11–16 menit

Sosiologi Warna dan Estetika Kelas

Mengapa pemukiman kelas pekerja selalu berwarna cokelat-pudar sementara kompleks elite sarat warna cerah?

Tembok Pemisah Batavia

Estetika sering kali diperlakukan sebagai ranah penilaian sensorik yang netral, bebas nilai, dan murni subjektif. Namun, apabila diamati secara sosiologis, pembagian ruang visual di dalam masyarakat sebenarnya mencerminkan polarisasi material & struktur kekuasaan yang mendasar. Warna tak sekadar menjadi stimulus visual, melainkan juga medium penanda kelas sosial. Adanya kontras tajam antara lanskap visual pemukiman kelas pekerja—seperti nelayan tradisional, pedagang kaki lima, buruh pabrik, & petani—dengan pemukiman kelas menengah atas (pebisnis, pejabat, konglomerat, dan pendidik) menunjukkan bahwa persepsi kita tentang apa yang indah & buruk adalah produk dari kondisi ekonomi & distribusi modal.

Analisis ini akan mengeksplorasi bagaimana kemiskinan & kekayaan mengintervensi ranah estetika yang tidak umum ini. Dengan menggunakan pisau analisis sosiologi kebudayaan Pierre Bourdieu, analisis ini membedah ontologi warna cokelat, menelisik alasan penyingkirannya dari lambang kedaulatan seperti bendera nasional, serta menguraikan bagaimana pemaksaan / reklamasi warna dapat menjadi tindakan politik yang revolusioner.

Selera Kebutuhan versus Selera Kemewahan

Dalam karya sosiologi klasiknya, Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, Pierre Bourdieu merumuskan bahwa selera bukan merupakan bakat alami, melainkan disposisi yang diperoleh melalui pengondisian kelas sosial & pengasuhan. Bourdieu membedakan antara selera kebutuhan (taste of necessity) yang menjadi ciri khas kelas pekerja, & selera kemewahan (taste of luxury) yang menjadi milik kelas dominan. Pembagian ini terekam jelas dalam lanskap visual perumahan kedua kelompok masyarakat tersebut.

Pemukiman kelas pekerja identik dengan pemandangan pudar, pucat, berdebu, dengan dinding semen / kayu yang tidak dicat, secara keseluruhan menciptakan lanskap yang didominasi oleh warna cokelat. Kondisi ini bukan lahir dari pilihan estetika yang sengaja / ketidakmampuan mengapresiasi keindahan. Sebaliknya, ini adalah ekspresi dari selera kebutuhan. Di bawah tekanan keterbatasan modal finansial, prioritas dialokasikan untuk bertahan hidup secara fisik, bukan untuk merawat dekorasi. Warna cokelat di sini adalah warna dasar dari materialitas yang telanjang dimana tergambar dalam kayu yang melapuk karena cuaca, tanah yang kering, semen tanpa pelapis, serta akumulasi debu harian dari kerja fisik.

Sebaliknya, pemukiman kelas atas menampilkan lanskap yang teratur, bersih, dengan cat dinding yang cerah, atap berwarna, serta taman yang ditata rapi. Hal ini merepresentasikan selera kemewahan, di mana kelas atas memiliki modal finansial & kultural untuk membeli warna-warna cerah, merawat kebersihannya, & mempekerjakan tenaga kerja domestik guna menunda proses pembusukan alami material bangunan. Kemampuan untuk menampilkan ruang yang terbebas dari tanda-tanda kerja fisik kasar inilah yang kemudian dilegitimasi secara sosial sebagai standar keindahan dan keteraturan.

Ironisnya, kontras visual ini sering kali menjadi objek intervensi negara yang superfisial melalui proyek gentrifikasi estetika. Upaya mengubah kawasan kumuh menjadi Kampung Warna-Warni atau Kampung Pelangi—seperti Jodipan di Malang, Wonosari di Semarang, atau Bangsri di Blora yang dulunya gersang & berdinding kayu tanpa cat—sering kali didorong oleh keinginan pemerintah untu menyembunyikan kemiskinan di bawah lapisan cat cerah yang ramah swafoto bagi kelas menengah.

