Ex Philosophia Claritas

Bahasa: Catatan Pemikiran Luce Irigaray

Kita harus mendengarkan secara (psiko)analisis pada prosedur penindasan, pada penstrukturan bahasa yang menopang representasinya, memisahkan yang benar dan yang salah, yang bermakna dan tidak sama sekali, dan sebagainya .. Yang dapat dengan ringkas disebut sebagai pengujian operasi tata bahasa pada tiap figur atau diskursus, hukum sintaksis atau syarat-syaratnya, konfigurasi imajinasinya, jaringan metaforanya, dan tentu saja, apa yang tidak terartikulasikan pada tahap pengucapan: ialah kesunyiannya.
Wednesday 5th November 2004, Luce Irigaray, Belgian born (b.1930) philosopher, feminist, linguist and cultural theorist delivers a public lecture 'Ethical Gestures Toward the Other' at the University of Sussex, England, UK.

Daftar Isi

Kritik Luce Irigaray atas sistem bahasa maskulin secara logis mengikuti kritik besarnya atas sejarah dan kebudayaan yang pertama kali diuraikan 40 tahun yang lalu dalam Speculum (1985). Pemikiran Irigaray mengenai bahasa begitu kompleks dan dielaborasi dengan begitu banyak kerangka kerja metodologi yang sulit, ketika mencoba memahaminya untuk pertama kali, saya kira, itu semua dapat membantu memahami kerangka pemikirannya secara kronologis.

Dalam kritiknya terhadap sistem bahasa, Irigaray mengatakan bahwa sistem parole, diskursus, dan logika, alih-alih bersifat universal dan netral, justru dibuat dan dipertahankan untuk melayani kepentingan laki-laki. Pembacaan psikoanalisis Irigaray terhadap bahasa utamanya dibentuk oleh pandangannya bahwa melalui proses spekularisasi, laki-laki memproyeksikan egonya sendiri pada dunia yang kemudian tercermin kembali padanya dengan gambarannya sendiri. Perempuan, sebagai tubuh dan materi, berdiri sebagai cermin reflektif tersebut. Ibu lah yang secara khusus mendukung imajinasi laki-laki, namun karena ia tidak dapat ditampilkan kembali (karena ia adalah cermin), maka ia secara simbolis dibunuh sebagai bagian dari proses ketika laki-laki mulai masuk ke dalam kebudayaan.

Perempuan secara bertahap kemudian terhapus dalam kondisi ekonomi spekular padahal perempuan merupakan sebuah bagian integral ketika itu didirikan. Paradoks ini menggantung dan menghapus perempuan dalam kebudayaan, yang menurut Irigaray, kemudian terpantulkan dalam sistem bahasa dan diskursus yang patriarkis. Sebagaimana penjelasan Elizabeth Grosz, hal ini terjadi karena sistem logika yang merujuk dirinya sendiri (self-referential), terpisah secara mendasar:

Diskursus menolak untuk memahami bahwa parsialitasnya sendiri, persektifnya sendiri, kepentingan dan nilainya sendiri secara implisit bergantung pada konsep mengenai perempuan dan femininitas dalam rangka mempertahankan “objektivitas”, “keilmiahan”, atau “kebenaran” mereka—yang merupakan bentuk maskulinitas terselubung mereka.

Elizabeth Grosz, Jacques Lacan: A Feminist Introduction (Routledge 1990) 180.

Sejarah penghapusan feminitas dalam kebudayaan adalah bukti dari “urusan bahasa yang gelap” yang mana budaya patriarkal telah mereduksi nilai dari feminitas menuju “sebuah realitas non-eksisten yang abstrak”. Dengan kata lain, “bahasa, dibandingkan dengan anatomi, kini membuat perempuan berperan sebagai objek dan Liyan, namun ia juga tidak terperangkap”: tentu saja hanya dalam beberapa cara, Irigaray menyarankan, bahwa situasinya lebih buruk.” Penekanan Lacan bahwa posisi perempuan sebagai realitas non-eksisten menjadi penting dalam membentuk ciri bahasa; atau “efek dari kebutuhan logis”, yang membuat adanya kemungkinan untuk menyederhanakan bahasa lain di mana perempuan tidak didefinisikan karena kondisi yang miris, melainkan dengan berpartisipasi sebagai subjek yang menyatakan dirinya sendiri.”

