Teori Kritis Sekolah Frankfurt

Horkheimer berusaha mengajak manusia untuk bangun dari mimpi panjang.
Max Horkheimer

Sekolah Frankfurt dikenal sebagai penggagas sekolah kritis masyarakat yang mulai menjadi kajian penting di Jerman terutama pada pasca Perang Dunia II. Beberapa tokoh di antaranya adalah Horkheimer, Adorno, Fromm, dan Habermas. Di antara para filosof ini Horkheimer-lah yang merumuskan rasionalitas manusia sebagai suatu hal yang kadang kala berbahaya. Bahkan ia merumuskan pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menjalin sebuah sistem rasio justru dapat memerangkap manusia menuju sebuah ikatan-ikatan moral yang destruktif.

Historisitas Sekolah Franfurt

Sekolah Franfurt merupakan sekolah mazhab pemikiran neo-marxis. Namun sekolah ini pada akhirnya dinilai menyimpang dari marxisme ortodoks karena merevisi berbagai pandangan Marx mengenai ide dan rasionalitas manusia, yang pada pangkalnya berpengaruh terhadap pandangan mereka atas kritik moral masyarakat. Sekolah ini dipelopori oleh Felix Weil yang bervisi untuk mengumpulkan berbagai intelektual untuk mengemukakan ide marxian dalam permasalahan masyarakat modern. Pada akhir dari Sekolah Frankfurt, nereka berhadapan dengan teori-teori postmodern dalam mempertanyakan apa makna kebenaran sebagai produk rasionalitas manusia.

Sekolah ini di mulai di Frankfurt  am Main, namun karena perang dunia yang berkelanjutan mereka terpaksa berpindah hingga ke Amerika Serikat, dimana Habermas nantinya banyak mengeluarkan ide-ide mengenai ruang publik. Namun banyak dari para cendekiawan ini kembali ke Jerman pada tahun 1950 dan di sana selanjutnya mereka mengemukakan kembali ide-ide marxian yang sesuai dengan konteks zaman demi pemecahan masalah sosial.

Sekolah Frankfurt hadir dalam masa dimana kapitalisme monopoli berkuasa kembali, bahkan jauh lebih kuat dibandingkan masa sebelum perang dunia. Perusahaan-perusahaan raksasa muncul, atau kembali muncul untuk menggulung perusahaan kecil. Hal tersebut berimbas langsung terhadap kecenderungan sosial dan hubungan masyarakat. Di sisi lain, bank menjadi lebih penting dibandingkan sebelumnya. Bank-bank menguasai perusahaan bahkan negara. Pada masa itu negara-negara disinyalir sebagai kaki tangan perusahaan dan bank sehingga Sekolah Franfurt menyebutnya sebagai kapitalisme otoriter. Negara sebagai salah satu cabang kepanjangan tangan dari perusahaan raksasa selanjutnya menyusun kemungkinan-kemungkinan logis yang nantinya akan ditanamkan dalam pengertian masyarakatnya.

Pada mulanya mereka beranggapan bahwa munculnya chauvinisme negara diawali oleh kesadaran proletariat dalam membangun kehidupan bersama sebagai state of nature sebagaimana dinyatakan oleh Kant. Sekolah Franfurt menuding negara yang menerapkan fasisme, selalu beriringan dengan perusahaan raksasa untuk mengumpulkan kekuatan, dan dengan demikian dapat menguasai forma kesatuan yang disebut negara. Upaya ini merupakan buah ketakutan kedua pihak atas kekuatan proletariat. Namun ide ini menuai banyak kritik dari intelektual pada masanya. Yang terpenting dalam mempelajari kritik Sekolah Franfurt adalah bangunan intelektual yang membawa mereka pada kesimpulan-kesimpulan di atas. Seluruhnya, tidak terlepas dari ilmu yang telah didasari oleh Hant, Hegel, Marx, dan Freud.

Pemikiran Sekolah Franfurt juga dilatarbelakangi oleh Kristisisme Kantian terutama mengenai otonomi subjek dalam membentuk pengetahuan, sementara itu objek bersifat das Ding an sich sehingga tidak dapat menentukan pemikiran manusia. Namun Sekolah Frankfurt juga menilai bahwa Kant membentuk konsepnya secara ahistoris. Formalisme Kant menekankan kebenaran bukan pada isinya melainkan pada bentuk dari kebenaran tersebut. Kekurangan-kekurangan dalam pemikiran Kant menurut Sekolah Frankfurt dilengkapi oleh Hegel dan selanjutnya dilengkapi oleh Marx serta Freud.

