fbpx

Pendaftaran Kelas Filsafat Dasar 2022

hari
jam
menit
detik

Sureq I La Galigo dalam Ruang Kosmologi

Dalam kepercayaan Bugis Kuno yang tergambarkan dalam I La Galigo tidak mengenal bentuk pemujaan dengan menggunakan arca dewata sebagai murti.

Dalam sebuah diskusi rangkaian yang diadakan oeh Philofest ID pada tahun 2021, tersebut dua pemuda yang tengah membahas mengenai salah satu warisan Sureq terbesar nusantara, I La Galigo. Pembicara yang pertama ialah Faisal Oddang, seorang sastrawan asal Sulawesi Selatan. Beberapa karyanya, seperti Manurung merupakan respons serta terinspirasi dari Sureq La Galigo. Sedangkan pembicara kedua bernama Abdi Mahesa, seorang budayawan asal Sulawesi Selatan yang meneliti La Galigo serta tertarik dengan dunia pernaskahan.

Menurut Faisal Oddang ada beberapa dongeng atau mitos yang diceritakan dalam masyarakat Bugis berasal dari La Galigo yang isinya terdiri dari beberapa episode yang saling bertautan, seperti misalnya kisah yang diceritakan oleh ayah beliau tentang ‘Pohon Besar’ yang ketika ditebang menyebabkan sebuah kampong kebanjiran akibat pecahan telur burung yang bersarang di sana. Oleh karena itu dapat diketahui bahwa La Galigo mulanya diceritakan secara lisan turun temurun sebelum akhirnya dibukukan. 

Saat ini La Galigo yang kita kenal – yang berhasil dikumpulkan – terdiri atas 6.000 halaman, 300.000 baris, dan 12 jilid – dikenal juga dengan naskah NBG 188 yang tersimpan di Leiden – hanyalah sepertiga dari jumlah naskah keseluruhan. Pernyataan ini berdasarkan hasil penelitian Colliq Pujie dan B.F. Matthes pada tahun 1848. Selain itu, ada beberapa perkiraan tentang waktu penulisan atau pembukuan NBG 188, seperti menurut Mattulada mengenai kepenulisanya sejak abad 7 hingga 9 M, Fachruddin Ambo Tenre berpendapat pada abad 13 M, dan Christian Pelras beranggapan pada abad 14 M. Sehingga, Faisal Oddang mengingatkan ketika kita membicarakan La Galigo, naskah manakah yang sesungguhnya kita bahas, sebab umumnya orang-orang akan merujuk kepada naskah NBG 188 tersebut. Selain itu, kita mesti membedakan antara La Galigo (sebagai naskah) dan I La Galigo (sebagai nama tokoh). Lebih lanjut Faisal Oddang menjelaskan bahwa di luar dari NBG 188, sesungguhnya masih banyak naskah atau bagian-bagian dari La Galigo yang belum terkumpul disebabkan luasnya wilayah yang harus ditelusuri dan juga karena ada beberapa bagian atau naskah yang disimpan sendiri oleh beberapa orang.

Selanjutnya mengenai posisi atau kategori dari naskah La Galigo, menurut Faisal Oddang La Galigo sering diidentifikasi ke dalam beberapa hal, yaitu sebagai karya sejarah, sebagai mitos, dan sebagai karya sastra. Pernyataan Faisal Oddang ini diafirmasi oleh Abdi Mahesa dengan menambahkan bahwa La Galigo sebagai karya sastra ini merupakan epic mitologis Pra-Islam yang otentik – berbeda dengan kisah Ramayana atau Mahabarata – sebab merupakan refleksi atas kehidupan masyarakat Suku Bugis. Selain itu, La Galigo dianggap sebagai kitab suku masyarakat suku Bugis.

Pertama, La Galigo sebagai karya sejarah, dijelaskan oleh Abdi Mahesa, para bangsawan melegitimasi silsilah keturunannya sebagai penguasa dengan menggunakan La Galigo. Lebih lanjut dikutip dari “Ritumpanna Welenrengge” karya Fachruddin Ambo Tenre, Faisal Oddang menjelaskan alasan La Galigo dikategorikan sebagai karya sejarah sebab isinya menceritakn  beberapa kronik tentang silsilah-silsilah kerajaan, pada episode-episode awal diceritakan kisah tentang To Manurung yang turun ke dunia tengah (bumi) dan memerintahkan keturunannya untuk memimpin dunia tersebut. Selain itu, tokoh-tokoh di dalam La Galigo dipandang oleh raja-raja dan kaum bangsawan di Sulawesi Selatan sebagai nenek moyang mereka. 

Kedua, La Galigo sebagai mitos dikutip dari 3 tokoh, yaitu Mattulada, Friedericy, dan Kern, Faisal Oddang menjelaskan bahwa La Galigo didasarkan isinya yang menceritakan kisah tentang awal mula dunia yang terdiri atas tiga dunia Boting Langi’ (Dunia Atas), Peretiwi (Dunia Bawah) dan Maje (Dunia Bawah), serta kemampuan supranatural yang dimiliki oleh beberapa tokohnya, misalnya kemampuan untuk meredakan angina rebut dan lainnya. 

Abdi Mahesa dalam ruang kosmologi La Galigo menjelaskan bahwa Botting Langi’ dalam La Galigo memiliki 7 lapisan atau tingkatan, sebuah pemahaman yang identik dalam Literatur Islam tentang kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju Sidratul Muntaha (dalam naskah La Galigo disebut Botting Langi) – untuk menerima wahyu atau perintah untuk melaksanakan Sholat 5 waktu.

