3–5 minutes

Jean Paul Sartre; Ironi Hidup: Membongkar Paradigma Kebahagiaan

Dalam perjalanan eksistensialnya, manusia terus-menerus dituntun untuk memiliki kesadaran agar ia mampu hidup sebagai pribadi yang utuh.

Jean-Paul Sartre

Dalam perjalanan eksistensialnya, manusia terus-menerus dituntun untuk memiliki kesadaran agar ia mampu hidup sebagai pribadi yang utuh. Kesadaran ini memicu pertanyaan abadi: apa esensi sejati dari eksistensi manusia? Sejak era Yunani Kuno hingga masa modernitas, ribuan pemikir, filsuf, ilmuwan, dan teolog telah merenungkan dan mencoba menjawab persoalan ini. Dan dari sekian banyak jawaban tersebut, satu paradigma mendominasi dan menjadi keyakinan kolektif: esensi tertinggi manusia adalah kebahagiaan. Mazhab Hedonisme, aliran Utilitarianisme, hingga berbagai ajaran agama, semuanya menyusun definisi mereka masing-masing mengenai konsep kebahagiaan yang menjadi tujuan akhir manusia. Terlepas dari apakah kebahagiaan itu didefinisikan sebagai Eudaimonia (kebajikan) atau Hedone (kesenangan), hampir semua bidang ilmu pengetahuan dan spiritualitas meyakinkan kita bahwa tujuan hidup, atau esensi dari eksistensi kita, adalah pencapaian kebahagiaan.  Namun, benarkah demikian? Ada hal yang absurd dari paradigma ini, yakni: esensi tersebut justru harus dikukuhkan atau diciptakan. Fakta ini menunjukkan bahwa manusia harus bereksistensi terlebih dahulu, baru kemudian mengisi dan menciptakan esensinya sendiri. Bukankah proses kreasi ini bersifat subjektif? Lalu, mengapa kita harus meyakini dan mengejar kebahagiaan sebagai kebenaran universal? Mengapa kita tidak boleh menggunakan kesadaran pribadi untuk menciptakan esensi (nilai) hidup kita sendiri? Melihat fenomena ini, kita perlu menyadari serta mengkritis hegemoni paradigma tersebut, agar kita tidak lagi dibebani oleh pengejaran akan kebahagiaan yang telah distandarisasi. Perlawan dan pembebasan paradigma ini telah dilakukan oleh para filsuf eksistensialime, salah satu dantaranya yakni; Jean-Paul Charles Aymard Sartre (1905–1980) adalah seorang filsuf, novelis, penulis naskah drama, kritikus sastra, dan aktivis politik asal Prancis. Ia adalah tokoh sentral dan wajah publik dari aliran Eksistensialisme pada abad ke-20. Pemikiran Sartre berpusat pada kebebasan radikal dan tanggung jawab mutlak manusia. Dengan demikian artikel ini ingin membuka kesadaran kita akan paradigma yang selama ini kita yakini sekaligus membesakan kita untuk mencari dan menemukan esensi pribadi, melalui kerangka pemikiran. jean paul sarter mengenai eksistensi mendahului esnsi (L’existence précède l’essence).

Eksistensi mendahului esensi: Mencipatakan ensensi

Kebahagian tidak menjadi dasar dan tujuan eksitensi manusia, melain setiap eksistensi selalu dan harus menciptakan esensinya sendiri. Sartre berpendapat, manusia terlempar ke dunia ini sebagai eksistensi (keberadaan) yang sadar, yaitu ketiadaan (nothingness) yang harus mengisi kekosongan itu. Esensi kita, siapa kita, apa nilai kita, apa tujuan hidup kita tidak diberikan, melainkan harus diciptakan melalui setiap pilihan, tindakan, dan proyek yang kita ambil sepanjang hidup. Dogma modern yang mengklaim kebahagiaan adalah esensi manusia (Manusia diciptakan untuk bahagia) adalah upaya untuk mengubah manusia menjadi benda mati (en-soi), yang esensinya stabil. Ini adalah penolakan terhadap sifat kita sebagai kesadaran yang cair dan bebas (pour-soi).