Ide Hegel yang digunakan oleh Sekolah Franfurt utamanya adalah mengenai  penolakan terhadap das Ding an sich, karena baginya akal budi pada dasarnya harus merupakan sebuah realisasi diri manusia. Dengan subjektivitas sebagaimana usulan Kant, manusia merupakan forma yang kaku dan dingin. Hegel berusaha mencairkan ide Kant ini dengan beberapa cara di antaranya: yang pertama, cara manusia berpikir dalam totalitas, ialah cara pandang yang unsur-unsurnya saling bernegasi, berkontradiksi, dan bermediasi. Yang kedua, seluruh proses dialektis sebenarnya adalah realitas yang bekerja sehingga memungkinkan manusia untuk melakukan proses yang pertama. Yang ketiga, dengan  berpikir dialektis maka manusia harus memilih untuk mengenali segala realitas dalam kerangka empiris historis yang menolak sama sekali segala hal yang formal dan abstrak. Dengan mengimplementasikan 3 tahap ini maka Sekolah Frankfurt disebut sebagai gerakan kebangkitan Hegelian Kiri, gerakan yang bangkit dan berkembang pertama kali pada masa ketika Marx tergabung dalam Hegelian Muda.

Selanjutnya pemikiran Marx digunakan Sekolah Franfurt dalam rangka membangun filsafat praksis baru yang menggunakan dialektika Hegel namun dengan kerangka materialisme Marx. Sebagaimana dijelaskan secara singkat di atas, Sekolah Frankfurt dipahami sebagai sebuah mazhab pemikiran di Jerman yang melengkapi kritik ekonomi dan politik Marx, yang kemudian dilengkapi dengan kritik atas kondisi kontekstual pada masanya. Selain itu Sekolah Franfurt memiliki kelebihan lain, ialah karena pemikiran mereka tidak sekaku Marxisme yang hanya bergelut di ekonomi dan politik. Walau Sekolah Franfurt tetap memandang manusia sebagai primat economic namun terdapat hal lain yang sama pentingnya dibanding kecenderungan ekonomi seperti lembaga, kecenderungan, dan kebudayaan. Hal ini sebabkan karena Sekolah Franfurt dimulai dengan perkenalan berbagai jenis filsafat Jerman yang lain. Selain itu konteks hidup para cendekia Sekolah Franfurt berada pada masa kekuasaan kapitalisme monopoli, sedangkan Marx dalam konteks berkuasanya kapitalisme liberal.

Pengaruh belahan negara Jerman juga berimbas pada pemikiran Sekolah Frankfurt yang diwakili oleh kritik ideologi Freudian. Penggunaan teori psikoanalisis ini terjadi karena teori Marx tidak dapat menjelaskan darimana manusia mendapatkan kemampuan psikologis untuk menaati atau menentang aturan serta lingkungan di sekitarnya. Konsep Freudian pertama kali masuk dalam Sekolah Franfurt semenjak Erich Fromm tergabung di dalamnya. Bagi Sekolah Franfurt psikoanalisa dapat menunjukkan bahwa ideologi manusia merupakan produk desakan dari keinginan, naluri, dan ketertarikan instingtif yang kemudian menemukan pengungkapan diri di bawah sadarnya dalam rupa ideologi. Dengan demikian manusia dilihat sebagai makhluk yang menderita karena pola berpikir yang telah ditentukan oleh kehendaknya sendiri, hingga ia akhirnya memperdaya diri sendiri dengan penginternalisasian nilai yang dipaksakan padanya.

Jika teori Kant, Hegel, Marx, dan Freud diterima dan dikembangkan oleh Sekolah Franfurt, maka setidaknya terdapat dua teori yang bagi Sekolah Franfurt nampak bertentangan dengan realitas masa tersebut, ialah filsafat manusia dan neo-positivisme. Sekolah Frankfurt memiliki pemahaman mengenai kebenaran yang bertentangan dengan positifisme modern, terutama ide-ide yang mereka sebut sebagai konsep ‘neo-positivisme’. Sekolah Frankfurt berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk rasional yang  memiliki nilai-nilai keunggulan manusia. Bagi Sekolah Franfurt, filsafat manusia di satu sisi dapat membantu manusia untuk menyatakan protes atas konsep rasionalisme abstrak yang pada masa itu terwujud dalam kapitalisme.