Namun, di balik kilau visual yang dipaksakan tersebut, terdapat realitas pengabaian yang jauh lebih mendasar. Proyek-proyek bertema estetis ini kerap kali mengabaikan kebutuhan infrastruktur mendasar seperti sistem proteksi kebakaran, daerah resapan air, & kepastian hukum kepemilikan tanah. Cat warna-warni ditempelkan di atas struktur bangunan yang rapuh, menciptakan ilusi perbaikan tanpa menyentuh akar masalah materialitas permukiman kelas bawah.

Lebih jauh lagi, pariwisata estetika ini tak jarang mengganggu aktivitas harian warga lokal. Ruang-ruang domestik yang sebelumnya berfungsi sebagai area menjemur pakaian atau jalur akses transportasi kini dibatasi dan ditata ulang demi menjaga “estetika visual” yang dikonsumsi oleh wisatawan. Warga, yang awalnya menjadi subjek ruang hidup mereka sendiri, perlahan berubah menjadi objek tontonan—sebuah komodifikasi kehidupan sehari-hari yang menguntungkan kelas menengah urban tanpa memberikan keuntungan struktural bagi penghuni aslinya

Secara historis, patologisasi terhadap lanskap pemukiman kelas bawah ini memiliki akar kolonial. Pada masa VOC & Hindia Belanda, kota-kota dirancang dengan tembok pemisah yang tegas: gedung-gedung bergaya Eropa yang bersih berkontras langsung dengan kampung-kampung penduduk lokal di luar tembok yang dicap kumuh, kotor, & menjadi sumber penyakit. Stigmatisasi kolonial ini terus direproduksi dalam tata kota modern, di mana kampung sering kali dipandang sebagai gangguan estetika yang harus dibersihkan / ditata ulang agar sesuai dengan imajinasi kota modern yang dingin & ramah investasi.

Sosiologi Warna Cokelat, Dari Simbol Kemiskinan hingga Konstruksi Marginalitas

Untuk menjawab pertanyaan apakah warna cokelat secara objektif merupakan warna yang buruk, harus melihat bagaimana makna sosiokultural dikonstruksikan di atas pigmen fisik tersebut. Secara psikologis dan kultural, cokelat memiliki sifat ambivalen yang mendalam. Dari segi psikologi warna, cokelat menghasilkan rasa aman, kehangatan, stabilitas, keandalan, dan kenyamanan fisik; namun di sisi lain ia juga dipandang membosankan, monoton, kaku, pasif, dan kurang memiliki energi kehidupan. Dari segi asosiasi material, cokelat mengingatkan pada batang pohon, tanah subur, kayu tua, dan fondasi bumi yang menyokong kehidupan, tetapi sekaligus dikaitkan dengan kotoran, pembusukan, karat, lumpur, dan materialitas yang usang. Dalam sejarah kelas, cokelat melambangkan kerendahan hati, tradisi pedesaan, kesederhanaan sukarela, dan spiritualitas yang membumi, namun di saat yang sama ia menjadi penanda kemiskinan, pakaian kelas bawah (peasant), dan keterbatasan akses terhadap pewarna mahal. Dalam aplikasi modern, cokelat digunakan secara taktis oleh institusi keuangan—seperti J.P. Morgan—untuk membangun kepercayaan, serta oleh produk organik dan ekologis, tetapi ia sering dihindari dalam industri fast fashion karena dinilai kuno atau kurang menarik perhatian.

