuk berbicara dan berpikir untuk melindungi patriarki.

Zaman Yunani Klasik (500-400 SEU)

Di zaman ini corak pemikiran telah bergeser dari sebelumnya dipengaruhi mitos menjadi berdasarkan rasionalitas, berikut kami tampilkan dua gagasan dari 2 pemikir besar di era tersebut.

Pemikiran Plato

Di dalam karya besar Plato berjudul Politeia (The Republic atau Negara) ia mengungkapkan bahwa jiwa tidak memiliki gender, artinya perempuan dan pria pada hakikatnya sama. Plato adalah salah seorang filsuf paling awal yang mempromosikan emansipasi bagi perempuan kendati pemikirannya bukanlah bentuk feminisme tertentu. Bagi Plato sebuah Polis atau Negara ideal dapat terbentuk apabila seluruh rakyatnya mendapatkan keadilan, artinya perempuan pun berhak mendapatkan hak-hak yang sama seperti pria salah satunya dipilih secara legislatif. Perempuan juga wajib mendapatkan pendidikan di dalam Polis untuk mencapai kebijaksanaan dalam mendidik putra-putrinya atau calon generasi penerus. Sebagai warga negara, perempuan juga wajib menjalankan kehati-hatian (sophrosyne), keberanian (andreía), dan kebijaksanaan (sophia)

Pemikiran Aristoteles

Dalam salah satu karya Aristoteles berjudul Politics, ia memiliki pandangan yang berbeda dari gurunya (Plato). Bagi Aristoteles perempuan tidak memiliki kedudukan yang setara dengan pria, ia meyakini kaum pria harus menjadi otoritas dan perempuan sebagai subjeknya. Kaum pria dianggap lebih superior sedangkan perempuan inferior, kedudukan perempuan merdeka lebih tinggi dari budak namun berada di bawah suami atau pria. Dalam teori Aristoteles mengenai inheritance (teori keturunan) perempuan dianggap sebagai “lahan” dalam proses penyemaian reproduksi karena pria sifatnya lebih aktif sedangkan perempuan pasif.

Phallocentrism (1920-an)

Sigmund Freud

Diawali dengan pemikiran kontroversial Freud mengenai perkembangan psikoseksualitas manusia yang terbagi atas tiga fase: oral, anal, dan phalic. Dalam fase phalic (usia 6-9 tahun) tahap pematangan genital anak laki-laki memiliki kehendak libido tak sadar untuk menyukai ibu mereka dan cemburu dengan ayah yang selanjutnya fenomena ini disebut sebagai Oedipus complex. Lalu kemudian menyusul teori untuk mengimbangi konsep tersebut, fase ketika anak perempuan yang memiliki kehendak libido tak sadar untuk menginginkan ayahnya dan cemburu pada ibunya disebut sebagai Electra complex. Pada fase menuju dewasa, kehendak tak sadar ini ditekan oleh superego yang berisikan tuntunan moral, agama, dan etis. Namun bagi Freud, superego kaum pria lebih kuat dibandingkan perempuan. Karenanya perempuan merasa inferior secara moral dibandingkan pria. Tidak ada ruang bagi feminitas kecuali terikat pada maskulinitas. Secara kontroversial, Freud memperkenalkan konsep penis envy atau kecemburuan tak sadar perempuan karena tidak memiliki penis. Oedipus Complex dianggap sebagai reproduksi fisik patriarki membentuk peran seksual yang berbeda dalam masyarakat kita saat ini.

Kritik terhadap pemikiran Sigmund Freud

Ernest Jones pada tahun 1927 melancarkan kritik terhadap pemikiran Freud tersebut, bagi Jones prioritas atas posisi pria adalah tendensi phallocentrism yang berlebihan. Istilah phallocentrism berasal dari kata phallus (alat genital pria) dan sentrisme berarti pemusatan. Bagi Jones perempuan bukanlah makhluk yang diciptakan dari kecemburuan atas penis. Teori tersebut justru dianggap sebagai akibat kecemasan “pengebirian” superioritas kaum pria, dan bahwa perempuan bisa jadi menandingi budaya patriarki yang mengakar dalam peradaban.