Di sisi yang lain Sekolah Franfurt menganggap filsafat manusia sebagai konsep yang terlalu menekankan dimensi kebatinan manusia sehingga menghilangkan aspek historis dalam realistas. Selain itu dalam filsafat manusia, penekanan terhadap jiwa dan tubuh merupakan yang utama sehingga cenderung melalaikan aspek historis pula. Walau demikian, salah satu filosof manusia yang penting bagi Sekolah Franfurt ialah Schopenhauer dimana ia mengusulkan bahwa hakikat manusia tidak hadir dalam akal budi karena akal budi semata-mata didorong oleh kehendak bawah sadarnya.

Pada gilirannya Sekolah Franfurt juga melakukan kritik terhadap neo-positivisme yang merupakan aliran filsafat dengan bahasa sebagai objek penelitiannya. Ciri utama neo-positivisme adalah penolakan terhadap istilah yang abstrak dan tidak dapat dibuktikan secara empiris. Hal ini bertentangan dengan teori kritis yang tidak ingin manusia untuk terjelembap dalam penyembahan terhadap ilmu pengetahuan dan segala suatu yang empiris semata. Ilmu pengetahuan hanya merupakan sebuah unsur di antara ikatan unsur lainnya seperti subjek dan idealisme.

Teori Tradisional dan Emasipatoris

Teori emansipatoris lahir dari teori kritis yang berkombinasi dengan konsep manusia sesuai dengan pandangan Sekolah Frankfurt mengenai rasionalitas. Oleh sebab itu Horkheimer berusama menuliskan “Traditional and Critical Theory” yang sekaligus merupakan manifesto dari Sekolah Franfurt, yang dilandasi oleh pengalaman manusia dalam mencari kebenaran akal budi sebagai produk aufklarung filsafat semenjak Kant dan seterusnya. Horkheimer menuliskan dua teori ialah teori klasik dan kritis yang keduanya akan melandasi aliran pemikiran mereka.

Teori tradisional ini berlaku semenjak Descartes hingga akal budi disadari telah menjadi rasionalitas yang ‘bukan’ emansipatoris. Dalam angan ini teori merupakan keseluruhan proposisi mengenai objek yang salin terjalin. Kemungkinan benar masing-masing teori dapat berbeda dalam hubungannya dengan objek. Hukum dalam teori klasik ini adalah semakin sedikit proposisi dasar maka semakin bagus suatu teori tersebut. Teori ini bersifat netral dari fakta di luar dirinya sehingga ia bersifat ideologis (perlu ditandai bahwa inilah yang sangat membedakan teori klasik dengan emansipatoris menurut Horkheimer). 

Alasan yang pertama adalah bahwa terdapat pembenaran atas sebuah realitas dan bukan mencari penyebab dari realitas tersebut. Dengan demikian maka Horkheimer masuk dalam penilaian kedua atas teori tradisional bahwa konsep ini begitu ahistoris sehingga manusia akhirnya merumuskan teori semata untuk menegaskan fakta daan bukan menguraikannya.

Sementara itu teori kritis yang nantinya akan berkembang menjadi teori emansipatoris tidak akan menekankan prinsip umum dan mengukuhkan bangunan pengetahuan. Kebenaran yang mereka bangun merupakan kesadaran pembebasan manusia dari masyarakat irasional. Langkah pertama yang harus diambil adalah menjalankan kritik terhadap masyarakat ekonomi. Mengenai masyarakat sendiri teori kritis melihatnya sebagai bentuk kepenuhan individu, bukan hanya sebuah entitas yang menjadi kesempatan bagi manusia. Inti dari teori emansipatoris adalah memahami gejala dan totalitas realitas secara keseluruhan (yang di dalamnya termasuk juga teori tradisional) namun dalam kerangka historis dan kontradiktif. Totalitas tersebut dapat diamati dalam rupa kebudayaan masyarakat, perilaku ekonomi, dan lain sebagainya. Totalitas itu yang menjadi dunia bagi teori emansipatoris yang tidak memisahkan antara teori dan praktis.