Ketidakpopuleran relatif warna cokelat dalam selera estetika dominan berakar pada sejarah pembagian kerja. Pada Abad Pertengahan di Eropa, pakaian berwarna cokelat kasar (yang dibuat dari serat wol murah tanpa pewarnaan) secara hukum dan ekonomi merupakan pakaian bagi kaum petani, buruh kasar, dan ordo keagamaan seperti Fransiskan. Penggunaan warna cokelat pada jubah biksu atau pakaian pekerja melambangkan pelepasan ego, kemiskinan sukarela, dan kedekatan dengan bumi. Di sisi lain, para bangsawan mengenakan warna-warna cerah seperti ungu, emas, atau biru laut yang sangat mahal dan sulit didapat.

Perbedaan material ini mengkristal menjadi distingsi kultural, warna cerah diasosiasikan dengan kebebasan dari kerja fisik kasar & kepemilikan modal, sedangkan warna cokelat diasosiasikan dengan penaklukan material, ketidakberdayaan, & kotoran. Kasus ini serupa dengan warna abu-abu, yang kerap kali dihindari karena tanpa adanya pembanding warna putih bersih di sisinya, ia akan selalu dipersepsikan oleh mata sebagai putih yang kotor / tidak tercuci.

Kehadiran warna cokelat pada bendera nasional di seluruh dunia sangatlah langka, hanya berkisar di angka 4.06\%. Untuk memahami mengapa warna tanah yang menghidupi manusia ini disingkirkan dari lambang kebanggaan tertinggi negara-bangsa, kita harus membedah regulasi taktis, perkembangan heraldika, dan sensor ideologis yang melatarbelakanginya.

Secara historis, sebagian besar bendera nasional modern merupakan turunan dari bendera militer di darat serta bendera kapal di laut. Dalam situasi pertempuran abad ke-18 yang dipenuhi oleh kepulan asap mesiu hitam, atau di tengah lautan yang berbadai dan berkabut, sebuah bendera harus memiliki keterbacaan (legibility) instan dari jarak jauh agar komandan dapat membedakan kawan dari lawan. Warna komposit dengan intensitas rendah seperti cokelat cenderung menyatu dengan warna tanah di daratan atau tampak kusam di bawah langit mendung di laut, sehingga tidak efektif sebagai alat komunikasi taktis. Sebaliknya, warna primer yang cerah (merah, putih, biru, kuning) menawarkan kontras tajam yang dapat langsung diidentifikasi.

Desain bendera modern sangat dipengaruhi oleh tradisi heraldika Eropa Barat. Sistem tata warna heraldika klasik hanya mengakui dua logam (emas/kuning dan perak/putih) serta lima warna dasar (merah, biru, hitam, hijau, dan ungu). Cokelat tidak termasuk di dalamnya. Dalam perkembangan heraldika pasca-abad pertengahan, cokelat diklasifikasikan sebagai stain atau tinktur non-standar yang disebut Tenné (cokelat jingga atau warna kulit samak) atau Brunâtre (cokelat gelap).

Para penulis risalah heraldik kuno mengategorikan stain ini sebagai tanda penurunan kehormatan (rebatement of honour) yang diberikan kepada ksatria yang melakukan tindakan tercela, seperti membatalkan tantangan duel atau bertindak tidak ksatria, meskipun dalam praktiknya hal ini jarang diterapkan dan lebih merupakan konstruksi teoretis. Selain itu, keterbatasan teknologi pewarnaan tekstil pada masa lampau membuat pembuatan zat pewarna cokelat yang konsisten, tajam, dan tahan lama di bawah paparan cuaca ekstrem menjadi sangat sulit dan mahal, berbeda dengan warna primer yang lebih mudah diekstrak dari pigmen mineral atau tumbuhan tertentu.

Di luar kegunaan teknis, bendera adalah teks ideologis yang dirancang untuk memproyeksikan mitos kepahlawanan, kedaulatan suci, & takdir transenden suatu bangsa. Negara-bangsa membutuhkan simbol yang mengabstraksikan realitas sosial demi menciptakan konsensus persatuan nasional. Warna merah dipilih untuk melambangkan pengorbanan darah, biru melambangkan langit tanpa batas, & emas melambangkan kemakmuran abstrak.

