Sublimasi dan Rasa Bersalah Nietzsche

Bagi Nietzsche, hidup tidak hitam putih, ia menolak dualisme seperti itu. Apa yang ia sebut sebagai: baik-buruk, tuan-budak, kuat-lemah ada dalam satu orang yang sama.
Nietzsche
Friedrich Nietzsche di penghujung usianya

Bagi kita, moralitas merupakan dasar bagi setiap tindakan “luhur” kita. Bahkan tindakan yang wajib kita lakukan harus mendapat legitimasi moral terlebih dahulu sehingga tindakan yang berada di luar legitimasi tersebut dianggap buruk. Tidak jarang kita melihat para pemuka agama justru menjadi sumber segala yang jahat. Atas nama kebaikan, kita melihat begitu banyak orang menderita. Friedrich Nietzsche ingin mebuka selubung tersebut dengan metode genealoginya, ada apa sebenarnya dengan moral baik itu? Melalui metode genealogi, Nietzsche berusaha mencari apa yang dikehendaki seseorang ketika ia menginginkan sesuatu. Nietzsche ingin melacak asal usul dan emosi manusia yang memunculkan apa yang kita sebut moralitas.

Bicara mengenai moral tidak dapat terlepas dari pemikiran Immanuel Kant. Menurutnya, seseorang bermoral baik jika tindakannya ditandai dengan rasio, bukan prasangka. Yang bermoral adalah yang melakukan kewajiban dan tidak memikirkan kemanfaatan.[1] Sebaliknya, John S. Mill, dengan paham utilitarianisme, justru berpendapat bahwa yang bermoral adalah yang bermanfaat bagi banyak orang.[2] Nietzsche menolak semua standar moral itu. Namun, menurut Walter Kaufmann, kita sebenarnya tidak bisa lepas dari pencarian manfaat bagi diri sendiri, misalnya saya jujur. Di balik kejujuran yang saya lakukan ada manfaat yang saya cari, misalnya supaya saya bisa naik jabatan atau hanya mau melakukannya saja. Bukankah yang terakhir juga mencari manfaat? Dengan kata lain, setiap tindakan kita sebenarnya juga sedikit banyak mencari manfaat.

Baik etika Kant maupun Mill merupakan produk manusia budak. Moral budak membaptis sistem penilaiannya secara mutlak yakni “baik” dan “jahat”. Persis di balik etika-etika tersebut Nietzsche curiga pada apa yang ada di baliknya, ialah motif balas dendam (ressentiment). Nietzsche mendeskripsikan ressentiment sebagai balas dendam imajiner moral budak dan balas dendam tersebut sebagai kompensasi karena moral budak sesungguhnya tidak mampu menghadapi realitas, bahkan menolaknya.[3] Padahal, dalam hidup sendiri tidak ada baik dan buruk, afirmasi dan negasi, semuanya campur aduk. Ya dan tidak, cinta dan abai, saling berdampingan satu sama lain.[4] Yang membedakan moral (baik) dan non-moral (buruk), menurut Nietzsche adalah pelampauan diri (self-overcoming).[5] Orang yang dapat melampaui dirinya sadar betul bahwa realitas yang ia hadapi adalah chaos, semerawut. Namun, ia menghadapi realitas hidup apa adanya, berkata iya pada kehidupan, masuk ke pusat masalah dan mentransformasikan apa saja yang mengenai diri kita supaya kita menjadi semakin kuat. Ia menjadi kreatif khas moral tuan. Di sisi lain, Nietzsche juga menganalisa bahwa manusia modern tidak tahu cara bersikap di hadapan realitas. Ia begitu lemah dan terserak. Ia mau hidup “baik” tapi tidak memahami apa arti “kebaikan” itu sendiri.