Dilema Usaha Rasional Manusia

Manusia pada masa Sekolah Franfurt dan pula pada masyarakat saat ini telah berada dalam sistem berpikir yang tertutup dan seakan sudah pasti. Oleh sebab itu Horkheimer berusaha menawarkan teori kritik untuk mengguncang hal tersebut. Satu permasalahn besar dari tantangan ini adalah justru pada akal budi manusia sendiri. Bagi Horkheimer terdapat dua jeni akal budi manusia. Dua disposisi akal budi tersebut adalah akal budi subjektif (instrumentalis) dan akal budi objektif. Disposisinya dapat berubah hanya jika manusia mau menerima keadaan dengan kacamata terbuka bahwa akal budi kita kerap kali salah.

Akal budi subjektif merupakan yang merujuk segala hal sesuai kegunaan atau self-preservation dimana ia hanya digunakan sebagai sarana atau alat untuk memperoleh segala kemungkinan subjektif. Sementara itu akal budi objektif merupakan rasionalisasi manusia yang menekankan sebuah tujua pada dirinya sendiri dan bukan kepada subjek yang memutuskannya. Menurut Horkheimer pergeseran ini terjadi akibat manusia melakukan pemilahan antara forma-forma akal budi dan kepercayaan.

Horkheimer berpendapat bahwa akal budi subjektif ini menghancurkan manusia secara perlahan dengan berbagai cara di antaranya: Yang pertama adalah bahwa akal budi menjadi alat yang netral dan kehilangan otonominya. Akal budi direduksi sebagai alat untuk membantu manusia menemukan kebenaran yang intensional, dan jika memang demikian maka manusia bukan merupakan akal budinya. Hal ini yang menjadikan manusia hancur, ialah dengan cara kedua yaitu hilangnya individu. Dengan tidak diketahuinya siapa manusia selepas akal budinya, maka manusia adalah ia yang dikendalikan oleh modal kapital, hormon, sel neuron, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu identitas manusia hilang san dapat digantikan oleh apa pun juga yang memiliki cara kerja yang sama. Hal ini menjadi alasan kuat bagi kapitalisme untuk menyusun sistem-sistem baku di bawah tekanan legalitas yang mereka buat sendiri, yang digunakan untuk mengarahkan ‘perangkat’ akal budi manusia sesusai dengan kebutuhan mereka. Selanjutnya cara kehancuran yang ketiga ialah dengan lahirnya neo-positivisme dan neo-thomisme yang pragmatis. Kedua konsep ini semakin mengukuhkan penggunaan akal budi sebagai alat semata. Tantangan akal budi menurut Sekolah Frankfurt terdiri dari dua pembagian ialah yang pertama digunakannya neo-positivisme sebagai pembenar atas akal budi instrumentalis, serta yang kedua adalah digunakannya pemahaman neo-thomisme sebagai pembenar atas pragmatisme etis.

Dialektika Usaha Manusia Rasional

Rasionalitas manusia tidak terlepas dari kegagalannya. Bagi Horkheimer manusia selalu berusaha meraih pengertian dengan dirinya dan dengan lingkungannya. Ia terus menciptakan mitos hingga rasionalitas yang menggagalkan mitosnya sendiri. Namun bagi Horkheimer, usaha manusia untuk menghilangkan mitos dengan rasionalisme adalah sebuah mitos tersendiri yang lebih agung. Hal ini dikarenakan rasio manusia merupakan hal yang tak otonom sementara mitos lahir juga karena usaha rasional manusia. Hal ini akan selamanya berputar hingga dapat disimpulkan  bahwa usaha manusia untuk merasionalisasikan realitas adalah mitos, yang misalnya berhubungan dengan kesetimpalan atau keseimbangan. Mitos menyatakan dengan beragam kisah bahwa di balik suatu tindakan terdapat imbalan yang setimpal. Sama halnya dengan hukum legal saat ini. Perbedaaannya adalah hanya bahwa mitos berasal dari rasionalitas manusia primitif sementara hukum legal berasal dari mitos manusia modern. Baik mitos dan usaha rasional berada dalam sebuah totalitas yang dialektis.

Dengan proposisi di atas dapat dipahami bahwa mitos dan usaha rasionalitas berada pada tingkat yang sama dan saling berhubungan. Oleh sebab itu sejarah usaha manusia untuk melakukan rasionalisasi juga merupakan sejarah mitos. Dilema usaha manusia rasional terjadi hanya karena terjadi hukum dialektika dengan manusia mitos tersebut. Dalam menjelaskan hal ini Horkheimer mengibaratkan perjalanan akal budi sebagai perjalanan Odiseus yang menderita ketegangan dialektis antara usaha manusia rasional dan mitos.