Warna cokelat—warna tanah, lumpur, dan debu—terlalu jujur, terlalu konkret, dan terlalu membumi. Ia secara langsung merujuk pada realitas kerja fisik kasar yang coba dilampaui oleh narasi kepahlawanan negara. Menaruh warna cokelat secara dominan pada bendera nasional berarti memaksa elit penguasa untuk mengakui bahwa fondasi kedaulatan mereka disokong oleh keringat dan eksploitasi atas tubuh para petani, buruh, dan masyarakat adat yang mengolah tanah tersebut. Penyingkiran warna cokelat adalah mekanisme pertahanan simbolis untuk menjauhkan citra agung negara dari realitas materialitas proletariat.

Pengecualian Revolusioner, Reklamasi Cokelat sebagai Tindakan Politik

Meskipun tersingkir dari konsensus veksilologi dominan, terdapat beberapa momen historis penting di mana warna cokelat sengaja dimasukkan ke dalam lambang kedaulatan atau gerakan sosial. Tindakan ini bukan sekadar keputusan artistik, melainkan sebuah dekolonisasi visual & reklamasi politik atas kelas pekerja dan identitas marjinal.

Bendera Belize: Menampilkan Tubuh Pekerja Kasar

Bendera Belize merupakan satu-satunya bendera nasional di dunia yang secara realistis menempatkan figur manusia kelas pekerja sebagai elemen utamanya. Di tengah bendera, terdapat gambar dua penebang kayu , seorang Mestizo yang membawa kapak, dan seorang Afro-Belizean yang membawa dayung, mengapit sebatang pohon mahoni. Tameng di bawah pohon menampilkan peralatan penebangan kayu tradisional seperti gergaji & arah (crosscut saw), kapak perata (squaring axe), dan dayung. Di bawah tameng tertulis moto Latin: Sub Umbra Floreo (Dii Bawah Naungan Aku Mekar).

Penggunaan warna cokelat pada detail pohon, kulit manusia, dan peralatan kerja merupakan pengakuan eksplisit atas fondasi sejarah Belize yang dibangun dari industri ekstraksi kayu hutan oleh para pekerja paksa & keturunan budak. Menariknya, dalam rancangan awal yang dikirim dari Inggris, salah satu figur penebang kayu digambarkan sebagai seorang kulit putih (Caucasian) berambut merah muda. Komisioner Arkeologi Belize saat itu, Harriot Topsy, melakukan intervensi keras untuk memastikan bahwa satu figur digambarkan sebagai Mestizo asli dan figur lainnya sebagai Afro-Belizean dengan warna kulit cokelat yang autentik serta fitur wajah yang akurat. Hal ini menunjukkan bahwa representasi warna cokelat pada kulit pekerja kasar di atas bendera adalah sebuah medan perjuangan ras & kelas melawan sensor visual kolonial.

Bendera Lesotho, Negosiasi Identitas dan Warna Kulit Hewan

Sejarah bendera Lesotho mencerminkan bagaimana warna cokelat dinegosiasikan ulang seiring dengan perubahan rezim politik. Setelah kudeta militer pada tahun 1987 yang dipimpin oleh Sersan Retšelisitsoe Matete, Lesotho mengadopsi bendera baru yang menonjolkan perisai perang tradisional Basotho berwarna cokelat muda yang terbuat dari kulit hewan asli, dilengkapi dengan tombak (assegai) dan gada (knobkierrie). Di sini, warna cokelat kulit hewan digunakan sebagai simbol pertahanan tradisional, ketangguhan fisik, dan kedaulatan sejarah yang kokoh.

