Ex Philosophia Claritas

Pola Kritis Ketuhanan Sokrates

Perlawanan Sokrates pada praktik berhala membawanya pada hukuman mati, namun ia menjadi contoh untuk tetap berusaha membuktikan keberadaan Tuhan secara rasioal.
Alcibades being taught by Socrates painted by Francois Andre Vincent
Alcibades being taught by Socrates painted by Francois Andre Vincent

Daftar Isi

Identitas Sokrates dalam literatur-literatur sekunder (mengingat Sokrates tidak meninggalkan buah pena) selalu menampilkan pemikiran otentik dengan penekanan pentingnya mengenali diri sendiri. Di samping itu, Sokrates menjelaskan secara detail tentang pengetahuan universal. Sokrates memberi pandangan bahwa mustahil bagi seorang manusia mengetahui sesuatu yang hakiki dari suatu realitas yang ada, jika manusia tidak mengetahui “siapa” dirinya.

Sokrates memiliki metode yang menyajikan banyak pertanyaan untuk didialogkan dengan lawan bicaranya yang pada masa tersebut merupakan para pemuda Athena. Sebelum ia merealisasikan ajaran dan prinsipnya di Athena, ia telah mengokohkan pemikirannya hingga sangat konsisten, bahwa mengetahui diri sendiri merupakan salah satu pintu untuk mencapai pengetahuan yang universal. Sehingga, dapat dikatakan bahwa Sokrates telah menemukan rahasia yang tersembunyi dari realitas fenomena yang terjadi.

Namun, problem ini menjadi rumit karena tidak ada satu pun peninggalan karya yang ditulis sendiri oleh Sokrates, sehingga kemungkinan besar pemikiran Sokrates tidak dapat dipelajari secara menyeluruh. Hal ini juga terjadi dalam usaha mempelajari konsep ketuhanan menurut Sokrates. Untuk itu, sumber yang dijadikan panutan dalam pencarian pola ketuhanan Sokrates tidak lain ialah sumber yang berasal dari catatan para muridnya. Di antara mereka tersebut:

  1. Aristophanes, seorang pengarang (komedi temasyhur di Athena).
  2. Xenophon, yang mencatat percakapan Sokrates dalam Memorabilianya (kenangan akan Sokrates).
  3. Plato yang mencatat dialog Sokrates dalam Phaedo-nya (dialog-dialog bersama Sokrates).
  4. Aristoteles (Murid Plato) yang mencatat ajaran Sokrates dalam Metafisika-nya.

Pola Ketuhanan

Pola ketuhanan Sokrates tergambar jelas dalam catatan mengenai akhir hidupnya, ketika ia tidak memilih opsi yang ditawarkan oleh pemerintah untuk menghancurkan keyakinannya hanya demi mempertahankan kehidupan yang “tidak berharga”. Ia lebih memilih meminum racun mematikan (Aletheia) agar ajaran dan prinsip hidupnya tetap dalam keabadian yang berharga. Konsistensi atas pengetahuan yang diperoleh Sokrates secara tidak langsung mengajak para pengkaji untuk menemukan prinsip ketuhanan. Hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa Sokrates telah disesatkan oleh para tetua di masanya, di mana ia dianggap sebagai “biang kerok kerusakan” keberagamaan penyembahan berhala hingga ia divonis hukuman mati.

Selain itu, hukuman yang diperoleh Sokrates juga disebabkan karena penolakannya terhadap sistem demokrasi. Sokrates meragukan sistem demokrasi, ia berpendapat, “Mana mungkin pemerintahan bisa bertahan jika dikuasai oleh para orator?”. Ungkapannya ini ditulis oleh Plato dalam karyanya Protagoras. Bagi Sokrates, negara dan pemerintahan akan bertahan jika dipimpin oleh warga yang bijak (terbijak di antara yang bijak). Hal ini didasarkan pada argumennya bahwa kesejahteraan mustahil dicapai negara dan pemerintahan jika sistemnya dikuasai oleh orang banyak dan tidak mengerti (sistem perwujudan demokrasi). 

Adapun sikap dan pandangan Sokrates terhadap ketuhanan, ia memiliki pemikiran yang berbeda dengan tokoh lain di masa hidupnya. Hal ini dicontohkan dalam dialognya dengan Aristodium. Dialog tersebut bertopik “kebetulan”. Sokrates menolak adanya kebetulan dalam segala sesuatu yang terjadi. Ia mengungkapkan pandanganya dalam pertanyaan kepada Aristodium, hingga akhirnya Aristodium mengakui keberadaan Tuhan. Sokrates memberikan jawaban bahwa segala sesuatu yang terjadi (termasuk tindakan) bukan kebetulan saja. Akal dan pengetahuan adalah salah satu jalan untuk menemukan jawaban itu. Dalam hal ini, ada dua jalan yang dibangun Sokrates dalam mengetahui Tuhan ialah dengan pengakuan pada kejadian alam dan alasan-alasan sejarah.

Sokrates juga mengungkapkan bahwa menyembah berhala itu berbahaya untuk manusia, karena ia tahu bahwa berhala itu hanya buatan manusia lain. Hal ini yang menyebabkan Sokrates tidak menyembah berhala layaknya warga Athena. Alih-alih demikian ia menyebarkan ajaran bahwa menyembah berhala itu berbahaya.

Dalam dialektikanya, Sokrates mengungkap bahwa berhala tidak dapat memberikan bahaya atau keuntungan bagi dirinya. Sokrates menceritakan bahwa ia pernah diajak raja untuk menyembah berhala dalam peperangan, namun ia menolaknya dengan argumen logis. Ia menyatakan pada raja bahwa berhala tidak memiliki hal yang ia cari.

Ajaran-ajaran yang disebarkan oleh Sokrates telah diikuti oleh pemuda-pemuda di Athena, sehingga sebagian para pemuda menjadi enggan menyembah berhala. Pengikutnya mayoritas berasal dari golongan muda, yang terdiri dari anak para pejabat dan pemuka Athena.

Sokrates secara sengaja menyebarkan ajaran-ajarannya, meskipun ia sadar bahwa ajarannya sangat bertolak belakang dengan sistem keberagamaan di wilayahnya. Meski demikian, raja saat itu tidak lantas menghukum dengan Sokrates dan justru membiarkannya. Bagi raja saat itu, tindakan Sokrates tidak menunjukkan sisi kesalahan, karena tindakan Sokrates lebih sempurna (lebih baik) daripada ungkapan yang dikemukakan.

Sokrates terus memperjuangkan keyakinannya dan selanjutnya menyebarkan pandangan ini dengan menjelajahi berbagai daerah. Semua orang yang ditemuinya diajaknya berdialog, terkhusus para kaum muda. Sokrates sadar, bahwa para tetua memiliki sifat kolot dan kaku, sehingga akan mengikutsertakan pemahaman ketuhanan mereka tanpa usaha untuk berpikir kritis. Karena sikap Sokrates ini, para pemuka agama merasa terusik. Diceritakan bahwa kemudian mereka datang menghadap raja untuk mengajukan hukuman pada Sokrates dengan tuduhan; merusak kaum muda.

Melalui pengalaman Sokrates kita dapati pengakuan adanya Tuhan sebagaimana kita kenali saat ini. Perlawanan Sokrates pada praktik berhala membawanya pada hukuman mati, namun tindakannya menjadi contoh bagi kita untuk tetap berusaha membuktikan keberadaan Tuhan secara rasioal. Adapun, dialektika Socrates membuktikan bahwa Tuhan dapat dikenali oleh manusia melalui alam ini (fenomena) dan argumentasi sejarah.

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email