Dalam kisah Odiseus, ia di satu sisi harus membodohkan dirinya agar selamat dari ancaman Poseidon. Saat inilah rasio Odiseus berada pada tahap self-perservation sementara Poseidon terpuaskan dengan permainan rasio sehingga mempersilahkan Odiseus pergi. Hal ini selanjutnya diterapkan Horkheimer pada konteks kapitalisme otoriter di mana ia menjelaskan bahwa terdapat irasionalitas yang mampu memuaskan manusia. Irasionalitas itu bekerja melalui kebutuhan dalam bentuk-bentuk objektif yang dibatasi oleh penindasan sehingga pemenuhan kebutuhan menjadi mustahil. Irasionalitas kapitalisme totaliter ini terletak pada heroisme pahlawan yang melarikan diri dari pengorbanan melalui pengorbanan itu sendiri, yang kemudian disebut Horkheimer sebagai sejarah pengingkaran diri.

Ekskursus Irasionalitas dari Rasionalitas

Melalui penjelasan Horkheimer dalam karya Sindhunata tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan di antaranya bahwa untuk merubah pemahaman kita atas akal budi kita sendiri, seseorang harus terlebih dahulu bangkit dari tidur lama. Bangkit dari kemalasan yang dalam artian lain menolak segala sesuatu yang tampak sangat baku dan tetap. Hal ini dicontohkan dengan aufklarung yang bagi Horkheimer merupakan sebuah pencerahan optimisme sekaligus pesismisme atas kemanusiaan. Paradoks ini merupakan bentuk ketidak malasan Kant dan para cendekia Sekolah Franfurt untuk bangkit dari kelelapan akal budi.

Selain itu akal budi manusia rasional ternyata menghasilkan keirasionalitasan agar membuatnya tetap hidup sebagai rasionalitas. Hal ini disebabkan oleh penggunaan akal budi semata sebagai perangkat sementara pada gilirannya hal tersebut menyebabkan hilangnya otonomi akal budi menjadi perangkat netral. Hal inilah yang digunakan oleh rezim kapitalisme otoritarian dan fasisme untuk semakin mengukuhkan bangunan ideologinya. Apa yang baik didaku sebagai produk nalar sementara apa yang buruk bukan dari akal budi. Perdebatan baik-buruk ini hadir dalam kerangka moralitas utilitarian dan pragmatisme sehingga dapat dengan mudah terarah pada tujuan subjek-subjek tertentu. Krisis ini menjadi permasalah besar yang dianggap oleh Sekolah Franfurt sebagai krisis yang menyebabkan krisis identitas individu, krisis identitas masyarakat, dan kekosongan makna realitas.

Sekolah Frankfurt hadir dalam konteks yang berhubungan erat dengan kelahiran post-modernisme, ialah berdirinya bangunan pemikiran strukturalisme yang megah di Eropa. Post-modern mau tidak mau berkaitan dengan penentuan kebenaran pada masanya. Post-modern berusaha untuk mengembalikan kembali otonomi manusia dalam menggali dan mencari kebenarnan dengan meruntuhkan kebenaran tunggal. Hal ini didukung oleh perkembangan selanjutnya dari post-modern ialah konsep post-thruth mengenai kebenaran dan kebanalan media.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa menurut Sindhunata, pemikiran Horkheimer berusaha mengajak manusia untuk bangun dari mimpi panjang. Baginya, manusia perlu menyadari bahwa pemberangusan kemanusiaan lahir justru dari pengkategorian dan penyusunan hasil rasionalitasnya sendiri. Filsafat bukan merupakan hal yang salah, yang salah ialah tendensi kesadaran moral manusia yang membangunnya. Terkadang ilmu justru menjadi dogma yang pada akhirnya menciptakan pembubaran kemanusiaan dan menjadikan rasionalitas hanya sebagai mitos, bukan perangkat keunggulan (arche) manusia. Hal ini berimbas pada pemaknaan manusia atas identitas, realitas, dan bahkan pengetahuan yang ia sendiri terima sebagai sebuah kebenaran.

Daftar Pustaka

Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt. Jakarta: Penerbit Gramedia, 1982.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
×
×

Cart