Namun, pada tahun 2006, untuk memperingati 40 tahun kemerdekaan & menandai transisi menuju stabilitas sipil yang damai, parlemen memutuskan untuk menghapus simbol militeristik cokelat tersebut. Sebagai gantinya, mereka mengembalikan topi jerami tradisional Basotho (mokorotlo) ke tengah bendera. Meskipun draf awal mengusulkan penggunaan warna cokelat alami jerami untuk mewakili bumi dan pertanian, parlemen akhirnya memilih warna hitam pekat (sable) pada topi tersebut. Keputusan ini diambil secara sadar untuk merepresentasikan Lesotho secara tegas sebagai bangsa kulit hitam (black nation), menggeser konotasi cokelat kulit hewan militer menjadi penegasan rasial yang menyatukan masyarakat dalam kerangka geopolitik Afrika modern.

Logika distingsi kelas dalam memperebutkan ruang dan estetika ini, bagaimanapun, tidak beroperasi di ruang hampa. Ia beririsan secara erat dengan dinamika identitas lain—seperti ras & seksualitas—yang sama-sama mengalami marginalisasi melalui penandaan visual. Dalam kerangka interseksional ini, reklamasi simbol-simbol warna oleh kelompok marjinal menjadi bentuk perlawanan yang paralel terhadap dominasi estetika kelas penguasa

Dalam gerakan hak sipil kontemporer, penambahan garis berwarna cokelat dan hitam pada Philadelphia Pride Flag (2017) danProgress Pride Flag oleh Daniel Quasar (2018) merupakan intervensi estetika yang sangat politis. Garis cokelat ditambahkan secara sengaja untuk memberikan representasi visual bagi komunitas queer kulit berwarna (black and brown) yang secara historis termarjinalisasi di dalam gerakan LGBTQ+ yang didominasi oleh narasi kulit putih kelas menengah. Menempatkan warna cokelat—warna yang selama ini disingkirkan dari standar estetika modern karena dianggap kotor atau kusam—ke dalam simbol kebanggaan kolektif merupakan upaya sadar untuk menyoroti isu rasisme sistemik dan interseksionalitas. Cokelat di sini direklamasi bukan lagi sebagai tanda noda atau kehinaan, melainkan sebagai lambang resistensi politik dan solidaritas gerakan pembebasan

Jika kasus reklamasi bendera Pride ini dibingkai ulang melalui kacamata Pierre Bourdieu, maka bendera tersebut bukan sekadar simbol identitas, melainkan instrumen untuk memperebutkan modal simbolik di dalam sebuah medan (field) budaya yang didominasi oleh kelompok heteronormatif & kulit putih. Melalui penyisipan estetika warna cokelat ke dalam simbol kebanggaan kolektif, komunitas queer kulit berwarna melakukan praktik distingsi untuk menolak label marjinal dan mengklaim ruang publik yang selama ini dimonopoli. Dengan demikian, estetika dalam gerakan ini bekerja dengan logika yang persis sama dengan perjuangan kelas yang telah diuraikan sebelumnya: ia adalah medan pertarungan untuk menentukan makna, nilai, dan pengakuan—sebuah upaya merebut kembali hak untuk mendefinisikan apa yang dianggap “berharga” dan “bermartabat” dari cengkeraman kelompok dominan.

Kesimpulan

Melalui pembacaan sosiologis yang mendalam, dapat disimpulkan bahwa penilaian estetika bukanlah wilayah netral yang steril dari pengaruh sosial. Apa yang didefinisikan sebagai keindahan—warna-warna cerah, bersih, tertata rapi—dan apa yang dicap sebagai keburukan atau kekumuhan—pudar, kecokelatan, berdebu—merupakan produk langsung dari kondisi material dan distribusi kekuasaan di dalam masyarakat. Kelas bawah tidak memilih palet kecokelatan yang pudar; palet tersebut dipaksakan kepada mereka oleh batas-batas ekonomi yang kaku. Sebaliknya, kelas atas tidak sekadar memiliki selera estetika yang unggul secara alamiah; mereka memiliki kapital yang melimpah untuk membeli, merawat, dan memamerkan warna-warna cerah sebagai simbol distingsi kelas mereka

