fbpx

Citayam Fashion Week dan Kekuasaan menurut Michel Foucault

Fenomena Citayem Fashion Week dan bagaimana subjek berkuasa berperan atasnya menurut pandangan tentang Kekuasaan Michel Foucault.
Michel Foucault

Akhir-akhir ini, Citayam Fashion Week (CFW) ramai diperbincangkan, di mana CFW merupakan sebuah pertunjukan fashion yang dilakukan oleh kalangan remaja dengan pakaian yang trendi, berjalan layaknya model yang sedang menampilkan tentang pakaian pilihan mereka. Pada awalnya CFW diinisiasi oleh sekumpulan beberapa remaja yang berpakaian nyentrik, berkumpul di daerah Dukuh Atas jalan Sudirman – Jakarta yang kemudian tersebar dalam media sosial hingga mengundang perhatian masyarakat luas. Viralnya kawasan Dukuh Atas sebagai lokasi fashion masyarakat (utamanya para pemuda) ini didukung oleh beredarnya video-video wawancara di media sosial. Video tersebut menampilkan jawaban- jawaban remaja yang masih polos dan unik yang selanjutnya menarik perhatian publik.

Tak hanya itu, muda mudi yang diwawancarai juga kerap mengenakan busana khas pilihan mereka. Tiap wawancara, unggahan, dan berita mengenai CFW membangun secara perlahan gambaran masyarakat mengenai ruang publik baru yang terselenggara di Dukuh Atas tersebut. Namun, fenomena ini berkembang dan berpotensi untuk dimanipulasi oleh mereka yang memiliki kekuasaan, kekayaan, atau jabatan. Contohnya adalah beberapa influencer dan petugas institusi pemerintah yang mulai memperebutkan fashion week tersebut bagi tujuannya sendiri atau kelompok mereka. Dengan maraknya informasi mengenai CFW baik para muda-mudi, influencer, dan warganet secara bertahap telah menciptakan sebuah wacana baru mengenai ruang publik. Hal ini membuka kemungkinan bagi berbagai subjek untuk menghasilkan makna baru. Pada tahap ini kelahiran makna dari berbagai subjek menjadi bagian dari sebuah proses diskursus.

Fenomena sosial Citayam Fashion Week selanjutnya dapat dianalisis dengan pemikiran seorang filsuf kontemporer, Michel Foucault. Melalui pemikirannya tentang kekuasaan dan pengetahuan, Foucault berpandangan bahwa terdapat beberapa subjek yang akan selalu mencoba menguasai wacana subjek lainnya guna kepentingan mereka. Fokus dari artikel ini adalah perkembangan sudut pandang yang dimiliki beberapa subjek, baik para pemuda yang menginisiasi CFW dan subjek yang ingin berkuasa atasnya. Dengan kelahiran wacana yang telah dibangun oleh beberapa pihak, lantas, bagaimana sistem berjalannya kekuasaan terjadi dalam fenomena sosial CFW ini?

Kekuasaan menurut Foucault adalah pengaruh yang dimiliki tiap subjek untuk memberi suatu pengaruh pada subjek lainnya. Kekuasaan sendiri tersebar dalam diri tiap subjek, dan ia memiliki daya dalam hubungan ekonomi, politik, atau sosial yang berkorelasi dengan penyebaran pengetahuan. Secara harfiah, kekuasaan adalah akibat langsung dari pemisahan, ketidaksamaan, dan ketidakseimbangan wacana. Dengan kata lain, kekuasaan ini merupakan situasi internal yang muncul dari perbedaan wacana. Dilihat dari fenomena CFW, terdapat subjek penguasa yang melontarkan wacana baru di atas wacana yang telah dilahirkan oleh subjek lain yang berada di CFW.

Melalui wacana tersebut, subjek penguasa memperkenalkan sebuah pengetahuan yang digunakan untuk menggeser pemahaman masyarakat atas fenomena tersebut, hingga kekuasaan berkembang melalui hadirnya lebih dari satunya subjek yang saling berhubungan. Wacana sebagai kerangka pertama terjadi dalam konteks relasi kuasa, yang selanjutnya menstimulasi subjek baru (penguasa) untuk melahirkan sebuah strategi kekuasaan dan perebutan ruang wacana. Sebagai stimulus untuk mengubah pandangan masyarakat dan subjek awal, subjek penguasa melemparkan wacana positif dengan balutan niat baik untuk mendaftarkan CFW sebagai Hak Kekayaan Intelektual. Sebuah strategi kekuasaan yang dilakukan oleh subjek baru yang berbeda dengan pengetahuan subjek awal, seluruh usaha ini dapat dicurigai sebagai upaya untuk mendapatkan kekuasaan.

Menurut Foucault, semua pengetahuan adalah politik karena syarat-syarat kemungkinannya bersumber pada hubungan-hubungan kekuasaan. Relasi kekuasaan dapat memisahkan sebuah wacana yang lahir dengan sendirinya dari wacana yang disusun dengan sengaja untuk memperoleh kekuasaan. Semua berawal dari sebuah pengetahuan dan wacana yang memiliki pretensi objektivitas ilmu. Dan kini kita menyaksikan Citayam Fashion Week sebagai hal wacana baru yang telah digambarkan subjek pemberi wacana, ialah sebuah usaha yang hendak mengubah pengertian subjek lain menjadi sebuah objek kekuasaan.

Satrio Valentino

Mahasiswa sosiologi di Universitas Jember

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.