Ketiga, La Galigo disebut karya sastra menurut A. Zainal Abidin Farid dan B.F Matthes dikutip oleh Oddang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu cara membacanya yang dilantunkan (massureq) sebagaimana puisi yang dideklamasikan seperti yang terjadi di Kabupaten Wajo dalam berbagai acara. Selain itu, secara teknis struktur kata dan kalimat dalam La Galigo  menggunakan teknik “foreshadowing” dan konsisten dengan metrum 4-5 kosa kata, serta terdapat sebuah kesadaran terhadap keindahan bunyi (rima) dalam kata-kata yang dipilih. Abdi Mahesa menjelaskan, apabila ada 3 suku kata maka akan digenapi menjadi 5 suku kata dengan diberikan imbuhan atau enklitik dalam 1 bunyi, misalnya Manurung ditambahkan imbuhan menjadi Manurungede.

Selanjutnya Abdi Mahesa ia menguraikan ruang kosmologi dalam La Galigo lebih lanjut menjelaskan bahwa agama lokal masyarakat Bugis dalam La Galigo digambarkan mempercayai kehadiran pantheon dewa-dewi yang memiliki gender feminisme dan maskulin dan berkuasa atas nasib manusia, wilayahnya meliputi seantero langit dan kedalaman samudera, berbagai gejala alam dan mengatur kehidupan sosial guna menjaga kemurnian darah To Manurung. Dewa turun ke bumi menjelma menjadi manusia untuk menitiskan benda pustaka/regalia bernama Arajang, sedangkan Dewi membawa regalia bernama Sangiang. Masyarakat Bugis juga melakukan pengorbanan kepada dewa-dewi agar hajadnya dikabulkan, menyenangkan hati dewa-dewi serta untuk menghindari kemurkaan mereka, misalnya dengan menggunakan binatang seperti kerbau, bahkan pada tingkatan yang lebih ekstrem menggunakan darah manusia seperti Tau Buleng (orang albino) dan Oro (budak berkulit hitam).

Secara simbolik, imaji akan dewa penguasa yang bertakhta di langit serta di bawah samudera merefleksikan penghayatan masyarakat Bugis di zaman La Galigo terhadap alam semesta. Pernyataan ini didasari kondisi masyarakat Bugis yang pada dasarnya merupakan masyarakat agraris-maritim, mereka bermukim di pesisir dan juga di daerah-daerah pedalaman yang subur. Abdi Mahesa menjelaskan bahwa fenomena-fenomena alam dalam La Galigo tergambar pada tugas abdi To Palanroe.

Meski demikian, dalam kepercayaan Bugis Kuno sebagaimana tergambarkan oleh La Galigo tidak mengenal bentuk pemujaan dengan menggunakan arca dewata sebagai murti maupun tempat ibadah khusus. Dewa-dewi serta arwah para leluhur dipuja melalui ritual yang tidak melibatkan gambar maupun patung, altar digantikan dengan Tiang Tengah (Posiq Bola) rumah panggung atau altar pemujaan  (Posi Tana) yang menjadi sumbu kosmik penyatu tiga dunia secara transendental. Selain itu, kehadiran benda-benda pusaka dianggap memiliki kuasa magis (Arajang dan Gaukang) juga menggantikan fungsi arca sebagai murti atau sarana pemujaan terhadap dewa. Benda-benda tersebut dianggap memiliki tuah sebagai simbol atau manifestasi yang bergantung pada kejatuhan atau kejayaan suatu kerajaan. Oleh karena itu, setiap pemimpin diharuskan untuk menjaga dan merawat benda-benda tersebut lewat serangkaian upacara yang dipimpin oleh bissu.

Bissu dalam La Galigo merupakan pemimpin adat yang amat diperhitungkan oleh golongan penguasaan sebab ia dapat berperan sebagai tabib, serta dapat menjadi medium antara dunia para dewa dan manusia sehingga tubuhnya suci dan tak ternoda. Mereka yang layak menjadi bissu adalah orang-orang yang tak tergolong ke dalam klasifikasi jenis kelamin orowane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (laki-laki yang bertingkah laku sebagai perempuan), atau calalai (perempuan yang bertingkah laku seperti laki-laki) dalam sistem gender Bugis. Selain itu, bissu dipercaya tidak boleh melakukan hubungan badan dengan manusia lain sebab ia telah dipilih oleh dewa sebagai pasangannya melalui upacara irebba.

Sebagai sebuah karya sastra, Faisal Oddang juga mengajukan beberapa kritik untuk La Galigo, seperti misalnya La Galigo yang dinilainya terlalu istana-sentris. Pernyataan ini didasari pada beberapa episode yang menceritakan kondisi istana dan pegelaran acara atau tradisi di sana dengan sedemikian rinci. Sehingga Faisal Oddang berpendapat bahwa bisa jadi La Galigo ditulis oleh orang-orang yang bermukim di istana. Selain itu, ada beberapa episode yang membahas mengenai rakyat biasa dan budak, namun hanya digunakan sebagai media untuk menunjukkan kuasa atau kekuatan tuannya. Hal ini dapat dilihat pada episode ketika Pohon I Wellereng, Faisal Oddang mempertanyakan hal apa yang menjadikan seseorang menjadi budak atau asal usul mereka. Oleh karena itu, beliau mengajak kita untuk kembali meninjau La Galigo sebagai sebuah teks dan memberikannya perspektif baru dengan mendiskusikannya, mengingat juga status La Galigo yang menurut beliau masih belum final.

Muhammad Firdausi

Muhammad Firdausi merupakan mahasiswa psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.