Irigaray mengembangkan kritik psikoanalisis lebih jauh lagi dalam esainya yang terkenal berjudul The Mechanics of Fluids. Esai tersebut menyatakan keresahan pria mengenai pasang surutnya tubuh perempuan, serta bagaimana keresahan ini dimulai dalam sistem representasi. Irigaray mencatat sebuah refleksi “kesenjangan sejarah dalam menyatukan teori benda cair” yang mungkin berjejak dari fakta bahwa “perempuan mendifusikan diri mereka berdasarkan modalitas yang berkaitan dengan ketakutan, yang tepat dengan kerangka dari simbol yang berkuasa.” Persamaan antara benda cair dan limbah dikatakan sebagai: menyamakan “Kerumitan jangka panjang antara rasionalitas dan mekanika benda solid.” Ketidakmampuan bahasa untuk menyatukan “realitas” yang cair, atau untuk keluar dari artikulasi simbolik, mungkin menandakan “yang tak memiliki kekuatan logis untuk menggabungkan semua karakter atau ciri khas kodratinya dalam tulisan.”

Logos maskulin yang tepat bagi dirinya sendiri memiliki kemampuan tunggal untuk mengarahkan diri dan membentangkan makna. Reduksi yang mendesak dari permainan makna ini mencerminkan saksi atas morfologi pria, apa yang disebut Irigaray, “demi perpisahan yang aman dari laki-laki dengan ‘ibu-bumi-nya’”. “Pemisahan ini, membentuk lelaki sebagai lelaki, syarat yang ia lalui demi membangun dirinya sebagai entitas yang utuh, di luar apa yang disebut sebagai subjektum tak-terbedakan”. Penurunan makna penyatuan ini harus dapat mengimbangi sifat cair dan pluralitas yang dilambangkan oleh perempuan. Bentuk jamak ini dapat digambarkan dalam karya Irigaray yang sangat terkenal, ialah gambaran atas Dua Bibir. Dua Bibir mengacaukan wacana dominan sebagai alternatif signifier pada palus karena ia tidak bisa lagi berada dalam kesatuan subjek.

Karya Irigaray mengenai bahasa menggunakan metodologi yang ekstensif dan menggunakan lingkup metodologi ganda termasuk riset empiris substansial dalam bentuk-bentuk pembicaraan, tata bahasa, dan sintaksis partikuler, dan melalui berbagai hal ini perbedaan-perbedaan pada laki-laki dan perempuan dapat diamati. Irigaray menggambarkan efek dari “maskulinitas terselubung” yang menampilkan sistem tata bahasa yang dominan dalam tambahan riset empirisnya menuju hubungan antara filsafat dan linguistik. Basis desain percobaannya dalam karya seperti I love to you termasuk juga mengembangkan analisis formal melalui respon yang diterima oleh subjek isyarat ketika mereka diminta untuk membentuk kalimat tersebut. Penemuan Irigaray secara umum diringkas oleh Margorie Hass, antara lain:

  1. Laki-laki lebih mudah dibandingkan perempuan untuk membentuk diri mereka sebagai pembicara, lebih mudah untuk “berbicara atas nama dirinya sendiri.”
  2. Perempuan lebih memiliki kemungkinan menggunakan struktur dialog dibandingkan laki-laki. Sementara laki-laki memiliki kuasa atas hubungannya dengan dunia yang mereka tanggapi, perempuan memiliki kuasa dalam hubungan mereka dengan perseorangan.
  3. Perempuan lebih memiliki kemungkinan untuk mengkarakterisasi perbedaan sebagai hal yang positif dibandingkan laki-laki, dan perempuan lebih senang menggunakan kalimat interogatif.
  4. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kemungkinan untuk mendesain perempuan sebagai subjek dari sebuah kalimat secara langsung sebagai kalimat yang membangun nilai terhadap perempuan.

Irigaray melacak bagaimana ilmu bahasa tertandai oleh perbedaan seksual melalui penggunaan pertama dari “ia laki-laki” (he) dan “ia perempuan” (she), dan bagaimana pun karya empirisnya menggambarkan bahwa pada kata ganti personal “saya” (I), juga tertandai secara seksual. Tidak hanya laki-laki dan perempuan yang memproduksi elemen berbeda melalui perkataan respektif, namun subjek tata bahasa juga dapat terbedakan berdasarkan seksnya: “tata bahasa merefleksikan, baik untuk laki-laki dan perempuan, sebuah penguatan maskulinitas dan penghapusan feminitas.”

Dalam karyanya yang terakhir, tercatat The Way of Love, Sharing the World dan In the Beginning, She Was, Irigaray mengembangkan dialog yang lebih jauh dengan kawan bicara seumur hidupnya, Heidegger. Irigaray berhutang budi terhadap fenomenologi Heideggerian dalam mengungkap kondisi yang menciptakan kemungkinan pada wacana, dan tentu saja, pada pembangunan pandangan politiknya. Dalam karyanya yang terakhir, Irigaray menambahkan dan memperbaiki analisisnya atas logika Aristotelian dalam dialognya dengan Heidegger dengan tujuan untuk memahami logos hukum. Ia berpendapat bahwa kita harus kembali ke konsepsi Pra-Sokrates mengenai dunia untuk memahami intersubjektivitas, yang mana pada titik ini, para perempuan belum terhapuskan dalam kebudayaan. Irigaray melacak asal-usul dari pemikiran Sokratik melalui perhatian penuh atas “kebenaran”, yang mengilustrasikan bagaimana kebenaran hanya dapat didapat melalui pengajaran “tuannya”.

“Kebenaran” ini secara genealogi berlalu di antara rasul-rasul (laki-laki), yang dengan demikian menciptakan dengan gamblang sebuah pertukaran wacana solipsis laki-laki, hanya di antara mereka sendiri. Pada masa seperti ini, perempuan menjadi “yang berada di luar” diskursus, sebuah kesenjangan, sesuatu di luar logos, sebuah jejak, yang hadir melalui dunia pria, berparalel/berganda dari kehidupan nyata dan hubungannya dengan ia (perempuan).

Ovidiu Anemtoaicei & Yvette Russell, ‘Luce Irigaray: Back to the Beginning’ (2013) 21(5) International Journal of Philosophical Studies 773, 775.

Konsekuensi dari logika ini, menurut Irigaray, adalah bahwa kegiatan berpikir itu sendiri merepresentasikan keberadaan, yang berarti bahwa ia tunduk dalam tata aturan logos laki-laki.

Proyek pendirian Irigaray yang berasal dari karya sebelumnya terarah secara langsung pada pertanyaan mengenai bagaimana membangkitkan bahasa feminin yang spesifik. Mengapa tidak menantang batasan dari perkataan dan representasi, ujarnya, “hingga telinga berdengung karena musik yang lain, suara mulai bernyanyi kembali..” Nasihat yang ada dalam karya sebelumnya ini yang berusaha menyuarakan perbedaan, merupakan permasalahan yang kemudian menjadi konsentrasi utama dari kerangka berpikirnya. “Bagaimana seorang subjek kembali pada dirinya sendiri setelah diasingkan dari dirinya melalui sebuah diskursus?” Ia bertanya dalam To Speak is Never Neutral; “Ini adalah pertanyaan di segala masa.” Proyeksi konstruktif Irigaray berkisar pada pandangan kritisnya untuk menekankan pentingnya sebuah “rumah bahasa yang baru” yang di dalamnya perempuan bukan lagi merupakan predikat universal di atas persemayaman meta-bahasa. Hal ini tentu akan membutuhkan perubahan posisi begitu banyak subjek pewartaan. Namun usaha ini juga nantinya akan membutuhkan pemusatan perhatian baru pada kita yang sedemikian tuli sebelumnya.”

Kita harus mendengarkan secara (psiko)analisis pada prosedur penindasan, pada pengambilan struktur bahasa yang menopang representasinya, memisahkan yang benar dan yang salah, yang bermakna dan tidak sama sekali, dan sebagainya .. Yang dapat dengan ringkas disebut sebagai pengujian operasi tata bahasa pada tiap figur atau diskursus, hukum sintaksis atau syarat-syaratnya, konfigurasi imajinasinya, jaringan metaforanya, dan tentu saja, apa yang tidak terartikulasikan pada tahap pengucapan: ialah kesunyiannya.

(Ditulis oleh Yvette Russell (seorang pengajar di bidang Hukum di Queen’s University Belfast) dalam http://criticallegalthinking.com/2014/06/05/language-notes-thought-luce-irigaray/. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Misbahul Huda. Dipublikasi ulang oleh lsfdiscourse.org ke dalam bahasa Indonesia atas izin penulis.)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email