Kebahagiaan dan Tanggung Jawab Kantian

Potrait Immanuel Kant
Potrait Immanuel Kant

Immanuel Kant menyatakan bahwa tidak ada yang dapat dibayangkan oleh manusia di mana pun dan dalam kondisi apa pun selain konsep mengenai good will (kehendak baik).1 Konsep ini disebut Kant sebagai kognisi moral rasional. Kepandaian, ketangkasan, kecerdasan, akal, kemampuan menilai, dan sebagainya adalah kualitas-kualitas yang diharapkan hadir dalam kerangka kehendak baik. Kondisi tersebut berlaku sama sebagaimana kekuatan, kemakmuran, keberanian, kehormatan, kesehatan, dan kondisi yang teralokasikan di dalam kualitas kebahagiaan. Namun kondisi kebahagiaan dapat termanifestasi dalam bentuk yang keji ketika karakter yang menyelubunginya tidak dalam kondisi baik (not good). Kondisi-kondisi yang telah disebutkan di atas dapat dengan sekejap berubah menjadi kesombongan, arogansi, dan lain sebagainya. Manifestasi kebahagiaan menandakan ketidakhadiran kehendak baik yang berfungsi membatasi pengaruh tindakan tersebut dalam pikiran, serta membuatnya menjadi tidak memiliki ketetapan universal. Dalam hal ini Kant mengkritik etika Aristoteles yang baginya tersa kurang lengkap.

Beberapa kualitas memang memudahkan manusia untuk mengenali kehendak baik, namun hal ini juga tergantung dari nilai yang berharga di dalam diri manusia. Afeksi dan hasrat yang moderat atau kontrol diri merupakan bangunan nilai yang berharga (inner worth) dalam diri seseorang. Namun sikap seperti ini juga akan menjadi semakin merugikan, pada contohnya ialah preposisi diri seorang pembunuh berdarah dingin. Tanpa adanya good will, berbagai kualitas hanya akan memunculkan keburukan.

Kehendak baik menjadi baik bukan karena tujuan atau efek yang dihasilkan, melainkan karena hadirnya kehendak itu sendiri. Ketetapan kognisi moral rasional ialah bahwa kehendak baik tidak dapat ditentukan karena tujuan atau capaian yang hendak diperoleh melainkan karena hadirnya kehendak baik tersebut di dalam diri manusia. Jadi jika ada kebaikan yang dapat dinilai dari hasil atau kegunaannya. Di satu sisi, efek atau hasil hanya berguna bagi manusia untuk mempermudah mengenali ada-tidaknya kehendak baik. Di sisi lain, kehendak baik tetap tidak dapat diukur pelakunya melalui tujuan akhirnya, dan apabila demikian maka sikap yang diambilnya bukan berasal dari kehendak baik melainkan dari kenikmatan melakukan hal yang baik.

Dalam Groundwork for the Metaphysic of Morals, Kant menyatakan bahwa terdapat nilai absolut dari kehendak tak berlebih (the absolute worth of mere will). Dengan absennya tujuan dan perhitungan nalar, Kant menyatakan kelayakan dalam meragukan kehendak baik. Kant akan menjelaskannya sebagai berikut. Kant menganalogikannya dengan narasi ketika manusia tengah berusaha menjelaskan kondisi natural atas suatu keberadaan yang teratur. Sebagian besar alur nalar manusia terbagi dalam satu arus pemikiran yang pasti, ialah hulu dan hilir. Keberadaan manusia memiliki alasan tujuan, berupa kebahagiaan atau kemakmuran, yang terkadang disebut sebagai akhir yang nyata bagi ­dirinya sendiri. Jika manusia memiliki akhir yang bahagia, maka alam akan memberi cobaan sebesar mungkin agar manusia melakukan usaha, agar ia melakukan sesuatu demi tujuannya. Hal ini berlaku sesuai dengan naluri manusia. Alam tidak hanya menentukan pilihan tujuan melainkan juga menggunakan naluri manusia sebagai perangkat dalam mencapai tujuan.

Nyatanya dapat ditemukan fakta bahwa ketika manusia telah mengetahui bagaimana cara untuk memperoleh kebahagiaan, semakin cepat pula manusia merasa puas. Sama seperti sains, Ketika seseorang menemukan ilmu yang sangat berharga, pada saat yang sama mereka tidak menyadari bahwa ilmu tersebut membuat mereka semakin terbebani karena dorongan untuk melakukan suatu penelitian hilang.

Semenjak rasio dianggap tidak dapat mengarahkan kehendak dengan baik, sementara insting natural hanya akan mengajak seseorang menuju pada titik akhir. Pada saat yang sama Kant ingin menunjukkan bahwa nalar memiliki kemampuan khusus untuk mengarahkan kehendak yang baik dalam dirinya sendiri dan insting natural bekerja untuk kecenderungan ini. Kehendak baik ini tidak bersifat tunggal dan tepat namun dinyatakan sebagai kebaikan yang tertinggi karena merupakan kemampuan utama manusia untuk membawa kebaikan dalam hidupnya.

Kehendak baik dalam diri manusia tidak perlu diajarkan melainkan hanya perlu diberi pencerahan. Konsep ini merupakan nilai yang berharga dari setiap tindakan manusia, yang selanjutnya disebut dengan duty atau tanggung jawab.