Ketika kita menyerahkan diri pada definisi kebahagiaan dari luar, kita sedang melakukan Iktikad Buruk (Bad Faith). Iktikad buruk adalah penipuan diri di mana kita berpura-pura bahwa kita tidak bebas. Kita mencari perlindungan dalam peran yang kaku: “Saya tidak bisa berhenti bekerja karena saya adalah karyawan,” atau “Saya harus membeli ini karena kebahagiaan menuntutnya.” Dengan menyamakan diri dengan peran atau esensi yang telah ditetapkan, kita menyangkal kebebasan radikal kita untuk memilih dan menciptakan nilai yang berbeda. Pengejaran kebahagiaan semacam itu adalah pengkhianatan terhadap kebebasan dan pengingkaran terhadap diri sendiri.

Jika kita berhenti lari, yang akan kita temui adalah Kecemasan (Anguish). Kecemasan, bagi Sartre, bukanlah gejala penyakit, melainkan perasaan filosofis yang jujur dan bukti kesadaran kita akan kebebasan. Kebebasan yang mutlak membawa tanggung jawab absolut. Setiap pilihan yang kita ambil tidak hanya mendefinisikan diri kita, tetapi juga menciptakan citra manusia yang seharusnya bagi seluruh umat manusia. Beban untuk menjadi penentu nilai inilah yang membuat kebebasan terasa seperti kutukan (L’homme est condamné à être libre). Menerima kecemasan berarti menerima tanggung jawab ini.

Keotentikan Melampaui Kebahagiaan

Lantas, jika kebahagiaan adalah ilusi yang membelenggu, apa tujuan hidup yang otentik?

Tujuannya bukanlah perasaan senang atau nyaman, melainkan Keotentikan (Authenticity). Hidup yang otentik adalah ketika kita berani menerima Kecemasan dan menolak iktikad buruk. Ini adalah hidup di mana kita menciptakan nilai kita sendiri melalui tindakan, bahkan ketika pilihan itu terasa sulit, tidak populer, dan tidak menjanjikan kebahagiaan instan. Hidup adalah sebuah proyek penciptaan, bukan pencarian barang jadi. Kebahagiaan, jika memang datang, hanyalah efek samping dari hidup yang dijalani dengan kejujuran mutlak terhadap kebebasan kita yang mengerikan namun mulia.

Marilah kita merayakan beban eksistensi ini. Marilah kita berhenti mencari petunjuk dan berani menjadi penulis naskah kehidupan kita sendiri. Hidup yang terbaik bukanlah hidup yang bahagia karena kebahagiaan itu fana melainkan hidup yang otentik, di mana kita bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang kita putuskan untuk menjadi. Dengan hidup otentik, individu memang akan selalu menghadapi Kecemasan, namun pada saat yang sama, ia akan menemukan kepuasan batin yang mendalamsebuah rasa tenang yang transenden yang lahir dari kesadaran bahwa ia telah memilih untuk jujur pada diri sendiri dan menciptakan esensinya sendiri, alih-alih menyerah pada tuntutan kebahagiaan palsu. Kepuasan ini adalah manifestasi sejati dari keberanian eksistensial.

Refrensi

  1. Sartre, Jean-Paul. L’Existentialisme est un Humanisme. Diterjemahkan oleh Bernard Frechtman, Yale UP, 2007.
  2.  Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology. Diterjemahkan oleh Hazel E. Barnes, Washington Square Press, 2018.
  3.  Nausea. Diterjemahkan oleh Lloyd Alexander, New Directions Publishing, 1992.
  4.  No Exit and Three Other Plays. Vintage, 1956.
Chris Ane

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga