Menikmati Dinamika Hidup dengan Stoisisme

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on whatsapp
Wildan Habibilah

Wildan Habibilah

Marcus Aurelius

Zeno of Elea (336-264 SM) memberikan kita suatu cara atau metode untuk hidup bahagia dengan cara yang paling realistis. Sebuah jalan hidup yang membuat seorang kaisar (Marcus Aurelius) dan bahkan seorang budak (Epictetus) pada zamannya mampu hidup merdeka dengan segala tekanan hidup. Orang-orang menyebut metode Zeno ini dengan sebutan stoisisme. Sebuah aliran filsafat yang sudah ada sejak kurang lebih 2300 tahun yang lalu dan bahkan populer di era kini. Stoisisme merupakan aliran filsafat yang sangat praktis untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Menerapkan stoisisme sangat mudah dan jauh dari bayangan seseorang terkait filsafat sebagai sesuatu yang ngawang-ngawang dan jlimet.

Kebahagiaan menjadi salah satu concern yang sering dibahas, dikaji, dan dikejar dalam kehidupan manusia. Mengejar kebahagiaan adalah seseuatu yang alami bagi manusia. Terlepas kebahagiaan itu apa dan bagaimana setiap orang mengartikan kebahagiaan, manusia menghadapi realitas bahwa terdapat permasalahan untuk mencapai kebahagiaan. Entahlah, tapi memang bagi sebagian orang, untuk bahagia saja itu rumit, dan beberapa lagi justru tersakiti oleh sesuatu yang awalnya dianggap sebagai kebahagiaan.

Pada masa ke masa, selalu ada permasalahan baru dalam kehidupan sosial manusia. Manusia yang tidak tangguh menghadapi permasalahan hidup bisa saja kemudian mengalami depresi, dari depresi tingkat rendah hingga depresi tingkat tinggi. Sudah menjadi informasi yang umum bahwa tekanan hidup, stres, dan depresi adalah tantangan di tengah dinamika yang harus dihadapi manusia selama masih dalam keadaan hidup. Kasus depresi semakin meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan kajian dan mendapati bahwa dalam satu dekade saja terdapat peningkatan 20% kasus depresi. Sebuah bukti bahwa di era modern ini telah terjadi peningkatan masyarakat yang mengalami depresi, kekhawatiran, kecemasan, dan sebagainya.

Banyak hal yang menjadi sumber emosi negatif yang nantinya juga akan berakibat pada stres. Ada yang stres karena sering terjebak macet, pendapat atau komentar buruk dari orang lain, cibiran haters di sosial media, dosen pembimbing skripsi yang kurang asyik diajak konsultasi, tekanan dari atasan di kantor, dan sebagainya. Banyak kejadian random di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Anehnya, sebagian memilih untuk bersedih karena sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Adakah yang berubah ketika kita memikirkan terlalu banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan? Padahal jika kita renungi, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan memang tidak perlu terlalu dipikirkan karena kita tidak punya kendali untuk mengubahnya. Ya, penulis renungi, memang hal yang tidak bisa dikendalikan tidak selayaknya mengganggu kedamaian dan ketenangan jiwa kita.

“Terusik atau tidaknya seseorang, bukan dikarenakan oleh tindakan dari luar, melainkan prinsip – prinsip, dan tanggapannya terhadap hal ekstrenal.” (Enchrideon, 5).

Stoisisme mendikotomi kendali dalam hidup kita menjadi dua, yaitu sesuatu yang bisa kita kendalikan, dan sesuatu yang di luar kendali kita. Sesuatu yang bisa kita kendalikan contohnya persepsi kita, emosi kita, dan upaya kita. Sesuatu yang di luar kendali kita contohnya pendapat orang lain atas usaha kita, kejadian alam dan hidup yang random, macet di jalan dan sebagainya. Ketika orang lain menghina kita hal itu ada di luar kita dan kejadian tersebut pada dasarnya adalah netral. Ketika persepsi kita negatif atas hinaan orang lain maka kejadian di luar kendali kita yang awalnya netral itu kemudian menjadi negatif pula, mengikuti persepsi kita atas kejadian yang sesungguhnya adalah hal yang netral. Persepsi negatif akan kejadian yang di luar kendali pada satu titik akan membuat kita mengalami emosi negatif berupa kesedihan dan perasaan derita (suffering). Padahal, sebenarnya kita punya kendali penuh pada persepsi kita, apabila kita memilih untuk mengabaikan hinaan dari orang lain atau mempersepsikan hinaan orang lain sebagai saran untuk memperbaiki diri, maka kita tidak akan menderita karena kejadian tersebut. Kita tidak bisa mengendalikan orang lain untuk terus menerus memuji kita hanya karena kita mempersepsikan pujian sebagai hal yang positif. Padahal pujian belum tentu positif bukan? Persepsi kita saja yang menganggap pujian orang lain itu sebagai hal yang positif dan hinaan orang lain itu negatif. Padahal keduanya sebenarnya di luar kendali kita dan bersifat netral.

Gimana? Asyik kan belajar filsafat? Sangat praktis bukan untuk hidup sehari-hari? Ayo kita belajar filsafat bersama-sama. Selamat membaca buku-buku stoisisme, selamat berpikir dan selamat belajar. Selamat mengkritisi tulisan sederhana ini dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Bertens, K. 2013. Etika. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Manampiring, Henry. 2019. Filosofi Teras. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.

Leave a Replay