fbpx

Filsafat Sains Kant

Immanuel Kant, yang dianggap sebagai filsuf sains, membagi sains menjadi historis atau rasional, dan mengakuinya sebagai sistem kognitif yang terorganisir.
Filsafat Sains Kant
Filsafat Sains Kant

Meskipun lebih dikenal karena konsep imperatif kategoris dan idealisme transenden, Immanuel Kant dalam teks-teksnya juga banyak menulis tentang filsafat sains1. Karya pertamanya yang berjudul Gedanken von der Wahren Schätzung der Lebendigen Kräfte2 bahkan berisi tentang jawaban-jawaban Kant terkait fenomena fisis. Boleh dibilang bahwa sains merupakan stimulus awal yang mendorong daya intelektual Kant. Namun, Kant bukan merupakan seorang scientist seperti yang dikenal dalam makna kontemporer, melainkan seorang filsuf sains. Pertanyaan Kant berkutat pada masalah filosofis seputar sains; mulai dari problem ruang absolut dalam sistem fisis Newton dan Leibniz hingga definisi ‘gaya’ dalam dinamika benda.

Keterlibatan erat Kant dengan ilmu alam dilandasi oleh alasan historis. Abad ke-18  merupakan zaman penerangan yang dibarengi dengan kejayaan teori-teori Newtonian. Banyak pemikir besar termasuk Kant sendiri menganggap kontribusi Newton terhadap matematika dan sains sebagai salah satu pencapaian intelektual terbesar dalam sejarah manusia. Alasan lain yang perlu dimengerti adalah bahwa pada abad ke-18, istilah natural science dan natural philosophy belum sepenuhnya terpisahkan. Debat ilmu alam terpopuler pada masa itu, yakni debat antara Gottfried Wilhelm Leibniz dan Samuel Clarke3, juga sering menggunakan istilah natural philosophy untuk merujuk pada apa yang kini dikenal sebagai natural science.4

Alam menurut Immanuel Kant

Penjelasan Kant mengenai apa yang dimaksud dengan ‘nature’ atau alam5 terbagi menjadi dua. Kant menuliskan dalam prakata karyanya yang berjudul Metaphysische Anfangsgründe der Naturwissenschaft,

Wenn das Wort Natur bloß in formaler Bedeutung genommen wird, da es das erste innere Prinzip alles dessen bedeutet, was zum Dasein eines Dinges gehört, so kann es so vielerlei Naturwissenschaften geben, als es spezifisch verschiedene Dinge gibt.

Menurut Kant, jika kata alam dimaknai secara formal, yang berarti ciri dasar atau inheren segala sesuatu, maka banyaknya ilmu alam yang berbeda sama dengan banyaknya benda.

Akan tetapi Kant mengartikan kata ‘alam’ dalam makna materialnya, yakni sebagai keseluruhan dari segala sesuatu, sejauh mereka dapat menjadi objek indra dan juga objek pengalaman manusia. Oleh karena itu, alam dalam pengertian ini dipahami sebagai keseluruhan dari semua penampakan, yaitu dunia yang dapat dirasakan. Kant juga menuliskan dalam karya yang sama,

Die Natur, in dieser Bedeutung des Worts genommen, hat nun, nach der Hauptverschiedenheit unserer Sinne, zwei Hauptteile, deren der eine die Gegenstände äußerer, der andere den Gegenstand des inneren Sinnes enthält, mithin ist von ihr eine zwiefacheNaturlehre, die Körperlehre und Seelenlehre möglich, wovon die erste die ausgedehnte, die zweite die denkende Natur in Erwägung zieht.

Klasifikasi Sains

Dengan demikian, sains menurut Kant dapat dibagi menjadi dua sesuai dengan pembagian indra. Sains yang membahas objek-objek indra luar, dan yang membahas objek- objek batin-nalar. Karena itu, dalam pengertian ini, ada dua teori6 (atau doktrin) tentang alam, teori tubuh7 dan teori jiwa8. Teori yang pertama membahas ‘alam’ yang diperluas (extended nature), yang kedua membahas ‘alam’ pikiran (thingking nature).

Kant menjelaskan bahwa setiap teori yang dianggap sebagai sistem, yaitu keseluruhan kognisi yang disusun menurut prinsip-prinsip, adalah sains. Artinya, suatu disiplin pengetahuan harus memiliki struktur yang terorganisir dengan baik dan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu untuk disebut sebagai sains. Kant memahami sains sebagai suatu sistem kognitif yang terorganisir. Kant kemudian membagi sains menjadi dua jenis: historis dan rasional. Sains historis9 berfokus pada pemahaman tentang asal-usul dan perkembangan benda-benda alam. Contohnya adalah ilmu geologi, biologi evolusi, dan sejarah alam. Sains rasional10 lebih menekankan penalaran dan pemahaman prinsip-prinsip umum yang mengatur fenomena alam, seperti fisika, kimia, dan matematika, di mana hukum-hukum alam ditemukan melalui metode penalaran dan eksperimen.

