5–7 menit

Apa itu Eksistensialisme

Bila ditanyakan apa persisnya definisi filosofis dari eksistensialisme? Mungkin banyak dari kalian yang bingung, tidak tahu, atau menerka-nerka jawabannya. Karena memang, jawaban atas pertanyaan itu sangat langka, atau bahkan tidak tersedia di buku-buku yang di sampulnya bertuliskan “eksistensialisme”.

Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir

Bila ditanyakan apa persisnya definisi filosofis dari eksistensialisme? Mungkin banyak dari kalian yang bingung, tidak tahu, atau menerka-nerka jawabannya. Karena memang, jawaban atas pertanyaan itu sangat langka, atau bahkan tidak tersedia di buku-buku yang di sampulnya bertuliskan “eksistensialisme”. Padahal eksistensialisme adalah salah satu corak filsafat yang influential, namun ironisnya, malah tak banyak yang coba menggali apa itu sebenarnya eksistensialisme.

Buntutnya, eksistensialisme (umumnya) diterima begitu saja sebagai filsafat yang membahas soal kecemasan, kebebasan, kematian, absurditas, dan otentisitas. Nama-nama seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Albert Camus, dan sejumlah tokoh-tokoh lain yang memiliki pembahasan serupa dengan secara longgar diklasifikasikan ke dalam satu “payung” eksistensialisme.

Tidakkah tiap nama-nama itu memiliki keotentikan pemikirannya sendiri-sendiri, yang apabila “disepayungkan” akan berpotensi mengacaukan keorisinilannya. Maka dari itu perlu definisi yang tajam atas eksistensialisme, agar menjadi jelas siapa-siapa tokoh yang bisa disebut eksistensialis dan siapa yang tidak. Juga agar keorisinilan pemikiran tokoh lain tetap terjaga, dengan tidak mencampuradukkannya ke dalam bilik yang tak pas.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis akan berupaya menghadirkan kejelasan dari eksistensialisme. Karena sejatinya, eksistensialisme memiliki batasan yang jelas, hingga tak semua tokoh bisa muat di dalamnya.

Sekilas Sejarah Kemunculan

Eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat yang sangat populer. Kepopulerannya kemudian berbuntut panjang pada kabur dan buramnya definisi filosofis yang tepat dari pertanyaan “Apa itu Eksistensialisme?”.

Keburaman itu barangkali berpangkal pada mula term eksistensialisme hadir di tengah-tengah publik Prancis pasca perang dunia kedua, yang mulai dari situ orang-orang kemudian berurung mengerubunginya. Dua figur penting penyebab kemunculannya adalah Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Sebenarnya term “eksistensialisme” bukanlah berasal dari Sartre ataupun Beauvoir. Gelombang publik mempredikatkan term itu pada gagasan-gagasan yang dibawa oleh Sartre dan Beauvoir. Sartre (mungkin juga Beauvoir) sempat menolaknya, lalu kemudian mau tak mau menerimanya, dan menggunakan term “eksistensialisme” sebagai wadah untuk proyek-proyek filosofisnya (Lianawati, 2021).

Dokumentasi sejarah mencatat betapa gerakan ini begitu menjadi daya tarik yang kuat kala itu. Pasalnya, sesaat setelah eksistensialisme “menyerang” masyarakat Prancis saat itu juga timbul fenomena seperti gaya rambut eksistensialis, aktor eksistensialis, kejahatan khas eksistensialis, dan berbagai hal-hal lain dengan embel-embel eksistensialis yang mengikutinya (Lianawati, 2021).

Sialnya, tak sedikit orang-orang yang akhirnya jatuh pada hanya sekadar ikut-ikutan tren, dan sama sekali tidak membaca dan mempelajari eksistensialisme. Hal tersebut tak terkontrol, eksistensialisme kian digandrungi akan tetapi diskursus atasnya tidak begitu dihiraukan. Pun bila ada, berlangsung dengan tidak kondusif, seperti kuliah publik Sartre di Club Maintenant, 29 Oktober 1945.

Pada akhirnya publik tak lagi mempertanyakan eksistensialisme an sich, tetapi lebih kepada seperti apa lelaki eksistensialis, atau seperti apa perempuan eksistensialis, yang tentu saja jawabannya mengarah ke sosok Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, karena memang mereka berdualah yang bertanggung jawab signifikan atas tren filosofis baru yang disebut eksistensialisme itu (Lianawati, 2021).

Begitulah kira-kira gambaran yang terjadi saat term serta gagasan mengenai eksistensialisme mula hadir. Lalu bagaimana dengan sekarang? Agaknya masih banyak pembelajar filsafat secara umum, atau bahkan yang khusus menggeluti eksistensialisme belum mengetahui secara persis apa itu eksistensialisme.

Temuan Jonathan Webber

Jonathan Webber, seorang profesor filsafat dari Cardiff University, menjelaskan melalui bukunya Rethinking Existentialism (2018),bahwa banyak dari buku-buku yang berisi tentang eksistensialisme cenderung menjauhi definisi filosofis dari eksistensialisme itu sendiri. Ia menulis:

But articles and books on existentialism written in English ever since have eschewed precise philosophical definition, instead identifying it loosely as a movement of thinkers concerned with certain questions and to some extent providing similar answers.

Webber, 2018

Buku-buku tadi ironisnya malah berisi tumpukan para pemikir dan pemikirannya yang secara serampangan diklasifikasikan sebagai eksistensialis, tanpa ada batasan yang jernih apa eksistensialisme sebenarnya. Padahal, sebagaimana yang telah disinggung di awal tulisan, hal ini dapat mendistorsi penerimaan atas keotentikan pemikiran pemikir-pemikir tersebut (Webber, 2018).