Sublimasi sebagai Metode Pengalihan Kehendak

Apa yang kita sebut moralitas tidak lain dari sekedar perkembangan “prasangka-prasangka” dari orang-orang tertindas. Di dalamnya terdapat asas universalitas yang mewajibkan siapa saja patuh pada keseragaman. Siapa yang diuntungkan dari situasi ini? Ia adalah kaum rata-rata, yang lemah, kaum budak. Sistem seperti ini menekan insting dan dorongan.[6] Pengertian moral Nietzsche akan lebih jelas jika ditempatkan bersama dengan perangkat moral lainnya. Perangkat moral lain mengharuskan seseorang membebaskan tindakannya yang berdasarkan dorogan atau impuls (tidak sadar), karena tindakan atas dasar insting dicap tidak bermoral, merusak kosmos. Dengan kata lain, sistem moral yang ada selalu melarang kita mengeluarkan insting binatang atau impuls kita. Sementara Nietzsche berbeda. Orang tidak perlu membuang impulsnya tetapi diminta untuk mengendalikannya.[7] Orang yang merasa harus bertempur dengan insting-instingnya sendiri adalah orang yang dekaden. Bagi orang yang ascenden (menaik), kebahagiaan itu hadir ketika ia memelihara insting-instingnya.

Sebelum kita mengendalikan kehendak-kehendak tersebut, pertanyaan mendasarnya adalah dari mana kehendak (impuls), insting itu berasal? Nietzsche mengatakan bahwa semua perilaku manusia digerakkan oleh kehendak untuk berkuasa. Menurut Douglas Burnham, kehendak di sini berarti seluruh diri tubuh manusia dengan insting, hasrat, dan rasionya. Kehendak bukanlah penggerak segala sesuatu seperti dikatakan Arthur Schopenhauer, melainkan adalah selubung. Kuasa bukan soal kepemilikan hak-hak tertentu atau pengaruh sosial dan politik, bukan juga kekuatan fisik, melainkan menandakan sebuah evaluasi dan terarah pada “yang lain”. Maka kehendak kuasa adalah kata, selubung dari kekuatan-kekuatan dalam diri untuk mengatakan situasi konkret, sehingga dapat dipahami dalam pathos atau afeksi (ke arah orang lain). Kehendak kuasa dibagi menjadi dua, aktif dan re-aktif. Aktif maksudnya adalah sumber dari tindakan dan evaluasi seseorang, re-aktif maksudnya kehendak kuasa merefleksikan nilai dari lingkungan sekitarnya, melalui imitasi, sublimasi atau negasi.[8]

Apa-apa yang baik dalam realitas, ditopengi oleh sesuatu yang tidak baik. Penyelubungan itu dilakukan dengan cara sublimasi, melalui definisi ini sublimasi adalah kehendak kuasa. Sublimasi (Lat: sublimare), dalam kimia, sublimasi berarti perubahan zat dari padat ke gas tanpa berubah ke zat cair. Secara metafora, sublimasi berarti sesuatu yang melintasi keadaan alaminya dan lompat ke sesuatu yang baru. Sublimasi menurut Nietzsche berarti dorongan atau kehendak yang dialihkan atau dikelabui. Contoh paling konkret dari sublimasi adalah adanya Tuhan.[9] Dengan beragama pada Tuhan kehendak kita dikelabui akan realitas yang carut marut, dengan bersandar padanya kita merasa tenang padahal realitasnya, masalah tetap ada. Pendeknya, sublimasi menyelubungi kelemahan rasio.[10] Contoh lain ialah kristiantas yang melihat bahhwa dorongan seksual harus ditanggalkan, padahal hasrat itu akan selalu ada. Ia mestinya dialihkan, misalnya dengan melakukan banyak kegiatan, seperti berolahraga. Kristianitas hanya mau hasrat, keinginan yang menjadikan manusia jahat dilibas bak sesuatu yang kotor. Jadilah seksualitas seperti yang kita pahami sekarang, kotor.