Daher wird die Naturlehre besser in historische Naturlehre, welche nichts als systematisch geordnete Facta der Naturdinge enthält (und wiederum aus Naturbe- schreibung, als einem Klassensystem derselben nach Ähnlichkeiten, und Naturgeschichte, als einer syste- matischen Darstellung derselben in verschiedenen Zeiten und Örtern, bestehen würde), und Naturwis- senschaft eingeteilt werden können.

Terakhir, Kant menegaskan syarat yang menurutnya perlu dipenuhi agar sesuatu dapat disebut sains,

Eigentliche Wissenschaft kann nur diejenige genannt werden, deren Gewißheit apodiktisch ist; Erkenntnis, die bloß empirische Gewißheit enthalten kann, ist ein nur uneigentlich so genanntes Wissen.

Menurutnya, sains memiliki kepastian yang apodiktis, sementara segala bentuk kognisi yang hanya mengandung kepastian empiris lebih layak disebut pengetahuan11.

Sains dan Idealisme Transenden Kant

Dalam kata pengantar Kritik der Reinen Vernunft karya Immanuel Kant, Paul Guyer12 menjelaskan struktur ‘arkitektonik’13 yang diadopsi dari struktur buku logika Jerman pada masa itu. Guyer menuliskan penjelasan mengenai pembagian “Estetika Transenden”14 dan “Logika Transenden”15. Dalam karya Kant, yang dimaksud dengan logika transenden adalah kemungkinan pengetahuan yang bersifat universal dan mutlak. Hal ini didasari oleh distingsi antara pengetahuan a priori dan a posteriori. Sementara itu, estetika transenden membahas sifat (nature) dari sensibilitas atau pengindraan manusia dalam memproses informasi sensorik.

Konsep Kant tentang sains berhubungan erat dengan logika transendental dan estetika transendental. Dalam Metaphysische Anfangsgründe der Naturwissenschaft, Kant menekankan bahwa sains selalu terdiri dari landasan yang didasarkan pada pengalaman16, tetapi judgment, yang dianggap memiliki sifat universal, bersifat a priori. Kant juga menyimpulkan bahwa sains tidak dapat disimpulkan dari pengalaman; sebaliknya, pengalaman disimpulkan dari sains. Konsekuensinya, menurut Kant, sains merupakan sikap aktif subjek terhadap objek, bukan sesuatu yang inheren dalam objek.

Nazzaru D. Ulhaqi

Anggota Lingkar Studi Filsafat Discourse. Sedang menempuh pendidikan di Fisika Komputasi Universitas Brawijaya.

Catatan

  1. Disebut juga filsafat ilmu dalam sebagian besar teks lain. Dalam tulisan ini istilah filsafat sains dipilih agar lebih konsisten dengan istilah sains yang digunakan berikutnya. Referensi bahasa Jerman yang digunakan juga menyebutkan Wissenschaft dan Philosophie der Wissenschaft, sementara untuk bahasa Inggris digunakan istilah science dan philosophy of science.
  2. Diterjemahkan dengan judul Thoughts on the True Estimation of Living Forces dalam bahasa Inggris.
  3. Seorang pendukung teori Newtonian.
  4. Clarke, S., Freiherr von Leibniz, G. W., Newton, I. (1978). The Leibniz-Clarke correspondence : together with extracts from Newton’s Principia and Optics. United Kingdom: Manchester University Press.
  5. Kata ‘nature’ perlu dituliskan pada kalimat ini karena makna kata ‘alam’ di bahasa Indonesia tidak dapat menangkap maksud Immanuel Kant. Dalam bahasa Jerman, ‘natur’ tidak hanya digunakan untuk menggambarkan fenomena dunia fisik secara kolektif, tetapi juga digunakan untuk merujuk pada ciri-ciri dasar atau inheren dari suatu hal, terutama bila dilihat sebagai ciri khasnya, yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah ‘kodrat’ dan sinonimnya. Begitu juga dengan kata ‘nature‘ dalam bahasa Inggris. Makna inilah yang dimaksud oleh Kant dalam definisi pertama.
  6. Dalam bahasa Jerman disebut ‘lehre’, dan dalam bahasa Inggris disebut ‘doctrine’.
  7. Körperlehre
  8. Seelenlehre
  9. Historische Naturwissenschaft
  10. Rationale Naturwissenschaft
  11. Istilah ini pun sebenarnya tidak sepenuhnya disetujui oleh Kant, yang dapat dilihat dengan cara penulisannya. Alih-alih hanya menulis ‘Wissen’, Kant menulis ‘nur uneigentlich so genanntes Wissen
  12. Filsuf Amerika Serikat dan pakar Immanuel Kant.
  13. Struktur ini digunakan dalam karya Kritik der Reinen Vernunft atau Critique of Pure Reason dalam bahasa Inggris.
  14. Transzendentale Ästhetik
  15. Transzendentale Logik
  16. Erfahrungen

Berikan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to content