Mengapa manusia membenci?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter

Apabila bagi Jean Paul Sartre kematian seseorang merupakan akibat dari terkikisnya subjek oleh suatu objek, maka kebencian adalah ihwal yang benar dan naluriah bagi manusia. Dengan kata lain, ‘aku’ sebagai subjek telah terkikis menjadi sebuah objek karena kehadiran ‘aku’ yang lain. Sehingga akibatnya, kehadiran seseorang cenderung memandang sudut pandang subjek lain sebagai objek. Peristiwa ini wajar terjadi, sebagaimana kita sebagai subjek memandang diri mereka yang lain sebagai objek baik secara sadar maupun tidak. Ketika kehadiran ‘objek’ mengancam subjektifitas tersebut maka ada suatu keengganan terkait dominasi yang dirasa mungkin dapat terjadi. Untuk mempersiapkan saat tersebut maka seorang ‘aku’ selaku subjek melakukan dominasi terlebih dahulu atas yang lain.

Melalui fenomena tersebut terdapat dua kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi. Yang pertama, bila pun ‘aku’ sebagai subjek berhasil membuat wilayah dominasi terkait objek, maka ke-‘aku’an akan bertahan dan berusaha untuk terus bertahan. Pendakuan atas keberadaan dirinya sudah tegak dan harus dipertahankan. Namun apabila upaya tersebut gagal (karena daya saing atau pilihan untuk menyerah) maka dapat muncul rasa terancam. Perasaan yang jika terus dipertahankan akan menjadi keengganan yang begitu dalam dan intensif. Keengganan itu-lah yang berpotensi menjadi wajah baru. Wajah kebencian.

Kebencian seolah sesuatu yang begitu mendalam dan intensif. Terjaga seperti api yang tak nampak dalam sekam serta selalu dijaga. Mirip dengan bara api yang tergambarkan sebagai kebencian, selalu siap membesar kapan pun udara bergerak. Akibat kegagalan ‘agresi’ dominasi tersebut, ke-aku-an terancam dan menjadi minor. Ketika keadaan itu berlangsung sedemikian panjang, subjektifitas dirasa mati. Tidak ada lagi objek yang menjadi pendasaran hidupnya, tidak ada objek untuk ditindas, tidak ada objek untuk didominasi. Semuanya tergantikan oleh situasi dimana objek yang menjadi kuasa penuh atas subjek. ‘Aku’ dikuasai objek.

Melalui kacamata Sigmund Freud, kebencian merupakan sebuah kondisi ego dimana terdapat keinginan menghancurkan segala yang membuat bahagia. Ego tersebut begitu dominan (lagi-lagi) sehingga yang terjadi kemudian adalah potensi terbunuhnya rasa yang disinyalir sebagai ‘bahagia’. Alih-alih berusaha mengetahui bagaimana ego tersebut bisa muncul, penulis lebih tertarik dengan pertanyaan mengapa manusia (lebih) memilih ego tersebut hadir.

Apabila benang merah coba ditarik di antara pemikiran Sartre dan Freud, terdapat kaitan antara kematian subjek dan kondisi subjek yang memiliki keinginan untuk menghancurkan tersebut. Keduanya sama-sama kalah. Kematian mengalahkan kehidupan serta kehancuran mengalahkan peradaban (yang di dalamnya tentu terdapat kehidupan). Kekalahan bukanlah suatu kondisi yang serta merta hadir melainkan kondisi pasca kejadian. Tentu dalam pra kejadian tersebut tidak selalu muncul pengharapan atas kondisi baik. Kondisi ini lebih indah bila dapat disebutkan sebagai kondisi antara, yaitu berjalannya masa antara yang menyenangkan dan tidak. Kata ‘dan’ mewakili kondisi tengah dari keduanya. Setelah peralihan itu akan muncul suatu kondisi chaos yang kemudian mengalahkan keadaan ‘sebelum’. Sehingga akan hadir suatu kondisi pasca yang chaotic, sebuah kehadiran baru.

Manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan—walau istilah ‘kelebihan’ kurang mengena seperti dalam kalimat ‘teh ini kelebihan gula’—yaitu pada akal, dimana manusia memiliki kemampuan tertentu untuk memilih. Pilihan itu berkisar antara kejadian pasca chaotic yang akan menjadi ‘sesuatu yang mengalahkan’ atau justru menjadikannya sebagai sebuah revolusi. Apabila yang terjadi adalah kemenangan bagi ‘sesuatu yang mengalahkan’ akan timbul suatu ke-tak-suka-an yang mendalam (yang selanjutnya umum dimengerti sebagai benci). Namun jika yang dipilih misalnya, adalah tindakan revolusi maka yang terjadi adalah perubahan pola pikir hasil dialektika antara pra dan pasca. Kehadiran baru tersebut bukan merupakan suatu hasrat yang begitu primitif  yang bernama ‘kebencian’. Hal yang senada diutarakan Armada Riyanto mengutip Friedrich Nietzche dalam Menjadi Mencintai (2013) bahwa kekerasan merupakan bagian komplementer dari eksistensi manusia. Suatu yang ihwal walau tak awal berada dalam keberadaan manusia.

Barangkali benar bahwa membenci adalah suatu fitrah bagi manusia. Namun tetap, hal tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari sisi-sisi opsional yang masih bisa dihindari. Kebencian adalah salah satu dari begitu banyak fitrah yang didapat manusia, di samping cinta, pengharapan dan belas.

Apabila umumnya dikatakan bahwa benci adalah antonim dari cinta, tidak begitu halnya dalam pandangan R. J. Stenberg. Baginya benci bukan merupakan oposisi dari cinta. Terdapat tiga indikator yang dapat dikenali dalam mendeteksi cinta dan benci melalui instrumen yang sama. Pendekatan tersebut di antaranya adalah kedekatan, perasaan, dan komitmen. Hadirnya ketiga aspek tersebut merupakan petanda yang begitu menyolok dari cinta. Namun hilangnya ketiga instrumen tersebut menjadi tanda hadirnya kebencian. Hilangnya kedekatan melahirkan keengganan, hilangnya perasaan menimbulkan ketakutan atau kemarahan, dan hilangnya komitmen memunculkan devaluasi dan reduksi karakter. Maka secara bersamaan, hal yang paling mungkin terjadi adalah kondisi di mana keseluruhannya sama-sama saling tidak berdekatan, tapi masih menebar panas dan menimbulkan prasangka-prasangka yang berkesan mereduksi karakter asal.

Pada titik ini frase benci bukan lawan atas cinta masih kurang sesuai serta patut diperdalam dan memungkinkan penjabaran yang lebih luas lagi. Pun tidak dengan benci lawan dari cinta. Apabila berangkat dari instrumen yang telah dijelaskan sebelumnya maka benci mungkin adalah suatu kondisi yang gagal di dalam mempertahankan cinta.

Kembali pada pertanyaan yang memberangkatkan pembacaan awal, mengapa manusia membenci? Uraian persoalan di atas membawa kepada kesimpulan bahwa akan lebih tepat apabila pertanyaan diubah menjadi ‘mengapa manusia memilih membenci?’.

Baca lagi

Sastra, Moralitas, dan Konfusius

Hukum manusia tidak perlu diterapkan sebagai pengatur hidup manusia apabila moralitas manusia dan masyarakat telah terbentuk.

Platon dan Sokrates

Bayangan dalam cermin adalah yang tidak nyata. ‘Sang kucing’ adalah pengetahuan. Kucing-kucing partikular lain, adalah opini.

Close Menu