Perempuan dalam Teori Oposisi Biner

Pernahkah Anda perhatikan, dalam banyak teks yang kita temui sehari-hari format penulisan gender selalu berbentuk demikian: bapak-ibu, siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi. Hal tersebut nampak sepele, namun ahli strukturalisme bahasa seperti Ferdinand de Saussure tidak memandang sederhana hal tersebut. Bagi Saussure sistem kebahasaan kita merupakan struktur jejaring makna yang memiliki pola-pola tertentu. Salah satu pola tersebut adalah pemaknaan berdasarkan oposisi biner. Sebuah kata atau petanda selalu memiliki keterkaitan makna dengan lawan katanya. Namun kenapa gender perempuan diletakkan di belakang? Akarnya dapat ditelusuri jauh semenjak societas yang patriarkal terbentuk. Jacques Derrida murid dari Saussure, memberikan analisis menarik mengenai oposisi biner khususnya dalam dikotomi gender. Menurut Derrida pada pemikiran tradisional; petanda “male” atau pemaknaan atas gender pria dipandang lebih dominan atas petanda “female” karena keberadaan (presence) atas phallus sementara perempuan tidak memiliki/absence atas phallus. Petanda male juga cenderung dominan karena diasosiasikan dengan makna kuat, logis, pemimpin dalam kategori maskulinitas, sedangkan petanda female diasosiasikan dengan makna lemah, dependen, perasa dalam kategori feminitas.

Perempuan dalam Pemikiran Feminisme (1950-an)

Peradaban yang patriarkat telah menderivasi kedudukan perempuan. Perempuan terobjektifikasi oleh dominasi pria dalam budaya, hirarki sosial, bahkan secara tak sadar dalam struktur kebahasaan. Hal ini mendorong para pemikir feminisme di abad ke-20 untuk merespons pra-anggapan tersebut dan memberikan definisi yang baru mengenai kedudukan perempuan. Salah seorang pemikir yang menginisiasi hal tersebut adalah Simon de Beauvoir

The Second Sex

Simon de Beauvoir dalam karya besarnya The Second Sex (terbit pertama pada tahun 1949) memberikan definisi baru pada kedudukan perempuan. Pemikiran Beauvoir diawali dari pengaruh eksistensialisme Sartrean yang meyakini bahwa eksistensi selalu mendahului esensi. Namun di sepanjang peradaban, esensi dari kaum perempuan diperlainkan oleh kekuatan patriarki. Beauvoir mengkritisi esensi psikologistik yang diperkenalkan oleh Freud, bahwa phallocentrism yang Freud maksud belum tentu berlaku di semua tempat dan Freud tidak memberikan analisis lengkap mengenai awal mula supremasi dari kaum pria.

Beauvoir menemukan motif kepentingan para patriarki yang menciptakan identitas dan esensi palsu untuk memper-liyan-kan perempuan. Gender perempuan telah dianggap sebagai gender liyan di sepanjang peradaban. Beauvoir menemukan penyebab, mengapa perempuan sulit membentuk esensi nya sendiri karena perempuan tidak mudah menemukan alter ego dari dirinya, sementara pria dengan mudah menemukan alter ego nya pada diri perempuan. Signifikansi kedudukan perempuan bagi Beauvoir dapat dilacak sedari masa purba, di masa purba perempuan punya andil penting menjaga harmoni dari pola asuh terhadap anak dan pria. Namun kehendak pria melakukan ekspansi dalam perang menjadikan harmoni tersebut berubah dan peradaban menjadi patriarkat seperti yang kita kenal sekarang.

Krisna Putra Pratama

Krisna Putra Pratama adalah alumnus Kelas Filsafat Dasar (KFD) yang diselenggarakan oleh LSF Discourse.

Bagikan artikel ini:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.