fbpx

The Batman: Dari pencarian jati diri hingga reaksi atas kemelut politik yang memuakkan

The Batman
The Batman concept art karya Jaime Jones

Spoiler Alert.

Pada Maret 2022 ini, DC Comic merilis sebuah film re-boot, The Batman yang diadopsi dari semesta dan karakter Batman. Tentu saja karena film ini notabene adalah sebuah reka ulang maka plot dan pemeran yang ada di dalamnya berbeda dengan film Batman besutan Christoper Nolan yang pernah hits pada zamannya. Film yang disutradarai oleh Matt Reeves ini menghadirkan Robert Pattinson (pemeran film Twillight yang menjadi inspirasi Ganteng-Ganteng Serigala) sebagai Batman yang akan berlaga sengit dengan salah satu villain berbahaya dari semesta Batman yakni Paul Dano sebagai The Riddler.

Saya tidak ingin jauh-jauh berbicara soal prestise atau perbandingan dari film-film Batman yang pernah diciptakan, tidak juga dengan akting para pemain atau sinematik yang ditawarkan. Bagi saya sendiri itu semua sudah cukup membuat saya terhibur dan setidaknya memberikan saya—yang awam mengenai semesta manusia super DC ini—gambaran kecil mengenai tokoh Batman itu sendiri. Namun ada hal yang menarik untuk saya bahas dan diskusikan di sini yakni bagaimana cerita dari The Batman ini bisa kita tarik ke dalam pergumulan kehidupan kita sehari-hari sebagai suatu ibrah atau pelajaran. 

Si pembalas dendam dan ia yang tersakiti

Bruce Wayne memasuki tahun keduanya menjadi seorang Batman yang semalaman penuh memantau dan menuntaskan tindak kejahatan yang terjadi di kota metropolitan Gotham. Kota yang digambarkan dengan sangat noir, hitam, kelam, tetapi walaupun begitu tampak juga hidup walau dipenuhi dinamika yang terjadi di dalamnya. Dalam situasi krisis akan kemiskinan dan kriminalitas itu Batman hadir sebagai penindak kejahatan yang didasari atas ‘luka’ yang ia terima di kota yang membesarkannya itu. “Vegeance.” Ungkapnya secara terang-terangan, suatu ungkapan yang menyiratkan rasa balas dendam akan kematian kedua orang tuanya itu.

Situasi di Gotham makin memanas kala itu, ajang perhelatan pergantian wali kota baru menjadi sebabnya. Situasi yang memanas ini menjadi ajang polarisasi secara radikal, berbagai elemen berhelat mengadu nasib dan kepentingannya; sementara itu, banyak nyawa dan pasang mata menjadi taruhannya. Beberapa orang tentu muak melihat keadaan yang sedemikian rupa, hingga semua itu meletus menjadi suatu kabar yang tesiar di penjuru kota: salah satu calon wali kota Gotham, Don Mitchell Jr, dikabarkan dibunuh mengenaskan dengan jempol terpotong dan juga muka yang dipenuhi oleh selotip bertuliskan: “NO MORE LIES!”. Pembunuhan ini tidak berhenti sampai di sana, selang tak berapa lama, beberapa pejabat Gotham yang korup ditemukan terbunuh dengan pola-pola yang sama—begitu mengenaskan dan sarat akan teka-teki yang mesti dipecahkan. 

Di samping itu semua, Batman pun ikut terlibat dalam menyelesaikan kasus ini. Namun, semakin ia pecahkan teka-tekinya semakin dalam semakin ia tahu dan mengerti bahwa semua ini adalah ledakan kemarahan atas iklim perpolitikan Gotham yang penuh kemunafikan dan juga korup. Pada rangkaian pembunuhan beruntun ini sang pelaku pun lambat laun mulai menampakkan dirinya, ia adalah The Riddler yang menyusun setiap pembunuhan atas pejabat korup ini serta meninggalkan jejak kepada Batman agar mengikuti alur rencananya.

The Riddler dibesarkan di panti asuhan yang didanai oleh keluarga Wayne, namun setelah meninggalnya Wayne panti asuhan ini harus terbengkalai yang mengakibatkan kehidupan di dalamnya ikut meredup seiring waktu. Namun, Riddle melihat bahwa perhatian publik hanya mengarah pada anak Thomas Wayne yakni Bruce Wayne si Batman itu sendiri. Publik tak pernah membuka mata sama sekali terhadap kengerian anak-anak yatim piatu yang terlantar tersebut, mereka lebih tertarik menyoroti kesedihan seorang anak yatim piatu yang diberkahi warisan keluarga yang sangat banyak. Terlebih dana yang seharusnya tetap mengalir untuk mendanai program pembaruan Gotham—seperti panti asuhan—dikorup oleh pejabat-pejabat kota yang sangat rakus dan serakah, ia pun berencana membalaskan dendamnya itu. The Riddle melihat suatu ketimpangan sosial, melihat suatu institusi sosial yang sudah tak dipercayai lagi, maka dari itu ia percaya ia mesti bertindak sendiri untuk melakukan perubahan. The Riddle pun melancarkan aksi-aksinya, percaya atau tidak ia banyak terinspirasi dari sikap heroik La Vegeance, Batman.