Definisi Eksistensialisme

Sebagaimana yang didefinisikan oleh Simone de Beauvoir dan Jean-Paul Sartre, eksistensialisme adalah “the ethical theory that we ought to treat the freedom at the core of human existence as intrinsically valuable and the foundation of all other values.” (teori etika yang mengharuskan kita untuk mempertimbangkan kebebasan pada inti keberadaan manusia sebagai sesuatu yang berharga secara intrinsik, dan sebagai fondasi dari seluruh nilai-nilai lain) (Webber, 2018).

Definisi itu sebenarnya telah terkandung dalam slogan “eksistensi mendahului esensi”. Slogan yang murah diingat itu dimaksudkan Sartre untuk mengangkut gagasan bahwa manusia tidak memiliki esensi bawaan dan personalitas tertentu, melainkan mengkreasi esensi, karakter, dan cita-cita mereka sendiri melalui nilai-nilai dan proyek-proyek yang mereka pilih untuk mereka pakai (Webber, 2018).

Mengurai Paradoks “Eksistensi mendahului Esensi”

Barangkali slogan “eksistensi mendahului esensi” nyaris terdengar paradoksal, seolah bila slogan itu memang adalah ciri khas dari manusia, maka bisa saja hal itu menjadi esensi yang telah lebih dulu mendefinisikan seseorang sebelum seseorang mengadopsi nilai-nilai dan proyek-proyek tertentu (Webber, 2018).

Guna mengatasi paradoks itu, Jonathan Webber memberi jalan keluar dengan memaparkan perbedaan pengartian pada term “essence/esensi.” Esensi pada objek tertentu ialah sekumpulan properti-properti yang niscaya ada pada objek supaya si objek memadai untuk dikatakan sebagai si objek. Semisal komposisi kimiawi spesifik yang ada pada air, sehingga untuk mengelompokkan sampel-sampel air, niscaya untuk ada komposisi kimiawi spesifik tertentu tersebut (Webber, 2018).

Akan tetapi, dalam artian lain, yakni dalam artian teleologis, esensi adalah “the relational property of having a set of parts ordered in such a way as to collectively perform some activity. (properti relasional yang memiliki satu set bagian yang telah diatur sedemikian rupa untuk secara kolektif menjalankan suatu aktifitas)” (Webber, 2018).

Sebuah rumah secara esensial adalah tempat berlindung untuk melangsungkan hidup, dalam artian ini, itulah kenapa terdapat dinding dan atap agar terhindar dari angin dan hujan, juga terdapat pintu-pintu untuk tempat keluar-masuk, jendela untuk cahaya masuk, dan lain sebagainya (Webber, 2018).

Esensi dalam artian inilah yang diterapkan Sartre pada manusia. Manusia, bagi Sartre, tidak memiliki seperangkat nilai-nilai bawaan yang secara inheren terstruktur untuk diikuti, akan tetapi, nilai-nilai yang kemudian membentuk perilaku manusia adalah hasil dari pilihan-pilihan yang telah diputuskannya sendiri. Webber menuliskan:

His (Sartre) claim is that a person does not have an inbuilt set of values that they are inherently structured to pursue. Rather, the values that shape a person’s behavior result from the choices they have made. A person’s essence is formed of their chosen values.

Webber, 2018

Sartre memberi demarkasi yang jelas bahwa dalam pandangannya manusia tidak memiliki esensi bawaan, yang pada akhirnya tak ada juga sesuatu seperti fitrah manusia, tak ada esensi bawaan yang seragam di antara orang-orang (Webber, 2018).

Eksistensialisme dan Filsafat Eksistensial

Bagi Jonathan Webber, jelas sudah siapa-siapa saja yang dapat dikategorikan sebagai seorang eksistensialis, mereka di antaranya adalah Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Frantz Fanon. Alasannya tentu saja karena gagasan-gagasan yang dibawa oleh mereka bersesuaian dengan definisi dari eksistensialisme (Webber, 2018).

Mungkin ini tampak sebagai upaya mempersempit, akan tetapi ini juga adalah upaya memperluas. Eksistensialisme mestinya tak lagi dipakai secara serampangan. Alih-alih terus memakai eksistensialisme, gunakanlah term filsafat eksistensial/existential philosophy pada tokoh-tokoh seperti Heidegger, Camus, Kierkegaard, Dostoyevsky, dan lain sebagainya—yang gagasannya berlainan dengan eksistensialisme yang telah kita bahas tadi, meski tetap bersoal mengenai penyelidikan eksistensial manusia.

Referensi

Lianawati, E. (2021). Beauvoir Melintas Abad. Yogyakarta: EA Books

Webber, J. (2018). Rethinking Existentialism. United Kingdom: Oxford University Press

Khodadad Azizi
Khodadad Azizi

Pekerja tulisan

Comments

One response to “Apa itu Eksistensialisme”

  1. Avatar Hortensia

    Sangat setuju! Tampaknya kita harus lebih berhati-hati dalam mengekspresikan sesuatu yang memiliki kadar tertentu seperti “bersifat eksistensi” (hal-hal eksistensial) dan “paham eksistensi” (murni eksistensialisme). Sehingga, tidak mengaburkan beberapa pandangan dengan keunikannya masing-masing. Sungguh distingsif!

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga