fbpx

Materialisme metafisik membunuh antroposentrisme

Materialisme metafisik memberikan upaya perubahan yang radikal atas pandangan manusia yang mementingkan dirinya sendiri.
Manusia sedang mengenakan masker anti racun
Ilustrasi oleh John M Lund

Antroposentrisme merupakan teori etika lingkungan hidup yang melihat manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Alam dipandang sebagai sumber daya yang diciptakan khusus untuk manusia dan segala kepentingan yang dilakukan oleh manusia. Alam memiliki kekuatan hanya sekedar untuk dimanfaatkan dengan menggunakan berbagai cara yang begitu eksploitatif. Pengurasan alam ini berakibat pada krisis lingkungan yang justru akan menjadi masalah besar di masa depan. Ketentuan yang diciptakan manusia untuk melakukan pembatasan eksploitasi alam hanya terletak sebatas pada regulasi yang tidak begitu memberikan efek yang maksimal pada perkembangannya.

Manusia sebagai pusat alam semesta yang memiliki kesadaran pada tingkat yang paling tinggi di antara spesies lainnya justru menciptakan malapetaka untuk generasi dari spesiesnya sendiri. Perkembangan teknologi dan perubahan orientasi manusia terhadap kehidupan pada akhirnya semakin melatih manusia untuk menjadi penghancur alam. Sistem perekonomian kapitalisme adalah salah satu pendukung keberlangsungan pandangan antroposentrisme. Ia mencoba untuk melakukan segala upaya dalam memaksimalkan laba dan tidak memperhatikan keberlangsungan dari sumber daya yang dimanfaatkannya.

Perbaikan yang dilakukan oleh sistem perekonomian kapitalis pada alam hanya kembali melakukan pemerasan pada alam. Hal ini didukung dengan pandangan manusia yang melihat dirinya sebagai penguasa alam dan alam hanya sebagai objek yang harus dikuasai secara mutlak. Antroposentrisme mengabaikan relasi antara manusia dan alam yang sebenarnya sudah terlihat di masa lalu. Bencana dan perubahan alam pada akhirnya hanya dipandang sebagai gejala alam itu sendiri dan mengabaikan adanya peranan dari manusia sebagai pelaku.

Ludwig Feuerbach mencetuskan materialisme metafisik sebagai jenis dari pandangan materialisme. Feuerbach memandang adanya kekuatan pada masing-masing materi yang berdiri dalam dirinya sendiri dan tidak melihat materi dalam lingkup relasi. Kemandirian pada materi ini pada akhirnya memisahkan mereka dengan begitu ketat pada dirinya masing-masing hingga Feuerbach menyatakan bahwa materi itu bersifat tetap dan akan terus begitu selamanya. Perubahan mendadak yang terjadi pada materi disebabkan oleh adanya faktor yang mendorongnya dari luar atau faktor eksternal yang memiliki kekuatan luar biasa.

Manusia yang dianggap sebagai inti dari alam semesta beserta kepentingannya atas alam dapat berubah karena adanya dorongan dari alam yang menuntut adanya penyesuaian. Manusia memandang penyesuaian yang harus dilakukan akibat adanya perubahan alam tersebut sebagai ketidakramahan alam kepada spesiesnya, yang sebenarnya alam hanya memberikan respon kepada manusia atas perilaku eksploitatif dan tindakan pengurasan alam di masa lalu. Manusia yang memiliki kecerdasan luar biasa dan juga memiliki teknologi yang semakin berkembang akhirnya menjadikan alam sebagai musuh yang harus diatasi dan alam tidak berhak atas dirinya sendiri.

Materialisme metafisik memberikan upaya perubahan yang radikal atas pandangan manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Alam merupakan elemen paling penting dari kehidupan manusia, mereka memiliki kemampuannya masing-masing untuk terus ada dan eksis. Keadaan yang berubah merupakan bentuk dari perkembangan pada dua entitas yang berdampingan. Perubahan alam dapat dipengaruhi oleh manusia, vice versa. Manusia yang berfokus pada dirinya sendiri akhirnya mengabaikan adanya hubungan dirinya dengan alam. Perubahan yang terjadi tersebut merupakan wujud dari eksistensi alam yang diabaikan dan manusia tidak memikirkan adanya kehendak alam untuk bereksistensi selain daripada diri manusia itu sendiri.

Feuerbach berusaha untuk menciptakan hubungan yang penuh dengan cinta kasih. Hubungan yang berusaha diwujudkan oleh pandangan ini tidak hanya berlaku antar manusia, namun juga berlaku pada hubungan manusia dan alam. Diri manusia yang berubah dan membenci alam sebenarnya merupakan cerminan diri manusia yang membenci dirinya sendiri. Manusia merupakan cerminan dari alam yang sedang mereka hisap dan hancurkan. Hubungan yang ingin dibangun oleh pandangan materialisme metafisik adalah keterhubungan yang saling menghormati entitas di alam semesta dan tidak merubah pola pikir manusia yang hanya fokus kepada dirinya sendiri. Kepentingan manusia, tidak hanya menyangkut dirinya sendiri dan keseimbangan yang diraih untuk menghindari katastrofi merupakan hal yang menjadi keutamaan yang sesungguhnya.

Materi yang tersusun di alam semesta memiliki kemampuannya sendiri untuk terus berkembang dan tidak berhenti pada dirinya sendiri sebagai entitas yang mengada. Ekosentrisme merupakan aspek yang harus diperhatikan oleh manusia sebagai spesies unggul. Keseimbangan dalam pola perilaku manusia menjadi kunci untuk menjaga spesiesnya agar tetap hidup dan menghindari katastrofi yang disebabkan oleh perilaku mereka, perubahan yang dirasakan manusia saat ini bukan merupakan tindakan yang mereka lakukan sekarang, ini merupakan perilaku manusia terdahulu yang pada akhirnya dampak tersebut dirasakan oleh manusia di masa kini.

Perilaku manusia masa kini memiliki dampak yang akan dirasakan oleh manusia di masa depan dan dampak tersebut tidak hanya dapat merusak alam, namun ia implisit akan mengubah sifat alam yang tadinya ramah terhadap manusia menjadi ancaman terbesar bagi manusia itu sendiri. Kesadaran yang coba dibangun oleh Feuerbach merupakan titik ideal bagi manusia untuk menciptakan harmoni antara manusia dan alam. Rasa cinta kasih yang terbentuk merupakan pijakan manusia untuk menjaga keberlangsungan hidupnya dan keluar dari etika antroposentrisme. Kontemplasi manusia atas tindakan dan juga kesadaran utuh atas eksistensi yang melibatkan materi-materi secara terpisah menuntut adanya perilaku bijaksana untuk hidup berdampingan dan tidak hanya untuk memenuhi kepentingan manusia. Alam yang diciptakan bukan hanya untuk manusia, namun ia memiliki kehendak untuk berkembang dalam dirinya sendiri tanpa harus melibatkan manusia sebagai spesies yang dapat merusak keberadaan alam.  

Referensi:

Bertens, K, Johanis Ohoitimur, Mikhael Dua. 2018. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Angga Pratama

Seorang Materialis dan mengidolakan Friedrich Engels. Kucing adalah hewan peliharaan yang paling disukai, batagor dan siomay menjadi makanan favorit. Belum berpikir mencintai seseorang untuk hari ini, mungkin akan mencintai di hari jumat atau senin.

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.