Pengingkaran, penyangkalan dan pemusnahan hasrat, kehendak, impuls di satu sisi dengan pengendalian dan pengalihan hasrat di sisi yang lain adalah salah satu poin penting dari seluruh filsafat Nietzsche.[11] Nietzsche tidak setuju dengan dengan penghancuran semua perasaan, baik yang baik dan yang jahat. Ia tidak yakin apakah manusia menjadi lebih bermoral dengan penghancuran kehendak. Dalam arti itu, tidak ada kebahagiaan bagi orang lemah, orang rata-rata, moral budak, kebahagiaan hanya untuk orang yang memiliki kehendak kuat dan dapat mengendalikannya.[12] Maka kita harus menggunakan kehendak kita bukan malah menghancurkannya tetapi mengalihkannya.

Lewat sublimasi kita diajak untuk mengeluarkan afeksi atau emosi dari dalam diri ke luar. Faktanya, Orang modern yang dipenuhi oleh kebutuhan dan kerja melakukan sebaliknya. Orang dituntut untuk kerja dari pagi sampai petang, sampai ada istilah workaholic, label bagi seseorang yang kecanduan untuk kerja. Orang yang seperti itu tidak memiliki waktu untuk merenung, mengambil waktu sejenak untuk berefleksi. Oleh berbagai macam kebutuhan dan kesibukan, dipaksa untuk mengabaikan insting-instingnya untuk keluar dan bahkan diinternalisasi karena tekanan lingkungan sosial. Instingnya terkurung oleh dinding-dinding bangunan dan tuntutan untuk menjaga pemikiran hanya pada hal-hal “baik”. Insting yang harusnya dikeluarkan berbalik ke dalam diri sendiri karena masyarakat tidak mengizinkan hal-hal agresif spontan sehingga masyarakat dapat mengendalikan manusianya dengan lebih efisien karena kesadaran mereka dibatasi untuk tidak melakukan hal-hal yang jelek. Akhirnya manusia menjadi agresif terhadap diri sendiri, ia mulai mengembangkan kesadaran buruk dan perasaan bersalah di era modern ini.[13] Orang yang menderita karena rasa bersalah pasti mencari penyebab munculnya rasa bersalah ini.

Tentang Rasa Bersalah

Belakangan ini, kita temui berita-berita selebriti yang melakukan tindakan bunuh diri, padahal hidupnya (tampak) baik-baik saja.  Misalnya saja dikutip dari laman kompas.com, setidaknya ada empat selebriti Korea yang bunuh diri selama tahun 2019. Penyebabnya masih terus diselidiki, tetapi tidak begitu gegabah kiranya jika salah satu faktor yang mendorongnya kematian keempat selebriti itu adalah karena tuntutan fans fanatik yang tak terpenuhi sehingga menimbulkan rasa bersalah yang diinternalisasi. Tak tahan menerima itu, ia memutuskan mengakhiri hidupnya. Mungkin, apa yang dialami para selebriti itu juga kita alami, dengan apapun pekerjaan atau kegiatan kita masing-masing.

Depresi karena rasa bersalah yang berujung kematian dapat kita selidiki dari pemikiran Nietzsche. Menurutnya, rasa bersalah muncul pertama tanpa memiliki makna destruktif seperti yang kita pahami sekarang, tidak dianggap terlalu serius dan hukuman atas rasa bersalah hanya semacam nasihat dari para orang tua. Jika mengikuti bahasa anak sekarang, orang-orang zaman dulu tidak mudah baper (terbawa perasaan), pendeknya, rasa bersalah tidak diinternalisasi.[15] Melalui peradaban, adanya orang lain membuat agresifitas diintrojeksikan[16], diinternalisasi. Pertanyaannya, kenapa? Orang-orang melanggar nilai-nilai moral yang ada dicap buruk, “jahat”, dan lagi ia tidak kuat mensublimasi kehendak-kehendaknya, maka orang-orang menjadi takut untuk mengeluarkan instingnya dan ia internalisasi menjadi rasa bersalah.

Apakah rasa bersalah bersumber dari suara hati? Suara hati bukan suara Tuhan melainkan suara umat manusia di dalam manusia. Isi dari suara hati dibentuk semenjak kecil oleh kata-kata dari otoritas atau orang yang kita hormati atau takuti. Suara hati merupakan kewajiban untuk selalu dijawab, saya mesti melakukan sesuatu yang ini dan bukan yang itu, tetapi iya tidak bertanya kenapa saya harus melakukan ini dan bukan itu. Super-ego Nietzche dimulai dari masa kanak-kanak menginternalisasi ajaran, perintah, apa yang ideal dan tidak dari orang tuanya. Itu semua diinternalisasi dan masuk ke alam bawah sadar dirinya (menjadi suara hati). Ajaran dan larangan itu terus ia bawa sampai besar sampai melahirkan perasaan bersalah dan kritisisme-diri.[17] Maka jawaban atas pertanyaan di atas menurut penulis adalah, ya.

Menurut Nietzsche, Schulding berasal dari kata dasar Schuld yang dalam bahasa Jerman bisa berarti merasa bersalah bisa juga berarti berhutang.[18] Orang yang merasa bersalah adalah orang yang berhutang, ia memiliki kesadaran akan kewajiban membayar hutang. Dalam hubungan hutang-piutang ini, jika yang berhutang tidak menunaikan kewajibannya untuk membayar hutang, pemberi hutang berhak melakukan kekerasan fisik sampai puas. Dulu, kekerasan dimaknai secara harafiah saja, dan kekerasan “membuat rasa senang”. (Seperti dapat kita temui dalam pertarungan para Gladiator yang menjadi hiburan saja bagi masyarakat atau kita juga bisa melihat dari contoh sabung ayam di Indonesia, “kekerasan menciptakan kesenangan”).

Menurut Peter Bornedal, ada transformasi pengertian Schuld dari pengertian psikologi menjadi pengertian konsep moral. Transformasinya mengarah dari yang tadinya mengarah ke luar menjadi ke dalam diri manusia, tidak lagi hubungan antara rasa bersalah-berhutang tetapi rasa bersalah-agresifitas diri. Ketika masyarakat berkembang, terkotak-kotak, dan menguasai satu sama lain, insting ditekan dan di penjarakan, di sana rasa bersalah mulai diinternalisasi dari ketidakmampuannya untuk keluar.[19]

“Perasaan bersalah” baru ini berbalik pada diri orang yang merasa bersalah itu sendiri, yang berhutang, kemudian ia tetap membayar pada diri sendiri sebagai pemberi hutang. Jika tidak dibayar, tentu ia akan melakukan kekerasan atau agresifitas pada penerima berhutang, dirinya sendiri. Namun, hukumannya sekarang tidak lagi berbentuk fisik melainkan mental, kekerasan yang dimaknai sebagai kesenangan dan kenikmatan berubah menjadi kesedihan dan kesuraman.[20] Ketika hubungan pemberi-penerima hutang diinternalisasi, sebenarnya penerima hutang tidak akan pernah bisa membayar hutangnya. Rasa bersalah internal adalah rasa bersalah yang menyesatkan, yang dalam bahasa Nietzsche disebut masokisme.[21]

Dari Proto-Sadisme ke Proto-Masokisme

Dalam proto-sadisme, indera manusia diarahkan keluar, subjek dipahami sebagai individu, entitas tidak terbagi, configured subject, mentransformasikan dunia luar sebagai tempat bermainnya. Sedangkan dalam proto-masokisme, indera kita diarahkan ke diri kita sendiri, subjek dipahami sebagai divide, entitas terbagi, servile configuration, mulai mereflkesikan diri, mempertanyakan intensi dari tindakan-tindakan sebelum benar-benar dilakukan. Seolah ia dapat membelah dirinya menjadi dua, I dan me, yang satu dapat memikirkan satunya, padahal entitas yang sama.[22] Nietzsche tidak setuju pada dualisme semacam ini dan karena itu pula menolak rasa bersalah yang diinternalisasi.     