Pada dasarnya kesesuaian kehendak baik dan duty terletak pada titik ketika manusia tidak bertindak karena kecenderungan atau dorongannya (Kant percaya bahwa pada dasarnya manusia tidak memiliki kecenderungan atau dorongan). Manusia dikatakan bergerak sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan karena kondisi yang hadir di sekitarnya. Oleh sebab itu menjadi sulit bagi manusia untuk membedakan mana tindakan yang sesuai dengan duty, tindakan yang dilakukan berdasarkan kecenderungan alami, serta tindakan yang dilakukan berdasarkan usaha untuk  melayani diri sendiri.

Sering kali manusia berusaha untuk berkompromi dengan tanggung jawab yang bukan berasal dari tanggung jawab in se. Hal ini diandaikan dengan seorang dermawan yang melakukan suatu tindakan baik tanpa memikirkan kesulitan yang melingkupinya. Ia melakukan tindakan dengan hati dingin atau dengan sikap yang tegas, tanpa dorongan berlebih. Bisa jadi Tindakan tersebut dilakukan karena ia harus menata dirinya agar dapat menghadapi kesulitan lain dengan tepat. Pada saat itulah dermawan tersebut sedang mengambil sikap yang murni datang dari tanggung jawab, sekali lagi, tanpa kecenderungan apa pun.

Tanpa menimbang tanggung jawab, pada dasarnya manusia tetap memiliki dorongan untuk mencari kebahagiaan. Konsep kebahagiaan tersebut sulit untuk ditentukan. Oleh sebab itu Kant menawarkan konsep kebahagiaan yang datang dari nilai yang benar-benar berharga, ialah dari tanggung jawab, yang baginya merupakan satu-satunya sikap bermoral yang otentik.

Tindakan berdasarkan tanggung jawab memiliki nilai moral tidak dalam tujuannya melainkan dalam prinsip kemauan, yang hadir selepas sikap tersebut selesai terlaksanakan. Kant menyatakan bahwa tanggung jawab ialah nilai terpenting dari sebuah tindakan sebagai bentuk penghargaan atas hukum. Tindakan yang berasal dari tanggung jawab harus sepenuhnya mengabstraksikan dorongan-dorongan hingga muncul subjektifitas murni dalam menghormati hukum.  Hal ini disebut Kant sebagai maksim, ialah prinsip subjektif dari kehendak, dimana prinsip objektif merupakan hukum praktis, pun di dalamnya terkandung subjektifitas sebagai prinsip praktis nalar yang memiliki kendali penuh atas dorongan-dorongan alamiah. Pada titik ini manusia akan beranjak dari kognisi moral rasional ke kognisi moral filosofis.

Representasi dari hukum bukan terletak pada tujuan yang diharapkan, melainkan – dalam keberadaan manusia bernalar – terletak pada situasi manusia yang telah mengandung moralitas di dalam dirinya. Oleh sebab itu keberadaan hukum utamanya hadir karena pengenalan manusia atas nilai, yang selanjutnya disebut Kant sebagai respect atau penghormatan. Hukum tidak perlu dilihat berdasarkan efek atau asal mulanya, melainkan melalui hubungan manusia dengan hukum.

Kant telah menutup segala kemungkinan dari kehendak yang muncul ketika manusia mematuhi hukum. Karena kehendak dianggap tidak mungkin muncul, maka yang tersisa ialah hukum universal dalam tindakan umum yang ditujukan untuk melayani keinginan manusia itu sendiri demi menciptakan keselarasan universal.

Kant memberi perumpamaan dengan pertanyaan, jika seseorang tengah berada dalam kesulitan, apakah ia dapat mengingkari janji? Kant melihat bahwa seseorang tidak boleh terlebih dahulu melihat manfaat dari penepatan janji, baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Kant mengusulkan bahwa seseorang perlu mempertimbangkan ketepatan sikap manusia untuk menaati prinsip universal. Manusia perlu mempertimbangkan apakah tanggung jawab yang sudah dijanjikan benar-benar mungkin dilakukan, ataukah hanya diri sendiri yang menyatakan bahwa tanggung jawab tersebut mustahil dilakukan. Selain itu kebohongan bagi diri sendiri merupakan bagian dari pertimbangan rasional yang salah hingga hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai bagian dari perilaku bertanggung jawab.

Untuk menjawab permasalahan moral, maka diperlukan pemahaman umum (common sense) dan refleksi-refleksi filosofis. Namun filsafat tidak hanya bertugas untuk merefleksikan kondisi moral manusia melainkan juga berperan sebagai ilmu yang membantu manusia menginvestigasi kemampuan moralnya. Nalar filosofis bertugas untuk merumuskan struktur hidup manusia dan kemudian menjawab berbagai tantangan dan kemungkinan yang dapat hadir dalam kesehariannya. Hal ini dapat ditemui misalnya dalam usaha manusia mencari pengertian mengenai dialektika natural. Dialektika tersebut hadir sebagai keraguan seseorang atas sikap tanggung jawab manusia. Dialektika natural mencerabut kesombongan dan ketegasan dari sikap bertanggung jawab yang nantinya justru membawa manusia untuk menjadi semakin baik. Selanjutnya perkembangan pengetahuan manusia pada umumnya mengenai moralitas akan mengalir melalui berbagai spekulasi hingga pada akhirnya muncul kesepakatan bahwa filsafat moral demikian dibutuhkan, terutama dalam ranah moral nalar praktis.

Catatan

  1. Immanuel Kant. 2002. Groundworks for the Metaphysics of Morals. Yale University Press: New Haven and London.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email