Setelah berbagai intrik dan laga dipertontonkan, kepingan-kepingan puzzle pun mulai tersusun. Teka-teki yang berusaha dimainkan oleh The Riddle lambat laun mulai terungkap dan berjalan sesuai dengan rencananya, Batman pun secara tidak sadar telah banyak membantu Riddle untuk mengeksekusi ambisinya itu. Semuanya menjuru pada satu orang yang dipanggil sebagai Rata Alada (Tikus Bersayap). Ia adalah seseorang yang sangat berpengaruh di Gotham, di tangannya berbagai ekses-ekses kehidupan Gotham dikendalikan. Ia bukan seseorang dengan kekuatan super dan magis, ia adalah pengusaha dan mafia yang menguasai seluruh kota. Ia menjalankan bisnis haram, mengatur perputaran uang, mencucinya, lalu melanggengkan kekuasaannya yang korup itu dengan cara apapun bahkan harus mengorbankan warga Gotham sekalipun.

Dari pembalasan menuju pembebasan

Seiring terungkapnya teka-teki pembunuhan tersebut, kita melihat para karakter mulai menemukan pendewasaan dirinya sendiri. Seiring dengan konflik yang mereka alami, krisis yang mereka hadapi, mereka menemukan sesuatu yang lain yang melampaui segala permasalahan permasalahan yang mereka tangani: yakni, jati diri. Atas semua proses yang mereka lakukan, atas apa yang telah mereka korbankan, sebenarnya apa yang selama ini mereka perjuangkan? Bruce mengidentifikasi dirinya sebagai seseorang yang akan membalaskan dendam luka Gotham, namun lambat laun ia mulai sadar bahwasanya warga Gotham lebih dari apapun hanya membutuhkan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Di bawah ketakutan akan balas dendam, alih-alih menciptakan suasana yang dipenuhi dengan harapan, hanyalah akan memberikan warga Gotham serangkaian ketakutan serta siklus kekerasan yang baru atas nama dunia yang lebih adil. 

Lambat laun Batman mulai meluruskan persepsinya, pertanyaannya tentang apakah ia sudah berdampak bagi kota itu telah terjawab tuntas, namun tentunya dengan cara yang tak pernah dia kehendaki. Ia telah menginspirasi serangkaian pembunuhan dan perilaku anarkis orang-orang yang sudah muak akan keadaan Gotham dan itu semua atas nama, “Vegeance.”Di sini Batman mulai belajar menyembuhkan lukanya pada kota tersebut, mulai beralih dari simbol pembalasan menjadi simbol harapan akan pembebasan Gotham dari kemelut yang ada. 

Menurut saya, Batman luput menganalisa masalah yang terjadi di Gotham secara utuh, permasalahan yang dihadapi oleh warga Gotham bukan masalah kultural semata, tetapi lebih dari itu ada permasalahan struktural yang terjadi di dalamnya. Ini bukan hanya mengenai seseorang tiba-tiba melakukan kejahatan begitu saja, namun ada relasi kuasa yang menyebabkan kemiskinan dan kriminalitas meningkat sangat tinggi. Mungkin Riddle cermat menangkap hal yang luput itu karena pengalamannya traumatisnya saat di panti asuhan yang didanai oleh perusahaan Wayne, krisis tiba-tiba terjadi saat struktur tersebut terganggu dan pilihan Riddle untuk membalas dendam adalah dengan membunuh aktor-aktor yang menjadi penyebab krisis tersebut.

Sedikit banyak saya bersimpati akan apa yang Riddle lakukan, bukan karena ia telah membunuh para despot dan korup itu, tapi bagaimana ia telah mengobrak-abrik sistem yang telah mapan tersebut dan membongkar kedok-kedok yang selama ini bersembunyi di balik lencana dan jabatan-jabatan. Tanpanya tentu Batman dan kita semua tidak akan tahu siapa yang mengatur seisi kota itu dengan tangan tak terlihatnya, sama seperti di negeri nun jauh di sana di mana terdapat seorang Presiden yang bekerja bagaikan boneka saja. Di sinilah menariknya, kita bisa melihat bagaimana negara dan mafia (atau para pebisnis) kawin dengan suka-ria, menjelma sebagai oligarki yang busuk dan kotor

Tentunya perlu kita pertanyakan, sejauh mana aksi Riddle tersebut akan berhasil dalam mengubah kondisi Gotham, karena biar bagaimanapun hanya dengan membunuh aktor-aktor jahat tersebut apakah akan membereskan segala permasalahan yang ada. Bagi saya sendiri itu cukup untuk memperlihatkan bagaimana kejahatan yang tak terlihat di balik negara neolib beserta segala institusi yang ada di belakang, tetapi belum cukup untuk mengubah sendi-sendi kehidupan Gotham secara radikal. Saya cenderung setuju dengan impian Catwoman di film Batman garapan Nolan, ia berekspektasi akan terjadi gelombang besar pemberontakan dari masyarakat bawah yang terdampak untuk mengubah sendi-sendi kehidupannya. Namun, bukan berarti kerusuhan yang tanpa makna dan tak jelas terukur arahnya, tetapi suatu aksi massa yang terorganisir. Seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka: “Aksi Massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka,”

Jika melihat perubahan-perubahan radikal yang terjadi selama sepanjang kehidupan manusia, revolusi selalu menuntut pengorbanan darah yang banyak. Memang beberapa hal mesti kita korbankan, namun pertanyaannya adalah sejauh apa cara-cara itu efektif? Sejauh apa rencana-rencana The Riddle sebagai pembaharuan yang nyata itu akan berhasil dan sesuai target? Begitu juga sebaliknya, apakah dengan adanya Batman sebagai simbol suatu perubahan dan pencerahan akankah juga berdampak pada perubahan yang lebih nyata? Kadang kita hanya bisa bertaruh dalam hidup ini.

Begitu juga Batman dan The Riddler.

Noval Auliya

Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Gunung Djati dan Pembelajar di PMII Rayon Fakultas Ushuluddin Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Cabang Kota Bandung.

Bagikan artikel ini:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.