Kekerasan sebagai agresifitas primer (proto-sadisme) berkebalikan dari apa yang dipahami orang modern. Pada proto sadisme, kekerasan itu dimaknai sederhana, dan lintasan eksekusinya lurus, mengarah dari dirinya ke luar dirinya; sedangkan rasa bersalah dalam makna modern lintasan kekerasannya berbalik dan mengarah ke diri sendiri (circular confusion) tanpa kehilangan jejak darimana ia berasal, dan melawan orang itu sendiri, maka ia menjadi reaktif. Dalam arti ini, manusia modern telah lumpuh dan timpang karena kereaktifan untuk menekan kodratnya sendiri, maka subjek harus mencari jalan belakang untuk terus hidup jika tidak mau merusak dirinya, dengan sublimasi dan subtilisasi.[23]

Kekejaman Asali

Nietzsche sendiri menolak dualisme, perbedaan “baik” dan “jahat” tidak se-tegas yang kita bayangkan. Kedua oposisi itu selalu goyah, artinya tidak fix. Distingsi baikjahat adalah “simplifikasi”, penyederhanaan proses mental yang ada di dalam diri, dorongan-dorongan, atau penilaian-penilaian karena pada faktanya hidup tidak hitam-putih. Kedua opisisi baik-jahat itu saling tergantung satu sama lain dalam maknanya. Opisisi tersebut saling melengkapi.[24] Sesuatu yang baik dalam arti tertentu juga bisa jadi jahat. (jadi tidak ada nilai yang mutlak), sesuatu yang jahat karena ketidakmengertian bisa menjadi baik. Kedua oposisi itu memiliki asal yang sama, ialah kekejaman asali.

Bagi Nietzsche, kekejaman sendiri bukanlah buat kaum lemah. Kekejaman adalah kodrat orang kuat, moral tuan sendiri.Pertanyaannya, kenapa kekejaman itu dikatakan baik? Apa konteksnya? Karena jika dia bisa mengeluarkan kekejamannya, akan menghindarkan dirinya dari akibat-akibat buruk karena emosi itu dipendam, diinternalisasi terus menerus. Menurut Bornedal, Nietzsche mencita-citakan dua jenis agresifitas: pertama, yang asli dan sederhana (primer atau proto-sadistik) yang melengkapi insting-insting dan membuat rasa “senang”. Kedua, yang rumit (sekunder atau proto-masokistik) yang diturunkan dari keinginan balas dendam yang tak terlampiaskan dari makhluk yang menderita.[25]

Dalam arti ini, kecenderungan agresifitas bersifat naluriah. Agresifitas primer, yang merupakan turunan dari dorongan naluriah, tidak bisa dilawan atau merasakan sakit, tidak ada yang bisa lari dari kodratnya. Sebaliknya, jika kita asumsikan posisi agresifitas adalah orisinil atau khas manusia, akan sesuai dengan pemikiran Nietzsche bahwa ada kesenangan orisinil dengan membuat orang lain sakit, bahwa kekejaman itu menyenangkan.

Namun, mesti kita pahami bahwa proto-sadis bukanlah sadis yang menimbulkan sakit (fisik) melainkan hanya ekspresi dari kekuatannya, untuk memuaskan kebutuhan vitalnya. Kekerasan ini oleh Nietzsche bebas dari kebersalahan, seperti elang yang membunuh tikus untuk makan, (karena memang kodratnya begitu). Jika yang kuat melakukan kekejaman, kekerasan terhadap yang lemah dan itu adalah kodratnya, maka ia tidak bisa dikatakan melakukan kejahatan.[26] Bahwa para domba tidak menyukai burung pemangsa tentu bukan sesuatu yang aneh, hanya (ketidaksukaan) itu tidak bisa menjadi dasar untuk menuduh para burung pemangsa sengaja menjauhi para domba yang kecil itu. Menuntut yang kuat untuk tidak mewujudkan dirinya sebagai kekuatan, bahwa (kekuatan) tidak boleh menjadi hasrat untuk menguasai, hasrat untuk menantang, rasa haus akan musuh-musuh, perlawanan dan kemenangan, adalah sama absurdnya dengan menuntut kelemahan untuk mewujudkan dirinya sebagai kekuatan.[27]