Keberadaan warna cokelat—warna tanah yang menyokong kehidupan dan memberi makan umat manusia—yang disingkirkan dari mayoritas bendera nasional dunia menyingkap adanya bias kelas dalam pembuatan lambang kedaulatan. Cokelat disingkirkan karena ia memikul representasi yang terlalu jujur tentang kerja fisik kasar, lumpur, dan keringat yang ingin dilampaui oleh narasi-narasi agung negara-bangsa. Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh reklamasi warna pada bendera Belize maupun penyisipan garis cokelat dalam Progress Pride Flag, warna yang dianggap “rendah” ini justru dapat direbut kembali sebagai alat perlawanan politik yang menantang hierarki visual dominan.

Oleh karena itu, tindakan untuk mendefinisikan kembali makna warna, serta keberanian untuk menempatkan warna cokelat secara dominan dan bermartabat dalam simbol-simbol kekuasaan, merupakan tindakan politik yang revolusioner. Hal ini merebut kembali narasi kebudayaan dari dominasi medan (field) dan habitus borjuis dalam kerangka Bourdieu, mengembalikan kehormatan pada bumi dan kerja material kasar, serta menegaskan bahwa dasar dari setiap pencapaian peradaban tertinggi manusia tidaklah berdiri di atas abstraksi warna-warni yang suci, melainkan tertanam kokoh di atas tanah cokelat yang digarap oleh tangan-tangan kelas pekerja.

Referensi

1. Bourdieu’s Cultural Capital and Taste | PDF | Capital (Economics) | Liberal Arts Education

2. Teori Distingsi Bourdieu dan Kelas Sosial | PDF

3. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste Introduction

4. PENATAAN ESTETIKA PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN BERBASIS PENATAAN FASAD BANGUNAN STUDI KASUS: JALAN INSPEKSI KANAL, MARICAYA BARU KEC. MAKASSAR KOTA MAKASSAR

5. DISTINCTION: FUNGSI SOSIAL SELERA DALAM REPRODUKSI STUKTUR KELAS Seperti dinyatakan secara eksplisit pada sub judulnya, http://e-journal.uajy.ac.id/7843/3/SOS202547.pdf

6. Konsumsi dan Kelas Sosial Bourdieu | PDF

7. Ancaman di Balik Postingan Foto Kawasan Kumuh vs Mewah Bandung – detikNews

8. The Color Brown: Symbolism, Perception, and Natural Depth

9. Psychology & Symbolism of the Colour Brown – Centre of Excellence

10. Reckoning with Pierre Bourdieu and Cultural Policy | For What It’s Worth – Arts Journal

11. Merdeka dalam Bayang-bayang Gentrifikasi – Rumah KitaB.com

12. Meniti Arus Lokal-Global: Jejaring Budaya Kampung, .pdf

13. PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH TERINTEGRASI DI KOTA SEMARANG – uta’45

14. PENGUATAN BRANDING KAMPUNG WARNA-WARNI JODIPAN MELALUI DESAIN IDENTITAS VISUAL KAWASAN – E-Journal Untar

15. The Psychology of Colours (Part 8) – Chocolate Brown – Steemit

16. Tincture (heraldry) – Wikipedia

17. Stain (heraldry) – Wikipedia

18. All Flags of the World: Great Way To Understand A Nation’s History

19. The Belize Flag – A Brief History and Why It Is So Unique

20. National Symbols Of Belize – GOB Online

21. The Belize Flag – Caribbean Culture and Lifestyle

22. The National Flag of Lesotho

23. LGBTQ+ Pride Flags and What They Stand For

24. Pride Flag Guide | Center for Cultural Connections & Community

25. What does the LGBT Progress Pride Flag mean? – The Pin Prick

Comments

Berikan komentar

Baca Juga