Gaya filsafat Nietzsche ialah pendekatan secara personal, seolah-olah ia sendiri berbicara kepada saya. Ia membujuk dan meyakinkan saya akan pendapat-pendapatnya, seperti pendapatnya yang dibahas dalam dua teks ini ialah pencarian apa yang ada di balik moralitas dan rasa bersalah. Kita seringkali larut dengan prinsip-prinsip rasional tetapi Nietzsche melihat ada batasan dari apa yang rasional-universal itu, ialah kehilangan peran subjek atau karakter personal. Genealogi yang berpusat pada subjek mengandaikan sejarah manusia yang plural, karena tiap subjek memiliki sejarah yang berbeda. Bagi Nietzsche, hidup tidak hitam putih, ia menolak dualisme seperti itu. Apa yang ia sebut sebagai: baik-buruk, tuan-budak, kuat-lemah ada dalam satu orang yang sama. Artinya, dalam diri orang baik, juga ada unsur-unsur jahatnya, bagi Nietzche soalnya hanya gradasi. Kedua, dengan menkritik rasio universal Kant, Nietzsche seringkali dilabeli sebagai immoral tetapi ia juga dalam arti tertentu memperkaya moralitas, memperluas perspektifnya untuk menekankan pentingnya individu yang melakukan tindakan moral. Pertanyaan ini juga penting untuk diajukan, orang seperti apa yang memilih sikap moral ini dan bukan yang itu?

Daftar Pustaka

Bornedal, Peter. “The Surface and the Abyss”. Berlin: De Gruyter, 2010.

Burnham, Douglas. “The Nietzsche Dictionary”. Bloomsbury: Bloomsbury Publishing,

2015.

Kaufmann, Walter. “Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist”. Princeton:

Princeton University Press, 2013.

_______________. “Basic Writings of Nietzsche”. New York: The Modern Library, 2000.

Magnus, Bernd and Kathleen M. Higgins, ed. The Cambridge Compannion to Nietzsche. Cambridge: Cambridge University Press, 1996.

Tandyanto, Yulius. “Metode Kesangsian Nietzsche: Kebenaran adalah Ilusi…” dalam Philosophy Underground, 2 Agustus 2019.


[1] Walter Kaufmann. Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist (Princeton: Princeton University Press, 2013), 211.

[2] Walter Kaufmann. Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist, 212.

[3] Yulius Tandyanto, “Metode Kesangsian Nietzsche: Kebenaran adalah Ilusi…” dalam Philosophy Underground 2 Agustus 2019.

[4] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 403.

[5] Walter Kaufmann. Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist, 213.

[6] Bernd Magnus and Kathleen M. Higgins, ed., The Cambridge Compannion to Nietzsche (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 205.

[7] Walter Kaufmann. Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist, 213.

[8] Douglas Burnham. The Nietzsche Dictionary (Bloomsbury: Bloomsbury Publishing, 2015), 341-346.

[9] Douglas Burnham. The Nietzsche Dictionary, 316-317.

[10] Walter Kaufmann. Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist, 221.

[11] Walter Kaufmann. Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist, 223.

[12] Walter Kaufmann. Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist, 224.

[13] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 396.

[15] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss (Berlin: De Gruyter, 2010), 389.

[16] Introjeksi adalah sebuah proses di mana seseorang meniru ke dalam diinya kelakuan atau atribut dari lingkungan sekitarnya.

[17] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 398.

[18] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 391.

[19] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 392.

[20] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 393.

[21] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 393.

[22] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 394.

[23] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 395.

[24] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 400.

[25] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 405.

[26] Peter Bornedal. The Surface and the Abyss, 406.

[27] Walter Kaufmann. Basic Writings of Nietzsche (New York: The Modern Library, 2000), 480-482.

Profil Yohanes Theo
Yohanes Theo

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
×
×

Cart